Lebaran sangat identik dengan mudik, ritual tahunan ciri khas bangsa ini yang entah sejak kapan muncul. Sangat mengesankan jika membayangkan dahulu kala, nenek moyang kita selalu kembali ke kampung halaman setelah setahun merantau. Seperti kebanyakan rakyat Indonesia, saya pun sangat menikmati dan bahkan menunggu-nunggu momen tersebut. Mari jujur pada diri sendiri, berapa kali dalam setahun Anda bertemu dan berkumpul dengan sanak saudara, baik dekat maupun jauh?

Kalau untuk saya, memang hanya Lebaran inilah yang menjadi magnet penarik seluruh saudara untuk berkumpul di suatu titik, menyatukan elegi dan hati. Tentu, keadaan ini akan sangat lain jika banyak saudara kita yang tinggal berdekatan atau bahkan serumah. Reuni keluarga besar bisa jadi sangat sering dilakukan.

Sebenarnya, apa sih tujuan mudik itu? Jawaban pasti akan beragam. Ada yang hanya ingin mengisi liburan, mengunjungi saudara yang sudah lama tak bertemu, bertemu teman lama, ataupun kumpul keluarga besar. Kalau ditarik benang merahnya, inti dari semua itu adalah silaturahmi. Menyambung kembali tali yang putus atau mengencangkan kembali sisi yang longgar adalah hikmah silaturahmi yang kalau dipahami lebih dalam, sangat luar biasa. Saya yakin masing-masing pribadi memiliki pengalaman dan kesan tersendiri tentang makna silaturahmi.

Perjalanan sampai ke kampung halaman tentu memerlukan pengorbanan, mulai dari waktu, biaya, tenaga, bahkan nyawa!. Nyawa? Ya, tentu tidak ada orang yang mau meninggalkan dunia pada salah satu momen terbaik sepanjang tahun. Namun, di sisi lain, fakta berkata lain. Masih banyak kecelakaan terjadi yang memanggil ‘dewa kematian’.

Mudik tahun 2009 ini, tercatat ada sekitar seribu seratusan kecelakaan. Memang, menurun sekitar 20% dari jumlah tahun lalu yang sekitar seribu tiga ratusan. Angka yang meninggal pun ikut sedikit menurun, dari 600-an menjadi 500-an korban. Catatan yang masih merah. Lalu, siapa yang mau disalahkan?

Sangat naif terus ‘mengkambinghitamkan’ takdir. Berkata, ini kehendak Sang Kuasa. Kenyataan di lapangan, semrawut! Perbaikan memang selalu ditingkatkan tapi banyak celah yang tak seakan tak bisa ditutupi. Sebagai contoh, infrastruktur jalan yang kurang memadai, rambu lalu lintas bisa dibilang pas pasan, koordinasi penyelenggara yang tak maksimal, dan masih ada lagi beberapa. Kebanyakan pemudik juga sama saja, memaksakan diri dan kerap ugal-ugalan. Kalau sudah begitu, tidak hanya mereka yang rugi, tapi orang-orang di sekitarnya. Apatis. Egois.

Angkutan umum yang tak bisa diandalkan membuat kendaraan pribadi menjadi favorit, terutama tentu saja sepeda motor. Cepat, praktis, murah, tapi keselamatan? Nanti dulu. 95% kecelakaan yang terjadi melibatkan sepeda motor. Ironis? Tidak juga. Membawa motor ke kampung halaman bagi sebagian orang merupakan lambang kesuksesan peras keringat di ibukota. Cicilan belum lunas itu urusan belakang, yang penting emak dan abah di kampung bisa bangga anaknya punya kendaraan sendiri. Miris, keinginan besar bertemu keluarga justru berakhir di liang lahat. Tak sedikit korban meninggal mengenaskan, namanya juga kecelakaan, entah kaki dan tangan berada di mana. Yang jelas, raga sudah pergi, mungkin ia menangis melihat jasadnya dari atas sana.

Maut itu tidak perlu didatangi, kalau sudah waktunya, nanti dia juga datang sendiri. Berharaplah ia datang dengan cara yang sangat baik sehingga raga pun tenang melepas jiwa. Mudah-mudahan mereka yang sudah pergi mendapat jalan yang lapang oleh-Nya dan malaikat pencabut nyawa benar-benar libur saat lebaran tahun depan tiba.

Semoga kita masih diberi kesempatan menikmati Ramadan berikutnya! Amin.

Salam, minal aidzin wal faidzin!

Beberapa minggu lalu, saya baru saja pulang dari Bandung. Naik travel langganan, saya turun di kantor travel tersebut di Jatiwaringin. Walaupun hanya duduk, entah kenapa saya merasa lelah saat itu. Saya memutuskan untuk menunggu adik menjemput di ruang tunggu. Adik sedang dalam perjalanan. Lumayan, ada AC dan TV. Saya duduk di kursi depan bersama seorang Ibu yang sepertinya menunggu keberangkatan. Di kursi yang lain, ada seorang Bapak yang sudah agak tua.

Saya dan Bapak itu menikmati acara televisi. Maklum, acaranya lagi hangat, seputar Pemilu Presiden yang tak lama baru saja berlangsung. Polemik dan intrik yang menyertai seakan tidak ada habisnya. Mungkin hal itu yang membuat kami serius mendengarkan. Gangguan pun datang. Coba terka dari siapa? Kalau Anda menjawab dari Ibu itu, Anda benar.

Setelah mengangkat telepon dari BB-nya, Ibu itu terlihat sangat antusias dan bersemangat sekali, bahkan kalau boleh dibilang over-spirited. Saya jadi penasaran apa yang dibicarakannya, proyek atau barang baru, entahlah, saya tidak mau tahu. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah suara dan tingkahnya. Dengan suara yang keras dan tawa yang terbahak-bahak, menghentak-hentakkan kaki, membuat saya dan Bapak tua tersebut sangat tidak bisa menikmati apa yang kami lihat. Jangankan mendengar apa yang dibicarakan, konsen kami pun beralih ke tingkah Ibu parlente ini. Parlente? Ya, terlihat dari dandanannya yang necis, parfumnya yang menyengat, kacamata hitam yang dikeataskan (padahal sepertinya matahari cukup bersahabat saat itu), dan tentu saja BB-nya. Saya tidak yakin apakah dia mampu mengoptimalisasi penggunaan alat tersebut seperti halnya Ayah saya yang hanya tau SMS, telpon, dan sedikit FB-an.

Bapak tua itu memegang remote TV. Beliau berinisiatif mengeraskan suara sambil berharap Ibu itu tahu diri dan ‘behave’. Untuk memastikan Ibu ini sadar, Beliau pun mengamati atau tepatnya memandang sinis pada sang Ibu parlente. Namun, sepertinya usaha Bapak itu sia-sia, sang Ibu tak mau tahu dan malah terlihat tambah menikmati obrolannya dengan seorang pria yang saya yakin bukan suaminya. Sudah, jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang ‘hubungan’ dan ‘obrolan’ itu. Hehe.

Apa yang bisa diambil dari cerita singkat ini?

Saya berkesimpulan, etika itu ada dan tidak tertulis. Namun, jika kita tidak peka, etika adalah sebuah aturan tanpa keniscayaan. Etika hanya akan tersimpan dalam memori (atau tidak) dan berbentuk nilai-nilai yang abstrak bin semu. Kepekaan adalah bahan baku etika untuk memastikan tindakan tidak mencoreng nilai-nilai di dalamnya.

Terakhir, jadilah insan yang peka dan aplikasikan etika dimana pun Anda berada!

Hari itu mungkin akan menjadi momen terpenting dalam hidup sekaligus hari yang tak akan terlupakan oleh Tuminten, seorang gadis di desa kecil daerah Ponorogo, Jawa Timur. Bagaimana tidak? Setelah 18 tahun dikurung dan dipasung di dalam rumah oleh ibunya sendiri, Tuminten akhirnya diperbolehkan keluar rumah untuk sekedar berjalan-jalan. Dalam perjalanan yang sebentar itu, ibunya harus juga pergi untuk menemani.

 

Sang ibu, Tuminah, memiliki alasan yang sangat ‘rasional’ untuk memasung Tuminten di rumahnya sendiri. Tuminten tidak gila, tidak juga memiliki kelainan mental atau penyakit menular kronis. Tuminten hanyalah seorang gadis biasa yang memiliki impian. Namun, semua impiannya itu kini hilang tak berbekas hanya karena sang ibu tidak ingin anaknya pergi meninggalkannya. Kepergian kakak Tuminten, Tumini, yang tak pernah kembali rupanya meninggalkan trauma bagi ibunya. 

 

Tuminten buta huruf. Dia sangat takut dengan manusia selain ibunya. Dia tidak pernah sekalipun berbicara dengan orang lain. Hal itu yang membuatnya sulit berbicara dan mengungkapkan isi hatinya. Sang ibu sudah sangat terbiasa dengan perilaku anaknya. Tuminah membuatnya jadi seperti itu, seperti raga tanpa jiwa. Bahkan, Tuminah pun jarang sekali berbicara dengan anaknya ini. Setiap hari, dia hanya melakukan rutinitas memberikan makan Tuminten tiga kali sehari di luar pekerjaannya sebagai buruh tani.

 

Tidak ada informasi yang bisa ditarik dari Tuminten. Setiap kali ditanya, dia selalu meringkup di balik punggung ibunya seperti seorang anak yang bersembunyi dari orang asing. Ibunya pun hanya tersenyum sambil berkata, “Ora po po ndok, itu ditakoni om (Tidak apa-apa nak, itu ditanya om),” untuk menenangkan anak yang tinggal satu-satunya tersebut. Tuminten hanya diam seribu bahasa. Dia hanya membalas dengan tatapan mata yang kosong.

 

Perjalanan hari itu pun harus berakhir. Tuminah menggandeng tangan Tuminten untuk membawanya kembali pulang ke ‘kehidupannya’. Tuminten memasuki rumahnya yang hanya berukuran tiga kali dua meter dengan beralaskan kayu. Dia langsung menuju kasur lapuknya. Kasur lapuknya itu mungkin satu-satunya tempat yang ia anggap nyaman di dunia ini.

 

Tidak ada yang pernah tahu bagaimana hidup Tuminten selanjutnya. Untuk Tuminten, pepatah ‘hidup itu di tangan Tuhan’ sepertinya kurang relevan, lebih cocok jika disebut ‘hidup itu di tangan Tuhan dan Tuminah’. 

Berada dalam sebuah lingkaran, kita dilingkupi batasan yang seakan menghalangi kita untuk keluar. Dalam lingkaran setan, sebuah siklus tengah berlangsung. Siklus yang hanya membawa keburukan. Kalaupun ada secercah kebaikan yang muncul, maka itu hanya tameng yang menipu. Ketika niat tak lagi tulus dan tujuan masih kabur, sinar harapan pun seakan pudar. Apakah seperti ini cerminan politik negeri demokrasi terbesar di dunia?

Tak lama lagi, negeri ini akan menyambut sebuah pesta besar, pesta demokrasi yang telah ditunggu lima tahun lamanya. Janji-janji kembali diumbar, keburukan lawan mulai diungkit, sinisme masih diabadikan, dan spanduk-spanduk memasuki musim tanam. Begitulah wajah negeri ini ketika tak lama lagi Pemilu digelar. Semua sibuk. Strategi dan intrik telah disiapkan untuk merebut kekuasaan sebanyak-banyaknya di kursi dewan. Semua orang ingin jadi presiden. Jendral, purnawiraman, pemimpin daerah, mantan presiden, presiden dan wakil presiden, aktivis, bahkan artis pun melirik kursi nomor satu di republik ini.

Semua orang bertanya-tanya, apakah seperti itu demokrasi yang benar. Gerbang kebebasan dibuka seluas-luasnya, membuat semua jadi lupa diri dan bernafsu untuk melewatinya. Semua cara dianggap halal. Menyikut, mendorong, menarik sudah menjadi hal yang biasa.

Putusan Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa setiap caleg memiliki hak yang sama untuk mendapat kursi di parlemen dan urutan angka dari parpol bersangkutan tidak lagi menjadi pengaruh. Putusan ini disambut antusias oleh para caleg tersebut. Dengan ini, berarti caleg urutan ke 20 dari Partai Antah Berantah pun punya kesempatan duduk di parlemen Senayan. Seperti yang diduga, setiap caleg berlomba-lomba berbuat ‘luar biasa’ untuk merebut suara pemilih.

Banyak dari mereka yang justru keblenger. Untuk mendapatkan dana demi membiayai kampanye-nya, mereka melakukan hal-hal yang memalukan, seperti menjual ganja, mengedarkan narkoba, atau ‘membeli’ suara pemilih dengan uang palsu. Ada juga yang rela menjual mobil, tanah, dan harta bendanya yang lain agar mendatangkan suntikan dana lebih. Sudah bukan rahasia lagi jika untuk menjadi caleg dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Rata-rata, setiap caleg menghabiskan uang hingga puluhan atau ratusan juta rupiah demi melancarkan jalan ke parlemen. Lantas, apa yang mereka harap dapatkan setelah menjadi dewan yang katanya terhormat tersebut?

Tentu saja, fasilitas mewah tengah menanti, gaji besar siap dikucurkan, mobil dinas boleh jadi akan dibelikan baru, berikut pandangan masyarakat yang cukup meninggikan anggota dewan yang terhormat ini. Walaupun, harus diakui, citra DPR bagi masyarakat sedang rusak. Akan tetapi, peduli apa dengan pandangan buruk masyarakat, seperti anggota DPR sekarang yang menganggap gunjingan tersebut bagaikan angin lalu.

Gaji yang mencapai 50 juta sebulan membuat semua orang tertegun. Apakah pantas mereka digaji sedemikian besar? Mereka menyebut cukup pantas karena pemerintah menganggap anggota dewan tidak memiliki jabatan atau kedudukan lain di institusi komersil atau perusahaan. Bahkan, ada wacana untuk menaikkan gaji anggota DPR. Tak tahu malu. Memang, gaji mereka per bulan, masih harus dipotong sumbangan-sumbangan ke fraksi dan parpol tempat mereka bernaung yang jumlahnya dapat mencapai setengah gaji. Namun, sepertinya semua masyarakat setuju kalau setengah gaji mereka sudah lebih dari cukup ditambah fasilitas kelas satu dari pemerintah.

Ironisnya, apa yang akan didapatkan tidak seketika membuat mereka ini puas. Di sinilah dimulainya sebuah siklus lingkaran setan. Ketika biaya yang dikeluarkan untuk kampanye sedemikian besarnya, posisi dan kekuasaan anggota dewan-lah yang dimanfaatkan. Mereka pasti tidak mau kehilangan uang untuk kampanye menjadi sia-sia. Selama lima tahun menjabat, mereka harus ‘balik modal’. Bahkan kalau bisa, untung besar. Jika kita berhitung dengan gaji bersih mereka yang 20an juta per bulan, tentu saja gaji mereka akan menutup biaya itu. Namun, kembali lagi kepada sifat manusia yang tak pernah puas tadi.

Kesempatan untuk mendapatkan uang lebih menjadi sarana untuk berbuat korupsi. Calo proyek dan lobi melobi sudah tidak asing lagi di kancah perpolitikan Senayan. Semuanya menganggap hal itu wajar dan tak usah lagi diperdebatkan. Tahu sama tahu. Sebuah korupsi berjamaah. Menyedihkan untuk sekumpulan orang terhormat yang diberikan amanah yang besar.

Tidak berarti semua dewan yang terhormat dan caleg tersebut busuk, masih ada tentu yang punya hati nurani dan niat yang tulus untuk mengabdi. Di sinilah kita sebagai pemilih harus jeli menitipkan suara kepada siapa. Salah-salah, uang kita malah disalahgunakan.

Lingkaran ini harus dibuka dan siklus yang ada mesti diputus. Sistem yang ada telah terbukti bobrok dan banyak celah. Banyak yang harus diperbaiki. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri sebelum semuanya menjadi kian buruk dan tak terselamatkan. Harus ada pengawasan yang menyeluruh baik dalam internal parlemen maupun dari sudut pandang eksternal seperti lembaga independen.
KPK sebagai lembaga independen telah luar biasa berani membongkar banyak kongsi-kongsi ilegal. Tantangan selanjutnya kian berat karena anggota dewan akan berganti dan tuntutan masyarakat akan parlemen yang bersih kian diteriakkan. Anggota yang telah turun pun bukan berarti lepas tanggung jawab jika memang terbukti bersalah di kemudian hari.

Anggota dewan yang terpilih nanti punya kewajiban besar untuk memperbaiki citra yang buruk dengan menjalankan amanah sebaik-baiknya. Jangan hanya membiarkan kursinya tak berpenghuni. Negara ini butuh suara-suara bijak mereka. Mereka-lah yang memegang harapan kita akan sebuah pemerintahan dengan kebijakan-kebijakan yang lebih memihak rakyat. Sudah cukup rakyat dikecewakan sejauh ini. Kita butuh perubahan nyata untuk keluar dari lingkaran yang telah lama menyelimuti.

Melihat perkembangan musik tanah air, kita sebagai warga negara patut berbangga. Dalam beberapa dekade belakangan, musik kita bergerak cepat dengan warna-warninya tersendiri. Dahulu, di zaman tahun 70 hingga akhir 90-an, pilihan musik negeri ini masih terbatas. Sebut saja Koes Plus, Godbless, Ebiet G.Ade, Fariz RM, Slank, atau bahkan seniman betawi populer, Benjamin S. Semua orang yang pernah hidup pada zaman itu, pasti tahu eksistensi mereka. Faktanya, sampai sekarang mereka mampu memberikan pengaruh besar terhadap dinamika musik Indonesia.

Jika melihat negara tetangga terdekat, Malaysia, kita telah jauh meninggalkan mereka. Kini, mereka harus menangis-nangis untuk mendengarkan musik kita. Maklum, peraturan pemerintah negara mereka yang baru dikeluarkan membatasi distribusi dan pemutaran musik Indonesia karena dinilai menghambat musik domestik. Hal ini memang bukan tanpa alasan, sejak kurang lebih 10 tahun terakhir, musik Indonesia telah merajai chart-chart musik Malaysia. Permintaan akan pemutaran musik Indonesia di radio pun mencapai angka yang signifikan. Bisa diibaratkan, musik domestik mereka menjadi semenjana di rumah sendiri. Ironis.

Lagi-lagi, kita pantas menaikkan kerah untuk musik kita sendiri. Namun, dengan kebanggan seperti itu, kita seperti tidak melihat sisi lain, sisi yang dapat membuat miris dibalik grafik naik musik dalam negeri yang seakan tak tertahan. Sebuah kebanggaan semu.

Musik Indonesia memang luar biasa jika dilihat dari berapa jumlah band yang ada. Negara kiblat musik seperti Inggris dan Amerika pun tidak punya jumlah band sebanyak Indonesia. Kebebasan berkreasi dan bereskpresi benar-benar dimanfaatkan oleh sebagian besar anak muda negeri ini dengan cara yang dianggap paling mudah, membuat band. Setiap bulan pasti ada beberapa band baru. Bahkan, mungkin setiap minggu, ada saja band yang launching album terbaru, Kita bisa saja baru mendengar namanya. Akan tetapi, itu tak menjadi masalah buat mereka. Yang terpenting, mereka punya album dan RBT dibeli. Laris atau tidaknya album-pun menjadi urusan label dan prioritas kesekian.

Banyak dari anak muda tersebut beranggapan kalau sudah bisa memainkan beberapa kunci gitar, mereka layak membuat band. Jika melihat realita yang ada di dunia musik internasional, wajar menyebut fenomena ini hanya muncul di negeri kita tercinta. Pertanyaan besar selanjutnya tentu saja tentang kualitas band-band baru tersebut. Yah, kalau latar belakang membuat band cuma sekedar ikut arus atau mencari popularitas semata, kita sebagai penikmat musik tak bisa berharap banyak.

Kini, kata karya seni seperti dirasa kurang cocok untuk menyebut lagu sebuah band, lebih pas diistilahkan barang dagangan. Definisi karya seni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa. Definisi lain menyatakan bahwa seni merupakan hasil karya seniman. Nah, apakah mereka memiliki kemampuan mumpuni? Apakah band-band tersebut layak disebut seniman? Anda sebagai penikmat musik yang mampu menjawabnya. Tahu diri atau coba-coba pun ada batasnya. Sepertinya, mereka telah melampaui batas keduanya.

Sebuah nama band memegang peranan penting akan sebuah identitas. Nama merepresentasikan sebuah arti atau harapan. Nama itulah yang nanti diingat oleh fans atau khalayak luas atas sebuah band. Namun bagi band-band baru ini, pemilihan nama bukan lagi sebuah prioritas atau masalah penting. Kalau di Inggris dan Amerika, sebuah band bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan memilih nama disertai pengantian nama jika dirasa tidak cocok, maka hal itu tak berlaku bagi band-band ini. Segala benda di dunia ini bisa dijadikan nama. Jangankan arti nama, ‘enaknya’ sebuah nama didengar pun tidak diperhitungkan. Yang terpenting, mudah disebut. That’s it! Sebut saja band Hijau Daun dan Biru Langit. Nama seperti ini sudah mulai dijadikan pola. Jangan kaget kalau nanti bakal ada nama band Coklat Tanah atau Merah Api.

Kualitas band juga menjadi catatan tersendiri. Keputusan membuat band dengan kualitas seadanya membuat para penikmat musik-lah yang menjadi korban. Ditambah lirik-lirik mendayu, melankolis, dan terlalu pragmatis dalam lingkup cinta menjadikan irama dan warna musik yang monoton. Hampir tidak ada band baru yang menawarkan warna musik yang baru. Isi sama, kemasan berbeda. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit dan terhitung dengan jari. Kita pantas berharap pada band-band indie untuk berbeda dan keluar dari jalur mainstream karena mereka tak terikat pada label tertentu.

Label menjadi urusan lain yang juga vital dalam menyikapi ‘penjamuran’ band ini. Label berperan sebagai produser sekaligus distributor lagu-lagu band mereka. Agar ‘barang dagangan’ mereka laku, mereka harus mengikuti pasar. Kecanduan masyarakat kita akan musik sederhana dengan lirik cinta menjadi pangsa yang luar biasa menguntungkan. Sebenarnya masyarakat tak punya banyak pilihan akan jenis musik. Sudah terlalu lama, pendengar dicekoki dengan musik yang itu-itu saja. Statis. Datar. Mereka jadi terbiasa dan beranggapan musik seperti itulah yang pas dengan selera.

“Popularitas itu resiko, bukan tujuan”, ucap Cholil Mahmud, frontman Efek Rumah Kaca, seakan menyentil mereka yang menuhankan popularitas. Menjadi berbeda dan idealis jelas bukan perkara mudah. Namun, ada harga yang pantas untuk itu. Mari menjadikan kembali sebuah lagu menjadi karya seni. Jadikan rasa bangga itu tak lagi samar, tapi nyata dan tak lekang waktu. Sebuah tanggung jawab tak mudah yang diemban semua individu yang peduli musik dalam negeri.

saya tersenyum kecil saat seorang teman yang bijak dan sangat saya hargai berkata tentang berhenti berbuat kesalahan. senyum saya tidak kecut. saya merasakan banyak hal yang tersirat dan dapat diambil tentang terus berbuat benar. bukankah berhenti berbuat kesalahan berarti selalu bertindak benar, dalam arti harfiah dan kontekstual.

pertanyaan yang muncul disini adalah apakah mungkin berhenti berbuat salah?

sungguh tidak bijak menilai suatu kesalahan adalah kegagalan mutlak yang tidak dapat ditebus dengan suatu apa pun. hakikat penciptaan manusia pun mencakup kesalahan didalamnya. kita bukanlah malaikat atau nabi yang bertindak selalu sesuai dengan petunjuk Tuhan.

tidakkah kita sadar bahwa sebenarnya kita hidup dari kesalahan. kita akan selalu masuk ke jurang kesalahan. jika kita mampu mencapai puncaknya lagi, maka suatu ketika pasti kita akan tersandung dan kemudian masuk ke jurang yang lain. hal ini sangat lumrah dan tidak perlu disesali teramat sangat jika memang kita pernah merasakan dingin luar biasa dan gelap teramat sangat jurang tersebut. selalu ada waktu untuk memperbaiki kesalahan dan kembali menapaki lereng jurang untuk kembali ke atas.

alangkah baik jika tak kembali masuk ke jurang yang sama. seekor keledai bodoh pun tahu dimana lubang yang telah ia masuki dan tak akan kembali masuk ke dalamnya. sebuah perumpamaan umum namun banyak orang yang kerap lebih buruk dari keledai tersebut. kebanyakan dari mereka tidak mengerti bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan sehingga menikmati kesalahan tersebut membawa dirinya entah kemana.

menurut saya, mengambil contoh yang paling baik adalah melihat cerminan diri sendiri. saya memiliki seorang teman berbakat yang terus mendapatkan hasil sempurna dalam perkuliahan. singkatnya, dia selalu mendapatkan indeks prestasi sempurna, atau setidaknya nyaris. pertanyaan yang ada kemudian adalah apakah saya ingin menjadi dirinya?

saya tidak perlu menghabiskan waktu sedetik untuk menjawab tidak. saya ada di sini karena kesalahan-kesalahan saya di masa lalu. saya sangat menikmati turning point ini. keadaan dimana saya mampu membayar lunas kesalahan lalu yang terlalu senang membuang-buang waktu tanpa memikirkan hal yang sebenarnya esensial. saya sangat merasakan bagaimana perasaan seseorang yang mampu merangkak, melayang, atau bahkan terbang melesat dari jurang terdalam kesalahannya. indeks prestasi saya jauh lebih baik sekarang. sangat jauh. euforia ini di satu sisi terlalu disayangkan untuk segera dilupakan namun di sisi lain terlalu semu untuk tetap dirasakan.

banyak hal di dunia ini yang tidak dapat dilihat hanya dari satu sisi. sebuah kesalahan tidak berarti akan selamanya salah dan tidak dapat menjadi baik di kemudian hari. 

adalah hal yang manusiawi ketika berbuat salah. sejauh mana kita bisa menebus kesalahan itu untuk kemudian kembali berjalan di atas lah yang membuat kita menjadi manusia terbaik, seorang manusia bijak yang belajar dari kesalahan sendiri untuk berbuat lebih baik di masa depan.

cheers! 

dipaksa mati

ketika amarah tak kunjung padam
yang tersisa hanyalah kejam
tak ada yang sanggup meredam
hari esok pun menjadi kelam

anak kami tinggal sejarah
keluarga kami tercabik resah
mereka anggap ini lumrah
untuk sesuatu yang salah arah

jantung kami berdetak kritis
darah kami tercium amis
dalam surau bercermin miris
sudah tak guna kami menangis

rumah kami kubur kami

kami tak kenal lagi kata aman
peluru terlihat berjalan pelan
ketika manusia lupa akan peran
habis sudah semua perasaan

kami tahu hidup ini tak abadi
tapi kami terus dipaksa mati
di tengah-tengah bara api
hingga tak kuat menahan peri

*rangkaian kata ini terinspirasi dari agresi zionis ke ranah palestina yang terus membabi buta tanpa mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. belum ada tanda-tanda akan berakhir. dengan harapan yang semakin menipis, tangan Tuhan-lah yang akan berperan.

tahun 2008 yang telah dilewati harus diakui menyimpan banyak kenangan yang di satu sisi, sangat menyenangkan dan di sisi lain, membuat depresi. saya pun menerimanya dengan lapang dada -atau bahasa jawanya ‘legowo’- apapun yang terjadi tahun ini. toh, saya masih bisa duduk di depan dia untuk kemudian menulis sekarang sambil tersenyum, tak ada perasaan menyesal. saya harap selanjutnya juga begitu.

simpanan cerita ini semakin bertambah, banyak lembaran yang telah ditulis, dirobek dan dibuang, dan tinta untuk menulisnya pun berkurang seiring bertambahnya banyak tahun yang saya lalui. saya pun enggan untuk berhenti menulis kisah hidup ini. biarkan saja tintanya habis agar tidak lagi ada yang ditutupi dan tidak ada sesal di kemudian hari. 

banyak hal yang telah saya lalui di tahun sebelum ini. terlalu banyak hingga saya sendiri tidak yakin dapat menuliskannya semua dalam tulisan saya kali ini. 

dimulai dari umur yang beranjak kepala 2 pada bulan januari. tentunya nilai yang terkandung dalam penambahan umur bukan hanya sekedar perayaan. dengan umur yang bertambah, apalagi dengan usia yang telah melewati dua dekade, harapan untuk menjadi lebih dewasa dan lebih baik di segala sisi pun ditasbihkan. saya tak berharap banyak. saya pun tidak bisa sepenuhnya menilai diri sendiri selama setahun belakangan ini. akan tetapi, seiring berjalannya waktu, hidup mengajarkan saya banyak hal tentang nilai-nilai semangat, pencapaian diri, mimpi, kepercayaan diri, cinta, dan banyak hal lain. saya yakin dalam tingkatan tertentu, saya lebih baik.

saya tak terlalu mengingat kejadian pada bulan-bulan tertentu. di tahun ini, saya pertama kali mendapatkan seseorang spesial. banyak pelajaran yang saya ambil dalam pengalaman ini. kesempatan pertama selalu berkesan dan memiliki tempat tersendiri dalam ingatan. walaupun tak berlangsung lama, saya dapat mengakui bahwa kesempatan ini adalah sesuatu yang mahal dan tak dapat dibeli begitu saja. tak perlu terlalu banyak dibahas, biar saya dan dia saja yang tahu.

tahun ini, saya juga merasakan pengalaman bekerja untuk pertama kali. tidak ada yang spesial dalam hal ini, hanya sebatas kewajiban dan tanggung jawab. tak lebih.

saya berkesempatan traveling untuk kesekian kali pada bulan agustus. kali ini dengan tim yang lebih besar dan rute yang lebih panjang. rute yang ditempuh cukup melelahkan. jakarta-solo-jogja-malang-surabaya ditempuh dalam waktu 10 hari saja. saya tak mampu menjelaskan panjang lebar. it’s simply memorable! tidak sabar untuk kembali merasakan kesempatan lain dengan tim yang berbeda pula.

mukrab terakhir angkatan pun sangat berkesan. saya tak ingin melewatkan ini begitu saja tanpa sesuatu yang dapat diingat di kemudian hari. untuk itu, saya pun totalitas dalam memainkan ‘peran pembantu’ yang hanya beberapa detik. pada akhirnya, saya -merasa- berhasil memainkan peran tersebut dan menjadi ingatan bagi sebagian orang. secara keseluruhan, saya bangga menjadi bagian dari sebuah angkatan yang luar biasa dan mampu memberikan sesuatu untuk itu.

banyak sekali konser berkesan yang saya datangi tahun ini. saya sungguh beruntung dapat menyaksikan launching album WHITE SHOES & THE COUPLES COMPANY dengan duduk di sofa empuk tepat di depan panggung. begitupula dengan konser ports of lima, saya kembali berkesempatan menonton SORE di barisan terdepan dengan segelas fruit punch. sungguh pengalaman yang tak terbayar menonton konser salah satu band terbaik di negeri ini. 

last but not least, saya telah melewati tahapan pertama dalam tugas akhir dan bersyukur bahwa semuanya berjalan dengan baik. masih ada tiga tahapan selanjutnya dan jalan pun masih panjang untuk diretas. 

——

tahun yang akan dilewati masih akan menjadi misteri. harapan-harapa telah dikatakan dalam hati. saya pun mendedikasikan diri untuk menjawab semua harapan-harapan itu agar kelak tidak mati dan berujung penyesalan.

saya berharap dapat menyelesaikan studi tahun ini. tahun ini penting bagi keluarga saya karena tahun inilah tahun kelulusan keluarga. ibu akan lulus dari studi S2-nya, kakak akan diwisuda dan disumpah dokter, dan adik pun tak ketinggalan, akan lulus dari SMA. saya sendiri memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa jangan sampai tidak melengkapinya dengan kelulusan. semoga semua berjalan sesuai rencana. AMIN.

saya tidak terlalu banyak berharap tahun ini. tidak adanya salahnya menunggu kejutan-kejutan dari sang Maha Pemberi. 

menurut saya doa, optimisme, keyakinan diri, dan pikiran positif merupakan bekal yang cukup untuk mengarungi 361 hari ke depan.

 

-kita hanya diberikan kesempatan sekali untuk hidup, maka jadikanlah hidup ini sangat bernilai tidak hanya bagi diri, tapi juga untuk orang lain-

menurut saya menceritakan tentang sifat diri sendiri kurang lebih merupakan pekerjaan orang lain dan saya ingin membiarkan tetap seperti itu. daripada menulis sifat-sifat diri yang membosankan dan tak dinamis ini, lebih baik menungkapkan beberapa fakta, pemikiran, dan cerita menyangkut diri yang mungkin belum pernah atau tak akan diceritakan pada orang lain.

entah karena fakta, pemikiran, atau cerita itu tidak penting atau lebih baik dirahasiakan, tapi dalam momen ini, saya ingin saja menceritakannya setelah dipercaya (baca: tagged) oleh pasangan dua teman saya (echa-laris).

jadi, ini adalah 11 fakta, pemikiran, dan cerita tersebut (disusun acak, tak berdasar prioritas):

1. saya selalu terharu dan terenyuh melihat tukang sol sepatu.
menurut saya, pekerjaan tersebut paling tidak menentukan dan tidak menjamin di dunia ini. belum tentu setiap hari akan ada sepatu untuk diperbaiki. kalaupun ada, setelah sepatu tersebut diperbaiki, maka konsumen tidak akan lagi meminta jasa tukang sol dalam waktu lama. harga jasa perbaikan pun terbilang murah. peluh yang diperas seakan-akan tidak terbayar dengan 10-15rb yang dibayar. itu juga kalau sedang beruntung. seorang tukang sol pernah mengatakan pada saya bahwa terkadang 2 hari dia tidak menemukan sepatu rusak.
lalu dengan apa dia dan keluarganya makan? berjalan dari kompleks ke kompleks lain dengan hasil nihil?
lebih baik tukang petik durian yang pasti masa panennya.
sepertinya mereka lebih berhak menerima receh atau ribuan uang saya daripada ibu-ibu pengemis dengan anak, pengamen, atau bahkan orang cacat peminta-minta.

2. HARIKA MUSIC bukan toko musik melainkan toko dagelan yang menjual gamelan!
kalau anda belum pernah mendengar nama toko musik ini, maka beruntunglah anda!
ceritanya bermula ketika saya ingin membeli CD untuk seorang teman. karena toko tersebut satu-satunya toko musik yang ada di mal tersebut, saya tidak punya pilihan lain. sedang terburu-buru, saya langsung bertanya kepada salah satu penjaga yang terlihat cukup reliable.

bayu : “mas, rak cd the beatles dimana ya?”
penjaga yang entah sok ramah atau belaga tolol menjawab yakin: “indonesia apa barat mas?”
bayu : speechless.

saya pun keluar toko tanpa meninggalkan sepatah kata. saya tak tahu berasal dari mana orang ini (jika masih pantas disebut orang). saya rasa makhluk mars pun merasakan gema the beatles selama berpuluh-puluh tahun.
memang, bisa saja dia tiba-tiba datang dari langit dan langsung menjadi penjaga toko musik.
mungkin giliran dia ditanya, “ST 12 mas?”, dengan sigap, dia menjawab, “album mana mas, terbaru, agak lama, atau lama banget? mending beli yang ini mas (sambil menunjuk album terbaru). lagunya keren deh, ‘cari pacar lagi itu loh!’ pake mas RBT-nya, kode 1234567. siip!”.
mbok yao tahu diri, kalau merasa tidak pantas membuka toko musik, lebih baik buka saja toko dagelan yang menjual gamelan. toh tidak perlu mengetahui nama-nama band sekaligus hitung-hitung melestarikan musik tradisional.

3. suara penyanyi pria indonesia paling seksi adalah ade paloh (sore).
ya, bukan glen fredly, afgan, ataupun tompi! suara ade mampu membuat saya melayang pergi ke dunia lain. jika tidak percaya, coba saja dengarkan “pergi tanpa pesan”. kalau belum cukup, dengarkan lagi “mata berdebu” dan “apatis ria”.
suara lembut dan intonasi nada yang keluar dari bibirnya mampu membuat saya orgasme tingkat tinggi *).
gabungan suara ade dengan cholil mahmud (erk) dalam “jangan bakar buku” kembali membuat saya merasakan orgasme yang tak terbantahkan. aaahhh!

4. tangan saya pernah ditarik gunderuwo.
saat itu, bayu kecil sedang tidur bersama kakaknya di sebuah kamar yang entah kenapa malam itu terasa panas dan pengap. tak selang berapa lama, bayu kecil terbangun dan mendapati sebuah makhluk hitam besar ada di hadapannya. badan terasa dinign dan tangan pun terasa kaku.
makhluk hitam itu menarik tangan bayu kecil yang lemah. akan tetapi, dengan segenap kekuatan yang ada, bayu kecil mampu melepaskannya dan mendekat ke tempat tidur kakaknya.
jika bayu kecil tidak mampu melepaskannya, mungkin saya tidak akan ada disini untuk menulis dan bercerita kembali.
paginya, bayu kecil bercerita pada ibunya dan memperlihatkan bekas cetakan tangan besar berwarna merah di tangannya. sang ibu pun membalas dengan senyum gelisah dan berkata, “itu hanya nyamuk, nak.”.
oke bu, ada berapa ribu nyamuk yang menggigit saya malam itu hingga bekasnya sebesar ini?
anyway, thanks mom for comforting me that time.

5. selalu bermimpi menjadi pemain bola berkebangsaan inggris-indonesia.
ya, saya tak akan malu mengakuinya. imajinasi ini begitu liar hingga tak bisa dikontrol. dalam khayalan, saya adalah seorang pemain liverpool junior yang kemudian masuk ke tim utama dan menjadi bintang pada akhirnya. bermain bersama stevie g dan menjadi kapten kala bermain di piala liga saat semua tim utama dicadangkan. ohh!
setelah gemilang di liverpool, saya kemudian ditransfer ke juventus, tim impian saya. kembali mewujudkan mimpi bermain bersama the living legend alex del piero.
saat dipanggil ke timnas inggris, saya menolak karena beranggapan bermain untuk tim merah putih adalah kebanggaan yang tak terbayar. saya pun dielu-elukan oleh 400 juta penduduk indonesia (ingat, ini hanya imajinasi!).
kemudian, saya mampu membawa timnas ke piala dunia. dalam piala dunia entah tahun berapa, timnas disingkirkan jerman, nigeria, dan paraguay di babak penyisihan grup.
saya bisa saja melanjutkan cerita hingga bayu ini pensiun tapi tentu anda ingin sebuah cerita nyata bukan?
ya sudah, biarkanlah bayu ini hanya ada di dunia alam pikiran saya.

6. ingin menjadi CHUCK BASS dalam seminggu.
jika ada peran yang dalam serial tv yang ingin dimainkan dalam kehidupan nyata, maka peran itu bukan peter petrelli, scotfield, ataupun chuck bartowski, melainkan CHUCK BASS di gossip girl. walaupun sedikit malu, tapi saya mengakui bahwa saya dapat dikatakan GG fan.
dengan sifatnya yang dingin, licik, cuek, ditambah uang yang tak terbatas, saya kira sebagian pria ingin merasakan menjadi dirinya.
pada awalnya, saya juga enggan menonton GG karena beranggapan serial ini hanya sebuah replika sinetron dari amerika.
pesan dari saya, coba tonton 1 episode, niscaya anda tidak akan bisa berhenti.

7. akan membuat dua ruangan khusus apple dan juventus.
kelak, jika hidup telah mapan, saya ingin membuat sebuah ruangan khusus untuk semua barang-barang dengan logo apel tergigit. kemudian, tidak lupa sebuah ruangan dengan tema hitam putih untuk sebuah tim terbaik di dunia, juventus.
obsesi ini dimulai dari sekarang, dengan sedikit demi sedikit mengumpulkan barang-barang dan pernak pernik.
obsesi pun sempat membuat saya gila dengan berencana menjual si oren (motor legendaris saya) untuk membeli iMac atau mengambil tanpa izin (nyolong) iMac yang terbengkalai di lab RPL.
maafkan hamba ya Allah!
yeah, maybe i am that snob!

8. Allah Maha Mendengar dan karma itu ada.
cerita bermula ketika saya berjalan dengan seorang teman mencari makan siang. dalam perjalanan, kami melihat sebuah mobil karimun estilo berwarna merah. percakapan antar dua anak muda itu pun mengalir.

saya : “anjrit, jelek amat tuh mobil. udah modelnya aneh, ditambah warna merah, jadi culun banget!”
teman : “hahaha, iya bay. setuju. produk gagal itu mah!”

malam hari itu juga, ibu menelpon saya.

ibu : “assamualaikum.”
saya : “walaikumsalam.”
ibu : “mas, lagi dimana?”
saya : “di kost, kenapa bu?”
ibu : “enggak, ibu cuma mau ngabarin. ibu baru beli mobil.”
saya : “wah, masa? beli apa?” (dengan nada sumringah)
ibu : “karimun estilo.”
saya : “…….”
ibu : “mas? mas? putus ya?”
saya : “…….”
ibu : “haloo?”
saya : “setidaknya jangan warna merah bu, item aja ya.” (dengan nada lesu lemah letih)

oke, saya menyerah Tuhan. saya hanya hambaMu yang selalu khilaf.
mari bersyukur dengan apapun yang diberikan-Nya!

9. ingin belajar balet dan menjadi balerino (sebutan pebalet pria?)
mendengar lagu favorit saya di album kamar gelap (erk), balerina, membuat saya terinspirasi untuk belajar balet. selain melatih kelenturan tubuh, gerakan balet juga terlihat indah. erk mengungkapkan filosofi hidup yang terkandung dalam gerakan-gerakan balet.
ada yang bisa mengajarkan saya?
saya memiliki penawaran menarik. bagi siapa pun yang bisa mengajari saya, saya akan mengajarinya privat joget-telat-cacat yang sangat fantastis dan legendaris itu. nah, pasti tertarik kan?
ayo, ini penawaran terbatas. ingat, langsung dari ahlinya loh!

10. tidak pernah bisa menggunakan urinoir sensor otomatis.
jujur, saya tidak pernah mengerti bagaimana cara menggunakan urinoir seperti ini. jika sedang di kamar mandi XXI ciwalk atau mal-mal besar, saya pasti lebih memilih closet. walaupun kebelet sekalipun, saya rela antri untuk masuk ke WC.
apa sebenarnya inti urinoir model seperti ini sih?
apakah kita harus bergeser dulu keluar dari jalur sensor SEBELUM MENUTUP zipper, menunggu air keluar, kemudian kembali lagi untuk “bersih-bersih”?
bukankah lebih baik model konvensional dengan tombol?
saya rasa ini penemu urinoir model ini adalah orang barat tolol yang tak biasa membersihkan “diri”-nya setelah buang air kecil.
ah sudahlah, selama selalu ada WC, kebutuhan “membuang” ini masih tetap dapat disalurkan dengan baik. ahh!

11. rekor play count di itunes adalah 626
mungkin anda akan bertanya tentang lagu apa yang pantas untuk didengarkan sebanyak itu.
saya berani meyakinkan anda bahwa it worths every penny!
lagu instrumental sensasional dari coldplay berjudul ‘postcards from far away’-lah yang pantas mendapatkannya.
it is an incredible anesthetized timeless 46 seconds song!
anda akan merasa berada di dunia impian yang tak dapat dicapai orang lain.
chris martin menunjukkan bahwa dia adalah seorang jenius titisan mozart dan beethoven.
and finally, the count is still growing unrestrained!

*) istilah ini saya ambil dari reporter majalah trax (dulu, kini di RS), yarra aristi, yang merasakan hal yang sama ketika mendengar lentingan suara matt bellamy (muse) pada lagu ‘invincible’ di konser reading fest tahun 2006.

daripada melewatkan bulan ini tanpa menulis, lebih baik saya mengutarakan apa yang saya tahu dan pikirkan. semoga saja ada yang bisa diambil atau setidaknya dijadikan selentingan renungan.

penempatan kata ‘right’ dengan ‘things’ memang terkadang membawa hal yang ambigu dan rancu. berbeda tempat saja membuat arti yang jauh berbeda, coba bedakan ‘doing the right things’ dan ‘doing the things right’. saya kira ini bukan hal yang baru jika kata kerjanya adalah melakukan. tapi bagaimana kalau kita mengkhawatirkan sesuatu?

mengkhawatirkan hal yang benar ternyata juga kembali membuat pertanyaan. apakah ada hal hal yang benar untuk dikhawatirkan? kalau hal yang benar ini sama artinya dengan hal yang pantas, tentu saja ada. ya banyak sekali hal yang pantas untuk dikhawatirkan, misalnya kondisi kesehatan orang tua yang menurun atau keadaan hidup yang tak kunjung membaik. hal-hal tersebut misalnya memang pantas untuk diberikan atensi lebih, tentunya untuk mencari sebuah solusi untuk memperbaikinya.

akan tetapi, yang lebih sulit dari sebuah pengkhawatiran adalah mengkhawatirkan hal-hal dengan benar. maksudnya benar disini memang bukan sesuai aturan tetapi ada saat-saat dimana mengkhawatirkan sesuatu adalah hal yang salah. kalau tidak mau dibilang salah karena memang hak penuh seseorang untuk mengkhawatirkan sesuatu, mungkin kata yang tepat adalah tidak dianjurkan. logis bukan?

saya sebagai penulis artikel ini juga bukan berarti selalu melakukan ‘pengkhawatiran’ ini dengan benar. ada kalanya juga saya terlalu mencemaskan keadaan diri yang tak menentu dan kembali mempertanyakan eksistensi. toh hidup ini juga memiliki puncak tertinggi dan jurang yang menganga. puncak dan jurang itu terkadang berdekatan dan siklus keberadaannya akan terus berputar. yang ingin saya maksudkan disini adalah hal yang sangat wajar jika kita pernah merasa berada pada titik-titik terendah dalam hidup sehingga mempertanyakan tujuan semula. lumrah, tapi bukan berarti kita tidak bisa merangkak naik kembali.

khawatir akan sesuatu itu bagus, asal sesuai kadar, objek, dan waktunya. khawatir yang berlebihan tidak membawa ketenangan hati, begitupula mengkhawatirkan hal-hal sepele dan kurang esensial yang membuang-buang waktu dan jatah pemikiran untuk hal yang lebih penting. khawatir untuk waktu yang terlalu di depan adalah hal yang cenderung sia-sia. lebih baik memikirkan apa yang bisa dilakukan hari ini daripada mencemaskan sesuatu yang belum tentu datang di masa yang jauh di depan. saya tidak mengatakan bahwa memikirkan masa depan itu tidak baik.

“jangan khawatirkan hal-hal yang tidak bisa kamu kerjakan. tapi khawatirkanlah hal-hal yang bisa kamu kerjakan tapi tidak akan kamu kerjakan.”

sebuah perkataan inspiratif dari seorang bijak membuat saya sedikit tertegun, seakan-akan begitu mengena. ternyata, seperti itulah kita harus bersikap dalam mengkhawatirkan sesuatu. tidak perlu terlalu mencemaskan sesuatu yang diluar jangkauan kita. kita dapat mencapai jangkauan itu suatu saat dan melebihi batasannya. walaupun tidak mudah, tapi selalu ada jalan bagi yang berusaha.

justru, yang harus kita khawatirkan adalah sesuatu dalam lingkup kemampuan kita namun kita enggan melakukan itu karena beranggapan masih ada lain waktu, pekerjaan lain, ataupun menganggap sesuatu tersebut tidak penting saat ini. inilah yang harus kita cemaskan dan berikan atensi lebih. semoga saja dengan mengerjakan hal-hal dalam jangkauan kemampuan kita, kelak kita akan mampu melebihi batas jangkauan kemampuan kita tadi dan akhirnya dapat melakukan hal-hal luar biasa dalam pemikiran kita.

cherrio!

live your life up!

Next Page »