kalau saja ada survey ke hampir seluruh kalangan masyarakat sosial di negara ini saat ini juga tentang isu sosial apa yang kini sedang marak dibahas belakangan ini atau katakan saja, apa yang sedang dipikirkan dalam beberapa waktu ke depan,, maka, saya yakin lebih dari 80% atau mungkin 90% menjawab rencana pemerintah menaikkan harga BBM dalam negeri..

tentu saja rencana ini menghadapi reaksi keras dari masyarakat khususnya mahasiswa, yang dikenal sebagai orang intelektual dan calon pemimpin bangsa.. selanjutnya mungkin ada pertanyaan, apakah kebijakan ini beralasan?? jika melihat fakta di lapangan dan kenyataan pahit yang sedang menghantam perekonomian dunia, saya bisa bilang bahwa kebijakan ini beralasan..

apakah itu berarti saya setuju dengan kebijakan menaikkan BBM? saya tidak bilang eksplisit bukan? oke, awal mula kebijakan ini adalah melonjaknya harga minyak dunia hingga menembus rekor fantastis 125 dolar per barel.. tentunya, fakta ini membuat perekonomian dan stabilitas harga dalam negeri menjadi kocar kacir..

APBN kita terancam hancur karena hampir setengah APBN kita atau sekitar 230 trilliun rupiah terkonsentrasi HANYA untuk subsidi BBM dalam negeri.. lantas mau dikemanakan anggaran pendidikan, kesehatan, sosial, atau hankam? apakah rakyat rela jika alokasi biaya pemerintah untuk sektor sektor paling riil dan menentukan itu dipotong, saya yakin pasti akan ada unjuk rasa besar besaran lagi untuk mengurangi biaya pendidikan, menggratiskan fasilitas kesehatan, bla bla bla..

sebenarnya yang saya soroti disini sesuai dengan judul tulisan saya kali ini adalah unjuk rasa mahasiswa yang kian hari kian anarkis.. apakah masalah dapat selesai jika kita berunjuk rasa menyeret babi, membakar ban di jalan, berkelahi dengan polisi, atau cara-cara lain yang tidak tahu malu??

apakah mahasiswa kita semakin tidak intelek dengan hanya turun ke jalan melakukan unjuk rasa secara anarkis yang tadi saya bilang TANPA MEMBERIKAN SOLUSI..?? mudah sekali untuk menentang kebijakan pemerintah dengan unjuk rasa tapi kemudian membuat pemerintah berpikir kembali untuk mencari solusi alternatif lain..

bukankah sebaiknya mahasiswa sebagai individu intelektual tidak hanya mengandalkan emosi tapi juga akal pikir mereka untuk memberikan solusi? intelektual menurut saya adalah kritis dan berpikir.. tapi yang terjadi sekarang justru hanya kritis yang dipegang tanpa berpikir,, yah beginilah nasib negara kita, bilamana para pemikir pemikir muda enggan untuk berpikir..

cara paling mudah untuk memberikan solusi adalah mengambil ide orang lain,, ya, media-media dengan jelas membeberkan beberapa alternatif solusi yang bisa diambil pemerintah selain menaikkan harga BBM,, apakah sulit jika para pengunjuk rasa itu berunding, menyamakan pikiran, dan memilih solusi mana yang mereka setujui,, sulitkah?? saya rasa tidak..

jika memang malas untuk berpikir, lebih baik diam saja, ikut saja kebijakan pemerintah, seperti langkah yang diambil institusi tempat saya mengembangkan diri ini.. entah karena para mahasiswanya pura-pura tidak tahu, pura-pura bodoh, atau malah yang lebih parah, tidak perduli.. tanpa bermaksud menyinggung siapa pun, tapi inilah realita yang ada di sebuah institusi terbaik bangsa yang seharusnya bisa memberikan solusi bagi bangsa ini keluar dari permasalahannya..

lagi-lagi saya bertanya, dimanakah intelektualitas kita?

oke, cherrio!!