Hari itu mungkin akan menjadi momen terpenting dalam hidup sekaligus hari yang tak akan terlupakan oleh Tuminten, seorang gadis di desa kecil daerah Ponorogo, Jawa Timur. Bagaimana tidak? Setelah 18 tahun dikurung dan dipasung di dalam rumah oleh ibunya sendiri, Tuminten akhirnya diperbolehkan keluar rumah untuk sekedar berjalan-jalan. Dalam perjalanan yang sebentar itu, ibunya harus juga pergi untuk menemani.

 

Sang ibu, Tuminah, memiliki alasan yang sangat ‘rasional’ untuk memasung Tuminten di rumahnya sendiri. Tuminten tidak gila, tidak juga memiliki kelainan mental atau penyakit menular kronis. Tuminten hanyalah seorang gadis biasa yang memiliki impian. Namun, semua impiannya itu kini hilang tak berbekas hanya karena sang ibu tidak ingin anaknya pergi meninggalkannya. Kepergian kakak Tuminten, Tumini, yang tak pernah kembali rupanya meninggalkan trauma bagi ibunya. 

 

Tuminten buta huruf. Dia sangat takut dengan manusia selain ibunya. Dia tidak pernah sekalipun berbicara dengan orang lain. Hal itu yang membuatnya sulit berbicara dan mengungkapkan isi hatinya. Sang ibu sudah sangat terbiasa dengan perilaku anaknya. Tuminah membuatnya jadi seperti itu, seperti raga tanpa jiwa. Bahkan, Tuminah pun jarang sekali berbicara dengan anaknya ini. Setiap hari, dia hanya melakukan rutinitas memberikan makan Tuminten tiga kali sehari di luar pekerjaannya sebagai buruh tani.

 

Tidak ada informasi yang bisa ditarik dari Tuminten. Setiap kali ditanya, dia selalu meringkup di balik punggung ibunya seperti seorang anak yang bersembunyi dari orang asing. Ibunya pun hanya tersenyum sambil berkata, “Ora po po ndok, itu ditakoni om (Tidak apa-apa nak, itu ditanya om),” untuk menenangkan anak yang tinggal satu-satunya tersebut. Tuminten hanya diam seribu bahasa. Dia hanya membalas dengan tatapan mata yang kosong.

 

Perjalanan hari itu pun harus berakhir. Tuminah menggandeng tangan Tuminten untuk membawanya kembali pulang ke ‘kehidupannya’. Tuminten memasuki rumahnya yang hanya berukuran tiga kali dua meter dengan beralaskan kayu. Dia langsung menuju kasur lapuknya. Kasur lapuknya itu mungkin satu-satunya tempat yang ia anggap nyaman di dunia ini.

 

Tidak ada yang pernah tahu bagaimana hidup Tuminten selanjutnya. Untuk Tuminten, pepatah ‘hidup itu di tangan Tuhan’ sepertinya kurang relevan, lebih cocok jika disebut ‘hidup itu di tangan Tuhan dan Tuminah’.