Beberapa minggu lalu, saya baru saja pulang dari Bandung. Naik travel langganan, saya turun di kantor travel tersebut di Jatiwaringin. Walaupun hanya duduk, entah kenapa saya merasa lelah saat itu. Saya memutuskan untuk menunggu adik menjemput di ruang tunggu. Adik sedang dalam perjalanan. Lumayan, ada AC dan TV. Saya duduk di kursi depan bersama seorang Ibu yang sepertinya menunggu keberangkatan. Di kursi yang lain, ada seorang Bapak yang sudah agak tua.

Saya dan Bapak itu menikmati acara televisi. Maklum, acaranya lagi hangat, seputar Pemilu Presiden yang tak lama baru saja berlangsung. Polemik dan intrik yang menyertai seakan tidak ada habisnya. Mungkin hal itu yang membuat kami serius mendengarkan. Gangguan pun datang. Coba terka dari siapa? Kalau Anda menjawab dari Ibu itu, Anda benar.

Setelah mengangkat telepon dari BB-nya, Ibu itu terlihat sangat antusias dan bersemangat sekali, bahkan kalau boleh dibilang over-spirited. Saya jadi penasaran apa yang dibicarakannya, proyek atau barang baru, entahlah, saya tidak mau tahu. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah suara dan tingkahnya. Dengan suara yang keras dan tawa yang terbahak-bahak, menghentak-hentakkan kaki, membuat saya dan Bapak tua tersebut sangat tidak bisa menikmati apa yang kami lihat. Jangankan mendengar apa yang dibicarakan, konsen kami pun beralih ke tingkah Ibu parlente ini. Parlente? Ya, terlihat dari dandanannya yang necis, parfumnya yang menyengat, kacamata hitam yang dikeataskan (padahal sepertinya matahari cukup bersahabat saat itu), dan tentu saja BB-nya. Saya tidak yakin apakah dia mampu mengoptimalisasi penggunaan alat tersebut seperti halnya Ayah saya yang hanya tau SMS, telpon, dan sedikit FB-an.

Bapak tua itu memegang remote TV. Beliau berinisiatif mengeraskan suara sambil berharap Ibu itu tahu diri dan ‘behave’. Untuk memastikan Ibu ini sadar, Beliau pun mengamati atau tepatnya memandang sinis pada sang Ibu parlente. Namun, sepertinya usaha Bapak itu sia-sia, sang Ibu tak mau tahu dan malah terlihat tambah menikmati obrolannya dengan seorang pria yang saya yakin bukan suaminya. Sudah, jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang ‘hubungan’ dan ‘obrolan’ itu. Hehe.

Apa yang bisa diambil dari cerita singkat ini?

Saya berkesimpulan, etika itu ada dan tidak tertulis. Namun, jika kita tidak peka, etika adalah sebuah aturan tanpa keniscayaan. Etika hanya akan tersimpan dalam memori (atau tidak) dan berbentuk nilai-nilai yang abstrak bin semu. Kepekaan adalah bahan baku etika untuk memastikan tindakan tidak mencoreng nilai-nilai di dalamnya.

Terakhir, jadilah insan yang peka dan aplikasikan etika dimana pun Anda berada!