Lebaran sangat identik dengan mudik, ritual tahunan ciri khas bangsa ini yang entah sejak kapan muncul. Sangat mengesankan jika membayangkan dahulu kala, nenek moyang kita selalu kembali ke kampung halaman setelah setahun merantau. Seperti kebanyakan rakyat Indonesia, saya pun sangat menikmati dan bahkan menunggu-nunggu momen tersebut. Mari jujur pada diri sendiri, berapa kali dalam setahun Anda bertemu dan berkumpul dengan sanak saudara, baik dekat maupun jauh?

Kalau untuk saya, memang hanya Lebaran inilah yang menjadi magnet penarik seluruh saudara untuk berkumpul di suatu titik, menyatukan elegi dan hati. Tentu, keadaan ini akan sangat lain jika banyak saudara kita yang tinggal berdekatan atau bahkan serumah. Reuni keluarga besar bisa jadi sangat sering dilakukan.

Sebenarnya, apa sih tujuan mudik itu? Jawaban pasti akan beragam. Ada yang hanya ingin mengisi liburan, mengunjungi saudara yang sudah lama tak bertemu, bertemu teman lama, ataupun kumpul keluarga besar. Kalau ditarik benang merahnya, inti dari semua itu adalah silaturahmi. Menyambung kembali tali yang putus atau mengencangkan kembali sisi yang longgar adalah hikmah silaturahmi yang kalau dipahami lebih dalam, sangat luar biasa. Saya yakin masing-masing pribadi memiliki pengalaman dan kesan tersendiri tentang makna silaturahmi.

Perjalanan sampai ke kampung halaman tentu memerlukan pengorbanan, mulai dari waktu, biaya, tenaga, bahkan nyawa!. Nyawa? Ya, tentu tidak ada orang yang mau meninggalkan dunia pada salah satu momen terbaik sepanjang tahun. Namun, di sisi lain, fakta berkata lain. Masih banyak kecelakaan terjadi yang memanggil ‘dewa kematian’.

Mudik tahun 2009 ini, tercatat ada sekitar seribu seratusan kecelakaan. Memang, menurun sekitar 20% dari jumlah tahun lalu yang sekitar seribu tiga ratusan. Angka yang meninggal pun ikut sedikit menurun, dari 600-an menjadi 500-an korban. Catatan yang masih merah. Lalu, siapa yang mau disalahkan?

Sangat naif terus ‘mengkambinghitamkan’ takdir. Berkata, ini kehendak Sang Kuasa. Kenyataan di lapangan, semrawut! Perbaikan memang selalu ditingkatkan tapi banyak celah yang tak seakan tak bisa ditutupi. Sebagai contoh, infrastruktur jalan yang kurang memadai, rambu lalu lintas bisa dibilang pas pasan, koordinasi penyelenggara yang tak maksimal, dan masih ada lagi beberapa. Kebanyakan pemudik juga sama saja, memaksakan diri dan kerap ugal-ugalan. Kalau sudah begitu, tidak hanya mereka yang rugi, tapi orang-orang di sekitarnya. Apatis. Egois.

Angkutan umum yang tak bisa diandalkan membuat kendaraan pribadi menjadi favorit, terutama tentu saja sepeda motor. Cepat, praktis, murah, tapi keselamatan? Nanti dulu. 95% kecelakaan yang terjadi melibatkan sepeda motor. Ironis? Tidak juga. Membawa motor ke kampung halaman bagi sebagian orang merupakan lambang kesuksesan peras keringat di ibukota. Cicilan belum lunas itu urusan belakang, yang penting emak dan abah di kampung bisa bangga anaknya punya kendaraan sendiri. Miris, keinginan besar bertemu keluarga justru berakhir di liang lahat. Tak sedikit korban meninggal mengenaskan, namanya juga kecelakaan, entah kaki dan tangan berada di mana. Yang jelas, raga sudah pergi, mungkin ia menangis melihat jasadnya dari atas sana.

Maut itu tidak perlu didatangi, kalau sudah waktunya, nanti dia juga datang sendiri. Berharaplah ia datang dengan cara yang sangat baik sehingga raga pun tenang melepas jiwa. Mudah-mudahan mereka yang sudah pergi mendapat jalan yang lapang oleh-Nya dan malaikat pencabut nyawa benar-benar libur saat lebaran tahun depan tiba.

Semoga kita masih diberi kesempatan menikmati Ramadan berikutnya! Amin.

Salam, minal aidzin wal faidzin!