Impian yang Terurai

Manchester, Mei 2015.

Tiga tahun lalu, saya ingat betul bagaimana ciutnya nyali itu saat tengah membidik beasiswa Chevening, salah satu beasiswa paling prestisius di dunia dari pemerintah Inggris. Saya merasa tak cukup punya kemampuan dan kompetensi untuk lolos meski secara persyaratan administratif, tidak ada masalah karena saya sudah berkarier selama dua tahun setelah lulus sarjana. Saya ingat betul bagaimana formulir beasiswa itu sudah selesai ditulis tapi tombol ‘Submit’ masih enggan saya tekan. Saya tak tahu mengapa. Ada saja pikiran-pikiran buruk yang menggelayuti, mengatakan saya tak pantas bahkan untuk sekedar mendaftar beasiswa itu. Pikiran-pikiran buruk itu pun akhirnya menang dan saya urung mendapat keberanian untuk sekedar mengirimkan formulir dengan esai berlembar-lembar yang telah saya tulis.

Ketika akhirnya memutuskan untuk melanjutkan karier di tempat baru, saya tak lantas meninggalkan mimpi itu. Bagi saya, kuliah di Inggris sudah menjadi mimpi yang dinyatakan bersama di hari terakhir saya mengajar anak-anak yang hidup dalam belaian angin laut itu di desa Bibinoi di pesisir Pulau Bacan, Halmahera Selatan. Saya menulis, “Kuliah S2 di Inggris”, lalu menggantungkannya di pohon mimpi bersama mimpi-mimpi lain milik mereka. Ada yang menulis guru, polisi, bahkan pengacara. Apapun itu, kami berjanji untuk berusaha mencapainya. Tulisan-tulisan itu telah melampaui jauh arti harfiahnya dari sekedar untaian huruf menjadi tujuan dalam hidup yang mesti diperjuangkan. Ia menjadi bahan bakar tak habis pakai untuk saya pribadi agar kelak menjadi contoh bagi anak-anak didik saya. Seorang guru di desa pesisir kecil bisa menuntut ilmu sampai ke tanah Ratu Elizabeth.

Sepulangnya dari sana tiga tahun lalu, saya menulis “Chevening 2014” di sebuah kertas bekas lalu menempelkannya di depan meja belajar di kamar. Setiap hari saat bangun tidur, akan berangkat ke kantor, mengerjakan tugas, dan menutup hari, saya selalu melihat tulisan itu. Mimpi itu semakin mengendap dan mengeras di pikiran. Setiap aktifitas yang saya kerjakan, saya selalu berusaha mengaitkannya dengan mimpi itu. Bagaimana menjadikan apapun yang saya lakukan sebagai jembatan agar bisa melanjutkan studi di Inggris.

Tepat setahun lalu, saya tak lagi menunda mendaftar seiring kepercayaan diri yang semakin menguat. Saya mesti mencoba. Apapun hasilnya, sungguh itu bukan kuasa saya lagi. Faidza azamta fatawakkal alallah, kuatkan niat lalu bertawakal pada Allah. Firman Tuhan itu menjadi pegangan saya dalam setiap keputusan-keputusan penting dalam hidup. Yang terpenting, saya yakin telah melakukan yang terbaik dalam menuliskan esai tersebut. Bagaimana menghubungkan setiap pengalaman dan kemampuan saat menjadi mahasiswa di ITB, pengajar di desa terpencil, dan analis di perusahaan swasta nasional lalu memetakannya dalam visi masa depan saya dengan mengambil kuliah ICT for Development di University of Manchester.

Sekitar empat bulan kemudian, saya mendapatkan email dari Chevening untuk mengundang saya dalam tes wawancara. Hati sumringah membacanya. Namun saya sadar betul kesenangan ini tak boleh berlarut-larut. Lolos sampai tahap wawancara Chevening memang membanggakan tapi bukan itu yang menjadi akhirnya. Saya mesti mempersiapkan sebaik-baiknya menghadapi tiga panelis dengan kemungkinan berbagai macam pertanyaan yang muncul.

Ketika sampai di kursi itu, saya sudah merasa benar-benar siap. Rasa grogi luntur tak bersisa saat menunggu di lobi. Ini bukan saatnya untuk ragu dan gugup. Saya mesti yakin dengan setiap jawaban yang keluar dari bibir. Satu panelis berasal dari alumni Chevening, satu dari British Embassy, dan yang lain berasal dari Department of Information dari pemerintah Inggris. Pemilihan panelis sepertinya dicocokkan dengan studi yang saya pilih.

Selepasnya dari wawancara itu, saya tak lagi begitu memikirkan hasilnya. Saya tahu telah memberikan yang terbaik dan saya yakin Allah tak akan mengecewakan hamba-Nya. Dalam cerita kehidupan saya sampai saat itu, saya semakin yakin bahwa apa yang dipilihkan-Nya pasti yang terbaik. Dua bulan beselang ketika pagi itu, saya masih terduduk di kursi kantor saat mendapatkan email bahwa saya diterima. Seketika, saya masuk ke ruangan rapat yang tak terpakai dan meluapkan rasa bahagia. Saya langsung mengabari istri dan ibu untuk berbagi rasa syukur karena akhirnya mimpi itu semakin dekat dengan diri.

Siang itu, kami mendarat di Bandara Internasional Manchester. Di tanah mimpi ini, senyum masih kental tersungging di wajah kami. Pertama kali menginjakkan kaki di bumi Britania, bersama istri yang tengah tujuh bulan mengandung buah hati kami. Ya, kami memang berencana membangun keluarga di sini. Sebuah keputusan sangat sulit karena pasti akan lebih banyak tantangan dengan hidup jauh dari keluarga dan sanak saudara. Meski begitu, dari setiap yang sulit pasti akan banyak juga pelajaran hidup yang diambil. Saya dan istri sudah berjanji untuk saling mendukung satu sama lain dalam menjalani pilihan yang tak mudah ini. Lagi-lagi, faidza azamta fatawakkal alallah.

Kami banyak bersyukur karena jalan kami di negeri yang masih asing ini penuh kemudahan. Mulai dari mempersiapkan keberangkatan, mencari tempat tinggal yang aman dan nyaman untuk sebuah keluarga kecil dan calon buah hati, hingga bagaimana saya pribadi menyesuaikan antara waktu untuk studi dan keluarga. Chevening memang secara jelas menyatakan tidak merekomendasikan saya untuk membawa keluarga. Selain mereka tidak menyediakan tunjangan keluarga, kurikulum pascasarjana di Inggris juga sangat menyita waktu karena materi dipadatkan menjadi satu tahun. Namun, saya yakin bahwa membawa keluarga menjadi pilihan terbaik yang juga harus diperjuangkan. Menemani istri melahirkan anak pertama kami tidak bisa dinilai dengan rupiah. Juga membacakan adzan di telinga mungil anak kami saat ia baru berusia beberapa menit. Komitmen kami bulat dengan menggunakan tabungan kami yang amat terbatas untuk bertahan hidup di Inggris.

Di balik kesulitan, pasti ada kemudahan. Keluarga para pelajar di Inggris mendapatkan asuransi gratis dari pemerintah. Ini pula yang meyakinkan saya untuk membawa istri melahirkan di Manchester. Tidak ada sama sekali biaya yang dikeluarkan untuk biaya persalinan, imunisasi, dan perawatan lainnya. Semua gratis. Ketika akhirnya tanggal 8 November 2014, Ayra Kelana lahir ke dunia dengan keadaan sehat walafiat tanpa kekurangan suatu apa pun, rasa syukur kami memenuhi dunia. Kedatangan Ayra membuat tanggung jawab saya bertambah. Tidak lagi seorang suami dan pelajar, tapi juga ayah. Yang berarti harus siap membantu istri dalam setiap keadaan, merawat anak dengan penuh kasih, dan juga tetap memegang komitmen untuk memberikan yang terbaik dalam amanah studi ini.

Alhamdulillah, semester pertama bisa saya lewati dengan baik. Dua mata kuliah mendapatkan nilai distinction, dua highly merit, dan satu lagi passed atau lulus. Meski agak kecewa untuk nilai yang terakhir, saya melihat sisi positifnya agar kaki ini tetap menginjak bumi. Jangan terlampau puas hati dengan segala pencapaian. Di atas langit masih ada langit. Saya mesti menjaga konsistensi ini sampai predikat Master of Science melekat di nama belakang.

Mengenal secara pribadi seorang profesor yang dulu hanya saya kenal lewat karya-karyanya dalam buku dan jurnal juga melengkapi cerita manis perjalanan studi di Inggris. Jujur saja, beliau menjadi salah satu alasan utama saya mengapa saya hanya mendaftar kuliah di University of Manchester dan tidak di universitas lain. Beliau adalah salah satu pemikir terbaik dalam bidang ICT for Development dan membuka program studi pertama dengan subjek tersebut di dunia. Sebuah kehormatan bisa mendengarkan langsung kuliah beliau di kursi paling depan ruang kelas itu. Apalagi ketika pada suatu waktu, beliau menyapa saya dengan nama, lagi-lagi syukur itu muncul. Saya tak melihat dirinya waktu itu karena sedang terburu-buru, tapi Prof. Richard Heeks melihat saya lalu berkata, “Bayu, why are you so in rush?”. Saya tak pernah mengira sebelumnya kalau beliau mengenali saya dengan nama. Ini membuat semua pengalaman studi ini makin kental berkesan.

Di suatu kesempatan acara penyambutan para penerima beasiswa Chevening dari seluruh dunia, saya bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang ternyata juga asesor aplikasi Chevening. Entah dari mana, ia tiba-tiba menyapa saya dari belakang dan saya pun menanggapinya hangat. Kami saling berbagi cerita tentang bagaimana ia terlibat dalam Chevening dan saya sampai di sini. Akhirnya, saya pun bercerita kalau saya membawa serta istri yang tengah hamil tua ke Inggris. Waktu itu, Ayra memang belum lahir. Ia semakin tertarik dengan cerita saya sampai memberikan nomor kontaknya agar kami bisa tetap menjalin silaturahmi.

Saya mengirimkan email padanya untuk mengabari kelahiran anak kami. Tanpa kami sangka, ia mengirimkan kado untuk Ayra berupa banyak pakaian dan perlengkapan bayi dengan merek terkemuka dengan harga yang bisa dibilang tidak murah. Hubungan kami pun terus berlanjut dengan saling berbagi kabar. Ia mengirimkan kue saat hari Natal tiba dan kami pun mengungkapkan keinginan untuk mengunjungi ia dan keluarganya di Sherborne, sebuah kota kecil di barat London. Ia bahagia sekali mendengar keinginan kami itu dan mempersiapkan segala sesuatunya dengan serius. Termasuk bagaimana kami bisa menghabiskan waktu di rumahnya dengan mengunjungi berbagai tempat dan mengenalkan kami dengan teman-temannya. Empat hari bersama keluarganya menjadi kisah manis saya, istri, dan Ayra di tanah Britania. Kami diperlakukan layaknya keluarga di rumahnya yang asri lagi menyenangkan. Tak hanya diajak mengelilingi kota dan tempat-tempat menarik hati, kami juga berkenalan dengan teman-teman dekatnya. Ia bahkan menyebut dirinya, ‘granny’, untuk Ayra. Andai Ayra sudah bisa berbicara, pasti ia akan sangat bahagia mengetahui dirinya punya seorang nenek angkat di Inggris yang menyanginya dan bisa dikunjungi kapan saja.

Perjalanan menuntut ilmu dan berkeluarga di sini belum berakhir. Masih ada semester kedua dan disertasi yang harus diselesaikan. Namun, tujuh bulan hidup di tanah yang tak lagi asing ini memberi pelajaran akan banyak hal. Bahwa keyakinan bisa membawa kita ke tempat-tempat tak terduga dan usaha keras menjadi jembatan untuk meraih mimpi-mimpi di penghujung langit. Keyakinan dan usaha keras saja tak cukup karena kuasa kita tak akan pernah mampu mengubah keadaan. Serahkan semua pada Sang Pemilik Langit dan Bumi setelah kita yakin melakukan yang terbaik. Sungguh keberserahan itu menentramkan hati dan meneguhkan iman. Yakinlah Ia tak pernah mengecewakan hamba-Nya.

Di sebuah taman kecil di tepian Sungai Thames di London, saya dan istri terduduk di sebuah bangku kayu. Saya tengah memangku Ayra yang baru saja terbangun dari tidur siangnya. Cuaca hari itu sedang hangat-hangatnya. Langit biru muncul setelah kabut pekat beranjak pergi. Angin berembus semilir. Musim semi sudah berada di ujung pintu. Saya teringat saat pertama kali menulis profil sebagai kontributor untuk sebuah majalah perjalanan, “Impiannya adalah duduk di tepian Sungai Thames sambil memandangi London Bridge.” Hari itu, impian itu terkabul. Tak hanya sendiri, saya duduk bersama istri yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu dan juga Ayra, buah hati kami yang kian hari kian menggemaskan dan tak pernah gagal menjadi pelipur lara kami di kala gundah. Hari itu, Tuhan menjawab mimpi-mimpi saya dengan cara yang sama sekali tak terduga. Ia tak hanya mengabulkan, tapi juga menambah-nambahnya dengan luar biasa. Sungguh nikmat Tuhan manakah yang bisa kami dustakan. Di hari itu pula, saya semakin sadar mimpi-mimpi yang sudah pernah dicetuskan, satu demi satu telah terurai.