Kaya Akan Rasa

by Bayu Adi Persada

Percikan air semakin lama semakin terasa. Semakin besar bulir-bulir air yang menerpa wajah dan tubuh. Goyangan arus sungai yang kian kencang membuat kapal karet ini tak stabil. Bagai naik kursi goyang murahan yang tak teratur gerakannya dan sering membuat dag-dig-dug. Ini adalah kali pertama saya dan beberapa teman lain ‘bermain’ rafting atau arung jeram. Maklum, kalau untuk saya, dari sejak beberapa bulan lalu, saya dan teman-teman sudah merencanakan untuk menaklukkan arus sungai Citarik yang terkenal itu. Namun apa daya, belum sempat terealisasi karena banyak hal menghadang. Alasan.

Oleh karena itu, sejak pertama kali melihat jadwal pelatihan dan melihat ada waktu untuk rafting, saya senang bukan main seakan-akan itu adalah alasan kita (baca: saya) mengikuti pelatihan ini. Dalam hati kecil, saya merasa ini adalah rencana kecil Tuhan untuk memberikan saya kesempatan merasakan olahraga menantang ini sebelum diterjunkan langsung ke ‘medan pertempuran’ yang sebenarnya.

Kapal kecil itu dipenuhi sesak oleh kami, tim The Astis, yang beranggotakan Asti, saya, Patrya, Hasan, Inay, dan Sjahril sebagai pemandu. Tim kami ambisius. Kami tak mau jadi yang paling terakhir di rombongan kapal-kapal ini. Walaupun kami termasuk pemberangkatan kloter terakhir, kami tetap berusaha menyalip satu demi satu kapal-kapal ‘lawan’ di depan. Tentu saja sambil mengibaskan sirip hiu (baca: dayung) ke kapal lain agar suasana makin seru.

Nasib berkata lain. Walau sudah susah payah menyalip satu demi satu lawan, kami kerap terhalang karang yang membuat kapal kami stucked. Malang. Bukan nama kota. Alhasil, kami tetap di posisi awal kami, peringkat dua … dari terakhir. Bahkan, dalam beberapa kesempatan kami ada di posisi memalukan, paling buncit. Ibarat di liga sepakbola, tim kami sudah siap terdegradasi ke kasta yang lebih bawah.

Peringkat kami sama sekali tidak mengurangi antusiasme menghadapi arus deras, batu karang besar, dan kelelahan. Hasan sempat terjatuh karena kapal kami terbentur karang cukup keras. Tak perlu dikhawatirkan untungnya. Tempat Hasan terjatuh cukup dangkal. Dia bisa langsung berdiri untuk menunggu kami mendekat. “Maju, maju, maju”, “Mundur, mundur, mundur”, dan “Lepas, lepas, lepas”. Kata-kata itulah yang sering didengar di atas kapal karet rentan ini. Komando dari komandan Sjahril di kapal harus dipatuhi semua awak. Beliau sudah sering cicip tawarnya sungai Citarik. Setiap perintahnya adalah titah raja.

Di tempat check point, rombongan kapal-kapal beristirahat sejenak. Minum seteguk dua teguk air cukup melegakan. Memang tidak mungkin langsung mengembalikan ratusan atau bahkan ribuan kalori yang terbuang dalam 1,5 jam perjalanan. “Masih ada 3-4 km lagi di depan”, kata komandan Sjahril pada kami. Awak kapal sudah siap kembali menerjang badai setelah 15 menit istirahat.

Kami lekas naik ke atas kapal untuk mencuri start. Ya, nafsu kompetisi kami tidak hilang. Apalagi ada Inay di kelompok kami yang terkenal sebagai wanita paling ambisius dari korps Pengajar Muda. Anda tidak akan mau berhadapan dengan-nya bermain A-B-C. Dia intimidatif. Serius. Matanya bagaikan singa yang melihat rusa di padang rumput.

Rombongan kapal-kapal sudah lepas landas. Kembali mengais-ngais ritme dayungan yang sudah hilang. Kami tidak lagi di papan bawah klasemen. Berbekal tempat parkir kami yang agak di depan kebanyakan kapal lain, kami pun menikmati berada di kerumunan kapal-kapal lain. Di saat yang lain lengah, kami langsung tancap gas meninggalkan kapal lain yang terheran-heran dengan semangat kami yang berlebihan. Mungkin hanya kami yang menganggap ini kompetisi. Well friends, life is a competition, am I right?

Satu jam perjalanan terakhir terasa lebih mudah dari sebelumnya. Tak ada halangan berarti. Kalau ada, paling hanya penyempitan arus, karang-karang kecil, dan hujan gerimis. Tak masalah. Kami mampu menjaga ritme permainan kami dan menyelesaikan ‘kompetisi’ di urutan pertama. Hadiahnya? Kami menikmati air kelapa muda pertama kali. Hujan deras tidak mengurangi legitnya air kelapa yang kami teguk. Surga dunia.

Kompetisi belum berakhir kawan! Setelah selesai rafting, kini waktunya paint ball. Kali ini, kami dari grup Api, teman-teman sekamar di asrama, akan melawan grup Angin dari kamar yang berbeda. Psywar sudah dikumandangkan jauh sebelum pertandingan dimulai. Siapa akan mengincar siapa, siapa yang jadi komandan, dan strategi apa yang akan digunakan sudah dibicarakan sejak awal. Ini pertandingan hidup mati. Memang bukan nyawa, tapi harga diri dipertaruhkan di sini. Again, I told you life is a competition. Winner’s gonna survive, loser stays as a loser.

Saya diberikan peran sebagai libero, penjaga markas. Saya bertugas mengawasi pergerakan lawan dan menembak jarak jauh. Pandangan dari pelindung wajah yang berembun sangat menyulitkan saya melihat. Sang juara tidak mengeluh. Sirine telah dibunyikan. Genderang perang sudah ditabuh. Kami pun bergerak sesuai peran dan strategi yang telah ditentukan.

Saya hanya bergerak lima meter dari markas. Suara tembakan langsung terdengar di mana-mana. Game is on! Saya mencoba mengawasi pergerakan lawan dari jauh. Ketika lawan sedikit terlihat, saya langsung melesakkan tembakan. Tak peduli apakah peluru ini mengena. Yang jelas, kontribusi pada tim harus ada. Sirine kembali membahana. Perang semakin sengit. Semua orang beranjak keluar melakukan manuver terbaik demi menginvasi markas lawan.

Saya mencoba terus merangkak di tengah keburaman pelindung wajah ini. Mencari target yang jelas terlihat untuk ditasbihkan peluru cat ini. Kembali menembak tak tentu arah. Tak selang berapa lama, perang selama 15 menit ini pun berakhir. Tim Api menang! Hore! Ini adalah kemenangan yang luar biasa mengingat lawan kami berisi orang-orang berbadan besar, kuat, dan agresif. Tak terduga. Akhirnya, saya bisa mengatakan pada Aheng, salah satu ‘tokoh’ di tim Angin, “In your face!”

Kalau dilihat-lihat, saya memang tidak berkontribusi banyak seperti sukses menembak musuh atau berhasil mengambil bendera di markas lawan. Akan tetapi, setidaknya saya memberikan kenyamanan pada teman-teman yang bergerak agar tak usah menghiraukan kondisi markas. Ada libero tangguh yang menjaga. Ah, menghibur diri saja.

Momen bersejarah selanjutnya tentu saja Acara Syukuran Indonesia Mengajar. Acara tersebut luar biasa besar. Tak terbayang sebelumnya, kami akan dijamu sedemikian mewah dan bertemu dengan tamu-tamu besar pula. Sebut saja Arifin Panigoro, Sandiaga Uno, Maruar Sirait, bahkan Menteri Pendidikan RI Muhammad Nuh menyempatkan diri untuk hadir. Buat saya, ini adalah sebuah penghargaan akan niat besar kami untuk mengabdi pada negara. Catat, baru niat.

Penting bagi saya untuk tetap merendah di saat arus dukungan dan pemberitaan akan Pengajar Muda sedemikian besarnya. Kami belum berbuat apa-apa. Catat kembali, belum berbuat! Kami masih belajar bagaimana melakukan hal yang benar di sana nanti agar dapat berkontribusi maksimal untuk anak-anak brilian dan masyarakat di daerah tempat penugasan kami. Terlalu berlebihan rasanya ketika kami diagungkan sebagai ‘pahlawan’ hanya karena beruntung terpilih dari 1383 pendaftar.

Saya pribadi menerima dengan hati terbuka semua harapan, pujian, doa bahkan kritik dan caci maki. Tapi ada satu hal yang selalu saya ingat, we haven’t done the job moreover, we’re barely doing the training at our best. Ya, terkadang kami masih kalah telak dengan rasa kantuk, jenuh, dan bosan ketika menerima materi-materi penting. The bottom line is clear, don’t get too carried away!

Oleh karena itu, bukan tanpa alasan dalam sebuah jamuan makan malam mewah di Wisma Niaga, saya sempatkan menulis di Twitter, “ This is too much. But remembering that in the next one year, I’ll be eating ‘sagu’, then this (dinner) is a gift” Kesederhanaan dan kerendahan hati adalah sebuah kunci penting dalam menjalani sebuah langkah besar dalam hidup ini.

Setelah acara luar biasa di hari Rabu, esok harinya, kelompok kecil kami, Halmahera A, kembali mengunjungi MI Raudhatul Wildan untuk membicarakan persiapan Praktek Mengajar minggu depan. Bertemu dengan Bu Eha, koordinator guru di sana, kami berbincang cukup intens terkait hal-hal pengajaran, seperti jadwal, materi terakhir, dan observasi pengajaran.

Buat saya, anak-anak MI Raudhatul Wildan berperan besar untuk membiasakan saya berinteraksi dengan anak-anak. Mereka adalah representasi dari anak-anak SD kebanyakan. Ada yang pendiam, aktif, pemalu, bahkan hiperaktif dan nakal. Itulah yang membuat kami, sebagai calon pengajar, menjadi kaya akan dunia mereka. Tak mudah memang memasuki dunia anak-anak itu. Perlu keikhlasan dan ketulusan untuk sekedar mengetuk pintu dan kelembutan ketika telah masuk.

Sesi menulis di hari itu cukup menarik. Mungkin karena pengisinya juga memiliki kualitas sangat baik. Kali itu, pengisi materi adalah wartawan Jakarta Post, Taufik Rahman. Dari Mas Taufik, saya belajar banyak akan bagaimana menulis yang baik, filosofi menulis, dan perintilan menulis lainnya. “Kalau kita sudah terpaku pada tema/pola menulis yang itu-itu saja, berhentilah menulis. Take a break” Kata-kata tersebut selalu saya ingat. Dulu, saya memang cukup suka menulis. Namun, jeleknya ya itu, selalu berpola sama dan jarang bervariasi. Pesan Mas Taufik tersebut cukup memberi efek kejut untuk penulis amatir seperti saya ini. Explore more, you’re rich and richer.

Hari Jum’at kami kedatangan tamu dari PMI (Palang Merah Indonesia), Mbak Rinut. Dari dia, kami belajar tentang bagaimana seluk beluk PMR (Palang Merah Remaja), mulai dari sejarah Red Cross, PMI, aturan-aturan, kinerja, dan masih banyak lagi. Dibantu Mbak Merri yang kocak dan seorang lagi laki-laki yang saya lupa namanya, sesi PMR siang itu cukup menarik dan berguna. Sangat bagus untuk referensi pemberdayaan PMR di daerah penempatan nanti.

Hari Jum’at berarti juga hari bagi anak-anak SD yang ceria dan bersemangat. Kami akan kedatangan lagi anak-anak SD Pancawati I. Kali ini, kelompok yang bertugas mengawal dan membuat acara adalah teman-teman Tulang Bawang Barat. Mereka membuat konsep bagus untuk membantu anak-anak lebih mengenali diri mereka sendiri.

Anak-anak disuruh untuk membuat sebuah cerita tentang dirinya sendiri, boleh dengan gambar atau tulisan. Kemudian, anak-anak tersebut diminta untuk menceritakannya di depan kelompok-kelompok kecil. Saya, Erwin, dan Fauzan mengawal kelompok 12 yang cukup pasif. Tak banyak yang anak-anak tersebut bicarakan di depan. Kebanyakan mereka masih sangat malu-malu. Tak begitu masalah, yang terpenting mereka tetap belajar hari itu tentang bagaimana belajar berbicara dan lebih mengetahui diri sendiri.

Selanjutnya, anak-anak diminta untuk menulis sebuah sifat baik dan sifat buruk yang ada di diri mereka. Dengan malu-malu, mereka mulai menuliskan di kertas masing-masing. Sifat baik yang sudah ditulis akan ditempelkan di dada mereka dan sifat buruk akan mereka kantungi. Di akhir sesi hari itu, anak-anak tersebut melemparkan sifat-sifat buruk mereka ke tong sampah sebagai simbol bagi mereka untuk memperbaiki diri dari sifat-sifat buruk tersebut.

Tak ada kata yang lebih tepat mengekspresikan hari Sabtu selain haru. Hari itu adalah hari terakhir kami, Pengajar Muda, bertemu dengan anak-anak SD Pancawati I. Setelah lebih dari 5 kali sesi pertemuan kami dengan mereka, akhirnya hari Sabtu, pertemuan tersebut harus berakhir. Kami belajar banyak dari mereka dan saya harap mereka juga belajar banyak dari kami.

Kelompok Majene mempersiapkan acara itu dengan sangat brilian. Konsep permainan seperti Amazing Race dengan banyak menyisipkan nilai-nilai positif benar-benar membuat anak belajar dengan cara yang sangat menyenangkan. Saya sendiri berperan sebagai pendamping kelompok 1 bersama Yunita.

Saya dan BK berusaha mempersiapkan sebuah video perpisahan dengan mereka. Sejak malam sebelumnya, kami intens berdiskusi untuk membuat sebuah persembahan terbaik dari Pengajar Muda untuk anak-anak SD Pancawati I. Kami menyortir foto-foto, membuat kata-kata, skenario terbaik, dan tak lupa, lagu-lagu yang cocok untuk mengiringi video itu.

Siang itu, Pengajar Muda dan anak-anak SD Pancawati I menjalani waktu-waktu terbaik yang terakhir bersama. Kami bercanda, bermain, dan belajar bersama. Walaupun rasa panas, haus, dan lelah mendera, kami tak mau terlihat tidak tersenyum dan tidak bersemangat di depan mereka. Itulah mental guru yang tertanam pada kami. Jangan tunjukkan raut wajah sedih dan lelahmu di depan murid-muridmu.

Ada lagi sesi yang tak kalah brilian dari kelompok Majene. Mereka meminta anak-anak SD tersebut untuk menuliskan surat pada sahabat-sahabat mereka di ujung sana. Sahabat-sahabat yang ada di Tulang Bawang Barat, Bengkalis, Passer, Majene, dan Halmahera Selatan pasti sudah menunggu surat mereka ini.

Aab, seorang siswa MI di kelompok saya, berkata lirih, “Kak, mereka itu kekurangan ya? Kasihan ya mereka, kak” Sebuah ucapan kecil yang berarti besar untuk saya pribadi. Saya tersentuh ketika dia mengatakan itu. Aab, yang seharian itu cukup hiperaktif, kerap iseng, dan menjahili temannya bisa memiliki empati sebesar itu. Siapa yang bilang anak Indonesia tidak peduli satu sama lain? Saya akan tampar dia di muka. Aab adalah contoh kecil kepedulian seorang anak dengan sahabat-sahabatnya yang kekurangan.

Jujur, saya tak punya nyali untuk membaca surat mereka satu per satu. Call me anything you want, but I just can’t stand tears from flowing down if I read those letters. Sempat mengintip sebuah surat dari Wiwi, siswi kelas 5 SD, saya merinding. No further explanation, I stopped reading.

Tiba lah saat pemutaran video sebagai penutupan acara hari itu. Hati saya dag-dig-dug takut melihat reaksi mereka yang melihat. Jujur saja, saya tidak terlalu percaya diri dengan hasil video ini. Maklum, sehari sepertinya bukan waktu yang cukup untuk membuat sebuah video yang luar biasa. Tombol ‘PLAY’ ditekan, video mulai berjalan.

Suara tawa anak-anak tiba-tiba membahana ketika ada wajah-wajah familiar yang muncul di layar, entah itu teman mereka atau wajah mereka sendiri. Situasi mulai haru ketika lagu beranjak sedih dan terpampang gambar-gambar kebersamaan kami dengan mereka di layar. Saya pun tak bisa berkata apa-apa.

Seketika video berakhir, mulai ada suara tangis yang terdengar. Saya pun hanya bisa menyimpan rasa haru ini. Kami harus terlihat tegar demi membesarkan hati mereka walau sebenarnya susah juga sih menyimpan sebuah perasaan. Akhirnya pertemuan itu diakhiri dengan persembahan dari mereka yang diwakili anak-anak kelas 6 untuk kami.

Lagu-lagu sunda, ‘Terima kasih Guruku’, dan ‘Hymne Guru’ hasil gubahan mereka sendiri, mereka nyanyikan untuk kami. Sebuah apresiasi luar biasa dari anak-anak ini. Bagaimana tidak terharu? Hati sekeras batu pun pasti akan tersentuh dengan ketulusan hati anak-anak ini. Banyak dari mereka menyanyi sambil menyeka air mata. Banyak juga yang tak kuasa menahan tangis sehingga yang terdengar hanyalah isakan.

Kerja keras kami dibayar lunas. Bahkan kami berhutang banyak pada mereka. Mereka keluar menyalami kami satu per satu. Kami terus berusaha membesarkan hati mereka. Mungkin, hari itu memang hari terakhir pertemuan Pengajar Muda dan anak-anak SD Pancawati I. Tapi, sebuah kenangan abadi telah ditoreh dan tak akan hilang sampai dunia terbelah.

Terima kasih, anak-anak SD Pancawati I. Kami sayang kalian!

Perjalanan minggu kelima ini berkesan sekali untuk saya. Terlalu banyak rasa yang saya dapatkan di minggu ini sampai tak mungkin ditulis satu per satu. Tak banyak peristiwa dalam hidup yang berkesan, tapi di minggu ini, saya yakin bahwa saya seorang yang kaya akan banyak rasa dalam kehidupan.

 

Advertisements