Teaching is a Journey

Pagi itu, Adi memiliki resistansi tinggi untuk mengikuti pelajaran. Dia enggan berpartisipasi, bahkan dalam permainan sekali pun. Itu kali pertama, saya, Adi PM, dan Aisy masuk ke kelas III Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul Wildan. Kami mengajar matematika saat itu. Dengan berbekal team teaching, kami berpikir ini akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan bermanfaat bagi siswa dan tentu saja, bagi kami sendiri. Ternyata, kami salah besar.

Adi adalah salah satu siswa paling berpengaruh di kelas III. Mood dia adalah mood kelas, kasarnya seperti itu. Adi adalah tipikal anak yang sangat ingin diperhatikan. Kami baru tahu setelah mengajar bahwa Adi adalah seorang yatim dan hanya tinggal bersama teteh atau kakak dalam Bahasa Sunda. Ibunya sibuk bekerja sehingga di rumah, Adi minim perhatian. Sebenarnya sangat dimaklumi jika Adi kemudian mencari perhatian di sekolah.

Satu tidak cukup. Slogan bagi sebagian keluarga Indonesia menyoal anak ini benar-benar terkondisikan di kelas III. Tidak cukup hanya Adi yang ribut, masih ada Bintang. Bintang tak jauh berbeda dengan Adi. Dia juga sangat ingin diperhatikan. Bedanya, Bintang mencari perhatian dengan ikut berpartisipasi tapi dengan cara yang sedikit ngawur. Dalam permainan, dia selalu menjadi orang pertama yang mengacaukan. Kalau pun mengikuti pelajaran, satu kakinya hampir selalu dinaikkan ke kursi. Gaya warteg. Sambil minum pula. Well?

Adi dan Bintang tidak akan menjadi tiga serangkai tanpa Rahman. Murid berambut tipis nyaris botak ini juga termasuk anak yang kerap berulah. Memang sih, dia bukan pioneer seperti Adi dan Bintang. Dia lebih cocok disebut pengikut sejati mereka. Jika mereka berulah, bisa dipastikan Rahman ikut berulah. Jika Bintang mencoba ‘merusak’ permainan, Rahman tak mau kalah dan ‘menambah’ kekacauan. Jika Adi tak sudi ikut bermain, kadang Rahman juga hanya duduk di bawah meja saja. Bersembunyi.

Rencana pengajaran matematika yang sudah matang kami persiapkan akhirnya mentah. Memang tak sepenuhnya gagal tapi saya sangat yakin ini bukan pembelajaran yang sukses. Habis akal juga lama-lama menghadapi tiga serangkai ini. Walaupun kami bertiga, sama sekali tidak mengurangi kesulitan mengatur siswa-siswa. Keringat yang sudah mengucur deras tidak mengalir ke hilir yang tepat. Siswa-siswa masih belum mengerti sepenuhnya konsep perkalian yang diberikan. Frase yang tepat untuk proses pembelajaran hari itu adalah evaluasi besar-besaran!

Saya yakin jika ada seorang guru yang akan mengajar siswa kelas III dan membaca tulisan di atas, beliau akan mengurungkan niatnya. Lebih baik mengajar kelas IV dengan jam pelajaran lebih daripada harus menangani siswa-siswa dengan potensi kekacauan luar biasa.

Celakanya dalam PPM (Praktek Pengalaman Mengajar), saya menjadi yang pertama menangani kelas III. Kelompok kami yang beranggotakan saya, Aheng, Aisy, Adhi, dan Adi PM ini dijadwalkan oleh sekolah untuk mengajar kelas I, II, atau III saja. Itu pun tidak semua pelajaran yang kami ajarkan. Kami boleh memilih pelajaran apa saja yang akan diajarkan. Instruksi dari pusat, minimal seorang Pengajar Muda harus mengajar dua mata pelajaran.

Kelompok kami ini sangat ambisius. For this case, I dont know if it’s a good thing or not. Saya termasuk orang yang menerima saja keputusan kelompok kalau urusan mengajar ini. Kalau dipikir-pikir, untuk calon pengajar muda yang minim pengalaman berinteraksi dengan siswa di kelas seperti saya ini, intensitas interaksi yang lebih tinggi tentu bisa memberikan manfaat lebih. Dengan ambisi besar kelompok, setiap pengajar diharuskan mengajar setiap kelas dan setiap mata pelajaran. Total, setiap orang mendapatkan 6-7 pelajaran berbeda. Wuih, nice! *sigh

Jujur saja, awalnya saya agak mencoba melobi-lobi untuk menghindar dari kelas III. Setiap anggota kelompok sudah hapal cerita ‘horor’ tentang kelas III ini. Bahkan, dulu sebelum masuk kelas untuk mengajar kelas III, guru-guru pun sampai harus meminta maaf sebelumnya. Terlambat. Tumbal sudah ditetapkan. Saya adalah korban pertama untuk mencicipi kembali aroma mistis kelas itu.

Tak seperti biasanya, di hari Senin itu, saya tak terlalu bersemangat datang ke sekolah. Padahal, hari itu hari pertama PPM. Para pengajar muda lain tampak antusias menghadapi monster-monster kecil di kelas. Yah, kalau saya sih, yang terbayang adalah monster dalam arti sebenarnya.

Sesampainya di sekolah, saya mencoba menenangkan diri di sofa lapuk depan kelas. Gelisah. Kondisi sofa yang kurang layak diduduki menambah ketidakpastian. Tegang sudah pasti. Aneh ya, padahal saya ‘hanya’ akan menghadapi sekumpulan anak kecil. Kalau saya mau, saya bisa saja sedikit lebih tegas. Well, I’m not that kind of teacher. Have to find a better way than yelling, shouting, or doing physical contact though.

Bel jam ketiga sudah berbunyi. Saya seperti mendengar suara komentator balap NASCAR di kejauhan, “Are you ready to rumbleeeee?” Saya pun berkata dalam hati, “My time is now, like it or not, face it with smile. That’s the least I can do.” Saya akan mengajar PKN (Pendidikan Kewarganegaraan). Anda boleh tertawa sekenanya. Manusia seperti saya mengajar PKN?

Materi hari itu Sumpah Pemuda. Salam sudah diucapkan. Rasa tegang berangsur-angsur meleleh. Sudah mulai terbiasa. Santai saja. Saya mencoba mengaitkan bulan Oktober dengan peringatan Sumpah Pemuda. Surprisingly, tak ada siswa yang menyadari atau lebih tepatnya mengetahui apa itu Sumpah Pemuda. Tidak pernah ada seremonial untuk peristiwa bersejarah sepenting itu di sekolah ini.

Saya mencoba menarik partisipasi siswa lebih jauh lagi dengan melemparkan beberapa pertanyaan. Tak banyak berubah. Siswa masih banyak yang pasif. Saya memulai metode mind maping untuk menjelaskan konsep Sumpah Pemuda ini. Saya hanya membuat kerangkanya sedangkan untuk mengisinya, saya meminta jawaban dari siswa.

Did I mention earlier that I prepared strategy?

Untuk menghadapi kelas seperti ini, tentu seorang guru butuh strategi tepat. Bunuh diri jika masuk medan perang ini tanpa persiapan. Bisa-bisa kita hanya seperti badut dan jadi bahan tertawaan saja. Strategi saya kali ini sederhana. Dekati pemimpin mereka, maka kamu akan dapatkan semua bawahannya.

Get what I mean? Dari awal, saya langsung berusaha mendekati Adi dan Bintang. Tepukan di bahu dan banyak apresiasi cukup memberikan mereka pengertian akan perhatian guru. Tak lama berselang, saya cukup mampu mengendalikan dua panglima ini. Rahman, sebagai ajudan, tak bisa berbuat banyak karena pemimpinnya pun patuh. Keseluruhan teritori kelas sudah saya kuasai. Sekarang tinggal bagaimana penyampaian materi.

Materi Sumpah Pemuda pagi itu ditutup dengan permainan puzzle menyusun teks Sumpah Pemuda. Dibantu Adhi yang memandu permainan, saya merasa sudah menyelesaikan pertarungan kecil ini. Anak-anak terlihat antusias menjalani pembelajaran ini. Tentu masih banyak kekurangan di sana sini tapi tak ada harga yang sebanding bagi seorang guru ketika melihat siswanya menjalani pelajaran dengan perasaan riang dan bersemangat. First battle, done with notes.

Keesokan harinya, saya akan kembali mengajar di kelas III. Saya sudah bisa jauh lebih rileks dibandingkan hari pertama. Bahasa Indonesia dengan tema Kebiasaan. Menurut guru kelas yang bersangkutan, materi kali itu tentang menabung. Pita merah sudah diikatkan ke kepala. Pembuatan Rencana Pembelajaran dan Pengajaran (RPP) dideklarasikan demi kelancaran esok hari.

Konsep memilih barang yang ingin dibeli dengan jumlah uang tertentu saya pilih untuk merangsang pemikiran siswa akan baiknya menyisihkan uang untuk ditabung. Diberikan beberapa gambar barang untuk kemudian mereka susun mana yang akan dibeli dan mana yang tidak. Ternyata, kegiatan ini cukup menyita waktu karena masih banyak kelompok siswa yang tidak mengerti harus melakukan apa. Oh dear.

Dalam pengambilan kesimpulan, mereka ditanyakan apa yang mereka pelajari hari ini. Serentak, mereka pun menjawab, “Menabung!”  Jawaban mereka memang bervariasi namun dalam pengamatan saya, mereka sudah mengerti konsep hidup hemat. Buah kesenangan yang sudah membesar kembali harus susut ketika saya menanyakan mata pelajaran apa yang mereka sudah pelajari. Serentak, mereka menjawab, “IPS!!” Oh dear. Again?

Ternyata, metode pembelajaran dengan lembar kerja tersebut tidak cocok untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Mentah lagi RPP yang sudah sekian rumit disusun. Ah, tak apa apa, toh mereka mengerti menabung itu baik. Kembali, menghibur diri. Second battle, done with more notes.

Hari ketiga, saya mengajar Matematika kelas I. Dari saran Aisy yang hari sebelumnya mengajar Matematika di kelas yang sama dan Ibu Pengamat dari Universitas Negeri Jakarta, saya menggunakan lembar kerja siswa untuk menguji sejauh mana siswa kelas I ini mengerti penjumlahan dan pengurangan angka 1-20.

Dengan membagikan angka pada masing-masing siswa, siswa terlihat cukup bersemangat mengikuti pelajaran pagi itu. Memanfaatkan angka pada siswa-siswa tersebut, saya meminta mereka menjumlahkan angka mereka dengan angka teman lainnya. Terus dikombinasikan dengan penjumlahan berulang dan pengurangan. Hasilnya cukup impresif. Mereka mampu menyelesaikan sebagian besar persoalan. Optimisme mulai beranjak naik.

Untuk menguji lebih jauh, saya memberikan mereka lembar kerja dengan empat soal cerita sederhana. Well, the unpredicted thing happened. The situation became idle. Literally. Situasi berubah sunyi senyap. Tak ada aktifitas apa pun. Saya heran. Ada apa dengan mereka? Mana kejelian mereka menyelesaikan persoalan hitung yang baru saja ditanyakan. Mana? Mana?

Terdengar celetukan dari belakang, “Kak, gimana sih ini ngerjainnya?” Saya bingung. Apa yang tidak mereka mengerti dari soal sesederhana itu. Tidak mungkin intelejensia mereka menurun drastis dalam hitungan menit. Tak punya pilihan lain, saya mencoba menjelaskan persoalan tersebut nomor demi nomor dan dari meja satu ke meja yang lain. Lelah sih pasti tapi ada pertanyaan besar tadi yang belum terjawab membuat saya penasaran luar biasa.

Kelas akhirnya saya tutup setelah menilai hasil lembar kerja mereka. Di atas kertas, hasil kerja mereka memang sama sekali tidak memuaskan. Namun, metode process based harus selalu dikedepankan dalam menilai kerja siswa. Itu menurut saya lho. Jawaban siswa bisa salah, tapi proses mencari jawaban sangat patut dihargai tinggi.

Selesai jam pelajaran tersebut, saya kembali duduk di sofa depan. Mengobrol dengan Aisy. Penasaran dengan kejadian idle tadi, saya curhat pada Aisy. Jawaban Aisy berikut sangat tidak ingin saya dengar. Sumpah. Dengan perasaan bersalah, Aisy berucap, “Aduuuuh Bayu, aku minta maaf. Aku lupa kasih tahu kamu. Mereka belum bisa baca!”

WHAT?! WHAT?! WHAT?! Speechless. Tak sanggup lagi berkata-kata. Sudah habis suara di kelas tadi. Third battle, done with uneasy feeling. Haha.

Hari Kamis adalah hari sibuk untuk saya. Mengajar dua mata pelajaran kelas II SD, IPS dan Matematika. Tema pelajaran IPS adalah peristiwa penting. Saya memanfaatkan papan-papan bergambar untuk menjelaskan sebuah peristiwa. Kali ini, saya menanamkan bahwa liburan mereka adalah sebuah peristiwa yang layak untuk diingat.

Dengan metode mendongeng, saya mencoba menarik minat siswa untuk memperhatikan dan menceritakan kembali apa yang sudah mereka dengar. Selanjutnya, saya meminta mereka untuk menceritakan cerita perjalanan mereka sendiri. Menyenangkan sekali mendengar cerita-cerita unik mereka. Pergi ke Taman Matahari, Tasikmalaya, gunung, atau sungai bersama orang tua, kakak, dan adik untuk kemudian bermain perosotan, air, dan lainnya. Sungguh perasaan yang berbeda. Tak pernah seperti ini sebelumnya.

Selanjutnya dalam pelajaran Matematika, mereka diajarkan untuk mengukur waktu dalam sebuah jam. Kemampuan akademis siswa-siswa kelas II ini memang sangat beragam. Ada yang sangat pintar dan aktif, ada juga yang kurang dan tak mau bicara. Akan tetapi, itulah kondisi nyata siswa-siswa di luar sana. Pintar-pintar guru dalam menyikapi. Saya berusaha untuk pintar.

Materi dapat menunggu tapi partisipasi siswa dan kesetaraan mendapatkan ilmu itu jauh lebih penting. Itu prinsip saya dalam mengajar. Entah ya kalau itu termasuk prinsip yang berbeda dari guru kebanyakan. Memang, guru selalu dikejar-kejar oleh materi yang akan disampaikan. Dalam jangka waktu tertentu misalnya, seorang guru harus menyelesaikan beberapa materi. Jika tidak, maka dikhawatirkan akan sulit untuk mengejar lagi.

Walaupun agak keteteran mengejar materi, saya menikmati menjelaskan sesuatu pada mereka. Ketika lembar kerja dikumpulkan, masih banyak sekali siswa yang belum mengerti. Bahkan, ada juga yang seluruh hasil kerjanya salah. Repot juga. Lagi-lagi process based scoring harus dikedepankan. Saya mencoba sebisa mungkin menjelaskan kekekeliruan mereka saat menilai di meja guru. Anyway, fourth battle done, great feeling!

Masuk ke hari terakhir PPM di hari Jumat, saya hanya akan mengajar IPA kelas II. Tentang habitat tumbuhan. Pelajaran ini tidak terlalu merepotkan. Saya mempersiapkannya hanya 1 jam sebelum berangkat mengajar. Berbekal gambar-gambar tanaman yang hitam-putih, saya berusaha mengambil partisipasi aktif siswa sebanyak-banyaknya. Dengan setiap orang memegang sebuah gambar, mereka akan diminta menempelkan sebuah gambar sesuai dengan habitatnya di papan tulis. Mereka mengerti apa yang diajarkan, suasana kondusif, dan partisipasi siswa sangat baik. I couldn’t ask more for this, could I? Fifth battle done without problem whatsoever.

Hari ulang tahun Aisy jatuh pada hari Jumat. Setelah bersekongkol dengan siswa-siswa kelas III, kami membuat kejutan untuk Ais. Sebelumnya, saya meminta anak-anak kelas III membuat kartu ucapan untuk Ais and they did a great job! Saat Ais dipanggil ke kelas, serentak seluruh isi kelas menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Well, I hope this surprise could cheer you more, Ais! Keep smiling! Dont easily get sleepy, please.

Farewell has never been good with us, really. Usai perpisahan dengan siswa-siswa SD Pancawati, kini kelompok kecil kami harus kembali berpisah dengan siswa-siswa MI Raudhatul Wildan. Acara kejutan untu Aisy sekaligus menjadi acara perpisahan untuk kami dan mereka. Tak sempat masuk ke kelas I dan II karena sudah dahulu pulang, kami hanya masuk ke kelas III dan IV. Siswa-siswa ini adalah teman-teman baik saya yang baru.

Seminggu mungkin waktu yang sebentar untuk proses pembelajaran tapi tidak untuk merajut tali persahabatan. Adi yang dulu nakal dan berulah, memegang tangan saya. Dia berkata di tengah kerumunan saya dan anak-anak di luar kelas, “Kak Bayu, main berdua aja yuk!” Tentu saya tidak bisa mengiyakan di tengah serbuan monster-monster kecil itu.

Teaching is a journey. I really cant find more appropriate word to explain my teaching experience beside that word, a journey. Dalam menapaki sebuah perjalanan, tentu terkadang kita menemui hambatan-hambatan hebat yang membuat kita berpikir kembali apakah perjalanan ini layak untuk diteruskan. Namun, hati yang ikhlas dan niat yang teguh membuat kita terus maju dan mencari solusi dari hambatan tersebut. Semakin bersemangat ketika mendapati sebuah solusi. Tertegun lagi saat ada hambatan lain. Terus aktif mencari solusi baru. A journey, right?

Perjalanan singkat lima hari ini memang sebentar jika ukurannya adalah waktu. Akan tetapi, saya percaya bahwa saya sudah menyimpan banyak bekal untuk perjalanan baru setahun ke depan.

Sebuah perjalanan tentu memiliki tujuan. Untuk saya, tujuan itu sederhana. Agar dengan berbekal keceriaan dan semangat, mereka dapat mengerti apa yang saya ajarkan kemudian menyimpan dalam pikiran dan hati untuk digunakan demi kebaikan hidup mereka di masa depan. Sederhana.