Dongeng Kuping Karet

17 Desember 2010

Saya benci keramaian! Saya benci musik! Saya benci sound system! Saya benci anak-anak! Saya semakin benci hip hop dan rap!

Semakin dekat ke hari pernikahan, semakin gila jadinya rumah ini. It’s killing me, literally!
Kenapa mesti kecolongan sih. Kalau main safe kan, tak begini kejadiannya. Tak mengganggu saya! Bodoh. Tak tahu teknologi kondom ya?! Zina sih zina saja sana! Otak jangan taruh di penis kenapa? Vagina kalau tak pilih-pilih penis ya begini jadinya! Kalau sudah begini, menyengsarakan banyak orang! Bodoh! Bodoh! Bodoh!

Saya benar-benar menulis ini dengan emosi yang memuncak. Di depan rumah, para pekerja dan pemuda yang membantu persiapan pernikahan ini menyetel musik house luar biasa keras! I bet the whole village could hear this fuckin’ sound! It’s already 9 for God’s sake! Astaghfirulloh.
I couldn’t do anything. I am hopeless right now, totally.
Now, I am using my earphones without any music. I am traumatic to music. I am.

Apa yang sebenarnya ada di pikiran orang-orang itu? Kuping mereka terbuat dari karet dan berisi pasir ya. Satu jam saja mendengarkan musik dengan intensitas seperti ini membuat saya muak, mereka bisa tahan satu hari satu malam. Kuping siapa yang bisa tahan kalau bukan terbuat dari karet dan pasir?
Anak-anak kecil ini juga membuat risih. Dua puluhan lebih anak-anak ini sepertinya akan tinggal di rumah. Those little rascals are irking me too, with their shouts, cries, and everything. I am traumatic to kids. I am. Dengan segala tingkah polahnya, anak-anak ini sudah tak terlihat lagi lucunya. Semuanya terlihat sama, seperti monster kecil yang selalu mengganggu.

Anda tahu berapa banyak sound system yang akan digunakan dalam acara ini? 10 SET! SEPULUH! Mungkin jumlah yang sama dipakai untuk pensi atau festival musik.  Dan itu semua berbunyi malam ini! Pernikahan masih dua hari lagi padahal. Tapi seakan memberitahu ke setiap penjuru desa akan ada acara besar sebentar lagi, mereka menggunakannya tanpa batasan. Memangnya LO hidup sendiri di sini? Memangnya tak ada orang mau istirahat? Tolol! Brengsek! Tuh, keluar juga deh kata itu, tadinya mau ditahan-tahan.

Ingin saja sih melabrak. Eh, tiba-tiba Pak Amir mengetuk pintu lalu berkata, “Bapak juga tak bisa buat apa-apa nih. Nanti kalau disuruh berhenti, mereka pergi dan tak mau bantu lagi. Kalau orang Maluku semua tahan musik begini.” Ah, bastard. Persetan orang Maluku tahan atau tidak suara musik begini. Ini kan jelas tak wajar. Rumah sendiri saja tak bisa dipimpin dengan baik. Bagaimana sekolah dan yang lainnya. Kalau mereka pergi, ya cari orang lain. Saya mau bantu carikan. Atau saya yang bantu sekalian! Cuma angkat-angkat sih, bisa. Minta bantu saja anak-anak Pondok Pesantren atau SD bahkan kalau perlu. Mereka akan senang hati membantu. Membantu saya.

Memang benar-benar Pak Amir ini. Mama tiba-tiba masuk ke kamar dan bilang akan menyuruh mereka mematikan musik sebentar lagi. THAT IS WHAT I CALL, DECISION MAKING! Pak Amir, Pak Amir, belajar dong dari Mama. Masa urusan sepele sekedar menyuruh mematikan musik saja tak berani. Di rumahnya sendiri loh. Ya sudahlah, saya memang tak berharap banyak dari beliau.

Saya berencana mengungsi ke rumah Adhi kalau terus begini. Saya sudah capai seharian ini. Kemarin malam tak tidur cukup karena menonton bola seharian. Indonesia dan Juventus bermain. Enough said. Kemudian jadwal mengajar hari ini juga padat. Olahraga di sekolah dan pelatihan komputer di sore hari. Malam tadi baru saja tahlilan untuk keberhasilan Muhammad Kasuba jadi bupati kembali.

Saya sengaja untuk cepat pulang dan berharap bisa istirahat cepat. Eh, malah ada Pensi dadakan. Pengang sekali rasanya di kamar ini. Rasanya ingin teriak saja dan berkata kotor. Yang ada malah cari masalah ya. Sabar saja dulu. Saya memegang kata-kata Mama. Katanya sebentar lagi akan meminta mereka berhenti. Sudah 30 menit lewat jam 9 malam.

Sepertinya Allah mendengar perasaan saya karena kemudian mati listrik. Tapi beberapa detik kemudian, menyala lagi. Dan mati lagi. Di saat itu, saya menengadahkan tangan meminta pada Allah untuk tetap mematikan listrik ini. Saya tahu Allah lebih dari sekedar mampu untuk itu. Tapi Allah punya rencana berbeda. Allah ingin saya menjalani cobaan ini.
Listrik kembali menyala tak lama. Suara musik terdengar kembali. Tanpa mengurangi volume sebelumnya.

Allah, sesungguhnya saya berusaha untuk terus berprasangka baik padaMu. Doa saya sedikit saja malam ini, tolong sadarkan para gerombolan kuping karet itu. Mungkin tak sekarang, tapi mudah-mudahan secepatnya. Amin.

Saya benar-benar minta maaf jika ada kata-kata yang tak sepantasnya dituliskan di sini. Pada dasarnya, saya hanya manusia biasa yang terkadang bisa khilaf dan lepas kendali. Tidak, saya tak akan mengganti kata-kata itu nanti ketika saya sudah tenang dan kembali normal. Saya ingin membiarkannya karena itu adalah ungkapan terjujur dari dalam diri saya sekarang.

18 Desember 2010

Ternyata, Mama juga tak mampu menghentikan mereka. Saya tak menyalahkan Mama, setidaknya beliau sudah berusaha.
Hal ini memaksa saya masuk pada sebuah konflik pertama. Konflik pertama semenjak saya menginjakkan kaki di Desa Bibinoi. Saya akhirnya berbicara pada mereka untuk mengecilkan suara. Mereka tak menggubris. Saya kesal. Saya cabut colokan listriknya.

Mereka kesal. Fine, let’s get on with it. Kita lumayan adu mulut. Mereka bilang ini kan sedang acara kawinan. Saya berargumen balik. Saya mau saja menghargai mereka asal mereka menghargai orang lain juga. Saya lagi yang mengalah dengan menyambungkan colokan listrik kembali dengan harapan mereka mau mentolerir kepentingan orang lain. Memang dasar kuping karet, mereka tak peduli apa yang saya bicarakan tadi. That’s, my friend, real fuckin’ bastard.

Saya tak bisa lagi istirahat. Saya keluar kamar. Sudah jam 11 malam saat itu. Saya mengambil air dari ceret kemudian duduk di ruang tengah. Ada Pak Amir juga di sana berdua dengan seorang lain. Saya hanya duduk termenung di sana. Tak bicara satu kata pun. Hanya memandangi gelas yang tinggal berisi sedikit air dengan kotoran-kotoran kecil di dalamnya.

What I did at that time, was a silent treatment. Saya yakin Pak Amir luar biasa tidak enak pada saya saat itu. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Kedatangan saya di tengah obrolan mereka membuat mereka kaku seketika. Diam. Jadilah kami berada dalam kesunyian tanpa arti.
Pak Amir merokok dan mencabut jenggot. Orang itu minum kopi. Saya masih memandangi gelas.

Kejadian itu berlangsung 30 menit lebih. Memandangi gelas lebih dari 30 menit, what the hell I did!? Orang itu pun beranjak dari kursinya. Sudah tak tahan mungkin dengan kesunyian aneh ini. Dia ingin ‘babaronda’, jalan-jalan.
Tinggal saya dengan Pak Amir dan asap rokoknya yang terus mengepul. Saya berpindah tempat untuk menghindari jalur asap. Saya beranjak ke dekat pintu. Berhadapan langsung dengan pantai. Udara pantai yang dingin pun tiba-tiba ikut menemani.

Saat itu, saya dan Pak Amir seperti berbicara dari hati ke hati. Pak Amir menceritakan semua persoalan keluarganya pada saya. Semuanya. Raut muka beliau berubah seketika bercerita tentang dua anak perempuannya. Beliau bercerita banyak sekali hal, hal yang mungkin beliau enggan bagi dengan orang-orang lain. Bagaimana beliau menangis ketika mendengar Ina sudah hamil atau kecewa berat dengan apa yang sudah menimpa keluarganya. Seperti air sungai, semuanya mengalir.

Tak terasa sudah 2 jam kami mengobrol. Hampir jam 1 malam saat itu. Saya memutuskan untuk melewati arung kebisingan luar biasa di kamar. Mata sudah sayup, badan sudah tak bisa dibohongi. Baterai handphone tinggal 21% lagi. Tak yakin apa cukup untuk membantu saya mengurangi kebisingan.

Saya memutuskan memakai earphone untuk mendengarkan playlist pengiring tidur. Lumayan lah. Walau getaran-getaran kecil masih terasa di kasur. Setidaknya tak mendengarkan playlist aneh mereka, dangdut, house, hiphop, dan lagu Ungu baru yang liriknya luar biasa murahan itu.

Tiba-tiba di tengah lagu ‘Good Soul’-nya Starsailor, lampu mati. Saya sudah pasrah saja kalau tiba-tiba menyala lagi. Ternyata, lampu terus mati sampai sekarang hari Sabtu jam 17.51.
I know God really loves good souls! I hope I am one of them. J
Saya yakin kalau listrik tak mati, mereka akan terus begitu sampai Subuh. Tuhan Maha Adil!

Setelah dipikir-pikir, Tuhan punya rencana untuk saya malam itu. Kalau listrik mati, mungkin saya tak akan tahu banyak tentang keluarga ini. Sekarang, saya tahu luar dalam kondisinya dan tiba-tiba bertekad untuk menyelamatkan Syahbudin, anak ketiga Pak Amir. Keluarga ini butuh sebercak harapan dan Syahbudin punya potensi untuk itu.
Dalam obrolan malam itu, saya berpesan, “Nanti kalau Budi mau kuliah, saya bantu agar Budi bisa kuliah di Jawa.”