Racauan

by Bayu Adi Persada

27 November 2010

Kenapa Tuhan menciptakan lalat yang menjengkelkan dan nyamuk yang serakah saat Tuhan mampu menciptakan kupu-kupu yang mengindahkan atau lebah yang memberikan.

Kenapa harus memperhatikan anak yang tak mau belajar saat mengajarkan yang bersemangat itu sangat amat menyenangkan.

Kenapa ada 1382 orang yang ingin ditempatkan di desa terpencil seperti ini saat kenyamanan kota itu menggoda dan keberadaan sinyal tak terasa berarti.

Kenapa saya memilih jalan yang sangat berbatu dan berlumpur ini saat saya bisa melewati jalan tol walau terkadang macet. Setidaknya pakai AC dan ada radio.

Kenapa saya berada di kursi plastik di depan pantai yang kotor ini saat saya bisa memakai alat snorkeling dan berenang di pantai terbaik di Maluku.

Kenapa saya menulis ini saat ada modul pelatihan yang harus saya kerjakan.

Banyak orang mengartikan makna hidup. Hidup setiap orang itu unik. Makanya, jawaban dari setiap orang akan hidup pun pasti berbeda satu yang lain. Tak ada yang salah, tak ada yang benar. Kita hanya bisa mengiyakan atau cukup tahu dan melewatinya berlalu.

Hidup untuk saya adalah rentetan konsekuensi. Some may say life is a choice. Life is a gamble. Life is love. Life is everything we do. Life sucks. Life fucks. Whatever. It is still right, anyway.
Konsekuensi yang akan selalu ada selama belum ada titah Raja untuk mengambil kembali nyawa yang dipinjamkan. Do something or do nothing, it’ll bring consequences. Seperti efek domino saja, one action leads to another.

Duduk di pantai dengan beberapa lalat menemani. Menulis apa yang saya ingin. Oh, ada angin semilir ikut bergabung. Teh hangat dari mama juga tak mau ketinggalan.
Konsekuensi. Consequences.

Matahari tak mau tahu dengan saya yang amat lelah siang itu. Dia tak mau dianggap makan gaji buta selama musim kemarau ini. Cih. Toleran sedikit, kenapa.
Saya selalu pulang saat matahari tepat di atas kepala. Jam 12 teng. Dia seperti tertawa melihat peluh dan meringis mendengar keluh. Baju yang saya pakai hampir selalu seperti habis mandi di pantai. Gemrobyos, bahasa Jawanya. Sepatu sudah tak lagi hitam. Abu-abu tersibak pasir dan bebatuan. Ada bekas kacamata yang jelas di antara mata. Jezz
Meme, anak Pak Amir yang paling kecil, sontak berkata melihat saya pulang, “Mas Bayu, abis cuci muka ya?”Saya pun hanya membalas senyum.

Saya tak akan munafik di beberapa kesempatan saya mempertanyakan keputusan ini. Berada di kamar yang panas ini. Harus beli kipas angin secepatnya! Dengan tangan kanan memegang kipas yang dibawakan ibu. Hanya dikibaskan sesekali. Capai juga kalau terus menerus, simpan tenaga sedikit untuk kibasan berikutnya.

Kenapa saya berada di kamar yang panas ini saat saya bisa bersantai di kasur spring bed dengan AC dan membaca-baca artikel Kaskus.

Saya jadi heran, apakah 1000-an orang yang mendaftar itu mengekspektasi kehidupan seperti ini. Do they really know what they’re going into? I bet most of them, dont!
Bukan berarti saya menyesal. I am the chosen one. At least, I feel like I’m qualified for this kind of job, challenges. Dalam beberapa kesempatan, saya banyak bersyukur.

Dulu, saya sempat bermimpi suatu saat punya rumah di tepi pantai. Selalu mendengar desiran ombak menjelang tidur. Well, now I’m here! Just a step away from beach. I could listen to the sound of wave and feel the breeze, almost everyday.

Dulu, saya pernah berkata. Indah juga kalau setiap keluar rumah dan melihat ke atas, bisa melihat banyak bintang, Venus, dan bulan. Now, when I get out from home, I find hundred of stars, wandering around. Venus is there! Oh, moon doesn’t want to show up. I think cloud’s covering her with softy whitey blanket.

Dulu, saya tak pernah mengira dapat menaiki perahu sendiri. Mendayung sendiri keliling pantai. Sambil memancing dan menikmati matahari terbenam dari perahu kayu. Sekarang, saya bisa melakukan itu setiap sore. Dengan anak-anak SD yang amat menghargai saya sebagai guru mereka. Selalu tersenyum sambil mendekati perahu. Membantu mendayungkan ketika lelah. Memegangi perahu saya ketika akan terbalik.

Dulu, saya tak pernah berpikir menjadi figur yang dihormati di masyarakat. Kini, hampir setiap orang di desa ini mengetahui siapa saya. Siapa lagi orang yang berkacamata dengan kulit cokelat khas orang Jawa (mudah-mudahan tak ikut jadi hitam). Setiap kali berjalan, sering sekali disapa. Tua muda, laki-laki perempuan, anak SD hingga SMP, petani atau nelayan, aparat desa sampai warga biasa. Alhamdulillah, dipanggil dengan panggilan yang indah, ‘Pak Guru’. Sekali-sekali dipanggil ‘Mas Bayu’.
Ompala (kepala desa) memang memperkenalkan saya dan Adhi sebagai guru baru dari Jawa.

Dulu, saya tak pernah tahu apa susahnya hidup di desa. Jauh dari peradaban, hingar bingar kota. Terpisah samudra dengan pusat-pusat kemajuan. Tak pernah lagi mendengar suara deru mobil. Motor hanya sesekali, dua kali paling banyak dalam sehari. Dua motor saja. Sinyal telepon tak mampu menembus. PLN sering tak bisa diandalkan. Makan ikan setiap hari.
Kini, saya hidup di tempat dengan gambaran itu. Persis sama. Bersama masyarakat yang sederhana dan bersahaja. Bersama ikan cakalang, ikan tuna, dan ikan-ikan lainnya. Bersama burung nuri dan burung kakaktua yang bebas terbang di angkasa. Bersama perahu-perahu kecil yang selalu menghiasi lautan. Bersama adzan-adzan yang selalu jelas terdengar. Bersama panasnya siang yang menyengat dan hembusan angin laut sebagai penawarnya. Bersama nyamuk-nyamuk dan obat nyamuk bakar. Dan bersama anak-anak ceria yang senang tertawa.

Setiap hari, saya selalu mendapat tantangan yang membuat saya mempertanyakan dan kembali mempertanyakan. Tapi di saat yang sama, saya selalu mendapatkan hal-hal penawar yang jauh lebih besar. Lebih banyak. Membuat saya kian hari kian yakin. Keberadaan saya di sini adalah untuk sesuatu yang baik, bagi saya dan Insya Allah untuk mereka.

Meracau pun membawa konsekuensi.

 

 

Advertisements