Free Education

by Bayu Adi Persada

6 Desember 2010

Free education is a national liberty. Begitu tulisan yang ada di badge pemberian salah satu teman baik saya, Larissa, sebelum pergi merantau ke desa ini. Badge itu kini tertempel di lemari bersama sebuah foto gunung dan pantai yang juga diberikan olehnya yang sampai saat ini saya tak tahu dimana tempat itu berada. Sulit juga mencari tahu karena akses informasi yang amat terbatas di sini. Larissa, if you read this, I’m dying to know where that place is, you know.

Sekolah di sini seperti kebanyakan sekolah dasar negeri lain di Indonesia, memang gratis. Tak memungut bayaran sepeser pun. Anak-anak hanya tinggal membawa diri dengan seragam dan buku kalau dia mau. Ya, tiga minggu mengajar di sini membuat saya tak lagi heran ketika ada anak yang tak membawa apa-apa ke sekolah. Sekedar pulpen pun tidak. Paling hanya bawa uang seribu dua ribu untuk beli es. Buku paket disediakan di sekolah. Memang jumlahnya tidak banyak tapi setidaknya cukup untuk dipakai berdua-berdua dengan teman sebangku.

Makna pendidikan untuk kebanyakan masyarakat di sini hanya sebatas membaca dan menulis. Tak lebih. Ketika sudah lulus sekolah dasar dan mendapati anak mereka sudah lancar membaca dan menulis membuat banyak orang tua bangga. Ilmu pengetahuan itu urusan nanti, yang penting anak bisa bantu-bantu orang tua dengan dua kemampuan dasar paling dahsyat sedunia itu. Toh ujian masuk SMP pun hanya membaca dan menulis.

Saya berinisiatif membuat anak-anak membuat karya tulis yang berisi kesan, pesan, dan saran untuk guru pada Hari Guru. Saya tak mau banyak berekspektasi. Hanya kelas 4, 5, dan 6 saja yang wajib membuat karya tulis itu. Itupun saya tak yakin semua anak akan membuat. Namun, saya cukup terkejut ketika mendapati 50 lebih karya. Ada beberapa anak yang masuk ke kelas III ketika saya mengajar hanya untuk memberikan karya mereka. Saya tersenyum kecil. Mereka mampu kalau mereka mau.

Saat istirahat, saya membaca semua karya untuk kemudian dipilih 3 yang terbaik yang akan dibacakan saat apel pulang sekolah. Membacanya satu per satu membuat saya dapat menarik benang merah yang sangat jelas. Sebagian besar mereka berterima kasih pada guru-guru karena diajarkan membaca dan menulis.
Dalam salah satu karya yang terbaik, tertulis ‘walau bapak dan ibu guru sering memukul kami, tapi kami terima itu dengan baik karena kami yakin itu demi kebaikan kami’. Karya lainnya, ‘kurasakan hikmat pendidikan adalah luar biasa maka saya adalah anak yang ingin belajar’. Dear readers, big applause for them! Saya terharu membacanya. Sebuah karya yang orisinil nan bermakna.

Namun apa daya, jauh panggang dari api. Pendidikan dasar di desa Bibinoi seperti banyak tempat- tempat lainnya belum mampu menjawab potensi besar anak-anak daerah. Masih banyak kekurangan di sana sini. Fasilitas sekolah terbatas, guru-guru yang belum mumpuni dan matang, pengawasan yang nihil, dan banyak lagi rentetan nilai minus lainnya. But we’re stepping on the right path, I think. Free education is just a start. Next, the road would be very much muddy, tricky, and slippery. Need a firm foundation to bear challenge, big challenges.

Jurusan selanjutnya tentu saja pendidikan berkualitas. Free doesn’t mean quality and sometimes, quality means money. Money means expensive. Expensive means education is just for several high class people who could pay bucks to the school. Lalu bagaimana nasib pendidikan gratis? Gratis sering disalah artikan dengan seadanya. Karena tak bayar, ya jangan terlalu banyak berharap. Ironisnya, masih ada yang pikiran seperti ini pada pelaksana pendidikan, dari tingkat dinas sampai ke guru.

Saya paling tidak respek dengan pameran pendidikan. Kalau pameran beasiswa, boleh lah. Tapi kalau namanya pameran di mana sekolah-sekolah swasta berlomba mendapatkan siswa, that’s absolutely absurd. Aneh. Pendidikan sudah seperti sayur dan daging di pasar. Sekolah sudah seperti pedagang yang mengiklankan produk yang dijualnya. Apa yang mereka jual? They say, quality education.

Di lain pihak, nafkah sekolah-sekolah gratis hanya bergantung pada dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), komite sekolah, atau sumbangan-sumbangan. Seringkali dua terakhir ini tak ada. Jadilah semuanya bergantung dari pusat. Kalau dana terlambat, maka semua-semuanya terhambat. Gaji guru terlambat sehingga guru enggan ke sekolah, penambahan fasilitas sekolah tertunda, atau pengadaan buku-buku yang batal.
Saya tak menyangsikan ada guru-guru luar biasa di luar sana yang tetap mengajar walau gaji tertahan. That’s a finest dedication, ever.

Gratis membuat orang tua tak lagi terbebani uang sekolah. Di satu sisi, ini sangat membantu mereka yang kondisi ekonominya terbatas. Di desa Bibinoi, kebanyakan orang tua siswa bekerja di kebun, nelayan, atau tukang kayu. Jadi memang tak ada anggaran untuk membayar sekolah. Untuk makan sehari-hari saja pun sudah sulit. Tapi di sisi lain, orang tua seperti tak begitu mengikat anaknya dengan sekolah. Kalau mereka butuh anak-anak untuk membantu berkebun atau melaut, anak-anak tersebut terpaksa tidak sekolah. Judul besarnya, membantu orang tua. Judul kecilnya, merampas pendidikan anak.

Marsel, anak kelas 3 yang cukup pintar matematika. Ketika saya memberikan soal, saya selalu beralih ke anak ini untuk melihat bagaimana dia memecahkan soal. Dia kerap berhasil, cepat, dan menjawab benar. Saya selalu meminta dia membantu teman-temannya yang masih kesulitan. Dia sama sekali tak keberatan.
Tapi sudah tiga hari Marsel tak masuk sekolah. Kalau sedang belajar matematika, saya jadi merasa kehilangan anak ini. Tak ada lagi asisten di kelas. Saat pulang sekolah, saya pergi ke rumah Olan, teman Marsel yang rumahnya berdekatan. Ketika saya tanya pada Olan, Olan berkata kalau sudah beberapa hari ini Marsel pergi membantu orang tuanya di kebun. Ini realita.

Marsel bukan satu-satunya. Masih banyak lagi anak di desa ini yang seperti dia, kerap harus mengorbankan sekolah demi membantu orang tuanya. Orang tua tak punya beban mengorbankan jam sekolah anaknya sama seperti mereka tak perlu memikirkan bayaran SPP setiap bulan. Nothing to pay, nothing to lose.
Pekerjaan orang tua memang bisa sekali dijadikan alasan untuk tidak mengajarkan anak-anaknya di rumah. Menurut beberapa guru di sekolah, kondisi banyak keluarga di sini rata-rata seperti itu. Pendidikan orang tua yang tidak tinggi kemudian waktu seharian yang dihabiskan bekerja. Saat pulang ke rumah, tentu hanya tersisa lelah. Dalam persepsi saya, anak lagi-lagi dikorbankan. Pendidikan anak dibebankan pada sekolah saja. Bagaimana kalau di sekolah, gurunya tak datang mengajar? Ah, seram juga kalau ini berlangsung bertahun-tahun.

I think the conclusion is, somehow, clear as the sky above Bibinoi right now. Every stakeholder, parents, society, or whoever concerns about our education (maybe it’s you too, dear readers), needs to encourage quality education in every close environment.

I see that the bright future’s ahead of us. How beautiful our country is when someday, our children could access education, not just free, but always sorrounded with qualities.

*Oh, by the way. While I was writing this article, Ul suddenly came to my room and saw that mountain and sea picture. Without giving any thoughts whatsoever, he shouted, “Gunung Sibela!”
GOT IT!

Advertisements