Munarsi

by Bayu Adi Persada

7 Desember 2010

Di bawah pohon sekolah, Munarsi berkata, “Tarapapa tara naik kelas. Kita mau pindah ke Nusa Jaya.” Saya tertegun sejenak.
Dia pasif sekali di kelas hari itu. Tak mampu mengerjakan soal matematika dan tak mau menggambar denah sekolah. Tidak bisa katanya. Saya sedikit ‘menyentil’ dia saat istirahat. Kalau dia masih seperti ini terus, dia bisa tidak naik kelas. Jawabannya benar-benar menyentak saya. Saya jadi merasa bersalah telah berbicara seperti itu padanya.

My intention clearly wasn’t to bring him down. I wanted to give this kid massive wake up call. This kid has big potential. You know a boy has a bright future when you see one. Munarsi is a kind. Akan teramat sayang kemampuannya tidak digunakan maksimal. Walaupun jarang sekali bisa menyelesaikan soal matematika, saya tak pernah ragu akan kemampuan Munarsi. Untuk ukuran anak sebayanya, dia bisa membaca cepat layaknya anak kelas 6 SD atau bahkan SMP. Dan tak sekedar membaca, dia mengerti apa yang dibaca. Jarang sekali ada talenta macam ini di sini, apalagi untuk anak kelas 3.

Bukan tanpa alasan saya memilih dia untuk mengikuti Olimpiade Sains Kuark yang akan diadakan tahun depan. Pengetahuan sains-nya memang masih jauh dari mumpuni. Tapi itu tak penting. Munarsi punya rasa ingin tahu yang luar biasa besar. Dia senang membaca. Saya rasa dia punya cukup waktu untuk mengerti sains.

Sudah beberapa hari ini, setiap sore, Munarsi selalu berkeliaran di dekat rumah. Waktu-waktu seperti ini saya manfaatkan untuk mengajaknya sekedar membaca buku bersama di tepi pantai. Saya suka anak ini. Responsif, ceria, dan punya rasa penasaran.

Ayah Munarsi bekerja sebagai tukang jahit. Penuh kesederhanaan saat saya mampir ke rumahnya untuk meminta ijin beliau mengikutkan Munarsi dalam lomba sains. Ikut dalam lomba sains berarti harus mengikuti pelajaran tambahan di rumah saya pada hari-hari tertentu. Partisipasi lomba ini perlu persiapan matang. Walaupun menjadi juara tidak menjadi target, setidaknya anak-anak mampu mengalami suasana kompetisi.

Seperti dengan kebanyakan murid kelas 3, saya selalu memposisikan diri sebagai teman di luar jam kelas. Saya menemani mereka membaca di bawah pohon, mengajak bermain, atau sekedar mengobrol dan bercanda. Mungkin itu sebabnya, banyak anak kelas 3 yang tak pulang ke rumah saat istirahat.
Di sekolah ini, tak ada kantin. Sebagian besar anak-anak di sini pergi ke sekolah tanpa sarapan. Jadi, ketika bel istirahat jam 10 dibunyikan, mereka berlarian ke luar sekolah. Pulang ke rumah untuk makan dan minum. Dan kebanyakan, tak kembali. Serba salah juga dengan aturan ini, tapi apa boleh buat. Saya tak bisa berbuat banyak.

Anak-anak kelas 3 itu menghabiskan waktu istirahat mereka dengan membaca buku atau bermain congklak. Mereka tak merasa rugi tak pulang ke rumah. Entah, saya yakin mereka lapar tapi jelas mereka merasa lebih senang berada di sekolah. That’s a very good thing. I’m glad.

Terkadang, saya membacakan mereka cerita. Bernyanyi bersama atau sekedar tidur-tiduran. Saya tak merasa ada gap antara saya dan mereka. Mereka memainkan rambut saya, meminjam kacamata dan tertawa lepas, mengajak bermain congklak, makan roti bersama, dan hal-hal ceria lain. Saat istirahat adalah saat saya menjalin ikatan persahabatan dengan anak-anak ini.


Munars termasuk anak yang tak pernah pulang saat istirahat. Seketika dia mendengar bel, dia selalu mendekati saya untuk meminjam buku. Buku-buku di sekolah ini amat lengkap dan bagus-bagus. Sayang, sebelum saya datang, buku ini tak pernah dimanfaatkan. Masih tersimpan rapi di lemari dan terbungkus plastik.
Kalau saya tanya mengapa buku-buku tersebut tak pernah digunakan, beberapa guru menjawab takut buku akan rusak.

Saya dan Munarsih memang berteman kalau di luar kelas. Tapi di dalam kelas, saya selalu mencoba bersikap profesional dan tak membeda-bedakan seorang murid dengan yang lain.
Saya pernah mengeluarkan dia karena melanggar peraturan paling mendasar, makan di kelas. Saya tak pikir panjang dan berbicara dengan nada tinggi padanya untuk segera meninggalkan kelas sampai saya suruh masuk kembali.
Setelah jam pelajaran itu, kami kembali berbalas senyum dan bercanda gurau. Satu hal yang saya suka dari anak-anak ini, mereka tidak pendendam. Oh, lovely.

Buat saya, bertemu anak seperti Munarsih di sini seperti menemukan sebuah cahaya kecil di tengah hamparan pasir pantai penuh sampah di depan rumah. Seandainya saya punya 10 anak seperti dia, maka tugas saya tak akan pernah terasa berat.
Dia telah menjadi ‘objek’ pengembangan saya setahun ke depan. Saya mengandalkan anak ini, mungkin 15 atau 20 tahun ke depan, untuk mengabari saya, “Pak Guru, saya sudah lulus doktor!” atau “Pak, saya mendapat beasiswa ke Amerika”.

Ketika saya mendedikasikan sebuah tulisan untuk seseorang, orang itu pasti spesial. Punya arti khusus dalam pandangan saya.
Makanya, saya tak banyak menulis tentang orang lain. Munarsih adalah satu dari sedikit orang tersebut.
I believe that this kid has a brighter future. Something that he couldn’t even imagine now. But when the time is right, he would know that he is born for something big.

Tulisan ini akan saya berikan pada keluarganya ketika saya sudah harus mengucapkan selamat tinggal pada masyarakat Desa Bibinoi. 11 bulan dari sekarang.

 

Advertisements