Tangan Berlumur Air Mata

26 Januari 2011

Setiap manusia punya batas toleransi masing-masing. Karena manusia diberikan nafsu oleh Allah, mereka bisa marah dan lepas kendali. Ketika nafsu sudah menguasai keseluruhan diri, maka pikiran dan tubuh perlu pelampiasan. Secepatnya.

Hari ini saya kalah telak oleh keterbatasan saya sebagai manusia. Susah payah menjaga gawang selama ini, akhirnya berhasil dibobol juga. Memang tak ada manusia yang sempurna dan saya pun bukan Nabi yang mampu terus meredam setiap amarah, buah dari permasalahan yang kadang datangnya tiba-tiba. Saya mengaku kalah.
Dari awal, saya minta maaf dan menerima jika setelah membaca tulisan ini, Anda kecewa dengan saya.

Beberapa hari tanpa kehadiran Mama benar-benar menguji mentalitas saya. Tentu saja beban pikiran bertambah dari yang seharusnya. Biasanya, sehari-hari yang ada di pikiran saya hanya mengajar dan mengajar. Bagaimana cara memberikan materi yang tepat dan materi apa yang cocok disampaikan. Saya tak menganggap hal-hal itu sebagai beban. Hanya saja, kadang kita tak bisa menahan berbagai macam masalah dalam suatu waktu yang bersamaan.

Jangan salah paham dulu. Saya tidak mengkambinghitamkan ketiadaan Mama untuk semua masalah yang menimpa saya. Justru saya belajar banyak darinya. Setidakinginnya kita mendapatkan banyak masalah, pasti mereka datang sewaktu-waktu. Siap tidak siap, mau tidak mau. Kadang bergiliran, tapi seringkali juga berombongan.

Hari ini sebuah sejarah dicatat. Sebuah kenangan yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Sayangnya, kenangan buruk.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini, saya sudah diperingatkan oleh banyak rekan guru, anak-anak di sini tak sama dengan anak-anak di Jawa. Bukan hanya fisik dan bahasanya. Tabiatnya pun amat berbeda.
Konon, ini karena sejak di kandungan, anak sudah diajarkan bahwa hidup ini keras. Ibu-ibu yang mengandung tetap berkebun. Mengangkat kayu, menyabit kelapa, atau membawa keranjang berat hasil kebun. Walaupun sedang hamil tua, mereka harus terus bekerja untuk keluarganya.

Sejak masih berbentuk janin, anak-anak ini seakan tahu bagaimana mereka akan dibesarkan. Tidak dengan belas kasih lembut tangan orang tua. Tidak juga dengan sepeda-sepeda kecil. Tapi dengan rotan tipis sepanjang lengan bapaknya.

Hanya Pak Malik yang menemani saya di sekolah hari ini. Empat guru sedang berkunjung ke Tomara untuk mengikuti KKG. Saya lupa kepanjangannya. Yang jelas, ada hubungannya untuk koordinasi antar guru-guru sekolah dasar di satu kecamatan. Walaupun efeknya tak pernah saya lihat, banyak guru yang ikut acara itu.
Saya ditawari untuk ikut. Saya menolak. Mungkin lain kali. Buat saya, bertemu dengan anak-anak di kelas jauh lebih menyenangkan.

Biasanya walaupun hanya berdua, kami bisa menangani keseluruhan anak dengan baik, termasuk anak-anak kelas lain yang tanpa guru. To be honest, Pak Malik should take more credit. Karena beliau yang berperawakan lebih seram dan tentu dengan rotan di tangannya, anak-anak sangat takut dengannya.
Tapi kali ini berbeda. Situasi di sekolah seperti tak terkendali. Anak-anak di kelas yang tanpa guru bebas keluar masuk kelas seenaknya. Pak Malik sepertinya sedang serius mempersiapkan anak kelas enam untuk ujian nasional sehingga tak sempat melirik kelas-kelas lain.

Saya yang kena imbasnya. Sedang mengajar kelas III tentang istilah-istilah asing, anak-anak kelas empat kerap mengganggu proses pembelajaran. Anak-anak di kelas juga sedang ribut-ributnya. Karena mereka baru belajar mengerti kata-kata itu, mereka jadi sering bertanya satu sama lain, which is a good thing. Sudah berkali-kali mencoba menarik perhatian mereka, mereka seperti sedang asyik sendiri.

Suara pun mulai habis. Tenggorokan mulai serak. Akhirnya saya memutuskan mengambil mik dan speaker untuk menjelaskan pada anak-anak kelas III. Suara yang terdengar sampai keluar kelas tambah menarik perhatian anak-anak kelas lain.
Mereka jadi sering membuka pintu kelas, lalu masuk seenaknya. Saya meminta tolong pada mereka untuk tak mengganggu pelajaran dengan segera keluar.

Mereka keluar. Tak lama, masuk kembali.
Saya sadar dianggap sebagai guru yang baik, bahkan terlalu lembut oleh kebanyakan murid. Saya benar-benar tak bisa berbuat kasar. Paling mentok ya berkata tegas dengan nada yang keras. Banyak murid yang mengerti kok dengan cara seperti itu.

Oleh karena itu, saya masih percaya cara itu masih ampuh. Saya berkali-kali mengingatkan mereka. Apa mau dikata, ucapan saya hanya dianggap angin lalu.
Kali ini mereka semakin beringas. Ada yang mengintip lewat jendela lalu tertawa. Di sisi lain jendela pun, ada anak-anak yang melihat-lihat ke dalam kelas sehingga menarik perhatian murid kelas III. Padahal sisi itu sudah termasuk daerah di luar sekolah.
Situasi semakin tak terkendali. Chaotic.
Ingin saja rasanya pergi dari kelas dan tak kembali. Tapi apa iya saya selemah itu.

Akhirnya, saya benar-benar keluar kelas dan memberi peringatan keras pada mereka. “Kalau ada yang ganggu kelas lagi, Pak Guru tak segan-segan pakai tangan!” Bahu diangkat, dada dibusungkan, mata menatap tajam, dan napas ditahan. Saya benar-benar mengucapkan itu dengan tensi tinggi. Sambil benar-benar berharap mereka mau mengerti dan tak mencoba kesabaran saya lagi.

Beberapa menit setelahnya, situasi kembali kondusif. Anak kelas III cukup bisa dikendalikan. Suara memang sudah serak tapi setidaknya bisa mengurangi sedikit tekanan pita suara dengan mik.

Namun, situasi ini tak berlangsung lama. Anak-anak kelas IV kembali berhamburan keluar kelas. Pintu kelas kembali coba dibuka. Anak-anak ini benar-benar menguji saya.
Klimaksnya, ketika saya sedang menjelaskan, ada seorang anak yang berteriak mengikuti ucapan saya di luar kelas. Teriakannya keras sekali diikuti tertawaan anak-anak lain.

Oh dear God. Why you do that, boy. You just make terrible, terrible mistake you will regret the rest of your life. I make sure of it.

Termometer emosi saya sudah ada di titik merah. Dan dengan teriakan anak itu, saya sudah meledak. Terlanjur. Tak bisa ditahan lagi lahar emosi yang sudah mengudara.
Saya berjalan cepat keluar kelas. Anak-anak berlarian menuju kelas masing-masing.
Saya berteriak, “Mana tadi yang teriak?!”
“Di dalam kelas, Pak.” jawab anak-anak.

Anak itu berdiri di belakang. Seperti takut melihat saya. Saya tak sempat lagi melihat wajahnya. Tak mau tepatnya. Saya panggil dia ke depan.
Telapak tangan sudah siap dilepaskan bak meriam yang sudah disulut sumbunya. Sudah tak lagi bisa ditahan. “Plak!!”
Tangan kanan saya mendarat telak di wajahnya.

Saya bermaksud memukul pipinya. At least it give less pain, I think. Tapi dia sedikit menghindar. Anak ini lalu mendekat ke saya beberapa langkah. Tak yakin juga apa maksud anak ini. Tangis kecil sudah terdengar. Dia terus menunduk.
Kejadian ini menarik perhatian hampir semua anak-anak lain.
Mereka memandang saya dengan raut wajah heran seakan tak percaya Pak Guru yang mereka anggap lembut dan tak mungkin memukul berbuat seperti ini. Saya sadar mungkin ini akan membuat mereka tak lagi memandang saya seperti dulu.

Saya lalu berbicara di depan kerumunan anak-anak ini.
“Pak Guru juga manusia, punya emosi. Kalau kalian kurang ajar dan tak menghargai Pak Guru, jangan salahkan kalau Pak Guru pakai tangan. Pak Guru sudah peringatkan kalian berkali-kali, kalian tetap mengganggu.”
“Mau tahu perasaan Pak Guru sekarang? Sedih. Sedih sekali. Sudah dua bulan lebih Pak Guru mendidik kalian tanpa pernah memukul. Berkata kasar pun tidak. Tapi dia sudah keterlaluan. Bapak harap kalian tidak seperti dia.”
“Kalau kalian baik, pasti Pak Guru juga akan baik. Tidak mungkin Pak Guru akan jahat kalau kalian berbuat baik.”
….

Saya bicara panjang lebar. Tak perlu dituliskan semua. Jangan tanya mengapa saya hapal setiap kata yang saya ucapkan. Ini salah satu kejadian terpenting dalam hidup, dalam pengalaman mengajar saya. Saya tahu detailnya.

Saya banyak meragukan hal-hal dalam hidup. Apalagi jika diposisikan untuk memilih antara dua pilihan. Tapi keraguan itu tak hinggap pada saya sedikit pun. Dalam perjalanan keluar kelas III dan masuk kelas IV, saya tak pernah merasa seyakin ini harus memukul anak itu.
Anak ini benar-benar sudah kelewatan. Kurang ajar sekali. Tak menghargai saya.

Saya sedih dan menyesal. Dan saya kalah telak.

Di kelas III, saya kembali berbicara dengan anak-anak. Mereka melihat saya dengan raut wajah serius bercampur heran. Saya tak akan pernah memukul mereka. Mereka sudah saya anggap seperti anak-anak sendiri. Selanjutnya, kurang lebih sama seperti apa yang saya katakan di kerumunan tadi. Walaupun semua anak kelas III juga ada di sana, saya merasa perlu untuk menjelaskan pada mereka lagi.
“Tak perlu takut dengan Pak Guru. Pak Guru sayang kalian semua.”
Mendengar kata ‘sayang’, mereka teriak, “Cieee!”
Ah, this is the class I know!

Riki, 10 tahun. Korban pertama.
Sampai sekarang, saya belum melihat jelas wajah anak ini. Dia tak berani melihat mata saya sebelumnya. Mempermainkan saya, dia lebih berani. Aneh. Tingginya hanya sebatas pinggang saya tambah sedikit. Tapi perilaku anak ini memang terkenal kelewat batas.

Saya bicara dengan Pak Malik saat istirahat. Saya baru saja memukul seorang anak. Apa reaksi pertama beliau? Tertawa.
“Anak-anak di sini memang harus begitu, Pak Bayu. Di rumah, orang tuanya sibuk bekerja. Mereka pun juga pakai rotan. Asalkan untuk kebaikan, tak apa pakai kekerasan sedikit asalkan wajar.”
Saya tertegun.

“Kakaknya anak ini juga kurang ajar sekali”, tambah Pak Malik. Pak Malik harus memukul kakaknya beberapa kali karena luar biasa kurang ajar. Selain merusak rumah, dia juga merusak sekolah dengan melempar-lempar batu.
What!? Does it possible, this reckless behaviour runs in a family?

Tangan kanan saya masih merasakan air mata anak itu. Karena mendarat di wajah, air matanya sempat menyentuh permukaan kulit. Rasanya, saya akan terus melihat tangan kanan ini berbeda. Seperti pembunuh yang baru menyelesaikan korban pertama, rasa bersalah masih terus menghantui saya. Sambil berandai-andai anak ini tak berbuat demikian, kejadiannya pasti akan berbeda.
Quoting Lost, “What happened, happened.”

Untuk Riki, hukuman untuknya tak berhenti sampai di situ. Mendengar cerita saya, Pak Malik akan melabrak anak itu lagi setelah istirahat. Saya memaksanya untuk tidak usah melakukan itu. Sudah cukup, pikir saya. Tamparan saya tadi juga tidak pelan. Seharusnya cukup membuat anak itu jera.
Pak Malik, seperti pembunuh berdarah dingin, berkata dengan sedikit tersenyum, “Kalau anak begitu, Pak Bayu, harus diberi pelajaran lagi, biar dia benar-benar jera. Nanti saya bikin angus kakinya.”
Saya diam. Saya tak pernah bisa menghalangi Pak Malik. Pengalaman mengajar anak-anak nakalnya luar biasa banyak.

Saat jam terakhir di kelas III, Pak Malik minta ijin masuk kelas. Beliau tak sendiri. Beliau menyeret Riki masuk ke dalam kelas. Dia kembali memarahi Riki dengan cara yang jauh berbeda dengan saya. Pak Malik memaksa Riki melihat matanya.
“Jangan pernah ganggu-ganggu kelas lagi, mengerti!”  teriak beliau pada anak kecil ini.
Saya tak berani bicara. Sebagian anak-anak kelas III menganggap ini sebagai hiburan gratis. Banyak yang menahan tawa dan tersenyum. Saya hanya bisa melihat dengan tatapan kosong.

Dengan rotan panjang di tangannya, Pak Malik meminta Riki mengangkat celananya. Dan seketika itu juga, rotan mendarat keras dua kali di paha belakangnya. Anak ini bergetar.
Exactly too much for this boy.
Kejadian hari ini pasti akan berbekas seumur hidup bagi Riki. Dan juga saya.

Setelah kejadian hari ini, saya sangat takut. Takut perasaan bersalah menghantui sepanjang perjalanan mengajar ini. Masih jauh jalan yang harus ditempuh. Saya takut akan menjadi serial killer yang menjadikan Riki sebagai korban pertama.
Saya takut akan godaan. Godaan menggunakan kekerasan. Kekerasan mendatangkan kuasa tapi bukan respek dan kasih.
Saya takut. Takut akan ada korban-korban selanjutnya.

Untuk pertama kalinya, tangan saya berlumur air mata.

Saya menyesal. Sedih. Saya minta maaf. Sudah, saya tak bisa berkata lagi.