(Tahun Baru)

by Bayu Adi Persada

New year is overrated. I think that statement reveals the meaning itself.
Pergantian tahun setahun yang lalu, saya sempat berujar di Twitter, “I’ll be somewhere abroad in the next new year”. Turns out, my wish is granted by God Almighty. Hanya saja, ‘abroad’ di sini bermakna jauh berbeda. Bukan di luar negeri, masih di dalam cuma dengan nuansa yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kalau musim angin seperti ini, cuaca tak pernah bisa ditebak. Siang panas, tak lama kemudian, sore hujan deras sampai malam. Kadang siang hujan, tapi kita dapat melihat langit bermandikan bintang di malam hari. Tanpa awan hitam.
Satu hal yang pasti, angin bertiup kencang. Tak tahu waktu. Bisa pagi, siang, malam, atau bahkan sepanjang hari.

Angin kencang membuat kapal enggan melaut dan para pencari ikan berpikir dua kali untuk mencari tangkapan. Jadi, sangat mungkin tak ada kapal ke kota dan saya tak makan ikan sehari atau dua hari. Lalu makan apa? Masih ada kerupuk dan abon. Atau mi instan tentu saja. Makanan darurat yang masih tersedia di rumah. Anyway, thanks Mom for these ‘abons’.

Pohon kelapa tentu tak akan kokoh melawan derasnya angin. Kalau sudah lelah bertahan, ia tak kuasa menopang dirinya sendiri. Ia pun akhirnya jatuh. Tak masalah jika jatuhnya di tempat yang layak. Akan tetapi, jika ia menimpa kabel atau tiang listrik, siapa yang sengsara? Seluruh masyarakat! Atau setidaknya, saya yang tersiksa! Tersiksa pokoknya!
Listrik pasti akan mati berhari-hari. Karena tak ada sinyal, maka keluhan harus disampaikan langsung ke PLN cabang kabupaten di kota. Sesudah disampaikan, belum tentu akan ada tindak lanjut langsung.
Singkatnya, pohon kelapa jatuh bisa jadi berita besar. Efeknya membelah diri.

Jaringan listrik belum stabil di kecamatan ini. Mungkin juga kecamatan-kecamatan lain. Lansekap dan kontur daratan yang masih banyak hutan dan bergelombang membuat kabel dan tiang rentan terhadap ancaman sekecil apa pun. Ranting jatuh saja bisa membuat listrik lumpuh dua hari dua malam. Apalagi angin kencang?!
Pasrah saja kalau sudah mendengar deru angin. Hanya tinggal menunggu waktu lampu tak bisa lagi menyala dan laptop tak lagi mampu mengisi bahan bakar.

As I told you earlier in my writings, the biggest challenge here is to confront boredom. Dan senjata utamanya tentu saja perangkat-perangkat elektronik. You may say, gadgets. Film tak bisa ditonton, musik tak bisa didengar, permainan di handphone jadi tak berguna. Harus pintar-pintar mengatur sumber daya (baca: baterai) yang sangat terbatas. Salah-salah pilih agenda, bisa keteteran nanti. Misalnya lebih memilih nonton atau bermain. Nah, saat dibutuhkan untuk saat yang lebih penting, gadget tak mau kompromi jika bahan bakar menipis. Akhirnya tak bisa mengerjakan RPP atau membaca Qur’an. Ceilah. Gaya.

31 Desember 2010

Ini hari ketiga listrik mati di desa kami. Alasan klise yang menyebabkannya. Ada pohon tumbang. Akhir tahun tentunya menjadi hari libur bagi semua pekerja. Saya sadar itu dan tak berharap sedikit pun akan ada keajaiban listik bisa menyala. Mungkin ini saatnya merayakan tahun baru dengan cara yang berbeda. Luar biasa sederhana dengan kontemplasi apa yang sudah dilakukan 365 hari ke belakang. Pret.

Sangat beruntung bagi Anda yang bisa melihat festival kembang api atau mendengar suara terompet saat perayaan tahun baru. Saya? Tak secercah cahaya pun. Mereka sedang sungkan menemani.
Di rumah, alat-alat penerangan amat terbatas. Tak ada petromak, lilin pun habis. Jadi hanya tinggal poci yang bisa dimanfaatkan. Poci berbentuk botol dan di dalamnya dimasukkan sumbu lalu diisi minyak tanah. Sumbunya kemudian dibakar. Lama nyala api tergantung dari banyak tidaknya minyak tanah dalam botol. Dan itu pun hanya ada tiga. Satu di ruang makan, satu di ruang tengah, dan satu lagi di kamar Pak Amir.
Emergency lamp yang ada di kamar saya sudah dua hari ini tak bisa menyala. Tak bisa di-charge.

Hari sudah mulai malam. Saya tak sempat shalat Isya di mesjid karena hujan deras. Kegelapan mutlak ditambah suara hujan. Sebuah kesunyian absolut. Sunyi itu terkadang bukan karena tak ada suara, tapi lebih pada alam bawah sadar kita yang tak menemukan sesuatu, sesuatu untuk dilakukan. Satu-satunya alat tersisa yang bisa saya gunakan hanya sebuah senter baca kecil.
Di tengah suara derasnya hujan yang menyamarkan keheningan malam, saya membuka titipan Bapak, sebuah buku do’a dan zikir Rasulullah.

Ada banyak sekali do’a yang ada di sana. Manusia yang paling sombong di dunia adalah mereka yang tak pernah berdo’a. Dalam sebuah firman Allah, “Berdo’alah kepada-Ku, maka akan Ku-kabulkan.” Rasul sering sekali berdo’a. Mungkin setiap detik dalam kehidupan singkatnya, lisannya selalu mengucapkan do’a pada Sang Pengabul Do’a.

Saya sangat tertarik dengan beberapa do’a di buku itu. Misalnya do’a untuk menghindarkan diri dari fitnah, do’a ketika anjing menggonggong dan ayam berkokok, ataupun do’a ketika hujan deras tiba. Saya agak gugup ketika membaca do’a untuk menenangkan diri dari gangguan jin.
Dalam salah satu riwayat, Rasul pernah bersabda bahwa ketika sesungguhnya anjing melihat apa yang tidak kita lihat dan anjing sebenarnya melihat syaiton/makhluk gaib ketika menggonggong. Dan ayam melihat malaikat saat dia berkokok.

Beberapa saat setelah membaca buku itu, saya mengantuk. Saya putuskan untuk sudahi saja malam terakhir di tahun 2010 ini. Tak perlu ada yang spesial. Makna perayaan sebenarnya ada di dalam hati. Percuma kalau hati masih yang lama sedang waktu terus berlari meninggalkan kita.
Geser tombol senter ke bawah. Kegelapan total kembali menjadi selimut. Gordin jendela yang tersibak mengijinkan cahaya bintang sedikit masuk.

1 Januari 2011

Saya terbangun jam setengah 6 pagi di tahun yang baru. Ambil wudhu dan shalat Subuh. Langit di luar masih gelap. Tak ada hiruk pikuk di rumah. Hanya Mama yang sudah terbangun. Saya pun belum ingin melakukan sesuatu. Tahun baru bukannya hari untuk bermalas-malasan?
Dari dalam kamar terdengar suara Ari. Bayi ini sudah bangun rupanya.

Saya beranjak keluar kamar untuk menemani Ari. Saya gendong anak ini berjalan-jalan sepanjang pantai. Sejenak duduk di perahu yang bersandar. Mengambil bilolo yang sedang lewat. Sekedar intermezzo tentang keong. Bilolo atau disebut keong dalam bahasa yang umum. Saya selalu ingat masa-masa SD ketika bermain keong. Dulu, saya ingat sekali punya keong sampai berpuluh-puluh dengan aneka cangkangnya.
Bayi ini salah satu teman terbaik saya di desa. Dia selalu bisa membuat mood saya naik. Saya menikmati melihat setiap tingkah polahnya.

Sekitar jam 9, akan ada penguburan jenazah Pak Arifin, guru MIS, yang meninggal kemarin. Beliau sudah beberapa bulan terakhir mengidap sakit yang sampai sekarang tak pasti apa penyakitnya. Sudah bolak balik rumah sakit, tapi pihak rumah sakit tetap tak bisa memutuskan spesifik penyakit beliau. Yang jelas, beliau kerap muntah ketika makan. Dan ketika muntah, darahnya ikut keluar. Bukan merah, darahnya sudah hitam dan sangat kental. Begitu kata keluarga dan tetangga terdekat.

Pak Arifin masih muda. Umurnya masih sekitar 30-an awal. Baru punya dua anak. Yang paling besar, sekolah di SD kelas 4. Anak murid saya. Saya tak kenal dekat beliau. Bertemu juga hanya sesekali. Tapi, saya seperti sering melihat wajah beliau saat shalat di mesjid. Pak Arifin memang salah satu figur yang cukup kuat ibadahnya. Walaupun mengidap sakit keras, beliau sering memaksakan diri untuk shalat di mesjid.

Saya berjalan ke rumah duka dengan Pak Amir dan Mama. Almarhum masih keluarga dekat dengan Mama. Pak Amir mengenal Pak Arifin sebagai orang yang paling baik yang beliau kenal di Bibinoi. Mama terlihat kehilangan sepupu dekatnya ini.
Jenazah terlebih dahulu dishalatkan sebelum kemudian diantarkan menuju ke perhentian terakhir. Hampir seluruh masyarakat Desa Bibinoi yang muslim berkumpul di tempat pemakaman. Mengantarkan salah satu warga desa terbaiknya. Ketika Pak Imam mulai membacakan do’a, semua masyarakat menundukkan kepala seraya ikut berdo’a.
Selamat jalan Pak Arifin! Insya Allah, saya akan jaga anak Bapak di sekolah.

Itulah sekilas pengalaman baru saya di tahun yang juga baru. If after you read this, you feel pity, even the slightest, on me, please dont! I dont need that. But they do.
Saya hanya mencoba menjadi bagian dari mereka selama setahun ini. Mengalami apa yang mereka rasakan, mengerti apa yang mereka pikirkan. Tapi mereka akan menjadi mereka seumur hidup. Mereka akan terus menjalani hidup seperti yang sudah dijalani hingga kini.

Terkadang, perubahan, kemajuan, dan modernitas tidak datang bukan karena masyarakat yang tak mau menerima. Akan tetapi, lebih kepada sedikit yang mau memberi. Kalaupun ada yang mau, aksesnya terbatas dan berliku. Memberi pun butuh pengorbanan. Dan masih banyak orang yang tega memanfaatkan pengorbanan orang lain.

Siapa mereka? Mereka adalah masyarakat-masyarakat desa yang masih sedikit tersentuh kemajuan. Masih meraba-raba apa arti mimpi yang tinggi. Masih samar akan nilai bahwa mereka diberikan hidup untuk sesuatu yang besar. Sama seperti saya, Anda, dan orang-orang lain di luar sana.

Advertisements