Nilai Dedikasi

by Bayu Adi Persada

14 Januari 2011

Dari hujan, saya belajar nilai dedikasi hari ini. Hujan sudah turun dari jam lima pagi tadi. Tak begitu deras memang. Yang jelas suara rintikan air di atap membuat saya tak mau segera beranjak dari tempat tidur. Tempat tidur ini terasa lebih hangat dari biasanya. Walaupun hanya kasur tipis dan tak ada selimut, saya merasa nyaman berada di balik kelambu. Rain makes heaven is on your bed.

Waktu tak mau menunggu, dia terus berlalu. Semakin lama saya meringkuk di kasur ini, semakin telat saya datang ke sekolah. Sempat terpikir untuk tidak masuk sekolah setelah mendengar hujan turun lebih deras.
Saya memaksakan diri bangun, mengambil alat mandi dan handuk, dan berjalan pelan ke kamar mandi belakang. Ingin saja sih tidak mandi. Mandi air dingin di cuaca dingin begini. Sekedar memikirkannya saja sudah malas.

Dengan berbekal payung kecil dan jaket Indonesia Mengajar yang baru saya pakai lagi semenjak bertemu Wapres, saya berjalan keluar rumah melewati rintik-rintik hujan. Dua orang anak SD dekat rumah terlihat kaget mendapati saya berangkat sekolah.
Mereka masih memakai baju tidur dan berwajah lusuh. Sepertinya tak berniat pergi ke sekolah. Kalau cuaca seperti ini, saya juga tak bisa memaksa mereka ikut ke sekolah. Dingin sekali dan banyak anak yang tak punya jaket.

Sudah jam tujuh lewat lima belas menit saat saya sampai di ruang guru. Seharusnya, siswa-siswa sudah berkumpul untuk apel pagi sebelum masuk kelas. Nyatanya, hanya saya satu-satunya manusia di sekolah ini. Ditemani dengan sekumpulan nyamuk dan kambing yang baru saja keluar dari pagar sekolah. Hujan membuat langit Bibinoi pagi itu agak kelam, tak secerah biasanya.

Sambil menunggu siswa jika ada yang datang, saya menyiapkan bahan-bahan untuk ditempel di kelas nanti. Saya akan membuat sistem perolehan bintang di kelas III. Setiap siswa yang mendapatkan nilai paling baik, berani maju ke depan, atau berbuat baik akan mendapatkan satu bintang. Nanti di akhir semester, saya menjanjikan hadiah bagi pengumpul bintang terbanyak.
Well, it sounds nice. I wish I was teached by myself back then. Word. J

Tak lama berselang, dua siswa saya datang diantar orang tuanya. Amoi dan Natalia, siswa kelas III yang punya semangat belajar sangat tinggi. Serius, sangat tinggi. Karena hanya mereka siswa yang baru datang, akhirnya saya panggil mereka ke perpustakaan untuk membaca buku. Saya pilihkan buku My First Colour agar mereka sedikit punya gambaran bahasa Inggris.
Kedua anak ini peringkat dua dan tiga di kelas. Honestly, they are two of my favoritesIn my opinion, teachers are allowed, of course, to have some students that they like more. However, the most important thing is teacher have to treat every student equally.

Siswa sudah mulai berdatangan selama setengah jam saya menunggu. Tak banyak memang. Hanya kurang lebih dua puluhan. Saya mengajak mereka semua membaca buku. Pilih buku yang mereka suka dan baca, tak cuma melihat gambar lalu tertawa. Anak-anak cukup antusias menanggapi ajakan saya. Berbondong-bondong pergi ke perpustakaan dan mengambil buku. Sebenarnya belum layak disebut perpustakaan sih, hanya lemari berisi buku.

Setelah jumlah anak-anak sudah lumayan cukup, saya meminta mereka berkumpul di lapangan untuk apel pagi. Saya cukup tegas menanyakan jam berapa mereka seharusnya masuk sekolah. Sudah jam 8 lewat pada saat itu. Pada dasarnya mereka tahu kapan jam masuk, namun saya juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka karena datang terlambat. Sampai jam delapan pun hanya saya satu-satunya guru yang sudah datang.

Bagaimanapun juga, kegiatan belajar mengajar harus berjalan hari ini. Walaupun hanya sebentar karena ada undangan aqiqah untuk guru-guru dari salah satu warga. Sekitar jam 9, Pak Malik datang ke kelas untuk mengajak saya pergi ke acara. Buat saya, berat meninggalkan kelas saat baru belajar satu jam.
Saya tak menduga acara tersebut diadakan pagi hari. Saya pikir setelah shalat Jum’at. Serba salah jadinya. Satu sisi enggan meninggalkan kelas karena anak-anak masih semangat belajar, di sisi lain tak enak juga karena semua guru pergi ke acara. Akhirnya, saya pun hanya meninggalkan PR untuk anak-anak dengan harapan mereka tetap belajar hari itu.

Dari oksigen, saya belajar nilai dedikasi hari ini. Saat otak membutuhkan banyak oksigen dan badan sudah kelelahan, otak memaksa mulut untuk menguap. Mengambil oksigen lebih banyak. Kalau sudah mengantuk berat, tak ada penangkalnya. Jalan keluarnya ya tidur. Semakin dipaksakan, semakin otak dipaksa untuk mengambil oksigen lebih banyak. Menguap lebih sering dan dengan mulut yang lebih lebar.

Setiap malam, Natalia dan Amoi selalu datang ke rumah untuk belajar. Bersama Naini dan Ul, saya mengajarkan mereka apa saja. Apa saja yang mereka mau tahu. Senangnya jika mereka sendiri tahu apa yang ingin dipelajari seperti ini.
Terkadang, sembari belajar saya ajak mereka bermain komputer atau susun puzzle. Seperti menemukan dunianya sendiri, anak-anak ini tak mau diganggu ketika bermain.

Kalau sedang semangat-semangatnya belajar, anak-anak ini tak tahu waktu. Bisa sampai lewat jam sepuluh kami belajar bersama dan tak terlihat lelah sedikit pun di wajah mereka. Selalu meminta tambahan soal, meminta diajari ketika kesulitan, atau meminta bermain ketika sudah jenuh. Kalau tidak dijemput orang tuanya atau saya yang meminta mereka pulang, mereka mungkin lupa akan rumah. Saya selalu menanyakan apakah orang tua mereka tak masalah dengan belajar sampai jam segini. Semuanya menjawab, “Tarapapa Pak Guru! Tambah terus sudah soalnya.”

Hari ini saya tak mampu mengimbangi semangat belajar mereka yang luar biasa tinggi. Oksigen di otak sudah menipis. Perlu tambahan oksigen lebih banyak (baca: tidur) setelah aktifitas seharian dan tak sempat tidur siang.
Sudah hampir jam sebelas dan mereka masih meminta soal untuk dikerjakan. Terpaksa terus memeras otak untuk memberikan soal yang tak turun tingkat kesulitannya.

Orang tua Natalia dan Amoi sudah menjemput di depan rumah. Dia bilang, “Pulang sudah. Pak Bayu su(dah) mengantuk itu.” Saya membalas dengan tersenyum, “Tarapa Bu.” Padahal mata sudah berat sekali. Tak mau kehilangan gengsi, saya terus memaksakan diri. Saya tak mau begitu saja menyia-nyiakan semangat belajar mereka.

Sampai jam sebelas lewat, akhirnya saya yang menyudahi pembelajaran malam ini. Badan benar-benar sudah tak bisa dikompromi lagi. Dengan alasan mereka harus tidur supaya besok tidak terlambat, mereka mau disuruh pulang.
Mudah-mudahan mereka akan selalu seperti ini selanjutnya. Rasa kantuk bisa ditahan tapi semangat menggebu-menggebu pasti tak sering datang.

Hari ini saya belajar berdedikasi. Berdedikasi dengan apa yang saya pilih. Apa yang saya jalani. Dedikasi bukanlah rasa yang diberikan langsung oleh Tuhan. Tapi nilai dedikasi selalu terkait dengan apa yang  Dia ciptakan.
Hari ini saya belajar nilai dedikasi dari hujan dan oksigen.
Hujan, fenomena alam paling lumrah. Oksigen, zat yang bahkan tak terlihat dan sering kita lupa peranannya.

Berdedikasi selalu memberikan kepuasan. Kepuasan yang tak pernah bisa dibayar dengan uang. Tak pernah bisa ditakar dengan apa pun. Dedikasi datang dari dalam diri dan hanya kita sendiri yang mampu menimbangnya. Sejauh mana kita memberikan hati pada apa yang kita pilih dan jalani, sejauh mana kita berusaha untuk melakukannya sepenuh hati.

Hari ini saya belajar nilai dedikasi. And it is priceless.

Advertisements