Wisata Urban

by Bayu Adi Persada

Saya begitu yakin akan mampu menghilangkan sisi-sisi kehidupan kota saat menginjakkan kaki di desa. Keterbatasan di sini tak main-main. Kondisi di desa dan tempat dulu saya tinggal amat bertolak belakang. Kalau boleh dibilang, bagai bumi dan langit. Bumi tak akan pernah bisa menjangkau langit. Seperti itulah perumpamaannya.

2-3 Januari 2011

Tim memutuskan pergi ke Ternate untuk berlibur. Ini pertama kalinya kami menginjakkan kaki kembali ke ibukota provinsi setelah penempatan awal hampir dua bulan lalu.
Siang itu, saya dan Dika terlebih dulu membeli tiket untuk kami bersepuluh. Menaiki motor sejauh 15 km dari Labuha ke Pelabuhan Babang sangat menantang. Angin bertiup tak begitu kencang sedang titik hujan mulai turun sedikit demi sedikit. Hujan gerimis. Meskipun dingin dan berangin, kurang lebih 30 menit perjalanan bisa kami nikmati.
Musim liburan seperti ini sangat mungkin kapal akan penuh. Memang bisa membeli tiket langsung di kapal. Tapi kami tak mau berjudi, daripada tak dapat tempat, lebih baik curi start beli tiket.

Kapal akan berangkat jam 9 malam. Tim sudah berangkat menuju pelabuhan dari rumah Ummi jam setengah delapan. Menyewa otto untuk pergi. Kami bersepuluh ternyata muat diangkut di mobil Carry kecil ini. Bawaan saya paling banyak dengan dua tas. Satu untuk laptop dan kamera, lainnya untuk baju.

Berbeda dengan waktu pemberangkatan dulu, kami tak menyewa kamar VIP. Jaga budget. Kami ada di dek bawah bersama ratusan penumpang lain. Tempat tidur kami berupa matras yang berjejer. Bau keringat dan bau minyak wangi bercampur jadi satu di ruangan  itu. Ditambah asap rokok, lengkap sudah.

Tim membuat daftar jaga. Dalam suatu waktu, tak boleh semua anggota tim tidur. Harus ada yang menjaga barang-barang. Maklum, banyak dari kami yang membawa barang mahal seperti laptop dan kamera. Perjalanan Babang-Ternate memakan waktu 8 jam. Dan saya kebagian jaga pertama. Selanjutnya kami bergantian bangun sesuai kesepakatan.

Perjalanan laut berjam-jam tak terasa. Padahal, ombak sedang keras-kerasnya. Saya tertidur pulas dan ketika terbangun, kapal sudah mulai merapat ke Pelabuhan Bastiong di Ternate. Aroma kota sudah mulai terasa. Ramai sekali di pelabuhan di pagi buta seperti ini. Masih jam setengah lima pagi. Kami bergegas membawa barang-barang, menuruni kapal besar ini.
Karena sudah waktu Subuh, destinasi pertama kami tentu saja mesjid. Mesjid terdekat di pelabuhan terletak di lantai tiga sebuah gedung di belakang pasar.

Dari mesjid selepas shalat, kami sejenak menikmati matahari terbit yang muncul di tengah-tengah Pulau Tidore dan Maitara. Tim tak mau ketinggalan mengabadikan momen menarik ini. Setelah puas mengambil gambar, kami mencari ATM dan rumah makan. Uang di dompet hanya tinggal dua puluh ribu. Untung saja tak jauh dari pelabuhan, ada beberapa ATM berbagai bank.

Nasi kuning dan bubur kacang hijau menjadi sarapan kami pagi ini. Setelah sarapan, tim memutuskan untuk langsung pergi ke Pulau Maitara. Saya sangat penasaran, seperti apa sih pulau yang sampai diabadikan di uang seribu. Dengan menyewa speed boat seharga 70ribu, kami semua sudah bisa berangkat ke Maitara.

Sampai dermaga di Maitara, lautan bening ada di bawah kaki kami. Namun sayang, pantainya tak bersih. Masih banyak sampah yang tertinggal. Tak seperti yang diceritakan, pantai Maitara seperti kurang terawat. Buat kami tak masalah, yang penting masih bisa berenang dan melihat karang dan ikan-ikan walaupun tak banyak dan tak beragam.

Suasana di tepi pantai cukup nyaman. Di bawah pohon rindang kami berkumpul selepas berenang dan snorkeling. Kamar mandi di sini juga cukup layak. Airnya memang agak payau tapi bersih.
Kami menghabiskan waktu sampai jam 2 siang di pulau ini. Sehabis makan siang, kapal sudah menjemput kami di dermaga.

Adhi diberikan informasi penginapan murah di Ternate oleh seorang teman di Bibinoi. Itulah tujuan kami selanjutnya. Sampai di Penginapan Yamin, kami meletakkan barang-barang di kamar. Tim menyewa empat kamar. Untuk kamar yang berisi 3 orang, tarifnya 100 ribu, sedangkan 75 ribu untuk 2 orang. Lumayan murah. Dan letak penginapan ini pun strategis. Terletak persisi di depan pantai dan hanya ratusan meter dari pusat kota dan tentu saja mal.

Tak mau buang waktu, kami langsung pergi ke mal. Seperti rindu sekali dengan kehidupan kota. Ada Gramedia, KFC, supermarket, optik, dan kamar mandi bagus. Saya kira pola hidup kami sudah seperti orang desa. Kapan lagi bisa makan KFC. Dalam setahun mungkin maksimal tiga-empat kali. Tim kemudian kalap saat masuk ke Gramedia. Ratusan ribu uang berubah instan menjadi tas-tas plastik berisi buku dan alat pengajaran.
Buku memang memiliki harga, tapi tidak untuk dedikasi. Dedication is priceless.

Hari pertama kami di Ternate dihabiskan dengan hura-hura di mal. Tak lupa menyempatkan diri ke Mesjid Agung Al Munawar Ternate yang sangat megah. Hanya lima puluh meter dari mal, mesjid ini cantik. Lapang sekali ruangan utama untuk shalat. Terletak persis di tepi pantai, mesjid ini salah satu ikon penting di Ternate.

4 Januari 2011

Hari ini kami akan wisata sejarah kota Ternate. Menyewa otto dengan harga cukup murah, 250 ribu untuk sehari. Kami akan mengunjungi situs-situs bersejarah kota ini. Dulu, Ternate dan Tidore terkenal akan kerajaannya. Portugis dan Belanda juga sempat menguasai pulau ini berpuluh-puluh tahun. Peninggalannya pasti banyak dan menarik.

Situs pertama yang kami kunjungi adalah Benteng Tolukko. Benteng ini konon merupakan peninggalan orang-orang Portugis. Benteng ini sudah mengalami beberapa kali perbaikan. Maklum, sudah tua sekali umurnya. Tapi perbaikan tersebut tak mengubah bentuk aslinya. Hanya mengganti batu-batu yang sudah lapuk dan rapuh.
Bentuk benteng ini unik. Ada lorong untuk pintu masuk sepanjang 20 meter lalu terdapat tangga. Dan di atas, kami dapat melihat kota Ternate. Pesisir pantai dan lautan juga terlihat dari sini. Pemilihan lokasi benteng ini tepat sekali. Ruang pandangnya sangat luas ke berbagai sisi.

Lokasi selanjutnya adalah Batu Angus. Tumpukan batu hitam yang sudah sangat mengeras terletak kurang lebih 100 meter di atas permukaan laut. Batu-batu ini dulunya adalah lahar Gunung Gamalama yang entah meletus tahun berapa. Kini, lahar tersebut sudah mengering dan membentuk sebuah dataran bergelombang.

Pantai Sulamadaha tak jauh dari lokasi Batu Apung. Pantai ini katanya pantai terbaik di Ternate. Benar saja, terletak di teluk, pantai ini menawarkan pemandangan yang indah. Jauh lebih baik dari Maitara.
Saya dan Dika menyewa perahu kecil untuk mengitari teluk. Lautnya cukup dalam, sekitar 5 meter. Dalam beberapa kesempatan, kami meninggalkan perahu untuk melihat kondisi bawah laut. “Abandon the ship, captain!”

Saat mendayung ke lokasi yang agak jauh, perahu karam. Adi ingin menaiki perahu kami juga. Sepertinya perahu ini memang hanya cukup untuk dua orang. Perahu pun terbalik dan kami kesulitan membalikkannya lagi. Harus menunggu armada bantuan dari teman-teman di perahu lain. Berhubung saya sudah kehabisan napas dan lelah, saya pindah ke perahu lain untuk sampai ke pantai. Tak punya tenaga lagi untuk mendayung.

Lokasi berikutnya sangat saya tunggu-tunggu. Ini merupakan salah satu situs wisata utama di kota Ternate. Danau Tolire! Danau ini tak begitu besar. Menurut penglihatan kasar, diameternya sekitar 500 meter – 1 km saja. Tapi dari tempat pengunjung ke permukaan danau cukup jauh. Lemparan batu sekencang apa pun sulit mencapai permukaan danau.

Menurut penduduk setempat, ada cerita rakyat yang melingkupi Danau Tolire ini. Konon, dulu terdapat desa di tempat ini. Tapi, penduduknya berbuat nista. Ayah bersetubuh dengan anak perempuan dan ibu dengan anak laki-laki. Karena itu, desa itu ditenggelamkan sehingga terbentuklah sebuah danau.
Lalu, jika kita melemparkan batu ke danau, batu tersebut akan hilang. Bukan tenggelam, tapi hilang. Kebenaran cerita ini memang masih menjadi tanda tanya. Akan tetapi, cerita rakyat memang selalu menarik untuk disimak.

Ketika ingin membidikkan kamera, saya dicegat oleh salah seorang penjual es kelapa muda yang juga penjaga danau. Dia berkata pada saya untuk menunggu sebentar. Dia ingin panggil buaya untuk keluar. Dia pun berjongkok dan membaca sesuatu. Sepertinya mantra atau jampi-jampi. Ajaibnya, tak selang berapa lama, buaya keluar dari persembunyiannya dan menampakkan diri. Buaya ini melintas di tengah-tengah danau menuju ke tepian.

Tak mau kelewatan momen ini, saya langsung menyiapkan kamera. Kamera saya tak bisa menangkap penampakan buaya dengan jelas. Zoom maksimal pun hanya bisa mengambil gambar seadanya. Jaraknya sangat jauh dari atas ke permukaan danau. Gerakan buaya ini juga cepat sekali. Cepat sekali menghilang ke tepi.

Meskipun banyak mitos dan cerita mistisnya, Danau Tolire tetap ciamik. Warna permukaannya hijau. Rimbun pepohonan mengelilinginya. Ketika kami akan pergi, kumpulan burung-burung putih keluar dari persembunyiannya dan terbang dengan seirama. Pemandangan yang tak biasa saya saksikan. Cool.

Selepas menghabiskan waktu di danau, tim memutuskan untuk menyudahi saja perjalanan sehari itu. Aisy tiba-tiba tak enak badan. Dia harus cepat beristirahat. Tak apa, toh saya sudah sampai ke agenda utama perjalanan ini. Walau masih banyak lagi situs-situs wisata, masih bisa dicapai lain waktu.

Malam harinya, saya dan Dika kembali berkelana di sekitar kota. Ingin mengabadikan suasana kota di saat malam tiba. Sekitar jam 10, kami keluar penginapan. Ternyata, masih ramai sekali orang di pesisir pantai. Ada yang mengobrol, sekedar berkumpul, berbelanja, dan bermain catur. Pemain catur jalanan ini unik. Dia akan membayar siapa pun yang bisa mengalahkannya. Tentu, untuk bertanding, harus membayar sejumlah uang.

5 Januari 2011

Ini hari terakhir kami di Ternate. Kapal masih akan berangkat jam 9 malam nanti. Masih punya hampir sepanjang hari untuk menghabiskan waktu di kota ini.
Saya dan Ayu ngidam sekali bubur ayam. Kami memutuskan berjalan mencari bubur ayam. Sudah lebih dari lima kilometer berjalan, kami tak menemukannya. Terpaksa lagi-lagi makan bubur kacang hijau dan ketan hitam.

Setelah itu, hari-hari kami dihabiskan di mal dan mal lagi. Sepertinya, kami memang menikmati wisata urban ini. Buat kami, kehidupan kota adalah sebuah wisata. Sebuah tempat untuk sejenak melarikan diri dari rutinitas di desa.
Lucu, karena saya justru ingin melepaskan diri sejenak dari mal dan kehidupan penuh konsumerisme di kota. Tapi ternyata, saya tak bisa benar-benar melepas diri. Saya masih sangat terikat dengannya.

Di suatu waktu, saya jadi agak merasa takut liburan kota ini akan menjadi bumerang. Takut menjagi gugup lagi saat kembali ke desa. Tak biasa lagi dengan keadaan yang ada. Canggung lagi dengan orang-orangnya.
Ah sudahlah, sebenarnya saya juga sudah kangen Bibinoi. Desa kecil itu memang tak menawarkan banyak. Saya kangen saja dengan anak-anak dan kehidupan yang jauh lebih sederhana. Lagipula, Senin minggu depan sudah masuk sekolah. Hore!

 

 

 

Advertisements