Apresiasi

by Bayu Adi Persada

23 Januari 2011

Siapa yang tak senang mendapat pujian? Pujian akan apa yang sudah kita lakukan, sebuah karya. Bukan pujian pada apa yang sudah melekat pada diri kita, seperti harta atau fisik tubuh. Either way, kita pasti akan merasa bangga ketika seseorang menilai lebih apa yang ada pada diri.
Saya pun sama seperti kebanyakan orang. Hanya saja kalau harus memilih salah satu, saya akan mengambil yang pertama, pujian akan sebuah karya.

Entah, saya lebih memilih kata apresiasi daripada pujian. Walaupun maknanya sama atau hampir sama, kata itu buat saya terdengar lebih bernilai dan bermakna luas.
Feeling more appreciated. Acknowledged. Compliment is good, but appreciation is someway better. Saya tak bermaksud membuat Anda lebih ribet memikirkannya. Semuanya hanya pendapat pribadi saja.

‘Okay I get it, you get appreciated, so what?’
Saya mendapat banyak apresiasi hari ini. Meski banyak yang sederhana, semua hal baik selalu membawa nilai lebih. Membuat kita merasa dihargai, diberkati, disayangi, you name it.

Sesampainya di dermaga, hal yang pertama kali saya lakukan tentu memberi kabar orang rumah. Kapal merapat ke darat sekitar jam sembilan. Masih jam tujuh di rumah. Kehidupan pasti belum benar-benar menyala jam segini di hari Minggu. Bapak masih tidur sedang ibu mungkin pergi ke pasar. Benar saja, saya menelepon beberapa kali ke rumah dan handphone ibu, tapi tak ada yang mengangkat. Mbak juga tak menjawab telepon.

Saya sempatkan makan baso dan bakwan dulu di warung dekat dermaga. Sambil menunggu telepon balasan dari rumah. Tak berapa lama, handphone berbunyi. Ibu menelepon balik. Ibu sedang mandi ketika saya menelepon tadi.
Percakapan umum antara anak dan ibu pun dimulai. Ibu selalu menanyakan kesehatan, makan sehari-hari, mau dikirim apa dari rumah, butuh uang atau tidak, dan tipikal pertanyaan lainnya. Saya pun selalu menjawab dengan jawaban-jawaban normatif, agar tak membuat khawatir.

Kadang-kadang, saya sangat perlu melebihkan kondisi di desa biar tak menjadi pikiran. Saya hanya bisa mengabari ibu paling cepat seminggu sekali. Kalau hari Minggu tak sempat ke kota, terpaksa keluarga menunggu lebih lama untuk sebuah kabar.
Keluarga dan saya tahu benar banyak hal bisa terjadi dalam seminggu. Makanya, saya selalu bisa mendengar ekspresi kelegaan ibu ketika saya menelepon di akhir minggu.

Ibu berpesan pada saya untuk menelepon eyang. Katanya, eyang sudah beberapa kali menanyakan keadaan saya. Bahkan sampai bermimpi yang aneh-aneh. Dalam mimpinya, saya memberikan kain untuk beliau. Terakhir kali, saya menelepon beliau 3 minggu lalu. Sudah lama juga. Wajar saja sampai terpikir yang tidak-tidak.

Selesai menutup telepon dari ibu, saya segera menelepon rumah di Solo. Saat mendengar suara eyang, lagi-lagi saya mendengar sebuah kelegaan mendalam. Dengan suaranya yang tak lagi bisa keras, saya bisa merasakan perhatian dan doa beliau.
“Kamu gak apa-apa kan, Dek?” “Betah kan di sana?” “Eyang mimpiin kamu.” “Eyang selalu berdoa untuk kamu, Dek.” Eyang terus berkata dan bertanya apa yang selama ini hanya bisa beliau pikirkan.
Di tengah angin yang menderu di atas motor, saya merasa sangat bersalah membuat eyang sampai sekhawatir ini. Harusnya lebih sering memberi kabar langsung padanya.

Ini apresiasi pertama. Doa yang tak pernah putus dari orang-orang yang menyayangi saya.

Sesampainya di rumah Ummi, saya mendapati Ayu, Aisy, Dani, dan Dika tengah berada di sana. Sebenarnya mereka punya jadwal sharing dengan guru-guru SMP sehari sebelumnya. Namun, acara kembali diundur setelah sekian kali dijadwal ulang.

Ummi menyambut saya dan Adhi dengan berbeda. “Wah, ini dia yang namanya harum di Bibinoi!” begitu sahutnya pada kami. Saya bingung. Adhi pun sama. Menerka-nerka apa yang dimaksud perkataan Ummi barusan. Teman-teman lalu menggoda kami. “Cie, yang namanya terkenal.” “Tau deh yang udah dikenal Bupati.”
Saya tambah tak mengerti apa yang mereka maksud.

Ummi lalu menceritakan bahwa saat pelantikan bupati seminggu yang lalu, beliau menemani istri bupati terpilih. Kebetulan, bupati yang terpilih ini putra asli Desa Bibinoi. Istri bupati tersebut menceritakan hal-hal baik tentang kami. Padahal seingat saya, saya tak pernah bertatap muka langsung dengan bupati atau istrinya. Mungkin beliau tahu dari cerita-cerita masyarakat desa.
Spontan, saya dan Adhi berteriak, “Bibinoi brothers!”

Ini apresiasi kedua. Pandangan masyarakat akan apa yang sudah kami lakukan dua bulan lebih di desa. Tak banyak apa yang sudah kami buat. Bahkan saya selalu merasa kurang dan belum memberi banyak. But, they know better than we do.

Masih di rumah Ummi, saya mendapati Aisy memasang background laptopnya dengan foto yang sangat familiar. Sepertinya saya pernah melihat ini. Tapi di mana, saya tak begitu ingat. Melihat saya memandang foto itu, Aisy pun berkata, “Fotomu bagus, Bay.”
Saya tersadar. Oh, ini foto yang saya ambil di Pantai Sulamadaha saat liburan ke Ternate!

Ah, senang sekali ketika sebuah karya kita dihargai. Walau dengan cara yang amat sederhana. I don’t feel less appreciated. Saya tersenyum kecil padanya.
Kalau diingat-ingat, memang butuh usaha lebih untuk mengambil gambar dengan sudut seperti itu. Saya harus menapaki tanah yang bergelombang di pesisir pantai untuk sampai ke tempat pengambilan foto yang tepat. Sempat hampir terjatuh karena ada jembatan yang hanya seukuran satu batang bambu ukuran sedang. After all, those photos were worth the effort.

Ini apresiasi ketiga. Ekspresi jujur akan sebuah karya selalu berhasil meninggalkan senyuman dan kebanggaan.

Saya selalu merasa canggung jika disebut pintar menulis. Saya tak begitu suka membaca buku. Jadi tak begitu tahu banyak referensi penulis-penulis yang baik. Saya hanya menulis apa yang saya ingin dengan gaya yang saya tahu. Which is, I dont know many styles. Kalau Anda membaca tulisan-tulisan saya, pasti tahu saya tak pernah bereksperimen dengan gaya menulis.

Tak masalah, setiap orang punya preferensi masing-masing.
You can read whatever you like to read, well, so do I. I can write everything I want. Mungkin ini yang menjadi nilai lebih saya dalam menulis. Saya tak punya beban akan apa yang orang pikirkan. Buat saya, menulis adalah kebutuhan sekunder yang harus dipenuhi. Harus ada yang diceritakan.

Saya menulis untuk diri sendiri. Kalau ada yang membaca, ya boleh-boleh saja. Toh saya tak berniat menyimpan semua cerita hanya untuk pribadi. Kalau ada yang berkata bagus, terima kasih banyak. Berarti mereka punya preferensi yang sama dengan saya, kurang lebih. Kalau ada yang enggan membaca, tentu tak masalah. Why bother. We can’t force someone to do something they don’t like.

Apresiasi bisa dinilai lebih jika yang memberikannya pun seseorang yang punya kredibilitas lebih. Mbak Gina, begitu saya biasa memanggilnya. Dia adalah seorang penulis skenario kaliber nasional. Saya tak melebih-lebihkannya. Menurut saya, karyanya dengan Salman Aristo, suaminya, selalu bisa membuat warna yang berbeda pada setiap film.

She described my writings as great and inspiring. I could take the latter. Inspirasi bisa datang dari mana saja. Bahkan Sir Isaac Newton mendapat inspirasi dari sebuah apel yang jatuh. Jadi kalau kebetulan mendapat inspirasi dari membaca tulisan saya, good for those who get it.
But great writing? From one who has great work herself?
Well, Alhamdulillah sounds like appropriate respond, does it?

Itu apresiasi terakhir hari ini. Saya tak bisa berkata banyak. I feel blessed.

Apresiasi bisa datang dari siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan dengan beragam cara. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Bijak atau lupa diri. Rendah hati atau sombong. Semuanya adalah pilihan dan hidup itu menghidupi apa yang kita pilih.
Apresiasi jelas bukan sumber energi utama untuk saya menapaki perjalanan ini. Ia hanyalah bonus yang datangnya tak disangka-sangka.

Jadi, dapat atau tidak, tak pernah menjadi pikiran. Kalau kita bisa menikmati setiap waktunya, kenapa harus gelisah akan sebuah penghargaan. Buat saya, menghargai diri sendiri dalam bentuk sekecil apa pun lebih penting dari segala kata-kata manis orang lain.

 

Advertisements