Kebanggaan itu Diperjuangkan

19 Februari 2011

Hari ini kami sebagai tim menuntaskan sekali lagi agenda besar dalam perjalanan  membuka koridor-koridor jendela cahaya untuk pendidikan anak-anak Halmahera Selatan. Olimpiade Sains Kuark Nasional 2011 resmi dilaksanakan. Pasti ada kekurangan di sana sini. Tapi selama yang saya lihat, ini adalah even yang sempurna. Dari makna maupun teknis pelaksanaan.
Mates, we did a great job!

Pelaksanaan lomba ditempatkan di SDN Papaloang dimana Ayu, sahabat saya, bertugas. Lokasi SD ini terletak di dekat ibukota kabupaten, Labuha. Akses ke SD ini relatif mudah. Hanya tinggal naik ojek atau mobil angkutan. Meskipun tak jauh dari kota, tetap saja SD ini berada di lingkungan desa.

Sekolahnya sederhana. Kalau padang rumput di depan sekolah yang banyak kotoran binatang dan rumput liar tidak bisa disebut lapangan, sekolah ini tak punya lapangan. Ada empat bangunan gedung dengan 6 kelas dan 1 kantor merangkap perpustakaan. Kamar mandi terdapat di dua lokasi walaupun hanya satu yang berfungsi.
Biar bagaimanapun juga, sekolah ini layak untuk dijadikan tempat ditanamkannya tonggak sejarah. Pertama kali kompetisi sains antar SD se-kabupaten dilaksanakan. Atau memang benar-benar kompetisi pertama tingkat sekolah dasar yang pernah ada?

Desa Bibinoi akan mengirimkan dua wakil. Ada dua sekolah di desa ini, SD Negeri dan Madrasah Ibtidaiyah (MIS). Walaupun sekolah dan madrasah ini letaknya saling berdampingan, tetap saja aroma persaingan antara sekolah saya dan Adhi terasa. Apalagi kepala sekolah MIS sangat antusias sekali mengikuti kompetisi ini. Sampai membuat seragam batik baru khusus untuk semua anak-anak yang ikut. Kepala sekolah SD? Adem ayem saja tuh.

Rombongan kami  menyewa long boat untuk berangkat ke kota. Sebenarnya bisa saja ikut kapal penumpang. Namun kapal berangkat jam setengah sembilan. Bahkan bisa sampai jam sembilan. Sedangkan lomba dimulai pukul sebelas setelah sebelumnya siswa harus mendaftar ulang. Perjalanan laut memakan waktu satu jam. Ditambah perjalanan darat sekitar 30 menit. Jelas sangat mepet seandainya kami ikut kapal penumpang.

Kapal penumpang memang jauh lebih nyaman. Badan kapal lumayan besar dengan atap kayu. Ditambah dengan dua mesin, kapal berjalan relatif cepat dan stabil. Kapal ini sangat toleran dengan ombak. Ombak besar sekalipun. Sepertinya sudah didesain untuk memiliki ketahanan yang baik untuk ukuran kapal penumpang desa.

Bandingkan dengan long boat. Badan kapal hanya seukuran dua orang duduk. Tidak ada atap. Panjang kapal sekitar 12 meter dan hanya ada satu mesin untuk mendorong kapal sampai ke tujuan. Jika penumpang berjejal, bisa dibayangkan rentannya boat ini. Diterpa ombak sedikit, sangat mungkin terbalik dan semua penumpangnya ikut berenang menemani ikan cakalang.

Long boat menjadi pilihan sulit untuk kami. Tapi kami seperti tak punya pilihan lain. Budget sekolah yang juga terbatas memantapkan keputusan ini. Untung saja laut sedang mau bersahabat dengan kami. Lautan tenang sekali. Angin berhembus semilir.
Well then, long boat it is!

Anak-anak sudah berkumpul di depan rumah sekitar jam 7 ditemani orang tua mereka. Lengkap dengan atributnya masing-masing. Topi sekolah dan dasi. Senang sekali melihat mereka dengan pakaian rapi. Mungkin ini satu-satunya hari di mana mereka berpakaian seperti ini. Biasanya mereka pergi ke sekolah dengan pakaian seadanya. Ada juga yang pakai kaos. Dan sandal jepit.
Hari ini, seragam mereka putih sekali. Baru disetrika. Sepatunya juga berbeda. Hitam tanpa noda bekas tanah.

Perlu satu jam persiapan sampai kami benar-benar berangkat. Pemilik boat masih harus mencari bensin. Kami juga masih menunggu Munarsi dan Saadillah yang belum juga datang. Jujur saja, saya harap-harap cemas menunggu mereka. Kedua anak ini adalah striker-striker saya. Buat saya, keberadaan mereka tak tergantikan.

Akhirnya, saya meminta Olan menemani saya pergi ke rumah Munarsi. Kalau-kalau terjadi apa-apa. Sehari sebelumnya, Munarsi memang tidak datang ke rumah untuk briefing terakhir. Jangan-jangan anak ini masih tidur.
Benar saja, sesampainya di sana, saya mengucapkan salam tapi tidak ada yang menjawab. Harus ada tetangga yang berteriak untuk membangunkan seisi rumah. Safri, kakak Munarsi, terlebih dahulu bangun dan keluar. Melihat saya di luar, dia terlihat kaget.
Saya tanya, “Munarsi di mana?”
Lalu dari di belakangnya terlihat Munarsi yang baru saja bangun. Saya langsung bilang kepadanya untuk cepat bersiap-siap.

Pak Anwar lalu keluar menemui saya. Beliau bilang malam sebelumnya, Munarsi sudah diberitahu untuk datang ke rumah saya. Namun, Safri tidak mau menemani sehingga dia takut berjalan sendirian di tengah malam. Dia pun kemudian pergi ke rumah tetangga menonton TV dengan kakaknya. Oh, kids.

Saya menunggu Munarsi di depan bersama Olan. Sambil mengobrol dengan ayah Munarsi tentang kegiatan seharian ini. Saya bilang kita tidak akan menginap. Selepas perlombaan, anak-anak akan diajak makan dulu lalu langsung pulang. Saya juga tak mau menambah pikiran orang tua untuk menginapkan anak-anak sehari di kota.

Munarsi sudah siap dengan tasnya. Tapi tanpa dasi dan topi. Dia tidak punya.
Saya bilang padanya, “Tarapa sudah, Narsi. Tara pake juga boleh kong. (Tidak apa, Narsi. Tidak pakai juga boleh kok.)”
Dia mengangguk layu. Sepertinya agak minder dengan Olan yang memakai pakaian terbaiknya pagi ini.

Melihat Munarsi seperti itu, Ayahnya menitipkan saya uang 50 ribu untuk membelikannya topi, dasi, dan sekaligus uang jajan. Saya menolak karena semua pembiayaan sudah diatur oleh sekolah. Beliau memaksa, saya menerima saja. Nanti saya kembalikan lagi, pikir saya dalam hati.

Setelah pamit dengan Pak Anwar, kami bertiga berjalan kembali ke depan rumah. Bertemu teman-teman lain yang sepertinya sudah siap untuk berangkat. Kalau dilihat-lihat, memang Munarsi terlihat paling lusuh di antara anak-anak lain. Ah, tak apa, sampai di Babang, saya berjanji akan belikan dasi dan topi untuknya dulu.

Rombongan MIS sudah terlihat dari kejauhan. Sekarang kami berpindah ke tepi pantai, dekat boat. Beberapa warga juga ikut berkumpul. Sepertinya ingin mengantar pejuang-pejuang kecil desanya ke pertempuran yang tak sama kecil. Tinggal Saadillah yang belum datang. Saya tak mungkin menjemput ke rumahnya. Rumahnya lumayan jauh di barat. Kalaupun menjemput, pasti nanti habis waktu. Saya pasrah saja menunggu. Mudah-mudahan dia tidak lupa.

Rombongan MIS sudah terlebih dahulu naik ke boat. Saya tak menyangka MIS membawa orang sebanyak ini. Semua orang tua anak-anak ikut serta. Padahal undangan hanya untuk kepala sekolah dan guru sains. Orang tua tidak diperbolehkan datang ke lokasi pertandingan. Apa yang saya khawatirkan pun terjadi, boat terlalu penuh. Sangat penuh bahkan. Sampai-sampai saya berpikir tak bisa naik dan menyusul dengan kapal penumpang.

Yang ditunggu akhirnya datang juga. Saadillah datang bersama ibunya. Ibunya akan ikut menemani. Maklum, Dila, nama panggilannya, tak biasa naik mobil. Nanti dia pasti mabuk.
Hanya empat orang tua yang ikut dalam rombongan SD pagi ini, orang tua Amoi, Natalia, Sudarlis, dan Dila. Saya sudah mengingatkan mereka untuk tidak kecewa jika nanti orang tua tidak diperbolehkan masuk ke lokasi. Mereka menerima.

Seluruh penumpang sudah naik ke boat. Harus ada beberapa yang duduk di sisi kapal karena sudah terlalu penuh di badan kapal. Tali sudah dilepas. Tungkai mesin sudah ditarik. Mesin sudah mulai berbunyi. Doa sudah ditasbihkan dalam hati. Mudah-mudahan ombak mau menunggu hingga kami tiba di pelabuhan tujuan. Mari melaut!

Anak- anak duduk di bagian depan kapal. Karena naik belakangan, saya, Adhi, Pak Amir, dan Pak Budi duduk di bagian belakang. Dan karena tempatnya juga sudah penuh, kami duduk di sisi kapal. Posisi ini rapuh sekali. Kalau tak kuat berpegangan, bisa-bisa tercebur. Tapi Alhamdulillah, cuaca cerah dan lautan pun tenang.

Olan, Munarsi, dan Amoi tersenyum melihat saya di sudut kapal. Walaupun tak terdengar, dari bibirnya, saya bisa tahu Munarsi sedang menunjukkan saya Desa Tawa yang baru saja kami lewati. Saya membalas tersenyum dan memberi isyarat, “Pak Guru su tau kong. (Pak Guru sudah tahu kok.)” Mereka pun tertawa.

Sampai di Babang jam sembilan tepat. Kami masih punya banyak waktu sebelum acara dimulai. Rombongan SD dan MIS bersama-sama kumpul dulu di rumah singgah dekat dermaga. Sepertinya ini rumah keluarga Pak Amir. Anak-anak makan dulu seadanya. Ada untungnya juga banyak orang tua yang datang. Jadi ada cukup makanan untuk anak-anak.

Saya cepat menyewa ojek untuk pergi ke pasar. Beli topi dan dasi buat Munarsi. Murah juga harganya, 15 ribu sudah dapat keduanya. Beli juga beberapa gelas air minum untuk anak-anak bawa ke lokasi nanti. Beres.
Kembali ke rumah singgah. Lalu menyiapkan anak-anak dan berangkat ke lokasi perjuangan.

Dila tak ikut naik mobil angkutan yang kami sewa. Dia dan ibunya menyewa ojek sendiri. Perjalanan ke SDN Papaloang tak sampai setengah jam.
Memasuki lingkungan SD, sudah banyak anak-anak berseragam putih merah yang berkumpul. Sudah ada yang berbaris. Ternyata mereka adalah anak-anak SDN Papaloang yang akan menjadi paduan suara untuk upacara pembukaan nanti. Kami tidak terlambat dan anak-anak masih punya waktu beristirahat sejenak.

Anak-anak dikumpulkan dulu di suatu ruangan. Panitia sudah menyiapkan snack untuk semua peserta. Sekejap hanya tinggal bungkusnya saja. Sepertinya anak-anak memang lapar. Selesai makan, saya panggil 10 anak terbaik SDN Bibinoi ini untuk briefing terakhir. Karena setelah daftar ulang, mereka ditempatkan di ruangan yang sama, saya tak mau mereka berlaku seperti di kelas sendiri. Bertanya teman, mengobrol, dan sebagainya.
“Kalau itu sampai terjadi, pengawas akan segera mengeluarkan kalian”, tegas saya. Mereka mengangguk seraya mengerti.

Upacara pembukaan segera dimulai. Wakil Bupati Halmahera Selatan, Bapak Rusdan T. Haruna sudah tiba di lokasi. Saya sudah siap dengan kamera. Berhubung saya panitia dokumentasi, saya panitia yang paling mobile. Beliau akan memberi sambutan sekaligus membuka secara resmi Olimpiade Sains.

Setelah berakhir, Wakil Bupati menyempatkan diri untuk bersalaman dengan semua peserta. Untuk pertemuan pertama, beliau memberikan impresi sangat baik. Jarang ada pejabat yang mau berpanas-panas di lapangan melakukan sesuatu yang sebetulnya bisa tidak dilaksanakan. Tapi sepertinya wakil bupati baru ini ingin merubah stigma tersebut. Ah, sok tahu.

Upacara pembukaan yang agak terlalu lama membuat anak-anak berkeringat. Setelah dibubarkan, peserta menuju ruangan masing-masing. Saya menyempatkan diri untuk mempersiapkan anak didik menuju arena. Bagi mereka yang tanpa orang tua, saya yang harus mengambil alih peran. Mengelap keringat, memberi minum, merapikan seragam, dan memastikan semua peralatannya terbawa.

Ayu sudah memberi komando lewat pengeras suara. Pertanda kompetisi sudah benar-benar dimulai. This is it. Akhir dari rangkaian persiapan yang selama ini sudah dilaksanakan. Sekarang, anak-anak ini benar-benar berdiri dengan kakinya sendiri. Tanpa bantuan apa pun atau dari siapa pun. Mereka yang menentukan sendiri hasil yang akan didapatkan.

Terharu sekali melihat wajah-wajah kecil ini. Syamila, anak kelas 1 dari SD Insan Kamil, yang saya masih ingat benar wajahnya. Dengan tubuh sekecil itu, dia mencurahkan segala pikirannya untuk mengerjakan 50 pertanyaan. Mencoba membulatkan lembar jawaban pelan pelan, dengan seksama. Supaya tak keluar lingkaran dan hitamnya penuh.
Buat Syamila dan pasti juga semua peserta yang lain, jelas hari ini tak akan pernah terlupakan.

Selama satu setengah jam peserta berkutat dengan 50 pertanyaan sains yang tak mudah. Saya bangga sekali dengan anak-anak pemberani ini, khususnya tentu saja anak-anak didik saya. Apalagi melihat Munarsi, Dila, dan Olan mampu mengerjakan semua soal. Sebuah kebanggaan tak terkira. Tak peduli benar atau salah, yang jelas mereka sudah melewati  fase ini dengan baik, sangat baik.
Meskipun yang lain belum mampu mengerjakan semua soalnya, rasa kebanggaan yang juga sama untuk Natalia, Amoi, Selvina, Ledi, Warda, Melati, dan Sudarlis.

Usai perlombaan, anak-anak makan nasi kotak yang disediakan panitia. Lahap sekali mereka makan. Lauknya tak seperti yang biasa mereka makan di rumah. Menu yang jauh lebih istimewa dibanding makanan mereka sehari-hari. Ada ayam, telur, dan mie.

Pak Amir memberitahu saya bahwa anak-anak diundang untuk makan di rumah Pak Rus, bendahara camat, sebelum kembali ke desa. Berhubung saya dan Pak Amir ini berhubungan baik dengan beliau, kami jadi tak enak menolaknya. Jadi kami membawa rombongan untuk kembali makan di rumah beliau. Rumahnya dekat dengan Keraton Sultan Bacan dan hanya beberapa meter dengan Mesjid Sultan.

Sampai di sana, kami sudah disambut oleh Pak Rus dan Ibu. Sudah terhidang makanan yang jumlahnya tak sedikit. Ikan goreng, sayur kangkung, dabu-dabu (sambal), sayur bening, nasi, dan pisang. Orang tua murid kebetulan memang belum makan. Tapi anak-anak terlihat sama sekali tak keberatan makan lagi.

Kata Olan pada saya, “Pak Guru, hari ini kita makan terus ya. Sudah tiga kali tong(saya) makan.”
“Memang hari ini kita lomba makan kong(kok),” balas saya berkelakar.

Pak Amir sudah meminta Pak Pao, pemilik kapal penumpang, untuk menunggu rombongan kami di dermaga. Kami memutuskan tak lagi naik long boat. Kondisi anak-anak sudah lelah. Kami, orang tua dan guru, pun sama lelahnya. Ingin segera kembali ke desa untuk istirahat.

Rombongan SD sampai di pelabuhan sekitar pukul setengah empat. Terlihat cuaca semakin memburuk. Awan hitam sudah mulai menyelimuti kawasan pelabuhan. Angin bertiup berkali-kali lipat lebih kencang. Suara ombak terdengar menderu.
Untung saja tidak jadi naik long boat. Kalau jadi, sama saja mengundang petaka.

Ternyata kapal penumpang penuh. Apalagi rombongan kami juga tak sedikit. Pak Amir bertanya pada Pak Pao apakah bisa rombongan kami naik. Pak Pao mempersilakan kami naik.
Rombongan MIS tak bisa ikut kapal karena kapal sudah penuh sesak. Mereka memutuskan untuk bermalam sehari di kota.

Tak selang berapa lama, hujan mulai turun. Kian lama, kian deras. Angin bertiup tak lagi semilir. Pak Pao menunda sebentar keberangkatan untuk menunggu hujan agak sedikit reda. Hujan tak mau kompromi. Memang sudah dijatah, saat ini adalah jadwal derasnya. Hujan deras membuat jarak pandang hanya 20 meter di depan. Lautan tertutup kabut tipis.
Tak lagi menunggu, Pak Pao sudah menghidupkan mesin. Badan kapal sudah ditolak dari bibir jembatan.

Anak-anak sudah duduk di bagian depan kapal. Walaupun sesak, setidaknya itu adalah bagian teraman. Air dan angin tak akan masuk.
Saya lagi-lagi terdampar di bagian belakang. Karena ruang yang sempit, kaki mesti bersila. Potensi terkena air hujan pun besar. Pasrah.

Di tengah perjalanan yang sepertinya terasa lebih panjang dari biasanya, teman baik saya hanya lagu-lagu dari telepon genggam. Beberapa kali air masuk ke badan kapal. Celana sudah agak basah. Saya tak peduli. Baju juga sudah basah, dengan keringat. Saya masih harus menjaga ekspresi karena sesekali anak-anak mengintip saya dari kejauhan. Menjaga senyum dan raut wajah.

Alhamdulillah, kapal bisa juga merapat di desa. Satu jam lebih perjalanan tak menjadi masalah.
Karena saya duduk di belakang, saya bisa lekas turun dan menuju rumah. Mengambil payung untuk menjemput lagi anak-anak. Dengan payung kecil, saya mengantar Olan dan Munarsi kembali ke rumahnya masing-masing.

Hujan memang tak lagi deras. Namun sisa-sisa hujan terpatri di jalan-jalan. Jalanan menjadi becek dan lengket. Sampai terlebih dulu ke rumah Munarsi. Disambut oleh Pak Anwar yang sudah menunggu. Saya bilang pada beliau, “Munarsi hebat sekali hari ini. Jawab semua soal!” Beliau membalas tersenyum. Sepertinya lega sekali melihat pejuang kecilnya pulang. Setelah mengembalikan uang beliau, saya langsung pamit.

Rumah Olan tak jauh dari rumah Munarsi. Hanya 300 meter. Namun, jalanan menuju ke rumahnya jauh lebih jelek. Melihat Olan dari kejauhan, tetangga berteriak pada Ibu Olan di rumah dengan bahasa Tobelo. Saya juga kurang mengerti artinya. Tapi sepertinya kurang lebih begini, “Anakmu sudah pulang!” Ibu Olan bergegas keluar rumah. Menyambut Olan. Tersenyum kepada saya dan meminta saya masuk dulu.
Saya menolak halus. Belum shalat Ashar dan waktu Maghrib sebentar lagi menjelang. Saya pun berlalu.

Memang hanya kurang dari 12 jam kami keluar desa. Tapi perjalanan yang sebentar ini tak bisa dianggap sederhana. Buat mereka dan buat saya juga, hari ini akan selalu diingat. Hari di mana pertama kali mereka ikut kompetisi. Hari di mana mereka membawa nama sekolahnya. Hari di mana mereka membawa nama desanya yang mungkin mereka tak sadar membawanya.

Saya belajar banyak hari ini. Belajar bahwa kebanggaan tidak datang dari langit. Kebanggaan bukan hadiah. Bukan juga pemberian orang lain.
Untuk menjadi bangga, dibutuhkan perjuangan. Terkadang perjuangan membutuhkan lebih dari sekedar keringat. Perjuangan butuh mental yang kuat. Dan mereka, anak-anak didik saya, menunjukkan itu.

Saya belajar dari anak-anak saya. Kebanggaan itu diperjuangkan.
Kebanggaan saya, adalah mereka.