Perjalanan ke Barat

by Bayu Adi Persada

9 Februari 2011

Sudah seminggu belakangan ini, saya mengidap flu berat dan batuk. Sempat takut karena awalnya disertai demam yang lumayan. Tapi saya selalu percaya obat dari segala penyakit adalah sugesti pikiran. Sesakit apa pun, saya selalu yakin sembuh dengan multivitamin dan obat generik. Alhamdulillah, sejauh ini cara itu selalu berhasil.

Kali ini berbeda. Entah sudah berapa tablet multivitamin dan obat generik yang saya teguk, hidung masih berlendir dan tenggorokan masih juga serak. Untungnya demam sudah menghilang.
Which is a very good thing to know.
Hampir semua penghuni rumah pun akhirnya ikut batuk. Mungkin ini karena angin yang masih besar sehingga pasir dan debu lebih leluasa masuk ke dalam rumah. Letak rumah yang hanya sejengkal dengan bibir pantai menambah hawa dingin kala malam tiba.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengkonsumsi obat antibiotik. Selepas sekolah, saya akan langsung pergi ke Puskesmas. Letak Puskesmas agak jauh dari pemukiman warga. Harus berjalan ke arah barat kurang lebih 1 km dari sekolah. Jarak yang cukup lumayan kalau ditempuh dengan perut lapar dan badan lelah.

Kalau dipikir-pikir, berjalan sejauh itu sendirian, pasti membosankan. Tak ada yang diajak ngobrol. Kalau dilanjutkan berpikir, mengajak seorang anak pergi ke sana membuat saya sangat ragu. Jalannya cukup jauh jika ditapaki kaki-kaki kecil mereka. Hujan deras yang baru mengguyur desa kemarin pasti membuat jalan lebih terjal dan becek.

Rasa egois saya menang hari ini. Sebelum jam pelajaran berakhir, saya mencoba menanyakan siapa yang mau mengantar saya pergi ke Puskesmas setelah pulang. Seandainya tak ada yang mau pun, saya benar-benar tak masalah. Berarti memang harus berjalan sendiri.

Respon mereka benar-benar tak saya duga. Munarsi mengangkat tangan paling pertama dan langsung berlari ke depan kelas. “Saya antar Pak Guru!” sahutnya yakin. Serentak seisi kelas mengangkat tangan dan berteriak, “Saya Pak Guru! Saya! Saya!”
Anak-anak ini berebut ingin mengantar saya seakan ini adalah hadiah menang undian lotere.

Saya terkejut. Terharu dalam hati. Sangat terharu.

Bel pulang sekolah berbunyi. Anak-anak berkumpul di bawah pohon besar untuk apel pulang. Kalau ada Pak Malik, beliau yang selalu pimpin apelnya. Jatah saya cukup pagi saja.

Setelah anak-anak dibubarkan, saya bertanya pada beberapa guru apakah Puskesmas masih buka jam 12. Mereka bilang kalau sudah siang begini Puskesmas biasannya tutup. Kecuali kalau ada banyak pasien. Saya semakin ragu.
‘Bagaimana kalau sudah sampai sana, Puskesmas tutup?’ pikir saya dalam hati. Padahal anak-anak sudah ikut menemani berjalan jauh. Terpikiir menghabiskan tenaga mereka untuk sesuatu yang mungkin sia-sia. Di sisi lain, saya harus dapat obat secepatnya.

Biasa berjalan ke timur untuk pulang, saya berbalik ke barat. Saya putuskan untuk tetap pergi ke sana. Tutup atau tidak itu urusan nanti, yang penting saya harus tahu kapan bisa dapat obat. Hari ini atau besok.

Munarsi semangat sekali menemani saya pergi. Saya sudah berucap padanya dan anak-anak lain, “Pak Guru tarapa pigi sendiri (tidak apa pergi sendiri). Ngoni pulang sudah, makan dulu (kalian pulang saja, makan dulu).” Mereka tak mau.
Saya pun tak bisa memaksa. Mereka mungkin ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan gurunya. Again, that’s a very good thing to know.

Perjalanan ke barat memang melelahkan. Apalagi di bawah terik matahari yang menyengat. Langkah kaki saya yang jauh lebih besar membuat anak-anak agak tertinggal di belakang. Saya menunggu sampai anak yang paling belakang lewat. Berkali-kali.
Hampir setengah kelas ikut saya siang itu. Sepertinya ada 16 anak.

Walaupun lelah, sepanjang perjalanan kami bersenda gurau. Melihat-lihat pemandangan sekeliling. Sudah sedikit rumah warga di kawasan ini. Hanya semak-semak dan pohon besar di kanan kiri. Kalaupun ada rumah, itu pun hanya galo galo. Rumah singgah bagi para pekerja kebun. Yang banyak hanya hewan ternak warga. Di sini, semua hewan ternak dilepas begitu saja. Tak pernah terpikir untuk mengandangkan atau memilih lokasi tertentu.

Baru pertama kali saya berjalan sejauh ini ke barat. Sejauh-jauhnya berjalan, ya ke timur, ke kampung warga Kristen di mana banyak anak didik saya tinggal. Ternyata barat tak seburuk yang diceritakan orang-orang. Katanya, di sini masih hutan dan banyak swangi. Swangi, setan berbentuk manusia. Bisa juga seperti pocong, kuntilanak, you name it.
Walau memang minim kehidupan, tapi suasananya sejuk dan masih alami. Tak ada sampah. Belum banyak terjamah manusia. Pantainya pun sepertinya jauh lebih baik dari pantai di depan desa.

Jalanan becek tak mengurangi keceriaan kami. Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, kami sampai juga di depan Puskesmas. Puskesmas di sini sudah sangat bagus karena terletak di ibukota kecamatan. Lokasinya memang terpencil, tapi kondisi gedungnya sangat layak. Bahkan ada satu ambulans yang stand by.
Leganya, di Puskesmas masih ada orang sesampainya saya di sana.

Sebenarnya semua petugas Puskesmas sudah bersiap pulang saat itu. Mesin mobil ambulans sudah dinyalakan dan siap berjalan. Melihat saya dan anak-anak dari jauh, mereka menunda kepulangan dan kembali turun dari mobil.
Saya disambut Pak Mantri di pintu depan. Dan beberapa staf Puskesmas yang juga sudah saya kenal.

“Mau minta antibiotik, Pak Mantri. Batuk tara (tidak) sembuh-sembuh ini.”
“Masuk dulu Pak Bayu. Daftar dulu.”
Terlebih dahulu mendaftar di loket. Petugas loket ini tahu nama lengkap saya. Saya juga heran. Padahal belum sekali pun bertemu dengannya. Dia langsung menulisnya di lembar pendaftaran.

Dokter sebenarnya sedang izin ke Labuha hari ini. Jadi Pak Mantri yang menjadi dokter jaga.
He isn’t officially a doctor. But he surely has the capability.
Beliau ini sudah memasuki masa pensiun. Namun, praktisi kesehatan di desa ini tak banyak. Pengalaman dan pengetahuan yang sudah lebih dari 30 tahun di dunia kesehatan membuat beliau masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Saya masuk ke ruang pemeriksaan. Anak-anak bilang akan menjaga di luar. Mereka membawakan tas saya. “Pak Guru pe tas kita bawa sudah. (Tas Pak Guru saya bawa saja.)”
They are lovely, aren’t they?
Setelah diukur tensi, Pak Mantri memberikan resep. Resepnya saya tukarkan di loket obat. Saya dapat tiga jenis obat yang sama sekali tak saya tahu namanya. Warnanya kuning, oranye, dan putih. Dan yang paling penting, gratis.

Selesai berobat, saya dan anak-anak izin pulang. Mengarungi perjalanan 1 km lebih kembali ke timur. Pak Mantri menawarkan saya naik mobil. Kalau saya naik, anak-anak pasti tak bisa ikut. Kapasitas mobil terbatas.
Meskipun begitu, anak-anak masih sempat berujar, “Pak Guru naik otto sudah. Torang jalan kaki. (Pak Guru naik mobil saja. Kami jalan kaki.)”
Oh dear. How could I not heart them?

Guru macam apa yang meninggalkan anak-anaknya berjalan jauh sendirian. Saya menolak halus permintaan Pak Mantri. “Jalan kaki saja Pak deng (sama) anak-anak.”
Setelah pamit, kami mulai berjalan duluan. Sepanjang perjalanan, kami bercerita banyak hal. Tentang air terjun yang ada di ujung bukit di barat. Tentang sapi yang beranak. Tentang hantu yang senang bermukim di sini. Apa saja yang bisa melahirkan ekspresi.

Di persimpangan antara pantai dan jalan utama desa, anak-anak meminta untuk berjalan ke arah pantai. Saya ikut mereka. Menelusuri pesisir pantai.
Sudah masuk ke jantung desa. Berarti sudah banyak rumah warga di sekitar sini. Saya jadi sering bertemu masyarakat yang agak heran dengan kami. Seorang guru yang dikelilingi anak-anak mungkin jadi pemandangan yang amat jarang di sini.
Mereka tersenyum. Beberapa bertanya, “Habis piknik kah, Pak Guru?”
“Tarada Pak. Baru dari Puskesmas.” jawab saya.
“Kita kira habis piknik. Anak-anak kasih antar?” balasnya.
“Saya (ya).” jawab saya lagi sambil tersenyum dan berlalu.

Di perjalanan, kami bertemu dengan beberapa anak perempuan SMP dan SMA. Sepertinya begitu. Saya juga tidak sadar. Munarsi yang memberi tahu saya. “Pak Guru, tadi ada anak SMP dan SMA liat-liat Pak Guru. Semua orang suka Pak Guru.” Ucapannya disambut tawa anak-anak.
Saya hanya tersenyum lagi dan terus berjalan.

Dia melanjutkan, “Pak Guru cari jodoh sudah di sini. Biar bisa tinggal di sini lama dan ajar kitorang.” Ucapannya langsung diiyakan semua anak. “Iya Pak Guru. Cari jodoh sudah!” “Pak Guru mudah kong (kok) kalau cari jodoh”.

Kali ini saya tertawa.
Ah, walaupun cukup melelahkan, perjalanan ini luar biasa menyenangkan. Saya tak menyangka sebelumnya. Batuk yang tak kunjung sembuh ini punya hikmah besar di baliknya. Saya jadi bisa menghabiskan waktu lebih bersama anak-anak saya. Dengan keluarga saya.

Tak terasa, sampai juga di depan rumah. Mereka sudi tak pulang dulu demi mengantarkan saya pulang. Sudah jam 1. Berarti sudah kurang lebih satu jam kita berjalan-jalan. Saya harus berpisah dengan anak-anak. Anak-anak masih harus berjalan lagi ke rumahnya masing-masing yang jaraknya juga lumayan. Tapi saya tak melihat raut wajah lelah. Jelas mereka berkeringat. Tapi senyuman-senyumannya membayar lunas.

Perjalanan sederhana ke barat ini memberi saya kenangan luar biasa. Kenangan yang tak bisa terbeli dengan apa pun. Menghabiskan waktu bersama mereka  selalu menjadi saat-saat terbaik saya di desa ini. Selelah apa pun badan, seterkuras apa pun tenaga, semuanya dibayar lebih oleh kebersamaan dengan mereka.
Mereka adalah keluarga. Keluarga terbaik.

Advertisements