Cerita Kelas Tiga

23 Maret 2011

Kedatangan tim Indonesia Mengajar di Labuha tiga hari lalu benar-benar membuka mata saya akan apa yang sudah saya lakukan dan kerjakan selama mengabdi empat bulan lebih di desa. Banyak kekurangan di sana sini. Masih belum maksimal di beberapa aspek. Bahkan minim di satu, dua poin pengembangan. Kekurangan tak membuat saya kecewa. Justru saya kembali dengan banyak bahan evaluasi dan perbaikan ke depan.

Dalam beberapa sesi diskusi, agaknya saya mesti bersyukur diberi kepercayaan mengajarkan kelas rendah. Buat saya, kelas tiga adalah sebuah transisi. Proses perubahan pemikiran anak-anak dari yang sebelumnya belajar materi-materi sederhana ke materi-materi yang jauh lebih serius dan rumit. Jam belajarnya pun bertambah dua kali lipat.

Banyak teman mengeluhkan anak murid mereka yang belum lancar membaca dan menghitung. Padahal mereka mengajar kelas besar, 4,5, dan 6. Jelas, di kelas saya pun masih ada yang belum bisa membaca dan menghitung. Mengenal huruf pun belum. Tapi saya tak mengejar terlampau jauh ke belakang. Bayangkan di kelas 4 dengan materi sangat banyak, guru dipaksa mengajarkan A B C.

Dari sesi diskusi itu juga, saya tahu murid-murid saya brilian. Dibanding teman-teman lain, tentu saja. Andai saja saya bisa memilih lima belas orang terbaik di kelas, saya yakin bisa mengakselerasikan mereka. Mereka punya potensi besar. Sayangnya, potensi itu baru terbentuk sekarang. Lima belas orang itu mampu mengkalkulasikan matematika dengan sangat baik. Munarsi bahkan hapal perkalian belasan. Mengkonstruksikan pengetahuan alam dengan terstruktur. Memiliki kemampuan berbahasa di atas rata-rata.
Saya sangat takjub dan bersyukur.

Murid di kelas saya ada 35 orang. Kelas yang besar jika dibandingkan kelas-kelas lain di SDN Bibinoi. Kemampuan mereka memang tidak merata. Ada yang pintar sekali, ada juga yang masih sangat pemalu dan meraba-raba pelajaran. Meskipun begitu, tingkat kehadiran mereka rata-rata 90%. Sebuah peningkatan drastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Saya tentu tidak bisa membedakan setiap murid di kelas. Semuanya harus mendapatkan porsi yang sama dalam pelajaran. Biarpun beberapa tak bisa membaca, tetap diberikan materi yang sama dengan anak-anak lain. Kekurangan mereka hanya belum bisa membaca. Seandainya bisa, mereka akan mengerti seperti teman-teman lain. Oleh karena itu, dalam setiap pelajaran bahasa, saya selalu menyisipkan sesi membaca bebas dengan memanggil mereka ke depan satu per satu.

Kedisiplinan mereka juga sangat baik. Hampir tak ada lagi yang makan di kelas. Menaikkan kaki di kursi. Ribut yang berlebihan. Sistem bintang dan tengkorak agaknya memang efektif dengan anak-anak ini. Begini, jika ada seorang anak yang mendapat nilai bagus, bisa mengerjakan soal, berani ke depan, atau berkelakuan sangat baik, dia akan mendapatkan satu bintang. Dia bisa terus menambah bintangnya. Di akhir semester, saya menjanjikan sebuah reward bagi pengumpul bintang terbanyak.

Tengkorak bagi yang melanggar peraturan. Makan di kelas, menghina dan memukul teman, tidak kembali ke sekolah setelah istirahat, atau membuat ribut yang berlebihan. Sebuah tengkorak akan memakan satu bintang. Sistem reward and punishment ini membuat mereka terus berbuat baik dan mengerjakan soal sebaik mungkin dan berhati-hati untuk tidak melanggar peraturan kelas.

Mikael, anak yang tidak naik kelas karena sering tidak kembali ke sekolah selepas istirahat. Kini dia menjadi salah satu dari lima belas anak potensial di kelas tiga. Semester satu kemarin, dia mendapat ranking 7. Tentu tidak buruk untuk seorang ‘pengulang’. Dia selalu kembali ke sekolah sehabis pulang ke rumah saat istirahat. Suatu waktu saya tanya mengapa dia berubah, “Takut dapat tengkorak, Pak Guru.”

Diki, salah satu anak yang dikenal paling nakal dan malas di kelas tiga. Jarang masuk sekolah. Dan kalaupun masuk, tak pernah kembali setelah istirahat. Penyakit menular memang. Dia sudah mendapat lima tengkorak karena tak kembali lagi ke sekolah. Saya menanyakan ke kelas apa hukumannya kalau sudah mendapat lima tengkorak. Mereka menjawab, “Hormat bendera, Pak Guru!” Diki pun mendapat hukuman itu. Di pagi hari, saya minta dia ke lapangan untuk melaksanakan hukuman. Dia dengan berat hati mengangkat tangan dan kemudian menangis.

Saya tinggal Diki beberapa saat di lapangan agar dia tahu benar kesalahannya. Hanya dia sendiri dan tiang bendera di lapangan saat itu. Kemudian saya tak tega dan berbicara padanya agar tak mengulangi lagi. Dia pun mengangguk.
Sekarang, Diki adalah anak yang jauh berbeda dari yang dulu. Lebih disiplin, lebih rajin, dan lebih pintar. Tak pernah bolos sekolah dan selalu kembali ke kelas. Mengerjakan tugas dan PR yang diberikan walaupun terkadang masih banyak salah. Namun, usahanya saya hargai sangat tinggi.

Meskipun begitu, tak semuanya berjalan sempurna. Peraturan dan euforia kelas tak benar-benar merasuk ke setiap murid. Ada satu, dua orang yang masih sedikit tersentuh perubahan.
Akib, anak paling tua di keluarganya ini masih jarang masuk ke kelas. Jarang mengerjakan tugas dan tak pernah mengerjakan PR. Saya benar-benar tak bisa menyalahkan anak ini. Keluarganya tak mendukung anak ini untuk sekolah dan belajar. Sering kali tak masuk karena membantu orang tuanya memotong kayu atau dipaksa menjaga adik saat orang tua pergi berkebun. Saya tak bisa berbuat banyak.

Ovelia, salah satu anak yang paling minim perubahannya. Walaupun dia sering masuk ke kelas, tapi dia seperti tak mendapat apa-apa. Ove belum mengenal huruf. Menghitung pun masih sulit. Saya bahkan sudah menitipkan surat dan buku pada orang tuanya untuk mengajarkan dia membaca di rumah. Yang terjadi justru antiklimaks. Setiap PR yang diberikan, dikerjakan 100% oleh orang tuanya. Bahkan dengan tulisan Ibunya. Tak ada perubahan sejak surat itu dikirim dua bulan lalu.

Ketika orang tua tak peduli dengan pendidikan anak-anaknya, tugas saya beratus kali lebih berat. Saya tak lepas tangan. Hanya saja, saya tak mungkin memberikan perlakuan istimewa pada satu dua orang murid. Jam sekolah amat terbatas. Kemudian kelas lain sangat mungkin tak ada guru sehingga saya harus bolak balik mengajarkan mereka juga.

Pernah suatu ketika untuk mengisi kekosongan guru, saya mengadakan cerdas cermat antara kelas 3, 4, dan 5. Saya mengundang murid-murid yang dianggap pintar di kelas 4 dan 5 untuk beradu cepat mengerjakan soal. Soalnya matematika dan bahasa.
Anak kelas tiga melaju cepat dengan mendapatkan 500 poin sekaligus dengan menjawab soal operasi campuran tambah, kurang, kali, dan bagi. Begitu juga dengan perkalian ribuan. Anak-anak kelas tiga mampu menjawab lebih cepat dan tepat dari kelas 4 dan 5.
Cerdas cermat pun berakhir dengan kelas tiga sebagai pemenang. Mereka mendapatkan nilai 1000. Meninggalkan kakak-kakaknya dengan nilai 300.

Tidak ada murid yang bodoh di dunia ini. Yang ada hanya guru yang buruk. Yang tak mampu menaikkan dan mengembangkan potensi anak didiknya.

Setiap murid pasti punya kelebihan masing-masing. Tinggal pintar-pintar guru mencari celah bagaimana mengasah kemampuan mereka. Bagaimana membuat mereka menganggap belajar adalah hal yang membawa keceriaan. Belajar adalah kebutuhan.
Ketika murid sudah merasa ingin pintar, maka guru berhasil dalam satu poin. Merealisasikan mereka menjadi pintar tentu poin yang berbeda.

Saya selalu menanamkan pada anak-anak, menjadi pintar bukanlah tujuan satu-satunya. Mereka harus punya sikap dan perilaku yang baik. Jadilah anak yang berguna minimal untuk keluarganya. Walaupun saya menganggap mereka masih terlalu kecil untuk mendapat nasihat seperti itu, I did that anyway. In case someday when they are mature enough, they remember what their teacher had told them.