Datang dan Pergi

by Bayu Adi Persada

2 Maret 2011

Disadari atau tidak, hidup penuh keseimbangan. Ada yang tua, ada yang muda. Siang dan malam. Sakit dan sehat, kaya dan miskin, bahagia dan sedih. Pintar dan kurang pintar. Datang dan pergi.
Semua yang terjadi tidak pernah sia-sia. Karena semua yang terjadi adalah atas kehendak Sang Pencipta. Dan semua yang dikehendaki-Nya mustahil tanpa arti. Tinggal manusia yang mesti pintar-pintar mencari maksud dibaliknya.

Hari ini warga Desa Bibinoi menyambut warganya yang baru. Ustadz Yusran, sahabat saya di desa, baru saja menikah. Walaupun pernikahannya tidak diselenggarakan di desa, tapi penyambutannya tak kalah meriah. Seperti sedang menyambut kedatangan bupati saja.
Warga sudah berkumpul di pesisir pantai. Setelah kapal sudah terlihat dari kejauhan, semakin banyak warga yang ikut menunggu rombongan.

Saya pun menyempatkan diri ikut menyambut selepas sekolah. Belum sempat makan siang, langsung pergi ke pantai bergabung dengan ratusan warga lain.
Seketika kapal mendekat, orang-orang sudah mulai berteriak, “ADA ORANG KAWIIIN!” Saya tak pernah tahu maksudnya kenapa orang-orang ini berteriak. Kalau mau dibilang adat, ini adat yang menurut saya, agak absurd. Whatever.

Kapal merapat. Rombongan mulai keluar. Istri Ustadz Yusran keluar dari kapal dengan digendong oleh beberapa ibu-ibu. Kemudian diangkut langsung ke rumah mempelai pria. ‘Masih muda sekali’, itu ekspresi pertama saya saat melihat istri beliau. Ustadz pun mengikuti istrinya dari belakang. Belum sempat bersalaman dengannya karena tertutup oleh warga yang berkerumun.

Ustadz Yusran menikah dengan Mujahida, remaja usia 18 tahun, di Jailolo, Halmahera Barat, tempat kediaman mempelai wanita. Istrinya masih kuliah semester dua di UMI Makassar. Mujahida, nama yang penuh arti bagi seorang wanita. Artinya seorang pejuang di jalan Allah.
Usinya 7 tahun lebih muda dari Ustadz. Memang sudah seharusnya di usia-usia seperti beliau ini matang untuk mempunyai pasangan hidup.

Ustadz Yus adalah salah satu warga Bibinoi yang paling brilian. Anak keenam dari imam masjid desa ini mampu menyelesaikan S1-nya di salah satu universitas tertua dan terbaik di Mesir, Al-Azhar. Empat tahun beliau meninggalkan kampung halaman tanpa sekalipun sempat pulang. Begitu pulang, gelar Lc sudah menempel di belakang namanya. Orang-orang pun memanggilnya dengan nama yang paling mulia, ‘Ustadz’.

Saya sedikit tertawa ketika beliau menceritakan kisahnya menemukan jodoh. Beliau ini kemenakan dari Gubernur Maluku Utara dan Bupati Halsel. Singkat cerita, berkat campur tangan Bapak Wagub, beliau diperkenalkan dengan seorang wanita yang beliau sendiri tak pernah dengar namanya dan tak pernah lihat wajahnya. Proses taarufnya berjalan cukup cepat. Saat dipertemukan dengan wanita, Ustadz Yus hanya melihat wajahnya sebentar saja. Kemudian, wali bertanya pada calon pengantin apakah saling menerima. Kalau iya, langsung menuju akad nikah.
Mirip film Ayat-Ayat Cinta minus backsound dan tatapan mata dramatis.

Saya berjalan menuju kediaman Ustadz Yus siang itu. Sekitar jam satu lebih. Masih belum makan. Berharap mendapat makanan di rumahnya. Kenapa yang ada di pikiran makanan terus? Maklum saja. Lima jam mengajar di sekolah hanya dengan bekal teh manis hangat di pagi hari tentu mutlak menuntut pasokan energi tambahan siang harinya.
Ternyata sesampainya di sana, hidangannya hanya roti dan teh manis.

Bertemu dengan Ustadz Yus, kemudian berpelukan mengucapkan selamat. Bersalaman dengan mempelai wanita. Mengobrol sebentar dengan beberapa orang di sana. Makan sepotong kue yang dihidangkan dan meminum habis segelas teh manis. Kemudian pamit pulang.
Makan siang di rumah. Mudah-mudahan ada ikan.

Belum sampai ke rumah, Iyam berjalan mendekat dari arah timur.
“Bayu, su(dah) tau ada yang meninggal? Anak (murid) Bayu juga tu.”
Saya kaget. Saya tanya siapa yang meninggal. Ternyata Bapak dari salah satu anak murid saya di SD.

Saya langsung balik arah menuju rumah duka. Warga juga sudah mulai menuju ke tempat yang sama. Dari kejauhan, sudah ada warga yang berkumpul di depan rumah almarhum.
Sampai ke sana, saya baru tahu yang meninggal adalah Pak Basarun.

Saya sangat tahu Pak Basarun. Dengan jenggotnya yang panjang, kulitnya yang hitam legam, semasa hidupnya, beliau adalah pribadi yang hangat. Almarhum sering tersenyum kalau bertemu saya di mesjid. Almarhum ini langganan saf pertama kalau shalat berjamaah. Terang saja saya sangat familiar dengan almarhum.

Dengan banyak warga masyarakat lainnya, saya menunggu jenazah disiapkan di depan rumah almarhum. Men gobrol dengan beberapa orang warga tentang bagaimana beliau meninggal. Sudah beberapa hari ini beliau dirawat di RSUD Labuha. Memang semasa hidup, beliau menderita TBC akut. Batuk tak kunjung berhenti disertai sesak napas.

Pak Basarun pergi meninggalkan lima atau enam orang anak, saya juga kurang yakin. Yang jelas, tiga diantaranya akan mengikuti ujian nasional dalam beberapa bulan ini. Lengkap mulai ujian nasional SD, SMP, hingga SMA. Saya menaruh simpati dalam pada kondisi psikis keluarga yang ditinggalkan karena kehilangan figur utama. Dari dalam rumah, suara tangis amat terdengar.
Saya sangat mengerti. Dan saya ikut meratapi ketiadaan almarhum untuk memberikan semangat pada tiga anaknya nanti.

Sampai sekitar jam tiga saya menunggu jenazah untuk siap dishalatkan. Tapi jenazah tak kunjung diangkat. Kemungkinan sampai jam empat lebih baru jenazah bisa diangkat ke mesjid.
Saya memutuskan untuk kembali ke rumah. Makan sejenak. Baru kembali lagi.

Sampai di rumah, saya membuat mie sendiri ditemani Munarsi dan Mikael. Kami bertemu di jalan dan mereka mengikuti saya. Tak mau berlama-lama, saya kembali menuju rumah duka. Jangan sampai ketinggalan shalat jenazah, saya pikir.
Sudah mulai sepi di lokasi. Banyak warga sudah pulang. Jenazah belum juga dishalatkan. Beberapa orang sibuk memasang tenda untuk acara doa nanti malam selepas Isya.

Berhubung ada jadwal mengajar di Pondok Pesantren dan sudah terlambat hampir satu jam, saya pikir ada baiknya menuntaskan dulu jadwal mengajar ini. Kembali lagi ke rumah duka setelah mengajar.
Dari sana, saya berjalan menuju pesantren. Di pesantren, santri ternyata sudah menunggu saya. Santri-santri ini sebentar lagi akan ujian nasional, sama seperti anak-anak SMA lainnya. Hanya saja, sudah dua tahun ini mereka tak pernah belajar matematika karena tak adanya guru.
Saya akui cukup sulit bagi mereka menerima materi yang diberikan.

Sesi berakhir agak molor dari biasanya. Materinya banyak dan mereka masih kurang bisa menerima. Jadi mesti banyak diulang-ulang. Ini membuat saya lupa waktu. Saat sadar bahwa jam sudah menunjukkan jam lima seperempat. Wah, bisa terlambat menshalatkan, saya pikir.

Pamit, salam, dan segera beranjak pergi. Berjalan agak buru-buru. Siapa tahu masih sempat ikut. Sesampai di sana, jenazah sudah dikubur. Saya melewatkan semuanya, shalat jenazah dan penguburan. Saya tak mengantar almarhum sampai ke tempat terakhirnya. Dalam hati, saya menyesal.

Hari ini, keseimbangan dalam hidup terbukti. Semuanya telah diatur dengan sangat baik. Mulai dari konstelasi bintang-bintang, hidup dan mati, hingga hal-hal terkecil sampai daun mana yang layak jatuh ke bumi. Semuanya terjadi tak mungkin tanpa alasan dan tanpa maksud.

Saya ingat ucapan seseorang, ‘Tak ada kepastian dalam hidup. Satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian.’ Ada benarnya juga. Buat saya kepastian hanya satu, yang hidup pasti akan mati. Kalau membaca cerita ini, kepastian itu mungkin bertambah satu lagi. Jodoh di tangan Tuhan.

Selamat jalan Pak Basarun. Selamat datang Mujahida di Bibinoi.

Advertisements