Kami Orang Pesisir

by Bayu Adi Persada

28 Februari 2011

Hidup sebagai orang pesisir di kawasan timur Indonesia pada awal tahun memang membutuhkan banyak pengorbanan. Setiap pergantian tahun adalah musim angin bagi daerah-daerah dekat Samudra Pasifik ini. Ombak menderu lebih kencang dari biasanya. Angin bertiup dengan intensitas dan kecepatan berkali-kali lipat lebih besar. Hujan datang semaunya. Sekali datang, hampir dipastikan membawa hingga trilyunan armada titik-titik air. Deras sekali.

Saya akui kurang lebih dua bulan belakangan ini menjadi tantangan besar buat saya. Tantangan besar itu tak datang dari sekolah. Tapi dari cuaca dan iklim yang kian hari kian parah dan tak menentu saja. Entah kapan puncaknya. Entah kapan berakhirnya. Yang saya tahu, mau tak mau, saya harus berkutat dengannya.

Sudah lima hari berturut-turut listrik di desa ini putus. Saya tak tahu pasti mengapa. Kalau bertanya pada warga sekitar, jawabannya tertebak, pohon rubuh. Padahal di desa terdekat, Songa, aliran listrik lancar-lancar saja. Setelah Songa, semua desa-desa di timur gelap gulita pada malam hari. Beberapa kali listrik memang sempat menyala. Mirisnya, hanya lima sampai sepuluh menit! Setelah itu, mati lagi sampai dua, tiga, empat hari. That was sick!
Singkat cerita, lampu menyala sehari saja di desa ini bisa menjadi kandidat kuat pendamping Pulau Komodo sebagai World 7 Wonders!

Bahkan kabar terakhir tak hanya pohon yang jadi penyebab putusnya listrik. Ada oknum warga desa Songa yang sengaja menyabotase listrik untuk Desa Bibinoi dan lainnya. Semakin gila saja. Warga Bibinoi sempat ada yang melabrak dan kabarnya, terlibat perkelahian dengan oknum tersebut. Kebenaran cerita ini masih dipertanyakan tentu saja. Namun seperti sifat berita heboh lainnya, cepat menyebar dari mulut ke mulut.

Listrik mati hanya punya satu ‘keuntungan’. Menambah jam tidur. Tak ada lagi kegiatan selepas Isya dan makan malam. Kalaupun ada anak-anak yang datang ke rumah, mengajar dulu sampai sekitar jam setengah sepuluh. Biasanya ada lima orang lebih anak yang main ke rumah untuk belajar. Sedang kalau listrik mati, maksimal hanya dua, Amoi dan Natalia saja. Ditambah anak-anak di rumah, Naini dan Ul.
Setelah itu? Bukankah kegelapan adalah teman setia mimpi?
Membaca buku dengan senter kecil pun hanya membuang-buang waktu sejenak saja. Paling bertahan 10 menit setelah itu bablas. Intinya, saya tidak produktif saat listrik mati.

Kebetulan saya ini penggemar setia PLN. Saya enggan mengisi baterei laptop atau telepon genggam dengan menumpang listrik tetangga yang menggunakan genset. Bukan gengsi atau apa. Listrik dari genset sangat tidak stabil dan bisa merusak baterei perangkat. Sudah banyak korbannya di sini. Kipas angin jebol, baterei handphone cepat habis, dan semacamnya. Kalau tidak benar-benar terpaksa, saya tak mau menumpang. Selama ini hanya sekali mengisi baterei handphone di rumah tetangga.

Buat saya, keberadaan perangkat tiada lain tiada bukan untuk mencegah pembunuh nomor satu datang. Kebosanan. Coba bayangkan kalau seorang pengangguran bosan karena tak ada pekerjaan, dia memutuskan mencuri dan akhirnya mati dikeroyok massa. Contoh lain, orang yang bosan dengan hidupnya yang monoton dan tanpa arti. Akhirnya dia memutuskan bunuh diri.
See? Ya ya ya, ini hanya statistik asal saja. Jangan dianggap serius.

Sesungguhnya bosan adalah rasa yang membunuh. Tentu tidak secara harfiah. Yang jelas ia merusak pikiran. Pikiran tak lagi fokus dan berubah orientasi, mengeluh saja. Kalau sudah terpengaruh sepenuhnya, tak akan ada lagi hati pada hal-hal yang kita kerjakan. Semua hanya rutinitas semu yang tanpa arti. You really don’t want that in your life, seriously.

Sebenarnya bosan dapat menjadi pelatuk bagi kegiatan-kegiatan lain. Mencoba mencari hikmah dari keterbatasan yang ada.
Kini saya belajar menggambar. Menggambar hal-hal yang menarik. Saya pikir sayang kalau kehidupan di sini hanya diabadikan dengan foto. Mengapa tidak dengan goresan pensil di kertas gambar? Kala senggang di waktu siang saya manfaatkan untuk menggambar lanskap-lanskap menarik yang saya temui. Pinggir pantai, rumah-rumah di desa, kapal yang bersandar. Apa saja.
Namun jelas kegiatan ini tak dapat dilakukan di malam hari kalau listrik mati.

Makanan utama orang pesisir adalah ikan. Logis dan tidak terbantahkan. Berada dekat laut membuat ikan menjadi sumber protein utama. Kualitas ikan pun jauh lebih baik dibanding di kota-kota. Kalau di kota, ikan-ikan hampir pasti sudah mati sehari lebih. Disimpan dulu di bak penuh es. Baru dijual di pasar-pasar.
Di sini, setiap ada orang yang mengail, ikan yang didapat langsung dijual ke warga sesampainya di pantai. Warga sudah berkerubung untuk membeli ikan. Pantas kalau harganya murah. Dua ikan cakalang besar hanya dihargai 10 ribu. Kalau sedang sulit, sepuluh ribu untuk satu ekor. Bahkan, ikan ukuran sedang satu ember dihargai 10 ribu juga. Beratnya mungkin lebih dari empat kilo. Murah itu relatif.

Ombak tinggi membuat nyali para pengail agak ciut. Tak cuma para penangkap ikan, pemilik kapal penumpang pun kadang enggan menghadapi ombak. Penumpang terpaksa mengurungkan niat pergi ke kota. Atau kalau pun mau, harus mengambil resiko lebih besar dengan naik long boat.Praktis, transportasi pasti terhambat.

Keluarga di rumah dan juga banyak keluarga lain di desa ini benar-benar menggantungkan makanan sehari-hari pada kebun dan penangkap ikan. Agak aneh orang pesisir di desa ini. Mata pencaharian utama bukan nelayan, tapi berkebun. Letak desa dekat dengan bukit, sungai, kali-kali kecil, dan mata air membuat tanah sekitar desa ini cukup subur. Jadi, warga merambah hutan belakang desa untuk bercocok tanam.
Yang menjadi penangkap ikan hanya beberapa orang saja. Itu pun bukan menjadi pekerjaan utama. Berkebun tetap yang utama. Kalau tidak dari warga sendiri, biasanya ada kapal ikan dari desa lain yang menepi sebentar untuk berjualan ikan. Harganya sama saja. Sepuluh ribu bisa dibuat makan satu keluarga.

Walaupun penghasilan kebanyakan keluarga tak besar, pengeluaran tak kalah dengan orang kota. Sebuah ironi memang. Sinyal belum menjangkau desa ini. Akan tetapi, hampir semua warga, bahkan anak-anak SMA dan SMP, punya handphone sendiri. Meski fitur yang digunakan hanya kamera dan pemutar musik, handphone sudah menjadi kebutuhan yang penting.

Akulturasi budaya modern ke desa ini banyak didapat dari TV. Media satu ini memang luar biasa pengaruhnya. Hanya saja, warga desa di sini seperti masih belum siap menyerap budaya dari luar, terutama orang mudanya. Semuanya diserap tanpa ada yang dipilih-pilih. Mana yang cocok mana yang justru berlawanan dengan adat budaya setempat. Apalagi Desa Bibinoi sangat terkenal dengan masyarakatnya yang religius.

Tak jarang mereka berkumpul sampai larut malam di sudut-sudut desa. Semakin menjadi kalau listrik mati. Hiburan mereka hanya berkumpul. Laki-laki dan perempuan jadi satu. Saya semakin sadar akan satu hal, kerudung tak menjadikan seorang perempuan berkerudung juga hatinya. Tertawa sambil mendengarkan musik keras dari HP masing-masing. Suara nyaring mereka hanya disamar oleh hembusan ombak di tengah malam.
Benar-benar tidak mencerminkan kultur sebuah desa yang katanya, beragama kuat.

Kalau dilihat dari jumlah jamaah di mesjid, kami warga Desa Bibinoi boleh berbangga. Saat Maghrib tiba, mesjid boleh dibilang cukup penuh. Rata-rata lima saf terisi penuh. Hitungan matematis, ada kurang lebih seratus orang shalat berjamaah setiap hari. Beda sekali dengan mesjid di Desa Belang-Belang, tempat Aheng bertugas. Jamaah shalat Jum’at saja hanya satu saf. Dan banyak diantaranya anak-anak. Meh!

Jamaah mesjid hanyalah satu ukuran. Tapi yang justru paling penting adalah implementasi keagamaan. Di sini banyak sekolah Islam. Madrasah untuk anak-anak SD di siang hari, MTs untuk anak-anak SMP, dan pesantren setara SMA. Meskipun begitu, tetap saja desa ini masih perlu banyak berbenah untuk benar-benar melaksanakan apa yang diajarkan dalam agama.
Penindakan pelanggaran di sini minim. Kalau tak mau dibilang nihil. Hanya sebatas kata-kata saja. Omongan kepala desa untuk menindak anak muda yang masih berkeliaran setelah jam 10 hanya dianggap selewatan angin. Saya tak pernah mendengar ada pemuda yang ditangkap selama ini sebagai hukuman yang dibicarakan beliau.

Tantangan lagi-lagi untuk kami. Kalau hanya Saya dan Adhi pasti berat mengubah kebiasaan yang menahun ini. Dalam beberapa bulan ke depan akan mencoba melibatkan para pemegang kebijakan dari kepala desa hingga bupati.
Saya percaya semua yang sulit harus dimulai. Dan untuk semua yang baik pasti akan terbuka jalan-jalan menujunya. Mulai dari lingkungan terkecil, keluarga sendiri. Lingkungan tempat kami mengajar, SD, MIS, dan pesantren. Mudah-mudahan akan berubah sedikit demi sedikit.

Seperti tipikal masyarakat desa di mana pun berada, kami orang pesisir desa ini tak banyak menuntut. Tak banyak meminta. Kami bersyukur dengan apa yang kami punya dan berusaha menikmatinya. Kata pemuka agama di desa, semua yang sulit akan menjadi penebus dosa-dosa yang telah lalu. Kami percaya dan hal itu pula yang membuat kami terus bertahan dengan segala kesederhanaan.

Saya tidak mengeluh. Tidak juga mengutuk keadaan yang ada. It was meant to be limited, since the start. And I know that, very well. Saya lagi-lagi hanya bercerita bagaimana hidup sebagai orang desa di pesisir timur Indonesia. Melengkapi cerita-cerita saya sebelumnya. Sesungguhnya banyak sekali yang bisa diceritakan. Namun baterei laptop saya amat terbatas.
Saya mencoba mengungkapkannya satu demi satu. Satu setiap kesempatan.

Advertisements