Bukan di Awang-Awang

by Bayu Adi Persada

26 Maret 2011

Saya kehabisan kata-kata. Tak bisa diungkapkan kegembiraan hati saat mendengar kabar luar biasa itu. Kabar yang akan menjadi sebuah tinta emas bagi sekolah dan anak-anak kami. Kabar yang akan terus dikenang sebagai sejarah bagi sekolah kami yang sudah berdiri lebih dari lima puluh tahun lalu. Dia tidak lelah berdiri sebagaimana anak-anak kami yang tak mau menyerah dengan semua yang terbatas.

Dua murid SDN Bibinoi lolos Semifinal Olimpiade Sains Nasional! Andreas Rolan Jabir (Olan), kelas 3, dan Warda Arif, kelas 6, membuktikan pada khalayak bahwa mereka mampu.
Bak pelatih yang juara piala dunia, saya mengepalkan tangan dan merinding saat mendengar kabar lewat e-mail sesaat tiba di Pelabuhan Babang. Awalnya saya tidak pernah menyangka mereka akan melangkah sejauh ini. Bahkan saya sempat tak berniat mengecek pengumuman dan tetap tinggal di desa. Saya salah besar. Saya malu pada optimisme dan mimpi.

Sudah berulang kali, Tuhan menunjukkan pada saya bahwa semua yang terjadi pasti punya alasan. Rusaknya laptop Pak Ghazali pun membawa saya mencari hikmah. Awalnya beliau datang dengan alasan sederhana. Tak sadar menekan tombol Mute, beliau mengeluh laptopnya tak keluar lagi suara. Juga dia merasa ada virus yang mengganggu di drive C.

Saya ingin menghabiskan hari Minggu di desa aja kali itu karena sudah seminggu kemarin ada di kota terkait pelatihan. Rencana tinggal rencana karena tak sengaja saya menghapus file registry di C yang asing. Saya kira virus. Maklum sudah lama tak berhubungan dengan Windows XP. Alhasil sistem operasinya rusak. Ah, mesti install ulang! Saya merasa bersalah pada beliau. Mau tak mau saya mesti pergi ke kota untuk cari CD.

Sebenarnya saya lupa akan ada pengumuman Olimpiade Sains hari itu. Niat saya hanya membeli CD Windows kemudian pulang. Tak ada niatan sama sekali melakukan banyak aktivitas. Saya pergi ke kota dengan berat hati.
Namun, saya merasa seperti orang paling bahagia saat iseng mengecek e-mail di salah satu warung kecil di pelabuhan. Dua siswa kami lolos ke semifinal Olimpiade.

Hanya 19 orang semifinalis di Halmahera Selatan dari 100-an lebih peserta yang ikut. Sebuah pencapaian yang baik bagi kabupaten ini. Pertama kali mengikuti ajang kompetisi tingkat nasional seperti ini, tapi sudah mampu melangkah lebih jauh. Tinggal selangkah lagi untuk mengirimkan wakil di final Olimpiade yang akan diselenggarakan di Jakarta.

Tidak ada wakil SD yang disebut-sebut ‘unggulan’ di semifinal Olimpiade Sains. SDN 1 Labuha dan SDN Bertingkat Mandaong yang ‘didaulat’ menjadi SD terbaik di kabupaten tak mengirimkan satu pun anak-anaknya ke babak selanjutnya. Sebuah bukti status tak akan berarti apa-apa dalam sebuah kompetisi besar.

Dari sana, saya amat yakin bahwa penilaian untuk kami anak-anak di Indonesia Timur tidak diturunkan sama sekali. Awalnya, saya sempat skeptis panitia agak sedikit menurunkan batas penilaian untuk peserta di timur jauh. Sekali lagi, saya malu pada kebesaran hati.

Saya tak bisa meminta lebih dari ini. Apalagi Olan, anak didik saya di kelas 3, termasuk dalam 19 anak yang lolos ke semifinal. Dia satu-satunya kelas 3 yang lolos ke babak selanjutnya di tingkat kabupaten. Sekolah-sekolah lebih memilih mengirimkan kelas 4 untuk bertanding di level 2 (kelas 3 dan 4). Meskipun begitu, saya tahu pasti kemampuan anak didik saya. Walaupun seperti baru kemarin Olan bisa membaca, dia sangat cepat mengerti soal.

Olan belum bisa menulis dengan baik. Dia belum bisa membedakan mana huruf kapital dan huruf biasa. Dia pernah menangis ketika tidak bisa menulis huruf A kecil dengan baik, ‘a’. Dia merasa amat sulit untuk mengubah kebiasaan menulis A besar. Saat itu, saya benar-benar terharu dengan usahanya. Berusaha membuat sebuah huruf A kecil dengan segala daya dan upaya.
‘Kelemahan’ itu tak pernah menjadi masalah untuk saya. Yang terpenting dia mengerti apa yang diajarkan di kelas.

Semester satu lalu, Olan ranking 1 di kelas. Dengan rata-rata 8.4, nilainya hanya disamai oleh Amoi. Olan unggul dalam pelajaran Matematika, Bahasa, dan IPA sehingga dia berhak untuk menjadi yang terbaik. Meskipun begitu, Olan tak pernah merasa lebih pintar. Dia selalu haus akan ilmu. Penuh semangat ketika diberikan latihan dan senang luar biasa saat diberikan PR.

Saya selalu kehabisan soal untuk menanggapi antusiasme Olan dalam belajar. Setiap diberikan latihan, dia selalu menjadi yang paling cepat mengumpulkan. Hampir setiap kali mendapat nilai 100. Padahal yang lain baru saja memulai mengerjakan. Kalau sudah begitu, saya minta dia membaca sampai yang lain sudah selesai mengerjakan. Atau menambah porsi soal dengan pengayaan.

Honestly, saya tak memprediksi Olan akan masuk babak selanjutnya. Pada awalnya, saya pikir Munarsi dan Saadilah punya kemungkinan yang lebih besar untuk masuk. Munarsi dan Saadilah sangat cepat menangkap pelajaran sains sedang Olan punya kemampuan lebih di bahasa. Anak-anak brilian di kelas memang memiliki kemampuan lebih pada bidangnya masing-masing.

Olan membuktikan bahwa dia memang punya kemampuan di atas rata-rata pada semua mata pelajaran. Dengan ketekunan, dia bisa mengerti apa saja. Olan adalah tipikal anak kesayangan guru. Rajin, penurut, cerdas, ceria, tekun, tidak berulah, dan yang paling penting, jujur. Dia tidak pernah sekali pun melihat pekerjaan temannya. Selalu berusaha sendiri dan ketika kesulitan, dia tak pernah sungkan menemui saya untuk meminta penjelasan.
Bahkan dalam beberapa hal, dia mampu berperilaku dewasa. Pernah suatu kali ada anak yang memukul temannya, Olan mengingatkan saya, “Suruh dia minta maaf, Pak Guru.” A really nice boy, I must say.

Sedang Warda adalah murid favorit saya di kelas 6. Dia cepat dan antusias mengikuti pelajaran ketika saya mengajar di kelasnya. Dengan pribadinya yang santun dan keinginan belajar yang tinggi, Warda adalah contoh sangat baik seorang murid yang sudah mengenyam 6 tahun pendidikan dasar. Dibandingkan banyak teman-teman sekelasnya yang sering berulah, saya yakin dia bisa mencapai pendidikan yang tinggi kalau dia mau.

Anak-anak di sini sangat dekat dengan alam, tak terkecuali Warda. Jadi sebenarnya mereka sudah sewajarnya tak begitu sulit memahami pelajaran sains. Contoh sederhana, dia sudah fasih benar akar serabut dan akar tunggang serta klasifikasi tumbuhan karena sering menanam dan melihat sendiri tanaman-tanaman itu di kebun. Practice makes perfect. Experience enlightens knowledge.

Tiket semifinal sudah diraih. Namun itu jelas bukan akhir dari perjalanan. Masih ada waktu dan kesempatan untuk menyeret kembali tinta emas agar goresannya menjadi tebal dan lebih panjang. Kami enggan berhenti di sini. Tiket ini pantang disia-siakan. Kami ingin pergi sejauh-jauhnya. Ingin melempar mimpi setinggi-tingginya.

Untuk anak-anak kami, kebesaran Jakarta bukan lagi di awang-awang. Mereka bisa mencapainya dengan usaha dan kerja keras. Adalah tugas kami untuk membantu mereka menyusun tangga-tangga untuk ditapaki. Meski berat, mereka membuktikan sesuatu yang diperjuangkan pasti membuahkan hasil. Perjuangan dengan kesabaran dan ketekunan ibarat sebuah pohon rambutan. Sering berbuah dan ketika berbuah, buahnya manis.

Seperti seorang wanita, mimpi sangat pemilih. Dia memilih orang-orang yang benar-benar mencari dan ingin memilikinya. Seperti pinguin, mimpi setia pada pasangannya. Ketika dia sudah menentukan pasangannya, dia akan menjadi bagian hidup orang itu sepanjang hidup. Saat sedekat ini dengan mimpi, haram untuk menghiraukannya. Dia tak mau menunggu dan datang lagi esok hari.
Kami melihatnya mendekat. Jelas sekali. Dan kami sudah siap.