Bau Bangkai

by Bayu Adi Persada

19 April 2011

Seperti bangkai, kecurangan yang disembunyikan lama kelamaan akan tercium juga baunya. Ketika sudah tercium, tak ada lagi rasa simpati. Hanya meninggalkan jijik dan keengganan untuk melihat kembali. Apalagi untuk mendekati.
Walaupun begitu, jikalau ada bangkai di rumah kita, pasti harus kita singkirkan. Agar baunya tidak cepat menyebar. Agar tidak merusak harumnya ruangan sebelah.

Bagaimana kalau bangkainya banyak? Dan banyak juga orang yang sengaja menyimpannya, membuangnya? Tugas terasa semakin berat. Bau busuk sudah menyengat. Sibuk membereskan bangkai yang satu, sedang kita masih mencium jelas busuknya bau bangkai-bangkai lain. Situasi yang pelik. Sebagai insan yang memegang teguh paham ilahiah, penting untuk terus menjaga keyakinan. Yakin bahwa semua akan baik pada waktunya.
Walaupun, hati terus menasbihkan pertanyaan besar, kapan.

Seminggu dua kali, saya mengajar anak-anak Pondok Pesantren. Pelajarannya Matematika. Salah satu pelajaran favorit waktu SMA dulu. Apalagi mereka jurusan IPS, materi matematikanya pun masih dasar. Tidak terlalu rumit seperti integral, kurva, dan bla-bla lainnya. Meskipun sudah lama sekali sejak mengerjakan soal matematika (terakhir yang saya ingat, semester 3 kuliah), tak terlalu lama buat saya untuk mahir berenang lagi di dalamnya.

Jujur, pada awalnya cukup sulit mengajarkan mereka. Maklum, sudah dua tahun ini, Pondok kekurangan guru. Tak ada guru pelajaran umum yang siap mengajar di kelas. Kalau guru agama sih banyak. Di desa ini, banyak ulama dan ustadz.
Alhasil, Ustadz Dedi, kepala sekolah Madrasah Aliyah meminta saya dan Adhi untuk membantu mengajar di sana. Kami tak keberatan. Selama bisa berbagi, kenapa harus menolak.

Tinggal dua bulan sebelum Ujian Nasional ketika pertama kali saya masuk kelas. Sebuah tugas yang sama sekali tidak ringan membantu mereka lulus ujian. Kelulusan memang ditentukan oleh sekolah masing-masing, tapi tetap saja nilai UN menentukan. Kalau nilainya di bawah batas tertentu, otomatis masuk kotak. Kemudian, tipe soal UN dijadikan lima jenis. Berarti dalam satu kelas, ada lima soal berbeda. Secara logika, cara ini sangat mungkin meminimalisasi kecurangan.

Sudah dua tahun mereka tidak belajar matematika. Perkalian dan pembagian saja masih banyak yang belum hapal. Penjumlahan dan pengurangan terkadang masih salah. Empat kemampuan dasar matematika itu jauh dari mumpuni. Harus sabar dan telaten mengajarkan. Konsekuensinya mesti menambah jam belajar dan mengurangi waktu istirahat siang. However, I simply believe that’s worth the prize.

Saya sempat marah suatu kali pada mereka karena hanya sedikit orang yang datang di kelas. Kebanyakan masih tidur siang. Emosi sekali karena mereka seperti meremehkan hal besar yang akan datang, UN. Sebuah penentuan untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Saya mempertanyakan komitmen dan keinginan mereka untuk lulus.
Malam itu, mereka berbondong-bondong datang ke rumah untuk meminta maaf. Setelah itu, Alhamdulillah mereka jauh lebih semangat
dan antusias. Walaupun masih sangat kesulitan. Saya sangat menghargai semangat mereka.

Minggu berganti bulan, waktu semakin dekat ke Ujian Nasional. Untuk beberapa orang seperti Udin, Tabrani, dan Nahwa, kemampuan mereka jauh meningkat. Sudah bisa mengerjakan persamaan suku banyak, turunan, dan limit. Namun, masih banyak anak lain yang jauh dari siap. Saya pun sampai bingung bagaimana mengajarkan mereka. Entah saran saya untuk belajar di luar jam kelas dilaksanakan atau tidak. Yang jelas, tidak ada perubahan signifikan bagi beberapa orang. Sebut saja Lutfi, Ahmad, Isra, Mu’min, dan Arnawi yang bahkan belum hapal perkalian.

Seminggu sebelum Ujian Nasional, sebagian besar kelas III mengikuti STQ (Seleksi Tilawatil Qur’an) di Desa Saketa. Dua jam perjalanan laut dari Bibinoi. Ini even besar kabupaten. Banyak anak kelas III yang menjadi andalan desa untuk menjadi wakil kabupaten di tingkat provinsi. Jika menang di tingkat provinsi, mereka akan dikirimkan ke acara mahabesarnya, MTQ, di Jakarta.
Alhasil, dari 12 anak kelas III, yang tersisa hanya 6 orang.

Kebetulan anak kelas III yang tinggal di desa adalah mereka yang masih belum siap ujian menurut penilaian saya. Jadi, dua hari sebelum ujian, mereka saya berikan materi untuk mematangkan kembali kemampuan dasarnya. Meskipun sampai saya menyudahi pelajaran, masih ada kekurangan di sana sini, tak masalah, yang terpenting mereka sudah berusaha mengerti.

Puncaknya di H-1 sebelum Ujian Nasional Matematika, saya meminta mereka berkumpul di siang hari untuk mendapatkan materi terakhir. Saya memberikan kilas balik dari apa yang sudah dipelajari. Saya tidak mengajarkan semua materi yang keluar di ujian. Dari awal, saya menargetkan mereka untuk benar minimal 16-18 nomor saja dari 40 soal. Jika berhasil, mereka akan dapat 4,0-4,5 yang berarti lolos dari lubang jarum.

Hari itu saya benar-benar menghabiskan waktu istirahat saya untuk mengajar mereka. Dari siang selepas sekolah dan makan siang, saya langsung berangkat ke Pondok. Mengajar sampai menjelang Maghrib. Kemudian saya mengajar lagi setelah Isya.
Pelajaran hari itu berakhir jam 11 malam. Saya merasa sudah melakukan apa yang saya bisa untuk membantu mereka lulus.
Di akhir pelajaran, saya meminta mereka untuk banyak-banyak berdo’a. Jangan lupa shalat malam agar dimudahkan untuk menjawab soal esok hari. Setelah shalat malam, coba melihat kembali apa yang sudah diajarkan agar pikiran kembali segar saat dihadapkan dengan soal-soal.

Saya menutup kelas dengan berkata semoga apa yang saya ajarkan dapat bermanfaat untuk mereka.
Jam 11 malam dan saya sudah amat lelah. Sampai di rumah, tak bisa tidur karena sebelum mengajar tadi, minum kopi. Aneh, badan tidak bisa dikompromi tapi pikiran masih melayang kemana-mana. Salah satu pikiran, apakah anak-anak itu bisa menjawab soal besok. Di dalam hati, saya meminta pada Tuhan untuk memberikan mereka mukjizat.

Hari H sudah tiba. Saya minta ijin ke Pak Amir untuk mengawas ujian di Pondok Pesantren. Beliau mengijinkan. Saya lekas berangkat ke lokasi ujian. Tak jauh dari sekolah, hanya 200 meter. Di sana, saya bertemu Ustadz Rusdi yang sudah berada di kelas. Di jadwal tertulis saya mengawas sendirian. Setelah saya masuk, Ustadz Rusdi beranjak keluar ruangan.

Anak-anak sudah mulai mengisi lembar jawaban. Mereka terlihat mengisi data dengan seksama. Seperti tak ingin meninggalkan celah kosong pada setiap bulatan. Lama sekali mereka mengisi data-data itu. Sudah lima belas menit lebih. Saya jadi tak tega mengambil waktu mengerjakan soal yang hanya dua jam. Akhirnya saya putuskan untuk menghitung waktu setelah mereka selesai mengisi printilan data.

Waktu mengerjakan soal dimulai. Buat saya, ini adalah pembuktian sejauh mana saya berhasil mengajarkan anak-anak ini.
Saya sendiri mencoba membuat kunci jawaban dengan mengerjakan soal yang ada. Satu demi satu soal selesai. Tak terasa sudah sampai nomor 40. Saya sebenarnya tak menyangka bisa mengerjakan 38 soal dengan yakin benar. Wah, bisa jadi acuan untuk nanti memeriksa jawaban anak-anak sehingga bisa langsung memberi mereka gambaran nilai akhir.

Saya sedikit heran kenapa anak-anak ini terlihat tidak menghitung sama sekali. Mencorat-coret pun sedikit sekali. Lembar soal mereka bersih. Padahal saya sudah mengijinkan mereka untuk berhitung di lembar soal. Meskipun di soal tertulis tidak boleh mencoret lembar soal, saya tetap memberikan perintah itu. Pikir saya, agar lebih praktis. Lagipula, lembar soal kan tidak dikumpulkan kembali dan menjadi milik sekolah.

Detik berganti menit, menit berganti jam. Mereka berhasil juga menyelesaikan semua soal yang ada. Empat puluh soal yang tidak mudah. Menurut saya, kualitas soal cukup baik. Artinya tidak terlalu sulit, tetapi tidak mudah juga dijawab. Cocok dengan kisi kisi dan standar kompetensi lulusan.

Tidak seperti soal Ujian Sekolah yang dibuat DisDik Kabupaten yang kacau balau. Integral dimasukkan ke soal IPS. Bodoh.
Dalam asumsi saya, mereka banyak menebak jawaban. Harapan saya, mudah-mudahan tebakan mereka benar. Mukjizat itu benar adanya kok. Saya tak menemukan perhitungan yang komplit dari semua anak pada lembar soal mereka. Hanya sepotong-sepotong saja. Paling hanya Udin dan Nahwa yang lembar soalnya paling ‘kotor’.
Anak-anak saya minta untuk menyalin jawaban mereka di selembar kertas. Maksudnya, agar saya bisa langsung memberikan gambaran nilai kasar pada mereka.

Saya sudah membuat kunci jawaban untuk soal dengan Kode 52. Di kelas, hanya Nasrun dan Mu’min yang mendapat kode itu. Karena penasaran, sesaat setelah dikumpulkan, saya langsung memeriksa hasil pekerjaan mereka. Tak menaruh ekspektasi besar walau sebenarnya sangat berharap agar hasilnya baik.

Alhamdulillah! Mereka mendapat angka di kisaran 5 dengan 20 soal benar. Jika hitungan saya tepat, mereka pasti lulus.
Saat saya memberitahu mereka, ekspresi mereka tak saya duga. Biasa saja. Hanya tersenyum dan ikut berkata Alhamdulillah. Ah, tak usah banyak prasangka. Membuat mereka lulus saja sudah memberikan kebanggaan tersendiri untuk diri pribadi. Seperti yang saya bilang, ini adalah pembuktian proses belajar selama ini.

Setelah semua orang keluar, saya memberitahu Ustadz Dedi. Setelah saya periksa, Insya Allah sudah dua murid yang lulus ujian
matematika. Beliau sangat terkejut seraya senang dan bersyukur. Ekspresinya tidak dibuat-buat. Terlihat dari raut wajahnya. Genuine.
Di rumah, saya sangat bersemangat memeriksa hasil ujian anak-anak lain. Sesampainya di kamar, saya langsung membuka berkas soal dan jawaban. Satu per satu saya periksa. Nilai mereka luar biasa. Semuanya di atas 5. Senang sekali nilai mereka baik. Jauh lebih baik dari bayangan saya.

Akan tetapi, perasaan itu sedikit demi sedikit pudar. Antusiasme saya semakin lama semakin hilang tak berbekas. Ada indikasi kecurangan dari jawaban-jawaban mereka. Saya tertegun. Malu.

Dari sembilan orang yang saya periksa, rata-rata nilainya sama, 5 sampai 6. Dengan jumlah benar 20-24 soal. Anehnya, jawaban mereka hampir 90% sama untuk soal-soal tertentu. Seperti sudah dihapal. Kalau mereka menebak jawaban, masa sih sama dengan yang lain. Padahal sepanjang ujian, saya mengawasi mereka dengan ketat.

Dugaan saya semakin kuat dengan mengingat tingkah laku mereka tadi saat ujian. Buat apa menghitung kalau sudah tahu jawabannya. Pantas saja lembar soalnya bersih tak berbekas! Mereka benar-benar menghapal soal dan jawaban!
Dengan adanya lima tipe soal di kelas dan jawaban mereka sama untuk soal-soal tertentu, pasti mereka sudah mendapatkan soal dengan jawaban di hari sebelumnya. Meskipun kode soal berbeda, sebenarnya soalnya sama, hanya dibedakan saja nomornya. Jadi, tinggal menghapal soal ini dan jawaban itu. Beres. Astaghfirulloh.

Saya kecewa berat.

Ustadz Dedi bilang pada saya setelah ujian. Dinas Pendidikan menjual kunci jawaban sebesar 500 ribu rupiah pada setiap kepala sekolah. ‘Iuran’ ini bersifat WAJIB. Saya tulis lagi, WAJIB. Namun, Ustadz Dedi bercerita bahwa dia bisa menghindari oknum tersebut dengan menitipkan berkas soal pada orang yang dia percayai.
Saya percaya betul ucapan beliau. Saya pikir, Ustadz Dedi bukan orang yang seperti itu. Saya yakin beliau masih punya harga diri untuk menolak tindakan haram tersebut.

Now, I don’t know who to believe. Saya amat yakin bahwa anak-anak sudah mendapatkan jawaban soal itu entah kapan. Saya berani mempertaruhkan segalanya, harga diri dan harta, untuk dugaan saya ini. Bukan tanpa alasan. Saya punya bukti yang sahih. Masalahnya sekarang, dari mana mereka mendapatkan jawaban itu.

Saya merasa kalah. Bodoh. Dikhianati. Dibohongi. Tak berguna. Lelah. Sia-sia.
Percuma selama ini menghabiskan waktu untuk mengajar mereka kalau akhirnya begini juga. Apa gunanya belajar siang malam, bahkan berdoa, kalau di akhir, mereka pasti lulus. Tak perlu belajar, tak perlu berdo’a, mereka pasti akan dibantu. Setan.

Saya tak sanggup lagi memeriksa sisa ujian itu. Saya bahkan tak sudi lagi melihat tumpukan lembar jawaban dan soal itu. Benar-benar merasa ditipu. Dalam bayangan saya, saat malam terakhir memberi pesan pada mereka, mungkin dalam hati mereka berkata, “Yeah whatever! You don’t know anything.”

Saya mencoba menambal borok-borok yang mereka tinggalkan karena tak kunjung memberikan mereka seorang guru. Tapi justru mereka juga yang membuang lagi bangkai-bangkai itu. Menambah borok dan menjadikannya semakin kotor dan bau.

Kecurangan berjamaah masih terus dilakukan dari level atas sampai bawah. Tak pernah habis cerita kecurangan saat ujian. Same old, same old. Sama saja. Anggaran Ujian Nasional 560 miliar menguap tanpa arti seperti bau bangkai yang terus menyebar ke semua penjuru. Tak terselamatkan dan tak bisa dicegah.

Dengan berat hati, saya masih berani percaya semuanya akan baik pada waktunya. Akan tetapi, kapan adalah pertanyaan yang hanya Tuhan tahu jawabannya.

Advertisements