Arti Dua Mimpi

14 Juni 2011

Please dont tell me the title is lame and cheesy. Simply because I know that. I just dont know any other words to use. Ya ya, memang terkesan seperti judul sinetron murahan dari stasiun televisi ikan terbang. I know it, I said.

Setahu saya, mimpi adalah bunga tidur. Mimpi datang pada diri manusia karena izin Sang Pemberi Mimpi. Tapi setahu saya lagi, bisa juga iblis memasuki manusia lewat mimpi. Apakah itu juga karena izin Sang Pemberi Mimpi? Saya tidak bisa memastikan. Tapi mengingat sebuah Firman Allah, “Tidak ada satu daun pun jatuh di dunia ini, melainkan Allah mengetahuinya,” maka penetrasi iblis pada mimpi manusia itu pasti diketahui Allah.

Jika Nabi atau Rasul bermimpi, pasti memiliki arti. Mereka adalah orang-orang terpilih. Tapi, apakah ada arti juga pada setiap mimpi manusia biasa? Banyak manusia gelisah karena mimpi. Makanya, ada sebuah pekerjaan baru yang konon dibayar cukup, penafsir mimpi. Bahkan ada SMS centre-nya segala. Percaya pada penafsir mimpi bisa tergolong musyrik. Sedang musyrik adalah dosa yang tidak terampuni oleh Allah. Pendek kata, jika bermimpi, just take it for granted, no more question. Kalau pun ada, coba cari hikmahnya sendiri.
Namun, bagaimana kalau kita ada di mimpi orang lain? Dan dalam mimpi itu, sesuatu yang aneh terjadi. Naluri kita sebagai manusia akan mempertanyakan maknanya.

Dalam waktu yang berdekatan, dua orang bermimpi tentang saya. Akan sangat menyenangkan kalau yang memimpikan perempuan dan mimpinya indah-indah saja. Tapi bagaimana kalau dua laki-laki yang bermimpi dan isi mimpinya tidak wajar? Ketika mendengar cerita mimpi laki-laki pertama, saya tidak ambil pusing. Situasinya berubah ketika laki-laki kedua bermimpi kejadian yang persis sama. Padahal, dua orang laki-laki ini tak kenal satu sama lain dan terpisah lautan dan pulau-pulau.

Di Sabtu pagi itu, Pak On, guru PTT di sekolah kami, tiba-tiba berjalan mendekati saya. Sedari tadi, kami berbicara banyak hal sambil minum teh. Tapi cerita ini tidak terpikir menjadi obrolan kami. Atau Pak On berpikir dua kali sebelum berani bercerita?

“Pak Bayu, sebentar,” Pak On mencoba memperlambat jalan saya saat kembali ke sekolah. Saya tergelak dan bertanya, “Ada apa, Pak?”
Pak On terlihat agak ragu-ragu. Dia mulai berbicara, “Saya kemarin ada mimpi Pak Bayu.” Mind us Malukunese. Bahasa Indonesia kami memang seringkali terbalik-balik. Tidak jelas mana subjek, predikat, atau objek.

Saya sempat berharap mudah-mudahan bukan mimpi yang aneh. Aneh boleh lah, asal jangan ‘aneh sekali’. You know what I mean.
Kemudian, Pak On mulai bercerita.
Dalam mimpinya, saya berpamitan dengan beliau. Saya ingin pergi meninggalkan desa. Pak On mencoba menahan saya untuk pergi. Beliau masih ingin minum teh dan makan bersama dengan saya. Akan tetapi, saya menolak karena waktu saya tinggal sedikit dan ada urusan penting yang harus diselesaikan. Pak On terus memaksa saya untuk tinggal walau sebentar sementara saya bersikeras meninggalkan desa saat itu juga.

Pak On lalu bertanya, “Menurut Pak Bayu, itu bagaimana?” “Pak Bayu mau kemana to?”
Saya menjelaskan pada beliau memang saya akan pulang kampung awal bulan Juli ini. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Pak On mungkin agak gelisah karena dalam mimpinya, saya seperti orang yang berpamitan untuk selamanya. Hal yang wajar dan manusiawi.
Pak On menganggukkan kepala. Beliau mengerti penjelasan saya.

Setelah pembicaraan singkat itu, kami tidak pernah mengulangi topik yang sama. Saya juga tidak pernah memikirkannya sampai tiba suatu waktu ada seorang laki-laki lagi yang mengatakan saya ada di dalam mimpinya. Dan dalam mimpinya, saya juga bersikap tidak biasa. Seperti orang yang ingin berpamitan untuk waktu yang lama.

Pagi itu tidak biasa. Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Bukan karena ada sesuatu yang mengkhawatirkan, hanya saja tiba-tiba sinyal muncul di desa. Tidak hanya sinyal telepon, tapi juga sinyal internet (GPRS/EDGE). Berarti bisa surfing internet sekedar untuk update timeline di Twitter, cek email, dan akun social networking lainnya.

Walaupun sudah diresmikan Bupati beberapa waktu yang lalu, sinyal di desa kami tidak pernah stabil. Kadang satu hari menyala, seminggu hingga dua minggu putus. Kadang timbul lagi, tapi tidak bisa bertelepon atau sekedar SMS. Menurut cerita beberapa orang, penangkap sinyal di tower desa ini kurang bagus. Aneh, padahal pada saat peresmian, orang-orang dari Telk**sel datang jauh-jauh untuk sekedar memastikan semua hal-nya layak.

Singkat cerita, saya kaget karena saat mematikan alarm, saya melihat ada SMS masuk. Oh, cuma operator, pikir saya. Saya lebih heran karena melihat logo E (EDGE) di sebelah sinyal telepon. Setelah shalat Subuh, saya langsung memanfaatkan fasilitas mewah itu sebelum hilang. Memang tidak lancar, but so far, this is the best we could get!

Saat sedang mengecek e-mail, saya membaca Wildan Mahendra, seorang teman pengajar muda di Bengkalis, Riau, menulis di wall profil saya di Facebook. Tulisannya, “Bayu, apa kabo? Baca message ya.” Sebelumnya, saya jarang sekali membuka kotak pesan di Facebook karena biasanya hanya berisi promosi-promosi dari grup-grup yang saya ikuti.

Kemudian, saya membaca tulisan Wildan.
Bayu, apa kabar? Gw mo sharing ke lo ttg kejadian yg gw alami td pagi. Ga tau knapa tiba2 gw mimpiin lu. Lu lg pamit mo ke papua. Lu pake kemeja biru dan keadaan saat itu sedih bgt. Poinnya, lu lg baik2 aja kan?

Pesan Wildan membuat saya kembali teringat mimpi Pak On. Pertanyaan-pertanyaan baru muncul dalam pikiran. Kenapa bisa sama persis kejadiannya? Kenapa kemeja biru? Kenapa saya sedih? Kenapa Pak On ingin menahan saya?

Saat saya menulis ini, saya merasa sangat bersyukur masih diberikan kesehatan, keikhlasan, dan kebahagiaan oleh Allah SWT. Saya merasa ada di tempat dan waktu yang tepat. Walaupun tidak seindah dan senyaman rumah, desa ini lebih dari cukup untuk menjadi kampung halaman saya yang baru.

Dalam dua mimpi itu, benang merahnya jelas, saya sedang berpamitan. Yang satu jelas mau kemana, yang lain tanpa penjelasan. Kakak saya sempat menjadi dokter di Sorong dan Timika. Rencananya, saya memang ingin mengunjunginya jika ada kesempatan. Namun, sebelum ada kesempatan, dia sudah keburu habis masa tugas dan pulang ke Jawa.
Jelas, saya akan pulang kampung. Mungkin itu sebabnya saya berpamitan kepada mereka. Yang saya tidak habis pikir, kenapa harus minum teh, kemeja biru, dan sedih?
Oke, sedih mungkin wajar karena harus meninggalkan desa. Tapi kan hanya sementara, mengapa mesti sedih? Ah, I don’t get it.

I let the questions left unanswered. Saya mencoba ambil hikmah baiknya saja. Dalam perjalanan pulang nanti, semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Banyak berdoa agar semua urusan dan rencana dilancarkan oleh Allah. Mudah-mudahan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti yang saya utarakan di awal, just take dreams for granted.

Oh ya, sepertinya pakai kemeja biru ketika pulang boleh juga.

Advertisements