Kembali Menjadi Religius dan Terdidik

by Bayu Adi Persada

25 Mei 2011

Kabar berita yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus berpikir dan bertindak cepat. Kalau tidak cepat ditanggapi dan ditindaklanjuti, saya cemas akan nasib anak didik saya di masa depan. Meski masalah ini belum seharusnya terjamah oleh anak-anak sekolah dasar yang masih berumur sangat muda, potensi perkembangan permasalahan ini kian hari kian mengkhawatirkan. Tak ada usaha untuk memperbaikinya membuat masalah ini seperti tongkat estafet, terus berlanjut.

Saya sempat berpikir beberapa kali bagaimana mengemukakan masalah ini pada anak-anak dengan cara yang tepat. Masalah ini amat sensitif. Meskipun sudah berulang kali terjadi, mereka hidup di tengah masyarakat yang permisif. Ironis karena Desa Bibinoi terkenal sebagai desa religius. Bahkan, sebutan desa pendidikan mau dilekatkan juga pada desa ini.

Dua orang remaja Desa Bibinoi lagi-lagi kecolongan. Korbannya bukan lagi anak SMA atau yang telah lulus. Dua anak perempuan yang masih memakai bawahan biru. Dua remaja belia yang masih sekolah menengah pertama. Satu di SMP Negeri dan satu lagi di Madrasah Tsanawiyah. Pukulan telak, atau tidak, untuk masyarakat desa.

Kejadian memalukan, kehamilan di luar nikah ini, selalu terulang setiap tahun. Bahayanya, tingkatan umur korban terus menurun. Beberapa tahun lalu masih anak SMA atau kuliah, sekarang, anak kelas 1 SMP! Sebelumnya, saya tentu tidak pernah memperkirakan ini bisa terjadi lagi terutama untuk anak-anak yang masih sangat belia. Saya kira masyarakat sudah bisa belajar. Ternyata, saya salah menilai untuk kesekian kali.
Melihat kejadian ini, bukan tidak mungkin korban selanjutnya anak SD.

Anak-anak ini korban pergaulan bebas. Pergaulan yang tanpa batas. Tanpa tahu mana yang pantas dilakukan dan mana yang dilarang. Pengaruh buruk ini bisa datang dari mana saja, dari media maupun lingkungan. Ketika anak-anak diberikan pemahaman akan nilai-nilai baik, pasti mereka akan bisa memilah dan memilih. Namun, saat pemahaman itu tidak kunjung diingatkan, maka tinggal menunggu waktu sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kejadian ini.
Begitulah ketika mereka diajarkan mengaji tanpa paham apa yang mereka baca dan bagaimana itu dilakukan.

Ketidakpedulian itu membunuh. Sebagaimana yang terjadi sekarang ini. Hampir semua komponen desa seperti mafhum dengan keadaan yang ada. Tak ada rasa malu, tak ada keinginan untuk memperbaiki.

Tiga komponen paling penting di desa tidak memegang peranan mereka dengan baik.
Mulai dari tingkat paling rendah, orang tua. Memang banyak dari orang tua berpendidikan rendah, lantas apa itu bisa dijadikan alasan untuk tidak memperhatikan anak? Kebanyakan dari orang tua memiliki anak lebih dari empat. Waktu sehari kerap dihabiskan berkebun. Sungguh sebuah kondisi yang benar-benar merugikan anak. Tanpa ada pengawasan dan perhatian dari keluarga terdekat, masa depan anak sangat mungkin tergadai.

Kemudian, guru. Guru bukanlah semata orang yang mengajarkan dua tambah dua sama dengan empat. Guru seyogyanya menanamkan moral dan etika sosial yang akan menjadi pegangan anak di masyarakat. Sedini mungkin ditanamkan bahwa menjaga sikap dan perilaku itu sangat penting. Pembiasaan akan menjadi budaya. Itulah yang saya selalu berikan pada anak-anak SD. Walaupun tidak mungkin maksimal pada dua ratusan anak, setidaknya saya tak pernah lupa memupuk nilai-nilai baik pada anak didik saya di kelas tiga.

Sayangnya, sejauh yang saya lihat, sedikit atau mungkin tidak ada sama sekali guru yang melakukan itu. Padahal, anak-anak sangat butuh pemahaman nilai-nilai baik di sekolah mengingat minimnya pendidikan oleh orang tua di rumah. Disadari atau tidak, peran guru meningkat secara eksponensial.

Di desa ini, berdiri sekolah pada setiap satuan pendidikan, mulai dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) setingkat TK hingga Madrasah Aliyah dan SMA Negeri. Namun, kelengkapan satuan pendidikan itu tidak serta merta disertai kualitas pengajaran.
Guru yang lupa ‘bertanam nilai’ kembali menjadikan anak sebagai korban.

Aparat desa juga tidak membantu. Kepala desa lebih sibuk dengan politik pencitraan dengan segala proyeknya. Peraturan desa yang menjaga warganya tidak keluar lebih dari jam sebelas malam hanya sebatas pemanis bibir. Tanpa implementasi, nihil realisasi. Semuanya dilakukan untuk pencitraan. Imbasnya, kepala desa menjadi figur yang ditentang masyarakat. Beliau dianggap tidak cakap dan diminta segera mundur.

Ketidakpedulian dari segala sisi membuat kehidupan anak-anak di Desa Bibinoi menjadi sangat berat. Jauh lebih berat dibanding saya dulu dan mungkin juga Anda. Mereka sangat mungkin tidak menyadari itu. Mereka juga belum bisa menyalahkan siapa-siapa. Yang mereka rasakan sekarang bisa saja perasaan senang karena tak ada yang mengatur atau menegur. Jelas tidak sepenuhnya kesalahan mereka jika tingkah laku sehari-hari menyalahi aturan-aturan norma dan etika. Tidak ada yang peduli dan sudi untuk mengingatkan.

Pagi itu, saya mengumpulkan beberapa anak kelas 6 yang baru saja selesai ujian beberapa minggu lalu. Tidak banyak yang datang, hanya sekitar setengah kelas lebih sedikit. Anak-anak menganggap selepas Ujian Nasional berarti liburan sekolah dimulai. Meskipun begitu, saya tetap harus menyampaikan kejadian di luar sana pada mereka yang datang.

Saya terkejut ketika beberapa dari mereka sudah mengetahui kabar itu. Teman sepermainan mereka juga ternyata. Alumnus dari SD negeri kebanggaan desa. Saya mendapati satu korban perempuan adalah anak Ustadzah Rahima yang saya kenal baik. Saya kembali kecewa. Bagaimana mungkin anak seorang ibu yang punya ilmu agama kuat berbuat asusila seperti itu?

Awalnya, saya merasa canggung berbicara ini pada anak-anak yang dalam segi usia, fisik, dan pikiran masih belum matang. Bahkan mungkin beberapa anak ada yang belum paham apa arti hubungan seksual. Hanya beberapa anak saja yang sudah mendapat haid pertama bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki-laki.

Anak-anak pun kaku membicarakan ini dengan saya. Sekaku dan secanggung apa pun, pembicaraan ini harus membuahkan pemahaman akan apa yang sebaiknya dilakukan. Saya yakin anak-anak ini sudah mengenal lawan jenis. Sedikit banyak pasti mereka tahu apa yang saya bicarakan. Bukankah semua sinetron yang mereka tonton selalu menyajikan tayangan yang itu-itu saja, cinta-cinta yang minim nilai etika dan moral?

Panjang lebar saya menceritakan akibat dari pergaulan yang tanpa aturan. Tak ada agama apa pun yang mengajarkan zina pada umatnya. Tak ada masa depan bagi mereka yang berbuat kelewat batas. Mempunyai anak di usia sangat dini menutup pintu mimpi dan masa depan.

Lama kelamaan, rasa canggung itu hilang sama sekali. Saya sempat merasa konten pembicaraan belum cocok didengarkan mereka. Saya mengabaikan perasaan itu karena mungkin ini satu-satunya nasihat yang akan mereka dengar dari seorang guru selama mereka menempuh pendidikan di desa ini.

Meski hanya setahun di sini, saya jatuh cinta pada masyarakat dan desanya saat seminggu pertama tinggal. Saya ingin memberi sebanyak yang saya bisa untuk membantu masyarakat mengembalikan identitas aslinya, religius dan terdidik. Walaupun terkadang sempat juga timbul perasaan putus asa akan apatisme sebagian masyarakat, saya mencoba tetap berpikir positif.

Terkadang kita memang dipaksa melakukan hal tidak pada tempatnya untuk sebuah tujuan yang lebih besar. Tidak beda seperti yang saya lakukan, memberikan pendidikan akan bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berinteraksi di masyarakat pada anak SD yang masih sangat muda dan belum matang. Bagaimanapun juga, semua mesti diawali dengan niat tulus untuk tujuan yang baik. Saya percaya niat yang baik pasti akan membuka jalan-jalan kebaikan lainnya. Kembali menjadi desa yang kuat dalam sisi agama dan pendidikan adalah hadiah yang pantas untuk sebuah niat besar dan kerja keras.

Advertisements