Lompatan Hebat

by Bayu Adi Persada

9 Juni 2011

Semester lalu, mengisi rapor anak-anak merupakan rutinitas yang memberatkan untuk saya. Bukan karena jumlah murid terlalu banyak dan aspek penilaian kompleks yang saya gunakan. Lebih kepada nilai rapor anak-anak yang masih jauh dari mumpuni. Hanya beberapa orang saja yang mampu mengikuti pelajaran.
Saya datang di minggu kedua November dan semester pertama berakhir di pertengahan Desember.Ternyata satu bulan bukan waktu yang cukup untuk mengakselerasikan kemampuan anak-anak.

Situasi sangat berbeda di semester dua. Saya memegang kendali penuh dari awal untuk pembelajaran satu semester. Seperti melakukan perjalanan panjang, tentu harus ada persiapan dan perencanaan matang di awal. Persiapan baik bertemu perencanaan terstruktur sangat mungkin memberikan hasil yang memuaskan. Proper preparation and good planning raise the luck and ensure satisfactory outcome.

Di akhir semester dua ini, saya bangga luar biasa dengan anak-anak. Hampir semua dari mereka mampu meningkat pesat dari semester yang lalu. Pada awalnya, saya tidak berani banyak mengekspektasi. Namun mereka membuktikan bahwa bisa itu karena niat dan biasa. Dengan semangat yang baik dan pemberian materi yang tidak membosankan, anak pasti akan menemukan bahwa belajar itu candu dan menyenangkan.

Dulu, ada gap yang kentara pada beberapa siswa di kelas. Tidak ada golongan menengah. Mereka yang punya kemampuan lebih berada di atas sedangkan yang lain masih banyak yang meraba-raba pelajaran. Bukan tugas yang mudah mereduksi selisih ini. Sekitar 15 anak belum bisa membaca pada semester pertama, nyaris setengah kelas. Sejumlah itu pula yang saya prediksi belum bisa melanjutkan ke kelas 4 jika tidak ada perubahan.

Berangkat dari sebuah keyakinan akan ketekunan akan membuahkan hasil yang memuaskan, saya mengajarkan anak-anak pentingnya sebuah usaha. Untuk tidak takut mencoba dan terus berusaha. Biarpun hasilnya salah, yang terpenting adalah proses untuk mencapainya. Karena hanya dengan usaha dan terus mencoba, kita bisa merubah yang belum baik.

Tidak begitu masalah mengangkat anak-anak yang sudah punya kemampuan dasar yang baik. Anak-anak yang pada semester lalu adalah 15 orang terbaik, mampu melesatkan kemampuannya. Yang menjadi masalah tentu setengah kelas yang lain. Dengan waktu dan sumber daya yang ada, saya mengajak mereka untuk minimal, senang belajar. Jika mereka sudah senang pergi ke sekolah dan belajar, itu adalah awal yang sangat baik.

Setelah melalui serangkaian pembelajaran dan pemahaman akan nilai-nilai baik di kelas, saya merasakan perasaan yang luar biasa. Sesuatu yang tidak pernah dirasakan, bahkan terpikirkan sebelumnya. Saya merasa berhasil menjadi guru.

Anak-anak kelas III dinilai pihak guru dan orang tua sebagai kelas yang paling aktif, ceria, tidak berulah, dan banyak membuat perubahan. Saya merasakan relasi yang tidak terceraikan dengan anak-anak. Kami saling menghargai, menyayangi, dan memperhatikan satu sama lain. Di kelas, mereka adalah anak-anak saya. Di luar kelas, saya bisa menjadi teman atau kakak buat mereka.

Alhamdulillah, di akhir semester, 90 persen anak membuat perubahan signifikan. Kini, tidak ada lagi gap di antara mereka. Banyak anak-anak yang dulu masih kurang kemampuannya, sekarang sudah bisa menyesuaikan dengan pembelajaran. Bahkan beberapa berhasil membuat lompatan luar biasa untuk bisa mencapai kemampuan yang sangat baik.

Salah satu contohnya adalah Sarni. Sarni, seorang anak tukang kebun yang tinggal di bagian paling belakang desa. Lebih dekat dengan gunung dibanding pantai. Orang tuanya jarang sekali memperhatikan anak ini. Mereka lebih sibuk mengurus kebun kelapanya. Setidaknya, ini yang saya perhatikan di semester yang lalu. Dengan menilai kemampuan dan sikapnya di semester satu, anak ini sangat mungkin tinggal kelas. Absensi yang tinggi dan kemampuan dasar yang masih minim.

Namun, perlahan Sarni mampu mengeluarkan potensinya. Anak ini sangat berubah. Semester dua ini, dia jauh lebih rajin datang ke sekolah. Dulu, anak ini paling sulit ketika disuruh mengerjakan tugas. Sekarang, Sarni selalu mencoba mengerjakan tugas walaupun masih lambat dan hasilnya pun belum benar. Akan tetapi, usahanya ini saya hargai sangat tinggi.
Dia memang masih takut untuk bertanya, tapi dia selalu mengutarakan ketidaktahuan pada teman sebangkunya. Kemudian, teman sebangkunya itu memberitahu saya sehingga saya dapat mengajarkan Sarni untuk memperbaiki yang pekerjaannya.

Perlahan tapi pasti, Sarni menjadi lebih percaya diri. Dia tidak malu lagi untuk bertanya. Walaupun masih lambat, saya senang sekali karena akhirnya apa yang dikerjakannya sudah benar.
Saya tidak banyak terharu ketika mengajar di kelas. Tapi, ketika akhirnya Sarni mendapat nilai 100 di ulangan IPA membuat hati saya sangat tersentuh. Jika tidak sedang berada di kelas, mungkin saya sudah menitikkan air mata. Serius.

Dengan bangga luar biasa, saya menyatakan Sarni sebagai anak yang membuat perubahan paling hebat sepanjang semester dua ini. Dari ‘bukan siapa-siapa’ dan nyaris tidak naik kelas, dia mampu memutar dunia dan masuk jajaran anak-anak terbaik di kelas III. Sarni peringkat 10! Sebuah peningkatan luar biasa tentunya. Pencapaian itu dicapai dengan susah payah dan kerja keras berbulan-bulan. She earns it!

Tidak ada murid yang bodoh, yang ada hanya guru yang buruk. Sementara sistem sesempurna apa pun pasti punya celah, a loop hole. Dari kegemilangan teman-teman yang lain, saya dengan berat hati harus meninggalkan lima anak di kelas III. Dengan prinsip saya tadi, saya merasa menjadi guru yang buruk untuk lima anak ini.

Keputusan untuk tidak menaikkan seorang anak tidak pernah mudah. Semuanya harus dimulai dengan perhitungan yang matang dengan melibatkan semua aspek yang mungkin muncul. Aspek sosial di pertemanan sampai efeknya di keluarga. Bagaimanapun juga, keputusan sangat sulit ini harus saya ambil. Saya tidak bisa membohongi diri sendiri, terlebih lagi, lima anak ini.

Materi di kelas IV tentu akan jauh lebih banyak dan lebih sulit. Jika mereka tidak mampu membaca tulisan sederhana, bagaimana mungkin mereka bisa mengikuti pelajaran yang lebih rumit. Dalam pembelajaran di kelas, saya selalu menyetarakan perlakuan pada semua anak. Tidak ada yang mendapat lebih, mudah-mudahan tidak ada yang kurang.
Lima anak ini sudah saya berikan buku untuk dibaca di rumah dan surat pada orang tua untuk mengajarkan anak. Namun, kemampuan mereka tetap tidak berkembang.

Buat saya, lima anak ini adalah hutang. Selama saya mengajar di SDN Bibinoi, mereka adalah hutang yang harus saya lunasi. Meskipun saya akan tetap mengajar anak-anak yang naik ke kelas IV, saya tetap berusaha untuk mendidik anak-anak ini agar memiliki kemampuan dasar yang baik. Saya berharap orang tua juga mau membayar hutangnya pada mereka.

Diki termasuk salah satu anak yang tidak naik. Kemampuan bacanya minim sekali walaupun sudah lumayan bisa berhitung dan menulis. Dia masih sangat kesulitan membaca kata-kata sederhana. Yang membuat saya sangat berat memutuskan dia tinggal kelas adalah perubahan sikapnya, dari yang dulu nakal menjadi patuh dan mudah diatur.

Malam itu setelah penerimaan rapor, Diki datang ke rumah untuk belajar.
Saya bertanya kepadanya, “So lihat rapor kah?” “Sudah, Pak Guru.”
“Bagaimana, naik kah tarada?” “Tarada.”
“Mama bilang apa pa ngoni? Papa marah?” “Dorang marah.”
“Pukul ngoni kah tarada?” “Tarada, Pak Guru” ”Dorang cuma bilang kita bodoh.”
Saya terdiam. Saya terpukul mendengarnya.

Saya pikir lebih baik memukul anak ini daripada merendahkannya dengan kata bodoh. Kata yang amat terlarang bagi seorang guru, apalagi orang tua.
Saya memintanya melihat mata saya. Kemudian saya menimpali, “Diki tara bodoh. Diki kurang kerja keras. Diki mengerti to?” Dia menganggukkan kepala.
“Diki percaya Pak Guru?” Dengan lirih dia menjawab,”Percaya.” Saya membawanya masuk ke rumah untuk belajar membaca.

Keberhasilan seorang guru dinilai dari murid-muridnya. Pada sebagian besar anak, saya merasa cukup berhasil mendidik. Namun, pada sebagian kecil lain, saya masih menyimpan hutang pada mereka. Hutang harus dibayar atau menjadi tanggungan seumur hidup. Namun, lompatan hebat sebagian besar anak-anak memberikan saya kebanggaan tak terbayar.

Saya belum ada di akhir perjalanan. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Menaikkan kemampuan akademis anak-anak adalah satu hal, tapi membenahi sikap mereka adalah hal lain. Tindakan-tindakan kasar dan kata-kata yang tidak pantas yang terkadang masih muncul pada beberapa anak adalah sebagian kecil permasalahan sikap yang mesti dibenahi.
Harapan saya pada mereka sangat sederhana. Agar mereka menjadi anak yang tidak hanya cakap dalam pengetahuan, tapi juga mulia dalam kata dan perbuatan.

Advertisements