Pesantren Kilat

11 Agustus – 13 Agustus 2011

Menginisiasi sebuah acara tidak pernah mudah. Apalagi jika satu-satunya bantuan yang kita dapat hanya sebuah kata dukungan. Padahal acaranya bisa menjadi sebuah milestone dan dapat dijadikan agenda rutin untuk tahun-tahun mendatang. Namun apa daya, banyak orang di sini belum sepenuhnya memahami arti sebuah pengabdian.
Dengan beberapa kata dukungan, saya meyakinkan diri untuk membuat sebuah even besar sekolah, Pesantren Kilat Ramadhan 1432 H SD Negeri Bibinoi!

Pesantren Kilat, bukan sebuah acara baru. Hampir di setiap daerah, sebagian besar sekolah Islam dan negeri di Indonesia, pasti menjadikan agenda ini rutin setiap tahun di bulan Ramadhan. Sayangnya, tidak di Desa Bibinoi. Tidak pernah dalam sejarah diadakan Pesantren Kilat khusus untuk anak-anak. Ide itu memang pernah terlintas, tapi tanpa persiapan yang jelas dan niat yang kuat, ide hanya mengambang di awang-awang.

Hari ini sebuah sejarah dituliskan. Pertama kali diadakan Pesantren Kilat di SD Negeri Bibinoi. Dengan berbekal semua sumber daya pribadi, saya mengajak anak-anak untuk belajar agama tiga hari terpusat di mesjid desa. Saya tak terlalu banyak menitipkan harapan, dua puluhan anak saja sudah cukup mengingat ini diadakan di masa liburan sekolah. Sulit sekali mengajak anak-anak berkegiatan di saat liburan. But I gave it a go anyway!

Saya mencoba menambah sumber daya yang ada sebanyak-banyaknya. Bukan logistik dan dana tentu saja, tapi manusianya. Biar bagaimanapun juga, saya butuh bantuan tenaga untuk mengajari dan mengawasi anak-anak. Apalagi di bulan puasa, satu anak berulah saja bisa sangat menguras tenaga.

Saya mengajak anak-anak Pondok Pesantren untuk berbagi ilmu dengan anak-anak. Hanya segelintir santri yang masih menginap di Pondok, sisanya pulang kampung. Tapi Alhamdulillah, dari yang sedikit itu, ada lima orang siap membantu saya.
Kemudian Pak On, sahabat karib saya di korps guru SDN Bibinoi. Beliau juga bersedia membantu sekedar mengawasi anak-anak dan menjadi fotografer dadakan. Enam orang tambahan sudah cukup. Rasa optimis saya meningkat berkali-kali lipat acara ini akan sukses.

Pagi itu saya berjalan ke sekolah dengan rasa was was. Bagaimana kalau sesampainya di sekolah, yang datang hanya tiga orang, sepuluh, atau maksimal tujuh belas. Kalau jumlah anak hanya segitu, apakah acara bisa dilanjutkan atau tidak. Banyak pikiran yang menantang keteguhan hati. Meskipun saya bertekad akan melanjutkan acara biarpun hanya sedikit anak, tetap saja rasanya akan sangat berbeda jika dapat melibatkan banyak anak.

Anak-anak ini memang tidak pernah mengecewakan saya. Tiga puluh tujuh anak sudah siap dan bersemangat mengikuti acara hari ini. Mereka memakai pakaian muslim rapi. Laki-laki dengan baju koko dan peci, sedang perempuan dengan kerudung berwarna-warni. Alhamdulillah, jumlah ini melebihi target saya sebelumnya.

Pembukaan Pesantren Kilat saya lakukan sendiri dengan dihadiri beberapa guru, Pak Malik, Bu Marwia, Pak On, dan Bu Jana. Meskipun hanya datang, saya menghargai kehadiran mereka sebagai bentuk apresiasi dan dukungan. Saya bilang pada anak-anak bahwa dalam tiga hari ke depan kita akan belajar agama dengan cara yang menarik. Belajar wudhu, shalat, mengaji, kaligrafi, kemudian ada juga cerita-cerita menarik. Serta ada sertifikat bagi para peserta dan hadiah untuk sepuluh peserta terbaik.
Penuh kata-kata manis saat pembukaan dengan harapan anak-anak tidak merasa bosan dan tetap bersemangat serta tetap mengikuti keseluruhan acara selama tiga hari.

Setelah pembukaan, kami berjalan bersama-sama menuju masjid dengan mengucapkan Shalawat Nabi di sepanjang perjalanan. Tujuan saya sederhana, agar warga mengetahui kegiatan ini dan mengajak anak-anaknya untuk ikut.

Hari pertama, saya dibantu tiga santri, Zikran, Julfikar, dan Surdi. Agenda hari pertama adalah etika masuk dan berada di masjid serta berwudhu yang baik dan benar. Ternyata banyak anak-anak yang belum berwudhu saat akan shalat. Ini yang menjadi target utama saya, membiasakan anak bersuci sebelum bertemu Tuhan-nya.

Dengan bantuan dari santri-santri, anak-anak dibimbing untuk mempraktikkan berwudhu yang benar.
Dilanjutkan dengan mengaji dan menghapal surat-surat pendek. Siang itu sekitar jam 11, hari pertama Pesantren Kilat berakhir. Jumlah anak yang berpuasa lumayan banyak, setengah dari peserta. Jadi saya juga tak mau banyak mengambil waktu istirahat mereka.

Di hari kedua, kami mengajarkan tata cara shalat. Dengan tambahan dua santri lagi, pembimbingan shalat lebih efektif. Satu santri mengajarkan lima sampai delapan orang anak. Ada beberapa anak yang sudah mampu melaksanakan shalat sesuai aturan tapi masih banyak juga yang belum benar. Anak-anak yang sudah baik dijadikan imam anak-anak lain. Saya mengatakan imam pada mereka harus bisa dijadikan contoh dengan tidak bergurau dan serius saat shalat. Sedang menjadi makmum mesti mengikuti imam dan tidak boleh mendahului.

Dari pelaksanaan dua hari, saya berdiskusi dengan santri-santri tentang siapa saja kandidat sepuluh peserta terbaik. Saya harus mencetak sertifikatnya malam itu juga karena penyerahannya akan dilakukan esok hari sekaligus penutupan.
Setelah mendapatkan dua belas orang kandidat peserta terbaik, saya menyeleksi menjadi sepuluh anak saja. Kriterianya adalah semangat, mampu melaksanakan wudhu dan shalat dengan tertib, mengaji dengan baik sesuai kemampuannya (Iqro atau Juz Amma), serta keteguhan untuk tetap berpuasa.

Pada hari terakhir, kami menyelenggarakan ujian. Ujiannya tidak terlalu menentukan tapi tetap dilakukan dengan serius. Materi yang diujikan adalah wudhu, shalat, mengaji, dan hapalan surat pendek. Sebelum ujian, anak-anak diberikan tontonan video animasi bagaimana wudhu dan shalat yang baik. Alhamdulillah saya mendapat pinjaman proyektor dari seorang guru di Ternate. Layar besar membuat mereka lebih antusias menyaksikan materi.

Hari itu ditutup dengan menggambar kaligrafi nama Allah. Anak-anak senang sekali menggambar dan mewarnai. Mereka dengan gayanya masing-masing mengukirkan nama Tuhan-nya dengan aneka warna.

Pada acara penutupan, saya bacakan siapa-siapa saja peserta terbaik. Wiwin, salah satu peserta terbaik, menangis haru saat namanya dipanggil. Perasaan luar biasa juga untuk saya. Untuk mereka yang terbaik saya bingkiskan hadiah seadanya sebagai apresiasi. Buku, buku gambar, pena, atau pensil warna.

Peserta paling terbaik menjadi milik Suhardi. Saya berikan bonus peci untuknya.
Alhamdulillah, tiga hari acara ini berjalan lancar. Kalau dilihat dari semangat dan raut wajah anak-anak, acara ini bisa dibilang sukses. Ketika saya tanya pada mereka bagaimana acara Pesantren Kilat ini, serentak mereka membalas, “ASYIIIKK!”

Tanpa bantuan santri-santri dan Pak On, saya tak bisa berbuat banyak. Mereka lah yang mampu mengaplikasikan konsep acara yang ada di kepala. Niat baik dan kerja keras pasti membuahkan hasil.

Begitulah cerita tentang Pesantren Kilat kami yang sederhana. Tidak ada sepeser pun dana yang dikeluarkan. Harapan saya semoga apa yang telah anak-anak pelajari dapat mereka praktikkan saat melaksanakan ibadah. Mudah-mudahan ini tidak menjadi Pesantren Kilat pertama dan terakhir.

Ada kabar baik untuk siswa SDN Bibinoi, Pengajar Muda masih akan membimbing mereka setahun ke depan. Siapa pun yang menggantikan saya, pasti bisa menyelenggarakan acara yang jauh lebih baik.
Beberapa hari setelah acara, saya bertemu dengan beberapa anak dan bertanya bagaimana perasaan dan kesan orang tua. “Dorang senang, Pak Guru.” “Sertifikat tong so kasih tempel di rumah.” “Papa mau kasih bingkai de pe sertifikat.”
Semua lelah terbayar lunas. This job is really rewarding.