Ramadhan di Tepian

by Bayu Adi Persada

29 Agustus 2011

Saya langsung menarik selimut sampai ke batas leher. Udara dingin tiba-tiba menyeruak dari luar. Padahal sudah jam delapan lewat. Matahari seharusnya sudah mengutus sinarnya untuk menyingkirkan hawa dingin ini. Namun hujan deras menutupi kedatangan mereka. Saya hanya bisa meringkuk di balik selimut. Hangat di bawah sini.

Hari ini tanggal 29 Ramadhan. Menurut kalender di kamar, ini hari terakhir sebelum esok perayaan kemenangan besar setelah sebulan berpuasa. Tahun ini, Lebaran saya amat berbeda. Selama saya hidup, saya selalu bisa merayakan Idul Fitri dengan keluarga besar tapi tidak kali ini. Tidak pernah setahun pun terlewat kami tidak mudik ke kampung halaman. Sebuah rutinitas yang seperti haram untuk ditinggalkan.

Tahun ini, saya memutuskan tidak kembali ke Jawa dan tetap berada di perantauan. Jatah cuti sudah dihabiskan di liburan sekolah beberapa bulan lalu. Tak ada lagi jatah tambahan untuk kembali pulang dan bertemu keluarga.
Walaupun dalam beberapa malam terakhir selalu teringat keluarga, saya terus mengingatkan diri bahwa hidup adalah tentang menjalani konsekuensi sebuah pilihan. Meskipun amat berat dalam waktu-waktu penting seperti ini, tapi hikmah itu ada untuk dicari.

Saya bersyukur bisa menjalani Ramadhan tahun ini di tempat sederhana ini. Tanpa banyak hiruk pikuk, kesibukan orang-orangnya. Makanan yang diusahakan lebih dari biasanya namun tetap seadanya. Waktu-waktu ibadah yang lapang dan tak berbatas. Masyarakat yang bersemangat untuk selalu bertemu Tuhan-nya.
I must say, this is one the best Ramadhan I have ever done during my entire life.

Hikmah Ramadhan yang benar-benar terasa masuk ke dalam hati kemudian membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak hanya dalam lingkup ibadah namun juga keseharian perilaku. Saya merasa naik tingkat sebagai seorang manusia.

Saya berusaha tetap mengajar selama berpuasa sampai akhirnya berhasil menjalankan dua acara besar, Pesantren Kilat dan Acara 17 Agustus. Kedua acara berjalan lancar dan terkendali serta berkesan tidak hanya untuk saya, tapi juga anak-anak bahkan masyarakat. Masih teringat meriahnya tarik tambang dan lomba dayung di mana warga di dua dusun ikut menyaksikan dan membantu panitia.

Dalam hal ibadah, saya diberikan nikmat sehat untuk menjalani gembiranya berinteraksi dengan pemilik dunia. Hanya dua kali melewatkan shalat tarawih, khatam Al-Qur’an, meningkatkan kualitas bacaan dengan Ustadz Hafidz (penghafal Qur’an), serta mabit untuk pertama kali pada 27 Ramadhan.

Kedatangan Ustadz Hafidz dari Pesantren di Kudus beberapa bulan menjelang bulan puasa bisa saya manfaatkan. Saya belajar banyak dari beliau, membaca Qur’an dengan makhraj’ dan tajwid yang benar. Ternyata, bacaan Al-Fatihah selama ini masih kurang di sana sini. Pernah suatu kali saya menginap di rumah beliau hanya untuk membaca Al-Fatihah hingga benar-benar sempurna. Setelah dipraktikkan dalam shalat, shalat menjadi lebih bisa dinikmati.

Dari dulu, saya selalu ingin merasakan bagaimana rasanya mabit (bermalam). Pernah beberapa kali berniat namun hanya sebatas niat saja tanpa realisasi. Kali ini, kedatangan bupati dan wakil gubernur ke desa membuat lain cerita. Beliau berdua memang Ustadz asli Desa Bibinoi yang kemudian menjadi politisi. Bapak Bupati mengajak masyarakat untuk menginap bersama di masjid dan beribadah sampai pagi pada malam ke 27 Ramadhan.

Awalnya saya sudah merencanakan acara sendiri dengan santri-santri dan Ustadz Nur Ali, hafidz Qur’an, di masjid kecil dekat rumah. Rencananya kami akan shalat tasbih sambil berikhtikaf. Namun, menurut anjuran Bupati bahwa semua warga diharapkan berkumpul di masjid raya. Acara kami pun batal dan akhirnya bergabung dengan masyarakat.

Menghabiskan malam paling baik dengan masyarakat satu desa membawa suasana baru. Mendengarkan ceramah dari Bupati dan Wakil Gubernur, tadarus Qur’an, memperbanyak shalat sunah, shalat tahajud berjamaah, hingga sahur bersama dan ditutup kuliah Subuh. Satu agenda ibadah penuh makna tapi sekaligus juga amat melelahkan.

Saya sampai di rumah sekitar jam setengah tujuh pagi dari jam delapan malam hari sebelumnya. Tidur pun seperlunya saja di masjid. Sesampai di kamar, lelah luar biasa. Langsung terkapar di kasur dan bangun sebelum adzan Zuhur berkumandang.

Esok adalah hari yang ditunggu. Setelah sebulan penuh melawan hawa nafsu dan beribadah dengan intensitas berlipat dari biasanya, besok akan dirayakan seperti telah menang perang. Tak ada agenda khusus seperti sebelum-sebelumnya untuk saya. Tidak ada shalat Ied dengan keluarga besar, tidak juga ada ziarah ke makam keluarga. Belum bisa menikmati makanan yang selalu dinantikan, soto, nasi liwet, gudeg, wedang asle, sampai cabuk rambak. Juga melewati pertemuan rutin keluarga besar untuk pertama kali.

Ada perasaan sedih memang. Pertama kali Lebaran di perantauan, di tempat dan dengan orang-orang yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Bagaimanapun juga, saya bersyukur masih bisa menikmati pengalaman langka ini.

Mungkin saya tak akan pernah lagi merasakan Ramadhan di tepian pulau. Di tempat di mana saya selalu bisa merasakan Maghrib hanya dengan melihat matahari tenggelam di ujung lautan. Atau hanya ada suara jangkrik dan kodok menemani ibadah malam. Hikmah yang sederhana namun efeknya melampaui apa yang dibayangkan.

Lebaran identik dengan meminta maaf. Kemungkinan besar kali ini saya tak akan lagi mendapat banyak SMS lebaran. Teringat dulu, saya senang sekali menghitung ada berapa banyak SMS yang masuk untuk mengucapkan maaf dan selamat lebaran.

Tidak masalah. Pada kesempatan ini, saya ingin meminta maaf pada para pembaca yang sempat mampir di sini. Siapa tahu ada kata-kata yang kurang berkenan pada tulisan-tulisan saya selama ini. Begitu juga dengan perbuatan keliru bagi pembaca yang memang mengenal saya sebagai pribadi. Ingin sekali bertutur sapa mengucapkan secara langsung, namun apa daya kali ini jarak tak bisa dikompromi.

Akhir kata, semoga kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan. Di mana pun akan menjalani, sesungguhnya nikmat terbesarnya adalah kembali bertemu dengannya. Selamat berkumpul dengan keluarga. Manfaatkanlah waktu-waktu langka itu sebaik mungkin karena siapa yang tahu jalan hidup di tahun-tahun mendatang.
Selamat Lebaran!
Maaf lahir batin!