Catatan Kecil

by Bayu Adi Persada

Cerita lucu tak pernah lepas dari keseharian saya sebagai seorang guru. Anak-anak selalu punya cara sendiri dengan kepolosan menghibur guru mereka. Mereka mungkin tak sadar, dengan tanggapan spontan dan reaksi tulusnya, membuat saya bertambah kaya akan kehangatan dan kebersamaan.

Saya tidak bisa memastikan bahwa cerita-cerita ini juga lucu untuk Anda. Yang jelas keunikan anak-anak inilah yang membuat menarik. Sampai kapan pun, saya tak akan pernah lupa kejadian-kejadian ini. Memang kecil dan sederhana, tapi maknanya tak bisa saya ungkapkan.

——

Mikael adalah anak yang aktif, bahkan boleh dibilang hiperaktif. Bukan dalam arti negatif untungnya. Anaknya bersemangat, senang bermain, antusias kala diberikan aktifitas di luar ruangan, dan cukup lumayan dalam pelajaran di kelas. Walaupun malas mencatat pelajaran, Kael anak yang mudah diatur.

Umurnya lebih tua satu tahun dibanding rata-rata temannya di kelas. Oleh guru sebelumnya, dia tidak dinaikkan kelas. Alasannya simpel, suka bolos dan ketika masuk sekolah, pasti pulang pada jam istirahat. Pak On, gurunya, sempat kehabisan akal mengatur Mikael selain dengan memukul.

Sebulan saya mengajar, memang anak ini seperti itu. Pemalas luar biasa. Walau dia punya kemampuan membaca dan menulis yang cukup baik, tanpa semangat belajar, dia menyia-nyiakan kemampuannya.

Pada semester selanjutnya, saya mengaplikasikan sistem reward and punishment di kelas. Prinsipnya sederhana, anak yang berperilaku baik akan mendapatkan nilai baik sedang anak yang melanggar peraturan akan mendapat konsekuensi. Simbol nilai baik berupa sebuah hati. Saya menyampaikan pada anak-anak hati perlambang kasih sayang. Di sisi lain, panah merupakan simbol untuk nilai buruk. Bagi anak-anak yang lalai akan kewajibannya, akan diganjar satu anak panah.
Sebuah karton besar bertuliskan nama dan kolom untuk hati dan panah ditempel di depan kelas.

Saya bersyukur sekali cara ini bisa berhasil. Anak-anak berlomba untuk terus mengumpulkan hati sekaligus berhati-hati untuk tidak mendapatkan panah. Sebuah panah akan memecahkan sebuah hati yang didapat. Secara otomatis, anak-anak akan berusaha terus berbuat baik dalam keseharian. Hadiah dijanjikan bagi mereka pengumpul hati terbanyak.

Mikael termasuk anak yang meresapi benar sistem ini. Dia selalu ingin menyelesaikan setiap tugas yang diberikan, tidak menghina teman dan makan di kelas, dan berbuat baik lainnya.
Ketika suatu kali ditanya, “Kael, kenapa sekarang masuk sekolah terus dan tak pulang saat istirahat?” Dia menjawab cepat dan yakin, “Takut dapat panah, Pak Guru.”

—-

Dila anak yang mempunyai rasa ingin tahu sangat tinggi. Selalu ingin mencari hal-hal baru dengan membaca. ‘Torang pe hobi membaca,’ begitu sahutnya ketika ditanya hobi. Setiap jam istirahat, saya selalu memilihkan buku-buku menarik untuk dia baca. Entah itu ensikolpedi, buku sains, atau buku cerita.

Setelah selesai membaca, biasanya dia menceritakan apa yang dia ketahui. Atau saya yang memberi dia tebak-tebakan. Jika ada hal yang dia lupa atau sama-sama tidak kami ketahui, kami mencari jawaban itu bersama.

Akan tetapi, namanya juga anak-anak, pasti punya sifat jahil. Suatu ketika, dia selesai membaca tentang buku sejarah dunia. Dia mendekat lalu bertanya, “Pak Guru, kalau negara yang punya lambang burung garuda apa ya?” “Tentu Indonesia, Dila.” Dia bertanya lagi, “Kalau elang botak?”
Saya berpikir sejenak dan memang tak tahu jawabannya. Kemudian Dila menjawab, “Amerika!” Lalu tertawa kecil dan berlari.

—–

Itulah sekelumit cerita tentang bagaimana mereka adalah hiburan paling berharga satu dunia selama pengabdian satu tahun di desa. Berkat mereka, satu tahun tak pernah terasa lama. Justru di saat-saat tertentu, pengalaman seperti yang membuat rindu setengah mati.

Kalau ada waktu lagi, saya akan berbagi cerita yang lain.

Advertisements