Cerita Sebuah Keyakinan

by Bayu Adi Persada

Cerita ini tentang sebuah keyakinan. Bahwa sebuah keyakinan akan membawa kita pada sebuah kepastian. Ditambah keteguhan hati, Tuhan tidak akan luput mendengar niat hamba-Nya.


Saya dan Lita sudah sampai di kantor baru kami pagi itu. Akhirnya, saya kembali menekuni karier sebagai seorang profesional. Meskipun begitu, saya selalu merasa sebagai seorang guru sampai akhir masa. Sampai sekarang, selalu saja ada SMS masuk dari murid-murid saya dan warga-warga desa. Sekedar bertanya “Bagaimana kabar Pak Guru?” atau berharap “Pak Guru kapan kembali?” Pertanyaan pertama selalu saya jawab tak peduli berapa kali pertanyaan sama itu muncul. Yang kedua ini membuat jari berat mengetik SMS.

Setelah makan siang dan menunaikan shalat, kami berbincang ringan tentang aspirasi di pekerjaan baru ini. “Sepertinya memang menyenangkan”, kami berdua setuju. Kemudian saya bertanya padanya, “Lit, tadi pas tanda tangan kontrak, kamu tanya apa?” Dengan senyum tipis, Lita tegas menjawab, “Tanya kalau mau nikah gimana, Bay. Ternyata mereka kasih bantuan satu kali gaji. Seneng banget!” Saya tak terkejut sama sekali. Hanya saja saya kemudian penasaran lalu kembali bertanya, “Emang udah ada calonnya?” Kembali dengan senyum tipis, dia menjawab lagi, “Belum. Cuma kalau ada niat pasti ada jalan kan, Bay.”

Kami berjalan ke luar kompleks perkantoran menuju halte bus terdekat. Di halte tersebut, kami masih membicarakan hal yang sama. Tentang dia, pernikahannya yang belum tahu dengan siapa. Lita menimpali, “Kalau sudah berkeinginan kuat, pasti seluruh alam membantu.” Ingat sekali kata-kata ini. Ada di buku Paulo Coelho pertama yang saya baca, The Alchemist. Kata-kata itu menjadi akhir pembicaraan kami siang itu.

Tak lama, bis jurusan Bekasi sudah datang. Saya duluan naik ke bis. Lita kembali asyik bercengkerama dengan BB-nya.

Malam itu, saya iseng mengecek email. Lita menulis di grup kami. Saya terkejut.

Isinya sederhana. Dia memutuskan menikah bulan Maret. Tidak. Kali ini, dia sudah menemukan jodohnya. Di kereta saat pulang tadi. Saya membaca dengan haru. Amat haru.

Respon awal jelas tidak percaya. Saya pikir, Lita ingin membuat heboh saja. Menurut saya, kejadian seperti ini hanya terjadi di sinetron.

Seseorang bertemu jodoh di kendaraan umum. Saat pena terjatuh, kemudian berdua mengambil pena itu bersamaan. Mata saling bertatap. Waktu seakan berhenti beberapa saat. Lalu, mereka sepakat akan hidup bersama selamanya. Sinetron, kan?

Apapun detil kejadiannya, ternyata saya salah, dia memang benar-benar ingin menikah dengan seorang pria yang ditemuinya di kereta tadi siang. Katanya, pria itu teman lamanya. Dia langsung jatuh cinta setelah keduanya menghabiskan waktu bercerita dalam perjalanan pulang ke Bogor.

Yang jelas, dari tulisannya, Lita tak pernah seyakin itu untuk menjalani hidup yang baru. Bertahun-tahun dia menghabiskan waktu mencari, tapi Tuhan memberitahu dia untuk berhenti. Melihat niat tulus dan keyakinan kuatnya, Tuhan tak menunggu lama lagi untuk memberinya hadiah. Saat itu juga.

Cerita ini tidak saya temukan di novel atau film. Bukan juga fiksi. Bukan omong kosong jika niat adalah syarat pertama untuk berhasil dan keyakinan menjadi bahan bakar utama menggapai mimpi.

I have never been this happy for Lita. We have been partners since one year ago or more.
Watching her so sure about her choice, I feel relieved she could find the right one.

Lita, bukan nama sebenarnya. Saya tak ingin memberitakan kabar bahagia ini sebelum dia sendiri yang mengabarkan.
Hanya saja, cerita ini sangat menarik untuk dibagi. Sekali lagi, agar kita semua tahu, pentingnya niat dan arti sebuah keyakinan.