Lentera Tertunda Melangit

by Bayu Adi Persada

Perayaan Waisak tak lama berlalu. Bagi umat Budha, hari itu menjadi teramat suci. Ritual-ritual khusus dipersiapkan dari pagi hingga malam menjelang. Kain coklat panjang yang dikalungkan ke bahu kiri sudah rapi dikenakan oleh para biksu. Mereka mungkin sudah hapal di luar kepala doa-doa yang akan dipanjatkan bersama umat yang dipimpinnya sehingga sepertinya tak perlu terlalu menghabiskan waktu untuk gladi doa.

Selaiknya, Waisak merupakan acara keagamaan yang sakral. Namun, perayaan yang dipusatkan di Candi Borobudur justru menarik minat para wisatawan untuk datang dan merekam apa saja yang terjadi. Bagi para fotografer, ritual para biksu selalu bisa menjadi objek foto yang menawan. Kekhusyukan dibalut cara ritual yang khas memberikan daya tarik tersendiri untuk diabadikan.

Sayangnya, perayaan Waisak tahun ini bisa dibilang tak sesuai harapan, terutama bagi umat Budha yang memang sengaja hadir dari berbagai daerah untuk mengikuti acara paling besar dalam satu tahun. Wisatawan membludak melebihi kapasitas lapangan pengunjung yang disediakan. Panitia seperti tak menyangka akan sebanyak ini yang datang hingga mereka amat kewalahan mengatur puluhan ribu orang yang berkerumun dekat lokasi inti acara.

Saya termasuk di antara para wisatawan itu. Rela mencari parkir yang memakan emosi sampai meringkuk di bawah payung kecil untuk melindungi diri dari tetes-tetes hujan. Payung kecil itu tak mampu melindungi betul kami bertiga hingga rintik pun ikut membasahi bagian belakang tubuh. Kesemuanya dilakukan hanya untuk sebuah harapan kecil, menyaksikan lentera-lentera terbang ke angkasa.

Apa mau dikata, malang tak bisa dielak untung tak dapat diraih. Setelah menunggu sekian lama, panitia memutuskan penerbangan lentera dibatalkan. Hujan yang enggan berhenti membuat mereka tak punya pilihan lain. Bagaimana lentera bisa terbang dalam damai kalau pasukan bulir hujan tetap saja menyerang dari atas.

Tentu saja saya amat menyesal. Acara yang dimulai terlampau telat hingga satu setengah jam karena keterlambatan Menteri Agama dan Gubernur Jawa Tengah. Buntutnya, para penonton yang sudah lama menunggu terlanjur kesal dan menyoraki para bapak yang terhormat itu ketika berpidato. Padahal, jamaah yang memadati lingkar utama dekat panggung tetap bertepuk tangan. Bagi mereka, kedatangan para tamu terhormat tentu patut diapresiasi. Namun, tepuk tangan mereka kalah riuh dari sorakan dan sahutan para penonton di belakang yang kadang justru terucap kata-kata yang sama sekali tak pantas diucapkan.

Panitia tak bisa mengontrol massa. Selama Menteri dan Gubernur berpidato, selalu saja ada sahutan-sahutan yang tak perlu dari oknum penonton. Saya hanya terdiam menggerutu di bawah naungan sebuah plastik tipis lengkung. Mau bagaimana lagi, saya pikir. Ingin sekali rasanya pidato-pidato seremonial itu dipercepat saat rasa egois yang berbicara.

Setelah pidato tersebut, acara inti baru dimulai. Sudah mau jam sembilan malam. Larut sekali untuk sebuah acara utama yang dijadwalkan dua jam sebelumnya.

Para biksu memulai doa-doa dan ritual mengelilingi bangunan candi. Para penonton yang sudah berdesakan dekat panggung terdengar mengganggu jalannya ritual itu. Saya berada jauh di belakang. Hanya mendengar suara panitia lewat pengeras suara yang terus menerus memperingatkan penonton untuk memberi jalan pada para biksu yang hendak berjalan. Saya juga kurang tahu pasti mengapa sampai terdengar sebegitu kesalnya sang panitia itu. Mungkin para penonton sibuk mengambil foto-foto ritual hingga menghambat jalannya upacara.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Belum ada tanda-tanda ada pelepasan lentera. Lentera tersebut memang dijual. Jadi, boleh dibilang acara itu memang bisa diikuti oleh khalayak umum. Saya pribadi tak membeli. Hanya ingin melihat dari dekat peristiwa mengesankan yang biasanya hanya dinikmati lewat foto-foto. Pasti cantik ketika warna merah api dibalut kuning lentera. Setiap yang ikut menerbangkan lentera, simbol harapan mereka, ke udara bersama-sama. Memang sudah terbayang bagaimana harmoni harapan dalam sebuah ritual sederhana itu.

Namun apa mau di kata. Angan-angan melihat peristiwa itu hanya tetap menjadi angan-angan, kalau bukan angin-angin sebab tertiup udara malam yang cukup dingin malam itu. Saya mesti menyimpan lagi keinginan yang kalau dipikir-pikir, perlu perjuangan besar setelah seharian tadi menunggu. Nihil hasil. Yang ada hanya badan lelah, pakaian kuyup, dan perut lapar.

Kami memutuskan untuk pulang selepas pengumuman pembatalan itu. Dengan rasa kesal, saya turun mempercepat langkah karena hujan sepertinya akan turun lebih deras. Ingin cepat rasanya sampai ke kendaraan dan pulang. Memang sudah terlanjur malang, ketika sampai di kendaraan, kendaraan kami tak bisa berjalan karena tertutup mobil-mobil lain yang masih terparkir di depan. Mau tak mau, kami harus menunggu para pengunjung lain yang entah kapan akan kembali. Fyuh.

Sekecewa apa pun, saya memang harus menerima dengan lapang dada. Hujan tak pernah bisa diprediksi. Jika bagi kami, para pengunjung, hujan malam itu amat mengganggu, tidak dengan umat yang sedang khusyuk merayakan hari besarnya. Dari pengeras suara, seorang pemuka agama Budha menyatakan bahwa hujan malam itu justru menjadi berkah bagi semua.

Bagaimanapun, saya amat menyayangkan justru kehadiran kami yang berkunjung ke sana kerap mengganggu jalannya acara. Tak bisa digeneralisasi memang. Banyak juga pengunjung yang mengerti dan menaruh respek dalam jalannya acara. Mereka menjaga jarak dengan tempat upacara. Mengabadikan momen tanpa memaksakan diri hingga mengganggu ritual. Mereka sabar menunggu walau akhirnya tidak sesuai dengan harapan.

Tapi saya tak bisa memungkiri beberapa orang memang melewati batas. Selain tak menaruh respek, mereka juga seperti tak peduli dengan nilai-nilai toleransi sederhana. Dari awal, sudah diberitahukan bahwa dalam kompleks candi, mesti berpakaian sopan. Di dalam, banyak pula yang memakai hot pants, tank top, dan sejenisnya. Tak cukup, mereka berdiri di tempat-tempat yang tak pantas dan memotret dengan cara yang tidak etis, seperti mendekatkan kamera ke wajah biksu.

Bagi saya, pengunjung yang ingin menyaksikan ritual Waisak memang sudah selaiknya dibatasi. Bahkan, sejak beberapa bulan lalu, saya mesti mencari-cari informasi pendaftaran untuk ikut meliput dan mengikuti acara itu. Karena dalam persepsi saya, acara seperti ini pasti perlu ada birokrasi dan banyak sekali batasan. Ternyata, tak ada informasi sama sekali mengenai hal-hal tersebut hingga ketika sampai di loket tiket, saya disambut puluhan ribu orang yang akan masuk ke area candi.

Sepertinya pihak candi enggan melewatkan pemasukan besar hari itu hingga luput melihat potensi masalah yang semestinya bisa dicegah. Satu-satunya batasan adalah waktu. Di atas jam lima sore, loket tiket ditutup dan tak ada pengunjung lagi yang masuk. Sayangnya pada jam itu, mungkin lebih dari dua puluh ribu orang sudah berada di dalam kompleks candi.

Singkatnya, hanya ada dua pilihan untuk memperlakukan pengunjung: dibatasi atau tidak diperbolehkan sama sekali.

Lentera-lentera itu memang akhirnya tetap diterbangkan di keesokan harinya. Sepertinya, memang harapan-harapan yang terikat di dalamnya harus segera dilepas ke angkasa. Ditemani lantunan doa, barisan harapan itu tak akan pernah kesepian.

Menjadi pelajaran penting bagaimana lentera hanyalah sebuah simbol. Ia rapuh dan mudah jatuh. Tapi tidak dengan harapan. Harapan akan tetap hidup selama manusia masih memeliharanya. Ia bisa pudar, seringkali hilang, tapi dalam keyakinan, ia akan semakin menguat.

Memang lentera-lentera itu tertunda melangit. Namun, alangkah bijak seorang manusia yang tak pernah lelah berpikir bagaimana cara untuk terus melepaskan banyak harapan ke angkasa dan menjaganya tetap mengudara.

Advertisements