Di Balik Cerita Anak-Anak Angin

by Bayu Adi Persada

Kalau ditanya apa profesi yang paling menjelaskan diri, saya pasti akan meminta waktu untuk berpikir. Bukan tidak mungkin jawabannya pun tidak menjelaskan karena pada dasarnya, saya enggan membatasi diri. Begitu pula jika ditanyakan tentang kegiatan yang paling saya nikmati. Saya akan menjawab dengan amat beragam. Saya senang melakukan perjalanan, menulis, bermain sepak bola, menikmati film yang memacu kita berpikir dan menganalisa, dan entahlah kalau ini juga bisa dimasukkan, meramu solusi untuk memecahkan masalah.

Namun, saya selalu senang jika disebut pencerita. Ada perasaan tersendiri ketika melihat lawan bicara atau pembaca menikmati apa yang saya ceritakan. Tak banyak orang yang bisa bercerita dengan cara yang mengalun dan bisa dinikmati. Saya pun tak mau mengaku sudah menjadi pencerita yang baik. Klaim adalah pembatas diri. Saya ingin terus berusaha bercerita dengan cara-cara yang lebih baik.

Itulah sebabnya mengapa saya senang menulis. Saya menganggap bahwa sebuah tulisan adalah salah satu entitas paling dekat dengan keabadian. Dengan menulis, apa yang kita tuliskan akan abadi dan berlanjut. Cerita yang ada di dalamnya akan terus berjalan tanpa arah. Memang seharusnya begitu, tidak perlu ada arah. Ia bergerak beriringan dengan siapa yang membaca atau mendengarnya. Ketika seseorang itu menceritakannya pada orang lain, maka cerita itu kembali membelah diri dan memiliki indung baru lagi. Begitu seterusnya hingga sebuah cerita tak akan mati. Bayangkan jika cerita itu adalah cerita baik. Jejak kebaikan itu akan sepenuhnya abadi.

Atas alasan serupa, saya rajin menulis ketika masih menjadi seorang guru di sebuah desa kecil. Banyak hal yang saya lihat, rasakan, dan alami. Kesemuanya menjadi sebuah cerita yang saya pikir akan sia-sia jika tak pernah diceritakan. Atau hanya segelintir orang saja yang tahu.

Sudah banyak cerita tentang seorang pengajar muda dari Gerakan Indonesia Mengajar. Gerakan yang kini semakin meluas pengaruhnya. Suatu hal yang patut amat saya, sebagai orang yang pernah terlibat di dalamnya, syukuri. Saya bangga pernah menjadi bagian dari gerakan ini. Sekecil apa pun hal yang saya pernah lakukan di sana, rasa syukur itu tak pernah sedikitpun berkurang. Perasaan pernah jadi manfaat untuk orang lain tak akan pernah bisa dibeli.

Cerita saya tak berbeda. Mungkin membosankan bagi sebagian orang, mungkin juga bermanfaat bagi sebagian yang lain. Saya tak peduli. Yang saya pedulikan hanya bagaimana kisah ini bisa menjadi cerita yang diketahui semua orang. Dari awal bagaimana saya memutuskan untuk mendaftar hingga merasakan betul bagaimana rasanya dicintai masyarakat desa. Saat pertama datang, saya bukanlah siapa-siapa. Namun, setahun menjadikan kami sebagai saudara. Menjadi keluarga.

Awalnya saya tak menyangka bahwa sudah banyak sekali tulisan yang menceritakan apa yang dialami di desa pesisir itu. Kisah-kisah yang membesarkan hati, mengharukan diri, mengiris perasaan, mengancam jiwa, mendebarkan jantung, dan meninggikan mimpi. Kolase kisah itu membuat saya amat yakin bahwa setahun menjadi guru di sana adalah satu tahun terbaik dalam hidup saya hingga saat ini.

Ketika akhirnya tulisan-tulisan itu kembali dikumpulkan, dipertajam, dan diberi menang merah, saya menikmati setiap proses itu. Akhirnya, kumpulan tulisan itu kini menjadi sebuah buku. Buku yang diberi judul “Anak-Anak Angin”.

Cover Anak Anak Angin

Mengapa “Anak-Anak Angin”? Saya percaya bahwa kisah ini bukanlah tentang saya. Biarpun selalu ada ‘aku’ sebagai tokoh utama, semua yang saya lakukan di sana semata-mata untuk kebaikan semua anak didik, harapan terbesar saya. Setahun memang waktu yang tak lama. Tapi saya berharap setahun itu akan diingat oleh mereka, anak-anak dan masyarakat desa, dari detik perahu saya meninggalkan bibir pantai hingga seterusnya.

Angin menjadi elemen alam yang paling saya ingat saat di sana. Keberadaan rumah yang hanya dua puluh langkah dari bibir pantai membuat angin laut senantiasa terasa. Kadang, saya duduk di tepian pantai hanya untuk merasakan desiran angin laut. Efeknya terkadang tak tergantikan. Ia bisa menenangkan pikiran yang gundah atau bahkan memberi amunisi semangat baru. Entahlah, mungkin saya memang terikat dengan angin dalam nama.

‘Bayu’ berarti angin. Bapak memberi nama itu dengan harapan bahwa saya menjadi pribadi yang menenangkan. Berangkat dari tanah yang utama (Adi Persada) dan membawa kebaikan ke mana pun angin itu bergerak. Sebuah amanah yang besar dari nama sederhana itu.

Akhirnya, Anak-Anak Angin bukanlah sebuah semata-mata cerita tentang seorang guru. Ia bercerita tentang anak-anak di pelosok Indonesia yang juga pantas mendapatkan pendidikan yang layak dan setara. Mereka memiliki potensi yang bisa dibandingkan dengan anak-anak yang berada di kota-kota besar. Sungguh keterbatasan akses dan keterpencilan tidak membuat mereka inferior. Mereka justru akan mampu membuktikan diri jika saja kesempatan itu datang.

Melalui buku ini, saya ingin mengajak siapa pun yang peduli untuk sekecil apa pun ikut serta memajukan pendidikan Indonesia. Pendidikan yang merata masih menjadi mimpi untuk bangsa ini. Meskipun demikian, kita mesti yakin bahwa bangsa ini sedang berada di jalan yang benar untuk menuju ke sana. Perjalanan menuju mimpi itu sangat berat dan berliku. Oleh karenanya, peran serta kita amatlah penting untuk membantu negara melunasi janji kemerdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Mengakhiri tulisan ini, saya amat berterima kasih setulus-tulusnya jika Anda berkenan membaca buku ini dari awal hingga selesai. Mudah-mudahan hanya kebaikan yang Anda dapatkan. Tidak kurang. Saya mohon maaf jika ada hal yang kurang berkenan dalam buku tersebut. Sesungguhnya, tidak ada niat sedikitpun untuk menjelekkan satu pihak manapun di buku itu. Saya berharap baik buruk dari buku “Anak-Anak Angin” ini bisa menjadi manfaat bagi setiap orang yang membaca.

Sekali lagi, terima kasih untuk semua orang yang pernah mendoakan, mendukung, dan membantu saya menjalani satu tahun tak terlupakan itu. Dengan saya berbagi dalam buku ini, mudah-mudahan sudah menjadi satu wujud kecil terima kasih saya.

Salam,
Bayu

 

Catatan kecil.

Ada beberapa resensi tentang buku ‘Anak Anak Angin’. Terima kasih kembali untuk mereka yang berkenan menuliskan apa yang sudah didapatkan setelah membaca kisah sederhana ini.

Sahabat saya, Yunita Fransisca, menuliskannya di sini. Kemudian, ada cerita dari seorang yang baik hati bernama Anis di sini. Terakhir, ada resensi dari Koran Jakarta di sini

Advertisements