Catatan Perjalanan: Para Pencari Hidup di Kawah Ijen

by Bayu Adi Persada

 

Kabut tebal menyelimuti kawah sejak lewat waktu Subuh. Bau belerang sudah makin menyengat hingga menyesakkan paru-paru. Udara panas dari dasar kawah terasa sampai di jalur pendakian. Bagi sebagian orang, daerah sekitar kawah menjadi amat berbahaya. Namun bagi para penambang belerang, kawah Ijen menjadi tempat mereka menyambung hidup. Ironisnya, justru dengan cara menggadaikan nyawa.

———-

Suhartono (32) perlahan menaiki jalanan yang mendaki. Ia baru memulai aktifitas untuk menambang batu-batu belerang di dasar kawah. Dua keranjang dari bambu yang dipanggungnya belum berisi apa-apa membuatnya tak begitu kesulitan mencapai puncak.

“Nggak Mas, sudah terbiasa. Setiap hari saya begini,” begitu jawaban singkat yang menjelaskan dirinya sama sekali tak merasa sulit mendaki.

Ijen -10-k

Sudah 4 tahun ke belakang, bapak seorang anak perempuan ini bekerja sebagai penambang belerang di kawah Ijen. Sebuah pekerjaan sulit yang mesti ia jalani demi menghidupi keluarganya di kampung halaman di Bangkalan, Madura. Tak banyak modal yang ia punya. Tubuhnya yang kurus tak begitu mampu membantu untuk mengangkat puluhan kilo batu belerang di punggungnya setiap hari. Hanya keranjang bambu yang menjadi senjata utamanya. Mungkin satu-satunya sumber tenaga paling besar baginya ialah keberanian.

Setiap hari, ia mesti mengangkut minimal 75 kilogram belerang. Menuruni kawah berbatu hingga ke dasar lalu mendaki lagi ke pos penimbangan yang jaraknya tak kurang 1 jam perjalanan dari dasar kawah. Jika tubuhnya sedang fit, ia bahkan mampu membawa sampai 90-an kilogram.

Ironisnya, usaha yang amat beresiko ini tak dihargai dengan layak. Untuk satu kilogramnya, ia mendapat imbalan tak lebih dari 800 rupiah. Jadi setiap kali menambang, ia hanya mendapat upah sekitar 50 ribu rupiah. Demi mendapatkan upah lebih, ia dan para penambang lain rela mempertaruhkan nyawa sampai dua kali untuk menambang bebatuan di dasar kawah.

Perjalanan dari puncak menuju dasar kawah sangatlah sulit. Jalanannya berbatu dan licin. Mesti sangat berhati-hati jika tak ingin tergelincir. Belum lagi bau belerang pekat yang membuat dada sesak. Bagi orang yang tak biasa, udara bercampur belerang sangat menyakitkan mata. Apalagi penambang mesti membawa puluhan kilo batu belerang kembali ke puncak, tentu tak terbayang bagaimana sulitnya pekerjaan yang mereka lakukan.

Ijen -3-k

Para penambang tak memakai perlengkapan yang layak. Mereka menggunakan kain sarung atau selendang sebagai masker. Hanya sebagian saja yang memakai sepatu bot, sisanya sudah merasa nyaman dengan sandal jepit. Tak ada helm begitu juga sarung tangan dan kaca mata. Mereka benar-benar tidak sadar bahaya mengincar dari jarak dekat.

———-

Di perjalanan dari dasar kawah menuju puncak gunung, saya bertemu seorang mandor proyek dari pabrik yang berwenang pada kawasan penambangan tersebut.

Ia menegur saya dengan nada yang agak tinggi, “Kamu dari mana?! Di bawah itu sangat berbahaya!”

Saya tidak terlalu mempedulikannya dan berlalu begitu saja.

Dalam hati kecil, saya kecewa sekali dengan perlakuan mereka yang berwenang. Bukan karena teguran, tapi lebih kepada ketidakpeduliannya pada semua penambang belerang. Mandor itu memakai perlengkapan lengkap, mulai dari baju tambang, helm, kaca mata hitam, sarung tangan, masker berlapis, hingga sepatu bot. Mereka tahu betapa berbahaya berada di lingkungan kawah tapi mereka tak merasa perlu melengkapi penambang dengan perlengkapan yang sama.

Ijen -6-k

Saya masih tak percaya baru saja kembali dari dasar kawah. Tak banyak pengunjung yang mau sampai ke sana. Kalaupun ada, biasanya memang ketika hari masih sangat pagi, sebelum waktu Subuh, sekitar jam 3 atau 4. Di waktu-waktu tersebut, belum banyak kabut. Bau belerang pun tidak begitu terasa. Embun pagi mengikat aroma belerang yang bercampur di udara. Angin juga tak bertiup ke arah jalur pendakian sehingga cukup memberikan rasa aman bagi mereka yang ingin sampai ke lokasi utama penambangan.

Sampai di puncak sekitar jam 5 pagi membuat saya tak mendapat waktu yang tepat untuk sampai ke dasar kawah. Saya bertemu Pak Suhartono di perjalanan saat mendaki. Ia menawarkan diri untuk mengantar saya ke bawah.

Seorang pengunjung asal Surabaya menghampiri dan menyarankan saya untuk tidak turun.

“Mas sudah telat. Harusnya turun sejak Subuh tadi. Sekarang kabutnya sudah pekat dan bau belerangnya menyengat. Bahaya, Mas.”

Ia baru saja kembali dari lokasi penambangan. Memang sudah sejak Subuh tadi ia memulai perjalanan.

Saya jadi ragu untuk turun. Tapi di sisi lain dalam diri, ada keinginan kuat untuk sampai ke tempat para penambang menyambung hidup. Rasa penasaran itu terkadang bisa membunuh. Sebuah pepatah yang saya yakini benar adanya.

Pada satu titik, saya meyakinkan diri sendiri untuk berani menantang batas. Keputusan sudah bulat dan tak lagi bisa digugat. Dengan bantuan Pak Suhartono, saya menuruni perlahan jalanan terjal berbatu.

Hati-hati menjejak di bebatuan yang padat, saya beberapa kali luput menjaga keseimbangan. Untung saja ada Pak Har, panggilan beliau, yang sigap bereaksi pada saat-saat genting. Makin dekat ke kawah, semakin saya tak bisa melihat apa-apa dengan jelas. Kabut pekat menutupi pandangan. Masker dua lapis yang saya pakai tak juga banyak membantu. Bau belerang punya jalan-jalan sendiri untuk masuk ke saluran pernafasan saya.

Kaca mata tertutup serbuk belerang yang bertebaran di udara. Saya mesti menunduk untuk membersihkan lensanya. Sedikit saja mata terpapar udara, rasa pedih muncul dan menyiksa.

Keyakinan makin luntur seiring semakin dalam daerah kawah yang saya tapaki. Pak Har tak berhenti berjalan. Saya masih berusaha mengikutinya dengan keyakinan yang tersisa.

“Tunggu sebentar, Pak. Saya minum dulu.”
“Ini sudah sedikit lagi sampai ke dasar, Mas.”

Entah saya harus lega atau bagaimana. Saya merasa harus mampu menyelesaikan perjalanan ini sebisa mungkin.

Danau air tawar sudah terlihat. Dekat danau, ada mata air panas yang mengalirkan air langsung ke danau. Airnya beruap dan tak berhenti mengucur dari sumbernya.

“Airnya hangat di sini, Mas. Bisa dicoba,” kata Pak Har sambil mengambil air untuk mencuci tangannya.

Saya ikut mencoba. Mengambil air di atas telapak tangan kemudian mengusapkannya ke kulit. Kehangatan airnya seketika menjadi penawar keraguan saya.

Tidak cukup sekali, saya mengambil lagi air tersebut untuk membersihkan kotoran yang menempel di jaket. Dari sana, hanya tinggal beberapa langkah menuju lokasi utama penambangan belerang.

Saya cukup takjub melihat apa yang ada di hadapan. Ada enam tong besar dari seng yang tak berhenti mengeluarkan uap panas. Di bawah tong-tong besar itulah sumber belerang yang ada di kawah ini.

Ada tiga penambang yang sedang menghancurkan batu-batu belerang di sekitar lokasi. Mereka tak memakai masker. Satu di antaranya hanya menggunakan sendal jepit. Mereka tersenyum melihat kedatangan saya dan Pak Har. Akan tetapi, raut wajah mereka juga menyibak keterkejutan.

Salah satu penambang menghampiri dan bertanya dari mana saya berasal.

“Dari Jakarta, Pak,” saya menjawab singkat.

Ia kemudian kembali ke tempatnya semula dan mengambil batu belerang ukuran sedang dari dalam tong yang lain. Ia menggunakan parang kecil untuk mengukir batu tersebut. Tak berapa lama, ia selesai merapikan sebuah miniatur stalaktit dan memberikannya pada saya.

Ijen -7-k

“Buat kenang-kenangan, Mas,” ujarnya sambil tersenyum.
“Terima kasih banyak Pak. Hati-hati Pak kerjanya.”

Saya memberikan uang sekedarnya sebagai ucapan terima kasih.

Tak lebih dari lima menit saya berada di dasar kawah. Saya tak kuat lagi berlama-lama di sana. Udara di sekitar yang panas membuat saya sangat tidak nyaman. Lalu, saya mengajak Pak Har untuk kembali ke puncak. Perjalanan mendaki tak lebih mudah dari perjalanan turun.

Namun, saya punya bekal keyakinan yang sudah kembali penuh. Saya berhasil mengalahkan ketakutan diri hingga kini tahu benar pekerjaan yang para penambang itu jalani di sini.

———-

Ijen -8-k

Kehidupan Pak Suhartono dan para penambang lain adalah sebuah kisah megah tentang perjuangan. Perjuangan yang bagi mereka amatlah biasa. Tapi untuk saya, dan mungkin juga orang lain, sangatlah mulia dan mengagumkan.

Bagi para penambang belerang di kawah Ijen, bahaya bukanlah momok yang menakutkan. Ia dekat dengan pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka sadar itu. Sebahaya apa pun, mereka menganggap itulah hidup yang mesti mereka jalani dengan setulus hati. Demi sebuah tujuan yang lebih besar, untuk masa depan keluarga dan anak-anaknya.

Advertisements