Catatan Perjalanan: Tersesat di Tanah Baduy

by Bayu Adi Persada

Keputusan meninggalkan rombongan sendiri untuk mengejar rombongan depan ternyata mendatangkan potensi masalah. Usaha mengejar rombongan depan pun terhenti sejenak di sebuah jalan yang bercabang dua. Hanya ada saya di dalam hutan saat itu. Tidak ada rumah penduduk atau penduduk lokal yang sekedar melintas. Enggan pula menunggu, saya memilih jalur ke kanan. Ternyata dekat dari percabangan itu, saya menemukan sebuah perkampungan. Hati cukup lega.

Namun, setelah menunggu satu jam lebih, tak ada rombongan yang lewat di tempat saya menunggu. Padahal jarak saya dengan rombongan di belakang tak lebih dari lima belas menit jalan kaki. Saya jadi yakin telah mengambil jalan yang salah. Saya sudah tersesat. Untung saja saya tidak sendiri karena seorang bapak menyapa lalu mengajak saya singgah di rumahnya. Saya tidak menyangka justru dari ketersesatan itulah, saya merasakan pengalaman menarik dalam sebuah perjalanan ke perkampungan Suku Baduy.

Kampung Suku Baduy memang bisa dijadikan alternatif tujuan di kala akhir minggu tiba. Jarak yang tidak terlalu jauh dari Jakarta dan durasi perjalanan yang tidak lama, sehari menginap cukup, menambah daya tarik Baduy sebagai lokasi untuk menuntaskan hasrat berpetualang sekaligus melepas penat setelah seminggu penuh beraktifitas.

Dengan ongkos hanya empat ribu rupiah, kami memulai perjalanan dengan menggunakan jasa kereta api ekonomi dari stasiun Tanah Abang menuju stasiun Rangkas di Provinsi Banten. Kami cukup beruntung karena kereta api yang digunakan ternyata masih baru dan dilengkapi pendingin udara. Awalnya saya merasa amat heran mendapat fasilitas ini dengan harga sangat murah. Ternyata kereta ini hanya digunakan sebagai uji coba sementara. Apapun, perjalanan selama dua jam ke Rangkas menjadi amat nyaman.

Baduy (LR) (5 of 15)

Jembatan bambu di Baduy Luar

Berjalan sedikit keluar stasiun, kami menaiki mobil elf yang akan mengantarkan kami ke Ciboleger, desa terdekat dari perkampungan Baduy. Biasanya memang para pejalan yang ingin masuk ke Baduy, baiknya berhenti di desa itu untuk mempersiapkan diri sebelum mulai berjalan kaki selama kurang lebih empat sampai lima jam sampai ke Baduy Dalam.

Untuk mencapai Baduy Dalam, fisik memang harus kuat berjalan selama itu dengan melintasi trek yang beragam. Meski begitu, sepanjang perjalanan saya tak pernah merasa bosan karena selalu bertemu hal-hal yang menarik. Tak lama berjalan, saya sudah sampai ke perkampungan warga Baduy Luar. Memang ada beberapa kampung Baduy Luar di sekitar tanah leluhur Suku Baduy. Banyak jalan setapak landai, jembatan-jembatan kayu yang fotogenik, dan lumbung-lumbung padi warga Baduy yang disusun bertingkat.

Terlepas dari rombongan, saya memutuskan masuk ke sebuah perkampungan kecil. Di sebuah perkampungan yang kali itu tak berpenghuni, saya duduk di sebuah rumah di ujung kampung. Menunggu rombongan yang tak kunjung lewat, saya ingin melanjutkan perjalanan sendiri menuju Baduy Dalam. Ketika ingin melangkah maju, tiba-tiba seorang bapak menyapa saya dengan bahasa Sunda halus, “Mau ke mana?” “Ke Baduy Dalam Pak,” jawab saya singkat.

Baduy (LR) (6 of 15)

Kehidupan sederhana keluarga Baduy Luar

Mendengar jawaban itu, sang bapak mengerutkan wajahnya seperti ada yang dia khawatirkan. “Jangan dulu pergi, sebentar lagi hujan deras,” jelasnya. Saya mengangguk. Lalu bapak yang baru kembali dari kebun ini menawarkan saya untuk sekedar beristirahat di rumahnya. Tanpa pikir panjang, saya langsung naik ke teras depan rumah panggungnya.

Pak Dalis, begitu namanya ketika kami saling memperkenalkan diri, meminta istrinya untuk membuatkan kopi dan menyediakan segelas air putih. Kopi memang selalu bisa menjadi sahabat ngobrol yang menyenangkan. Dari kopi, kami saling bercerita banyak hal. Meski Pak Dalis tidak selalu mengerti bahasa Indonesia yang saya gunakan, ia bisa menangkap garis besar pembicaraan saya. Saya jadi menyesal karena tak pernah lancar berbahasa Sunda meski pernah tinggal di Bandung lima tahun.

Benar saja, hujan turun dengan derasnya ketika kami baru mengobrol sebentar. Andai saja tadi saya memutuskan pergi sendiri, tak terbayang apa jadinya sendirian di tengah hutan dan kuyup karena hujan deras. Saya mengeluarkan sebungkus biskuit untuk dimakan bersama Pak Dalis dan kedua anaknya. Anak perempuan pertamanya sudah berumur sepuluh tahun sedang si laki-laki bungsu baru menjalani tahun kedua hidupnya.

Baduy (LR) (10 of 15)

Pak Dalis dan kedua anaknya

Anak bungsunya walau awalnya malu-malu, lama kelamaan jadi terbiasa dengan saya hingga tak ragu lagi mengambil biskuit yang saya tawarkan. Yang unik, anak perempuan pertamanya juga diberi nama Dalis. Menurut Pak Dalis, sudah menjadi budaya bagi warga Suku Baduy menamakan anak pertama dengan nama bapaknya, tidak peduli laki-laki atau perempuan.

Meski menganut aturan adat yang cukup ketat, warga Baduy Luar cukup terbuka dengan perubahan dan modernitas. Meskipun hidup amat sederhana, Pak Dalis bahkan sudah memiliki telepon genggam. Ia bercerita dulu sudah ada beberapa orang dari Jakarta yang tinggal di rumahnya. Dari mereka, Pak Dalis diminta menggunakan telepon genggam untuk saling berkabar dan menjaga silaturahmi. Selain itu, Pak Dalis juga kerap pergi ke Jakarta untuk mengantarkan barang jualannya, seperti madu dan kain tenun. Saya pun tak ragu menuliskan telepon dan alamat tempat tinggal saya di buku kecil miliknya. Ia memang masih terbata-bata dalam membaca namun cukup mengerti huruf-huruf balok.

Tertarik karena melihat spanduk seorang calon walikota yang terpaku di pohon depan rumahnya, saya menanyakan apakah dirinya pernah mencoblos di Pemilu. “Tidak,” jawabnya singkat. Ia mengutarakan dirinya tak memiliki KTP. Meski begitu, ia mau memilih asalkan diperbolehkan.

Obrolan berlanjut tentang Indonesia, negeri tempat ia dilahirkan meski ia tak begitu mengenalnya. Entah ini aneh atau tidak, Pak Dalis tidak mengenal presidennya. “S … D.. siapa ya. Tidak tahu,” balasnya sambil tertawa kecil. “SBY, Pak. Susilo Bambang Yudhoyono,” jelas saya. “Nama presiden saja tidak tahu, bagaimana lagu Indonesia Raya,” pikir saya dalam hati. Karena kebetulan beberapa hari sebelumnya saya baru saja nonton pertandingan Indonesia melawan Belanda di GBK, saya memperdengarkan lagu Indonesia Raya pada Pak Dalis dan anak pertamanya. “Pernah dengar,” katanya.

Saya mencoba mengajarkan lagu itu pada bapak dan anak ini. Dalis, si anak, hanya tertawa saja mendengarkan lagu sambil menonton video merahnya GBK waktu itu. Pak Dalis lalu bercerita bahwa anaknya tidak akan sekolah karena tuntutan adat. Pikir saya, Baduy Luar memiliki aturan yang sedikit longgar tentang sekolah. Ternyata saya salah. Sambil bercerita pendek, saya menunjukkan foto-foto anak-anak sekolah dasar di kota-kota besar. Siapa tahu suatu saat ada nasib yang berbeda untuk generasi penerus keluarga Dalis ini.

Kami mengobrol sampai lupa waktu. Tak terasa hari sudah mulai gelap. Suara binatang malam sudah mulai ramai bersahutan. Pak Dalis memang sudah mengijinkan saya menginap dari obrolan sore tadi. Saya pun tidak menolak. Kebetulan saya masih membawa dua kaleng sarden untuk dibuat makan malam dan sarapan esok hari.

Malam sudah menjelang. Sambil makan malam, Pak Dalis kembali bercerita tentang nilai-nilai yang mereka pegang di Baduy. Ia menjelaskan aturan di Baduy Dalam amatlah ketat. Beberapa aturan misalnya tidak boleh memakai alas kaki, pakaian hanya boleh berwarna putih atau hitam, tidak boleh memakai sabun, tidak boleh memotret, dan tidak boleh menggunakan kendaraan. Saya jadi tidak heran ketika mendengar banyak warga Baduy Dalam yang pergi ke Jakarta, menuju alamat pengunjung yang baru dikenalnya, dengan berjalan tanpa alas kaki berhari-hari.

Jika ada orang Baduy Dalam yang melanggar, maka ia akan dikeluarkan ke Baduy Luar untuk waktu tertentu sebelum diijinkan masuk kembali. Bagi orang Baduy Dalam yang tidak ingin mengikuti aturan adat yang terlalu ketat, mereka bisa memilih menetap sebagai Baduy Luar atau bahkan, keluar dari perkampungan Baduy.

Baduy (LR) (11 of 15)

Istri Pak Dalis memasak di dapur

Menu makan malam kami sangat sederhana. Selain dari sarden yang kami makan bersama, ada sayur kacang-kacangan dan ikan-ikan kecil yang diambil dari sungai belakang rumah. Menu makan mereka selalu seperti ini setiap hari. Sekali waktu, mereka bisa makan ayam jika ada acara adat.

Hari semakin larut dan saya pun tak enak hati mengajak Pak Dalis mengobrol terus. Saya menyudahi perbincangan hangat kami dengan meminta bantuannya untuk mengantarkan saya ke Baduy Dalam keesokan pagi. Ia mengiyakan. Saya pun beranjak mempersiapkan tikar dan bantal yang akan dipakai tidur. Keheningan malam dan lelah setelah seharian tadi membuat saya cepat terlelap.

Saya cukup beruntung tinggal di perkampungan Baduy Luar sehingga tidak harus buang air dan mandi di sungai. Di belakang rumah Pak Dalis sudah tersedia kamar mandi. Meski hanya berpenghalang kain terpal, kamar mandi ini tentu lebih baik daripada sungai yang tak berpenghalang sama sekali. Air sungai yang dialirkan untuk mandi menyegarkan raga. Lebih penting lagi, saya diperbolehkan memakai sabun di sini.

Seusai mandi, saya berkeliling perkampungan untuk mengabadikan kehidupan mereka di pagi hari. Ini keberuntungan saya berikutnya karena kamera bukan sesuatu yang haram di Baduy Luar. Kehidupan masyarakat yang bersahaja di tengah kesejukan udara, harum dedaunan, dan harmoni suara kicau burung dan kokok ayam benar-benar menghipnotis diri menikmati pengalaman langka ini.

Di teras-teras rumah mereka, hampir selalu ada alat tenun untuk membuat kain-kain motif khas Baduy yang unik. Semakin rumit motif dan tebal kain, semakin mahal harganya. Sebagian besar selendang bisa didapatkan dengan harga tiga puluh ribu, belum ditawar. Untuk kain panjang berukuran tiga meter, harganya bisa mencapai dua ratus ribu. Benang yang mereka gunakan untuk menenun biasanya dibeli dari kota atau desa tetangga, seperti Ciboleger.

Beberapa warga menyimpan hasil tani mereka di depan rumah sebelum dimasukkan ke lumbung miliknya. Orang Baduy sangat mematuhi aturan adat dalam bertani, misalnya selalu ada ritual sebelum tanam dan sesudah panen. Setelah menebang pohon, mereka diwajibkan menanam bibit pohon baru lagi untuk menjaga kelestarian hutan.

Menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, orang Baduy memang tidak secara spesifik menyembah Tuhan. Saya juga tidak dapat banyak mencari tahu. Setidaknya mereka percaya bahwa alam ini ada yang menciptakan untuk mereka manfaatkan. Pak Dalis yang notabene adalah tokoh masyrakat untuk urusan kerukunan warga tidak bisa juga menjelaskan secara detil kepercayaan mereka. Yang Pak Dalis tahu, kepercayaan itu diturunkan dari nenek moyang. Ia dan mungkin orang Baduy lain, enggan mempertanyakan asal usul dan sebab dari kepercayaannya itu.

Sinar matahari sudah mulai terang seiring kabut yang semakin hilang. Saya harus segera berangkat ke Baduy Dalam menemui rombongan. Ditemani Pak Dalis dengan atribut khasnya, bandana batik berwarna biru khas Baduy Luar dan pakaian hitam-hitam tanpa alas kaki, kami melintasi dua tiga pemukiman kecil warga Baduy sepanjang perjalanan. Tak lama selepas tanjakan curam dekat jembatan bambu, kami baru saja masuk daerah Baduy Dalam. Pak Dalis memperingatkan untuk mematuhi aturan adat di sini. Saya mengangguk. Kamera lantas disimpan ke dalam tas.

Satu setengah jam kami berjalan. Terhitung cukup cepat karena saya mesti mengikuti Pak Dalis yang cukup tangkas menelusuri hutan rimba. Sampai ke Baduy Dalam sekitar pukul sembilan pagi, saya bertemu kembali rombongan yang sudah khawatir dengan keberadaan saya sejak kemarin. Saya meminta maaf karena sudah merepotkan sambil tak lupa tersenyum untuk menghangatkan suasana.

Sekilas memperhatikan kondisi perkampungan Baduy Dalam ini, saya tidak begitu menemukan perbedaan yang kentara dengan Baduy Luar. Rumah panggung berjejer saling berhadapan. Hanya atribut yang mereka kenakanlah yang menjadi pembeda. Di satu sudut kampung, ada sebuah bangunan besar seperti paguyuban. Mungkin untuk acara adat. Terlihat dua puluhan orang sedang duduk di pelatarannya dengan pakaian putih dan bandana putih. Ah, andai saja saya bisa mengambil gambar.

Tak lama, kami pun menyudahi perjalanan. Saya berpamitan pada Pak Dalis sambil menitip salam untuk keluarganya. Saya menunggunya di Jakarta suatu saat. Ia berjanji akan berkunjung dengan membawakan madu. Tentu saja tidak dengan gratis. Mudah-mudahan sedikit banyak saya bisa membantu ekonomi keluarganya dengan membeli barang dagangannya.

Kali pertama dalam hidup tinggal sendiri di rumah seorang Baduy memberikan saya banyak pelajaran. Saya semakin menyadari bahwa arif terhadap alam hanya akan mendatangkan hal-hal yang baik. Seperti orang Baduy yang yakin tentang keberadaan mereka di alam adalah sebuah amanah. Mereka harus menjaga dengan aturan adat untuk mempertahankan alam itu hingga bisa terus dimanfaatkan sampai ke keturunan selanjutnya.

Baduy (LR) (4 of 15)

Aktifitas keseharian ibu-ibu, merajut kain

Bagi orang luar seperti saya, mungkin peraturan adat Suku Baduy terkesan amat aneh dan kuno. Orang Baduy Luar enggan terlalu banyak menerima perubahan dan modernitas. Bahkan modernitas amat terlarang bagi orang Baduy Dalam. Namun bagi Suku Baduy, aturan adat itulah pedoman hidup yang telah diajarkan turun temurun. Mereka percaya peraturan adat akan menjaga mereka demi sebuah tujuan besar tentang keberlangsungan hidup dalam ketenangan dan kesederhanaan di alam.