Sajak Pencinta Sajadah

Saya sejenak terpikir.
Betapa tenang hati seorang hamba yang bisa bergantung pada penciptanya.
Bergantung sebenar-benarnya berpegang erat. Tanpa bermusim.

Saya merasa masih jauh dari sifat seorang hamba yang sedemikian.
Meski setiap harinya, saya mencoba belajar. Belajar untuk terus mengingat.
Mengingat untuk tidak mempertanyakan mengapa kesusahan itu menimpa.
Seperti juga ketika saya tidak pernah bertanya mengapa diberi kebahagiaan.

Tuhan, jadikan hatiku sekuat hati seorang satpam
Yang setia menjaga mobil orang lain
Tanpa pernah berpikir kapan dapat memiliki mobil seperti mereka

Tuhan, jadikan hatiku sebesar hati seorang pekerja bangungan
Yang memeras peluh untuk membuat istana orang lain
Tanpa pernah bertanya kapan istana semegah itu bisa dia miliki 

Tuhan, jadikan hatiku sebersih hati seorang tukang sol sepatu
Yang tulus membenarkan sepatu rusak
Tanpa peduli dia tak akan mendapat panggilan dari sang pemilik sepatu lagi
Karena sepatunya kini sudah baik kembali

Tuhan, jadikanlah hatiku setinggi seorang tukang bersih-bersih di kantor
Yang mau membersihkan sisa-sisa dari yang kami buang
Tanpa enggan tersenyum sekeluarnya dari kamar mandi yang bau

Tuhan, jadikanlah hatiku semurni seorang mualaf
Yang mau meninggalkan ego lamanya
Tanpa menoleh lagi ke belakang dan terus menjalani hidup yang baru

Tuhan, jadikanlah hatiku sedekat dekat seperti hati Rasul
Biarpun hanya seperjuta
Atau pun sepermiliarnya
Jadikanlah hatiku memiliki jejak, biarpun teramat sedikit, jejak hatinya
Yang besar dalam kesederhanaan
Yang mulia dalam keterbatasan
Yang tulus dalam kesempitan

Amin