Hubungan Intim

by Bayu Adi Persada

11 November 2010

Kalau Anda mencari istilah di atas di Google dan mendapatkan artikel ini, sangat mungkin artikel ini tidak sesuai dengan perkiraan Anda. Kalau Anda mengira tulisan ini akan mengulas tentang hubungan manusia dengan manusia, Anda sangat mungkin juga salah. Jika Anda mengira ini adalah tulisan stensilan, sebaiknya Anda segera menutup tab ini dan beralih ke situs yang lebih terkenal, seperti … … (isi sendiri).

Akan tetapi, jika Anda mengartikan hubungan intim dalam arti yang sangat luas, baca dua paragraf pertama. Lalu, jika Anda merasa bosan, tutup tab ini. Mungkin Anda memang sedang mencari stensilan. Jangan dianggap serius, ah. Bercanda.

Saya merasa harus menceritakan hal ini. Saya cukup yakin tak banyak orang yang pernah merasakan ini, berhubungan intim dengan salah satu karya besar Tuhan, alam. Alam berarti luas. Anda bisa maknai alam itu sebebas apa yang Anda mau. Udara, air, pohon, rumput, kodok, jangkrik, cacing tanah, daun, spora, atau mikroba. Apa saja.

Buat saya, alam adalah tempat kita hidup dan segala isinya. Semua tempat, literally. Tapi saya tak akan mau menganggap kota itu adalah alam. Alam adalah tempat di mana kita bisa memaknai lebih dalam segala hal yang Tuhan ciptakan. Lebih tepatnya, merasakan. Kota bukan salah satu tempatnya. Apalagi Jakarta!

Minggu terakhir pelatihan Indonesia Mengajar serasa memuncak. Memuncak dalam arti tersirat dan tersurat. Batas-batas kemampuan kami benar-benar diuji. Diuji dengan cara yang sangat berbeda. Bermalam dua hari dua malam di Gunung Bunder, lereng Gunung Salak. Kalau Anda berpikir kami berkemah, saya juga tak tahu pasti apakah tidur di bawah ponco yang diikat dengan bambu bisa disebut kemah.

Survival in the jungle. Itu judul besarnya. Bertahan di hutan selama dua hari dengan sumber daya yang terbatas. Bahan makanan, tempat untuk buang air, dan tempat untuk bersih-bersih semuanya harus dilakukan menyatu dengan alam. Memang sih, kami dibekali juga sedikit bahan makanan oleh pelatih, para anggota TNI.

Pelatihan survival ini terselenggara dengan bantuan TNI AD, RINDAM (Resimen Induk Kodam) lebih tepatnya. Lima puluh satu orang Pengajar Muda dibagi menjadi 25 kelompok, dua orang satu kelompok dan ada satu kelompok yang berisi tiga orang. Pemilihan kelompok hanya didasarkan pada feeling Kapten Nurharmanto, penanggung jawab pelatihan. Beliau tidak mengenal kami satu per satu dan tidak mengetahui kemampuan fisik atau pengalaman di alam masing-masing orang. Ajaibnya, setiap kelompok pilihan beliau seringkali cocok. It’s true, experience makes you wiser and helps you making wise decisions.

Mansyur,pemuda asal Jombang yang memang tidak terlalu saya kenal baik walaupun kami tinggal satu kamar asrama, menjadi partner saya dalam survival kali ini. Bukan berarti saya tidak senang dengan pilihan Kapten Nurharmanto. Buat saya, ini menjadi ajang mengenal lebih baik Mansyur Ridho, pemuda yang dalam pengamatan saya, selalu ceria dan percaya diri di balik kulitnya yang agak legam. No offense, Syur. We’re partner, right? *grin

Kami berangkat dari markas RINDAM JAYA di Jakarta dengan truk tronton TNI. Kali pertama naik truk tronton super besar ini juga jadi pengalaman baru untuk saya dan pasti sebagian besar teman yang lain juga. Dengan peralatan lengkap, kami menyisir kemacetan ibu kota. Anda tak mungkin berharap jalan akan lengang pada Selasa pagi hari.

Di atas kursi kayu yang hampir patah, kami duduk. Jika melewati jalan yang bergelombang, akan terasa efek getarnya di bagian bawah (baca: pantat). Terima saja, this is the best we could get, right? If we can’t bear this broken seat then I’m not sure we can survive two days in the jungle! Sudah terasa aroma survival di atas truk ini. Daripada mabok darat, lebih baik tidur saja deh.

Setelah tiga jam perjalanan dari Jakarta, kami sampai juga di lokasi Gunung Bundar, Kabupaten Bogor. Masih banyak yang bermuka bantal dan kami mesti mengumpulkan energi kembali untuk perjalanan yang sesungguhnya hari ini.

Siang hari itu, kawasan Gunung Bundar diguyur hujan deras. Kami sedang berkumpul di lereng bukit untuk mengikuti briefing dari Pak Tajan. Pak Tajan ini adalah seorang anggota TNI yang menjadikan alam sebagai rumah keduanya. Beliau mengetahui seluk beluk isi hutan, mulai dari tanaman yang bisa dimakan, tamaman beracun, dan semua binatang yang ada di dalamnya. Makanya, bukan tanpa alasan, beliau kerap dijuluki Tarzan, dari plesetan namanya. Saya kira memang beliau lebih pantas dipanggil dengan julukan tersebut, Tarzan si raja hutan, daripada namanya sendiri. Ini toh pasangan Jane di belantara. Ah, melantur.

Kami belajar banyak dari beliau tentang bagaimana hidup di alam yang sesungguhnya. Bagaimana memilah dan memilih tanaman mana saja yang bisa dimanfaatkan ketika kami lapar dan tanaman yang mesti dihindari karena kalau sampai dimakan, kita mungkin akan terbangun di dunia yang lain. Di sesi terakhir briefing siang itu, beliau menunjukkan hasil tangkapannya, seekor ular sanca kembang dan tiga ekor ular kobra. Sakit! Tak berhenti sampai di situ, beliau juga tak lupa memberikan kami snack penutup. Daging ular! Tambah sakit. Walau ketika dirasa, tak jauh berbeda dengan ayam, tetap saja membayangkannya membuat risih.

Akhirnya kami disebar ke beberapa titik di hutan. Saya dan Mansyur mendapatkan sebuah lokasi kecil di lereng hutan. Tempat kami tak akan terlihat dari jalan setapak. Harus keluar dari jalan setapak, menuruni lereng kecil untuk sampai ke lokasi kami. Dari awal, tempat ini memang sama sekali tak layak untuk dipasangi tenda. Masih banyak semak belukar dan ranting-ranting bertebaran di sekitar tempat tersebut.

Kami mulai membabat sedikit demi sedikit semak dan ranting. Agar terlihat lapang dan layak pasang tenda tentu saja. Mulai merancang bagaimana bangunan tenda sebaiknya didirikan. Maklum, tali yang kami punya juga terbatas dan ponco yang akan dipakai juga tidak terlalu besar. Perhitungan mantap diperlukan untuk efisiensi dan efektifitas tempat. Dasar anak teknik! Eh, kebetulan sekali, Mansyur sudah cukup berpengalaman dalam memasang tenda dan bermalam di hutan berkat keikutsertaannya di Pramuka ketika SMA dulu. Lumayan!

Hari semakin gelap dan kami belum selesai memasang tenda. Tak terbayang harus memasang tenda ketika hari gelap. Bisa-bisa kita akan bermalam beratapkan bintang dan daun-daun. Saya dan Mansyur punya pemikiran masing-masing akan bagaimana tenda ini sebaiknya didirikan. Berhubung saya yang kurang berpengalaman, saya ikut saja ide Mansyur. Bisa tidur beratapkan ponco itu juga sudah lumayan, pikir saya.

Akhirnya tenda sederhana kami berhasil didirikan. Dengan warna biru kehijau-hijauan dari ponco kami, tenda terlihat cukup lucu. Beberapa teman yang melintas memberikan predikat the cutest tent in the jungle untuk tenda mungil ini. Kemudian, kami bergegas mencari sumber air untuk persiapan wudhu, bersih-bersih, dan mungkin juga untuk minum. Kata para pelatih, air di kali kecil ini cukup jernih dan bisa langsung diminum. Jikalau mau saja. Resiko ditanggung sendiri.

Kami mulai melihat tenda-tenda teman yang lain. Ada yang minimalis, agak modern, bahkan ada yang amat sangat sederhana sekali sehingga tak layak huni. Kami cukup bersyukur bisa punya tenda yang nyaman untuk tidur. Syarat minimal sebuah tenda, menurut saya.

Jalanan masih becek akibat diguyur hujan deras tadi siang. Matahari sudah mulai beranjak pergi untuk berpamitan. Hari mulai gelap dan binatang-binatang hutan sudah mulai banyak yang bersuara. Saya dan Mansyur beranjak kembali ke tenda setelah mengambil air yang dirasa cukup untuk dipakai hingga Subuh nanti. Bahan makanan juga masih sedikit tersisa. Kami memang dibekali makanan yang terbatas dari para pelatih. Maklum lagi, kebanyakan kami masih amatir tentang bagaimana hidup di hutan.

Oh, I forgot to tell you. Sebenarnya, kami dibekali bahan makanan yang cukup untuk bermalam 2 hari. 2 liter beras, 3 bungkus mie, gula merah, garam, sambal kacang, dan ikan teri. Namun, instruksi Pak Tajan sebelum penempatan lokasi tenda adalah memasak makan siang dengan menggunakan semua bahan makanan. “Tak ada yang disisakan!”, begitu kata Pak Tajan. Saya dan Mansyur termasuk orang yang polos saja. Akhirnya, sebagian besar bahan makanan kami habiskan untuk makan siang. Padahal, tadinya kami sudah merencanakan penggunaan bahan makanan tersebut untuk dua hari ke depan. Ampas.

Selepas melaksanakan shalat jama Maghrib dan Isya, kami memutuskan tidak memasak makan malam. Berhubung sudah 2 bungkus mie, 1 liter nasi, dan ikan teri yang kami habiskan, kami harus mulai memikirkan makanan esok hari. Perut pun masih bisa diajak kompromi. Masih agak kenyang. Memang, kami masih bisa mencari umbi atau daun-daunan. Namun, hari yang gelap menjadi halangan utama. Ditambah kondisi fisik yang juga sudah terkuras. Jadilah kami menghabiskan waktu mengobrol sambil berbaring, mencoba spring bed alami.

Kami mulai bercerita banyak hal, sesuatu yang amat jarang kami lakukan sebelumya di kamp pelatihan. Saya dan Mansyur selalu berbeda kelompok, baik kelompok besar, kecil, maupun spontan pada setiap sesi pelatihan. Kalaupun di kamar asrama yang berisi 13 orang, saya lebih sering melihat Mansyur sudah tertidur. Ya sudahlah, everything happens for a reason, kami jadi bisa mengenal satu sama lain lebih baik.

Mansyur ini ternyata anak yang luar biasa. Anak ke 8 dari 9 bersaudara ini memiliki banyak pencapaian. Dia sering sekali mendapatkan beasiswa dari pemerintah lokal maupun perusahaan. Dia adalah lulusan terbaik Sosiologi Universitas Indonesia tahun 2010. Belum cukup, ternyata di luar sana, Mansyur sudah ‘dipesan’ oleh tiga orang wanita. Namun, Mansyur berprinsip untuk melakukan ta’aruf sebelum menikah. Good man with principle is a great man indeed.

Tidur saya tak begitu nyenyak. Seringkali terbangun di tengah gelap gulitanya hutan. Orkestra hutan tak mau berhenti menghibur kami. Kadang ditambah suara angin yang bergemuruh seperti badai. Semakin malam, udara semakin dingin. Kupluk dan sarung tangan sedikit cukup sebagai penawar tapi tidak bagi kaos kaki agak basah yang saya tetap pakai. Daripada tidak sama sekali, kan. Setiap kali terbangun, selalu melihat jam, ternyata hanya berselisih 1 jam dari saat terbangun terakhir. Time moves slower, really. Oh why oh why. Punggung masih terasa sakit namun harus dipaksakan berbaring. Permukaan tanah ini tidak begitu rata, masih ada ranting yang tertanam di tanah.

Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Subuh sudah menjelang. Kami segera bangun dan berwudhu dengan air yang sudah kami tampung di botol. Harus menarik ponco sebagai alas tidur untuk dijadikan alas solat. Setelah solat, saya enggan untuk tidur lagi dan mengajak Mansyur untuk memasak sarapan saja.

Kami segera menyiapkan kompor dan bisting (rantang ala tentara). Saya merasa seperti jadi pejuang jika makan dari rantang ini. Ini persis seperti yang saya lihat di serial The Pacific atau Band of Brothers. Ah, siap Jendral! Pagi itu, kami memasak menu spesial, bubur saus gula merah. Terdengar resep ala Farah Quinn ya? Pret. Walaupun buburnya tidak begitu lunak, itu adalah bubur gula merah terenak yang pernah saya makan. Mungkin karena situasi yang mendukung.

Agenda ‘berburu’ dilakukan saat hari menjelang siang. Saya bersama teman-teman lain yang bertenda di atas mencoba mencari umbi dan daun-daun yang bisa dimakan. Kebetulan, tenda antar kelompok tidak ditempatkan begitu berjauhan. Lumayan dapat terjangkau.

I give bad introduction to my new shoes about nature in a whole. Kebetulan, saya baru saja memberi sepatu adventure dan langsung memakainya di jungle survival. Walaupun sangat membantu, namun sepatu harus berkorban besar karena medan yang berat. Jadi berubah warna, berbau, dan penuh lumpur. Poor new shoes.

Siang itu hujan turun deras. Kami memang sudah memperbaiki tenda dengan mengubah arsitekturnya dan menambahkan banyak ornamen daun-daun besar di sekitar tenda untuk mencegah air masuk. Tenda kami langsung mendapatkan tantangan. Tantangan yang levelnya berkali-kali lipat dari biasanya.

Kami memaksakan untuk tidur di guyuran hujan ini. Bersyukur sekali rasanya, di bawah tenda sederhana ini, kami bisa terlindung. Alhamdulillah. Tapi tak berselang lama, saya terbangun. Roger roger! Tenda bocor! Sepertinya ponconya terlalu ditarik atau terkena benda tajam sehingga ada bekas goresan yang cukup panjang tepat di atas badan saya. Sial.

Mencoba memperbaiki dengan cara instan, menempelkan double-tape tapi hasilnya sia-sia saja. Air tetap masuk dan menetes. Tak putus asa, saya mencoba terus menempel hingga berlapis-lapis. Tetesan air pun bisa diminimalisir. Lumayan untuk menambah jam tidur.

Sore itu tiba-tiba Kapten Nurharmanto datang ke tenda kami. Beliau berkata, “Kami akan beri tambahan bahan makanan. Tukarkan dengan lima tanaman yang bisa dimakan.” Seperti undian berhadiah saja. Well, it’s very good news! “Akhirnya, malam ini kita tak makan umbi dan daun,” kata hati kecil saya.

Saling bertukar tanaman dan umbi dengan teman, saya dan Mansyur sudah punya lima jenis tanaman berbeda untuk ditukarkan dengan mie instan dan nasi! Hore! Makan tuh umbi rasa Rhemason dan daun kecut! Haha.

Kami bawa pulang bahan makanan dengan hati riang. Akhirnya, pasti selamat hingga pagi di esok hari. Eits, ujian tak berhenti sampai di situ untuk saya. Awalnya, saya bertekad tak mau buang air besar di hutan sampai acara survival ini berakhir. Serius. Tak terbayang saat buang air besar, tiba-tiba ada ular di depan mata. Ampun.

Kali ini, perut tak mau kompromi. Pipa sudah penuh. Overload, Sir!Harus cepat dikeluarkan. Mulai mencari tempat ideal untuk event besar ini. Spotted. Tanah datar dekat tenda sepertinya tempat yang tepat. Saya langsung menuruni lereng lagi untuk mencapai tanah datar tersebut. Kira-kira berjarak 10-15 meter dari tenda di atas. Menggali tanah dan mulai ritual. Tak perlu dijelaskan detailnya kan?

Lekas bersih-bersih dan bersegera kembali ke tenda. LEGA! Huruf kapital sepertinya sudah menjelaskan perasaan saya waktu itu. Anda harus mencoba sebelum menghakimi saya dengan kata-kata jorok. You’ll never know the feeling until you try it, mate! Haha. Mudah-mudahan ini pengalaman sekali seumur hidup. Amin.

Tenda kami bisa dibilang lebih lux dibandingkan kebanyakan tenda yang lain. Mansyur sangat antusias sekali memperbaiki tenda. Beda dengan saya yang cuek. Brilliant combination, thanks to Capt. Nurharmanto. Karena tenda kami cukup lega, sore itu kami kedatangan tiga orang tamu, Ridwan, Aisy, dan Ijma.

Perkumpulan lima orang Pengajar Muda di tenda sederhana ini mungkin tak pernah terlupakan, khususnya oleh saya. Bagaimana tidak, tiba-tiba seorang pedagang dari penduduk setempat menghampiri tenda kami untuk menawarkan nasi goreng bungkus. Tak perlu pikir lama buat kami untuk membeli. Dasar mental survival amatiran!

Kemudian kami membuka tiga nasi goreng itu dan memakannya beramai-ramai. Ditambah serantang mie rebus dan sup ubi, kami bercengkerama tak kenal waktu. Membicarakan apa saja, mulai dari hal pribadi dan penting sampai hal-hal ‘nyeleneh’, seperti prostitusi di Dolly, Surabaya. Hanya tawa dan canda yang ada di bawah tenda mungil nan cute ini. Diterangi sinar senter temaram menambah suasana akrab dan bersahaja di tengah kegelapan malam yang enggan berhenti menguping. Monumental.

Tak terasa sudah jam 9 malam. Aisy sebagai satu-satunya perempuan harus kembali ke tendanya. Ijma dan Ridwan kemudian mengantarkan Aisy, meninggalkan saya dan Mansyur. Pada malam terakhir ini, kami tak bicara banyak. Sudah terbayang kemenangan di esok hari. Survival ini memang dijadwalkan berakhir besok pagi, entah jam berapa.

Kami bergegas tidur. Saya berharap tidur terakhir di tengah hutan ini agak nyenyak, setidaknya tidak terlalu banyak terbangun seperti malam kemarin. Akhirnya kami terlelap. Malang buat saya, tidur malam ini sama saja dengan kemarin. Malah lebih parah. Saya terlalu banyak membabat ranting sehingga banyak meninggalkan permukaan yang tidak rata. Padahal sudah dilapisi banyak daun besar di bawah terpal. Ternyata, tak terlalu berpengaruh. Sial lagi.

Saya kerap terbangun dengan rasa sakit di punggung dan sekujur badan lain. Tak bisa berbuat apa-apa juga. Mansyur terlihat sangat lelap. Jadi iri melihatnya. Ditambah malam yang lebih dingin dari biasanya membuat saya menominasikan malam inimenjadi saat tidur terburuk sepanjang hidup. Yang membuat saya bertahan hanya karena saya melihat sebuah akhir di pagi hari.

Setelah solat Subuh, kami mendengar suara sirine. Keras sekali. Dari tenda pelatih, terdengar suara untuk mengosongkan tenda dan merapikannya segera. Acara sudah berakhir. Saya dan Mansyur pun langsung sigap merapikan tenda, membuang daun, membersihkan alat-alat, dan mengepak barang-barang ke ransel. Done, done, done!

Akhirnya, kami dipersilakan turun gunung satu per satu. Pak Anies serta para pengurus yayasan sudah menunggu di kaki gunung. Banyak kamera juga. Sempat mengintip sebentar, saya kembali ke atas lagi untuk mengambil air di sungai kecil. Cuci muka sebentar dan membasahi rambut. Aha!

Di bawah, Pak Anies berucap, “Bayu, pelatihan sudah resmi selesai. Saya titip Indonesia Mengajar, ya!” “Insya Allah, Pak. Mohon dukungan dan doanya.” Beliau kemudian berucap kembali, “Kok, kamu masih seger buger seperti ini.” Saya pun hanya tersenyum dan berlalu. Efek air sungai tadi mungkin.

Buat saya, ini pengalaman pertama yang sangat tidak mungkin dilupakan. Berhubungan langsung, sangat dekat, dengan alam. Makan dan minum dari alam. I don’t know the term hygienic anymore. ‘Membuang’ di alam. Don’t make a fuss, snake! Merenung di alam. Maybe she’s the best friend to talk about life, eh?

Well, I personally think that this intimate relation between me and nature could give me a lot of things. Sejauh ini, pengalaman dua hari tersebut memang termasuk yang sulit, bahkan sangat sulit. Akan tetapi, kepuasan luar biasa dicapai ketika melaluinya. Saya akhirnya yakin bahwa saya akan mampu melewati satu tahun di desa berbekal obrolan dan canda intens dengan alam walau hanya dua hari.

See you in the real jungle, fellas!