Dua Bulan

by Bayu Adi Persada

12 Januari 2011

Biasanya, ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang, dua bulan adalah waktu di mana kita sedang sangat menikmati hubungan tersebut. Hubungan yang sedang hangat-hangatnya. Sudah lebih mengenal satu sama lain, karakter, sifat, dan pemikiran. Sudah cukup banyak menghabiskan waktu bersama. Mungkin seperti itu ya. Saya juga tak tahu pasti karena jarang terlibat dengan perasaan semacam itu.

Menurut kalender Masehi, hari ini tepat dua bulan saya tinggal di desa ini. Memang tidak tepat 61 hari. Akan tetapi, saya merasa cukup lega sudah melewati waktu yang cukup lama di sini. Setelah dipikir-pikir, tak begitu terasa memang. Namun jika ditelusuri lagi, ternyata sudah banyak cerita yang saya bagi dan pengalaman berharga yang saya dapatkan di sini.
Dua bulan untuk saya adalah sebuah milestone.

Alhamdulillah, saya sudah menyelesaikan beberapa agenda yang direncanakan. Walaupun masih banyak rentetan agenda yang menunggu di depan, setidaknya saya sudah memulai dengan awal yang cukup baik. Banyak hal-hal yang tak terduga dialami dalam dua bulan ini. Tak pernah terpikir sebelumnya. Menggembirakan, menenangkan, bahkan memberatkan hati dan membebani pikiran. Masalah dan hambatan datang silih berganti. Satu selesai, yang lain sudah mengetuk pintu.

Naini dan Ul sudah lumayan bisa membaca. Buat saya, itu adalah sebuah awal yang sangat, sangat baik. Kini, mereka punya semangat belajar. Saat liburan, saya mendekati anak-anak ini untuk belajar bersama di rumah dengan beberapa anak yang sering bermain di sekitar rumah. Dengan papan tulis kecil dan tikar, kami lebih nyaman berinteraksi dan saling berbagi.

Dulu saya sempat berujar bahwa Ul menjauhi saya. Pada dasarnya, semua anak kecil itu sama. Asal kita tahu cara yang tepat untuk mendekati mereka, mereka akan dengan senang hati menerima kita. Saya pun begitu. Tak mau menyerah dengan resistensi Ul. Sekedar membuka pembicaraan walaupun kadang tak dijawab. Tapi terus menaruh perhatian. Akhirnya, saya dan Ul kini berteman baik. Dia sering bercerita tentang diri sendiri dan teman-temannya. Bagaimana ia mencetak empat gol saat bermain sepak bola atau cerita-cerita ringan lainnya.

Saat saya pulang dari Ternate dan masuk dari pintu depan, Ul sedang belajar menulis. Seketika dia melihat saya, dia berlari ke arah saya dan berteriak, “Kak Bayu!” Saya mengusap rambutnya. Agak berat perasaan hati saat itu. Meninggalkan Ul dan teman-teman belajar sendiri di rumah. Satu sisi, saya amat terharu karena dia tetap belajar walaupun saya tak ada.
Apa yang saya lakukan selama setahun tak akan berarti jika Naini dan Ul tak bisa membaca dan tak lancar berhitung saat saya pulang.

Agenda besar roadshow SMA untuk sosialisasi universitas pun sudah diselesaikan dengan sangat baik menurut saya. Sistem diskusi dengan tim sebagai mentor pada anak-anak SMA cukup efektif. Pengalaman dan pengetahuan kami dapat diberikan dengan lebih dinamis dan intens dengan cara seperti ini. Entah karena pengaruh sosialisasi ini atau bukan, banyak dari mereka yang ingin melanjutkan kuliah. Tak hanya sekedar kuliah, tapi kuliah di tempat-tempat terbaik.

Dalam setiap kelompok kecil yang saya pimpin, saya selalu menekankan mereka untuk menjadi seseorang yang bermanfaat dan punya mimpi. Dan menjadi orang sukses bukanlah mimpi dan tak pantas menjadi cita-cita.
Jadilah individu yang punya manfaat minimal untuk diri sendiri dan keluarga. Jika mampu, bercita-citalah untuk menjadi orang yang mampu memberi untuk bangsa dan negara. Dalam hal sekecil apa pun. Buatlah perubahan dengan apa yang kita bisa.
As Gandhi famously said, ‘Be the change you wish to see in the world’.

Anak-anak itu kami berikan sebuah pohon mimpi. Mereka bisa menempelkan mimpi mereka di gambar pohon itu agar setiap saat mereka bisa ingat lagi mimpi-mimpi itu dan terus berusaha untuk mewujudkannya.
Saya amat terkesan dengan apa yang anak-anak kelompok mentor saya tuliskan di pohon mimpi mereka. Hampir semuanya ingin berbuat sesuatu untuk Indonesia. “Ingin menjadi perawat untuk membantu Indonesia agar lebih sehat”. “Ingin menjadi guru untuk membantu anak-anak Indonesia”.
Sempat ada SMS masuk ke HP, “Kak Bayu, saya berterima kasih atas masukan yang Kakak berikan sehingga saya menjadi percaya diri untuk mengambil keputusan dengan baik dan menjalani hidup.”
Saya akan simpan terus SMS ini. Apresiasi luar biasa dari hal-hal sederhana yang saya ceritakan.

Terkadang, apa yang kita berikan mungkin tak besar. Hanya dua jam waktu luang kita untuk sebuah diskusi kecil. Tapi, kita tak akan pernah tau efeknya untuk mereka. Dan betapa menyenangkan ketika kita tahu apa yang sudah kita sampaikan dapat merubah hidup mereka, membuka pandangan untuk sesuatu yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya.
This is one reason why I heart this kind of job.

Semester dua ini, jadwal mengajar saya akan jauh lebih padat. Saya dan Adhi sudah berjanji untuk membantu mengajar di SMA dan MA. Belum lagi pelatihan komputer dan pelatihan sains untuk kompetisi sains se-kabupaten bulan depan. Saya senang berbagi seperti ini. Fisik mungkin lelah, tapi pikiran akan sangat nyaman karena mampu berbagi lebih banyak.
I don’t know, I am in a deep hunger to share, to give. Sometimes, I don’t treat my body well. I think I do abuse my own body’s right to do this whole routine.

Asal dua kali seminggu bisa bermain bola dengan masyarakat, rutinitas padat tak menjadi masalah buat saya. Lapangan besar sudah dipotong rumputnya. Antusiasme berlipat kalau sudah begini. Walaupun masih banyak ranjau dari perut sapi bertebaran di sana, kami tak peduli. Nilai kebersamaan lebih besar dari sekedar tak sengaja menginjak tai sapi. Sepatu setiap saat bisa dicuci. Memberi assist atau mencetak gol lalu tertawa bersama kan tak bisa setiap hari.

Di hari penerimaan rapor, saya diberi kesempatan untuk berbicara di depan ratusan orang tua murid. Dalam susunan acara, disebutkan ‘Himbauan dan Perkenalan dari Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar’. Saya tegang setengah mati. Jantung berdetak tiga kali lebih cepat. Seperti sedang main bola saja. Telapak tangan mulai tremor.
Saya tentu saja tak bisa memberi pengarahan kalau badan tak mau bekerja sama.

Masih ada waktu sampai pada kesempatan saya berbicara. Ada sambutan Kepala Sekolah dan Kepala UPTD terlebih dahulu. Saya jadi punya waktu untuk menenangkan diri. Sekedar batuk-batuk padahal sedang berkompromi dengan jantung. Menggerak-gerakkan tangan. Tak lupa membaca doa tentu saja.

Pak Arsyad selaku pembawa acara sudah mempersilakan saya untuk bicara. Sempat agak tegang ketika menyentuh mik. Saya pikir kalau saya ragu, saya tak akan mampu memberikan apa-apa pada ratusan wali murid ini.
Sedikit demi sedikit saya mencoba meredam rasa tegang. Tipikal saya, setelah kata pertama, kata-kata selanjutnya mengalir saja.

Saya cukup berbicara panjang lebar. Karena momen ini langka, ingin saja rasanya merekam suara saya sendiri. Ternyata, sudah dua puluh menit pembicaraan saya pagi ini.
Kontennya tentu saja seputar pendidikan. Terlebih dahulu pengenalan Gerakan Indonesia Mengajar. Kemudian masuk ke isi utamanya persis seperti apa yang pernah saya tuliskan pada tulisan ‘Free Education’. Bagaimana peran orang tua itu sangat penting untuk memastikan pendidikan yang berkualitas demi masa depan anak. Pendidikan gratis tak berarti seadanya.

Setelah mendengar rekaman, sepertinya saya terlalu bersemangat berbicara tadi. Tak apa lah, memang harus seperti itu untuk menarik perhatian mereka. Toh untuk kebaikan anak-anak mereka sendiri. Mudah-mudahan pembicaraan saya tadi membuka pandangan mereka sedikit apa pun tentang apa yang seharusnya mereka lakukan, menjaga anak mereka tetap belajar di rumah dan tidak membolos sekolah.
Saya merasa lega sepulang sekolah seperti telah melepaskan satu beban di pundak.

Itu sedikit catatan kecil saya selama dua bulan ini. Sebenarnya jauh lebih banyak. Saya hanya mencoba menceritakannya satu demi satu.
Di awal saya bilang dua bulan adalah waktu di mana kita sedang lebih menikmati suatu hubungan. Dalam kasus saya, beberapa orang pernah berpesan waktu dua sampai tiga bulan di daerah justru sebaliknya. Saat itulah masa-masa di mana titik kulminasi kebosanan berada. Kalau sudah ada di titik itu, hati menjerit ingin segera pulang. Ketika hati tak lagi ada pada hal-hal yang kita lakukan, semuanya akan menjadi sia-sia saja.

Well, until this exact time, I barely see that coming. Alhamdulillah. Hope I can keep up the good work and do always better every time.

Advertisements