Opini: Intervensi Pola Pikir

by Bayu Adi Persada

Lelah belum juga hilang setelah berjam-jam berjibaku dengan jalanan Jakarta saat pulang kantor. Sesampainya di rumah, saya merebahkan diri di depan televisi sambil iseng membuka linimasa di Twitter. Alih-alih terhibur, saya justru semakin lelah dan pusing saat membaca beberapa kicauan tentang Pekan Kondom Nasional dan dukungan atas pembagian kondom bagi masyarakat luas. Saya tertegun. Hidup di masyarakat macam apa, saya saat ini?

Biarlah saya dibilang bodoh, kuno, atau bahkan tidak peduli HIV/AIDS. Saya toh memang benar-benar tidak mengerti motif di balik acara atau kampanye penggunaan kondom ini. Ada cara-cara yang beribu-ribu tingkat lebih baik, bermartabat, dan bermanfaat untuk mengusahakan kampanye peduli HIV/AIDS dan interaksi pria-wanita yang aman daripada pembagian kondom di tempat-tempat umum. Akan tetapi, mengapa cara rendahan itu yang dipilih. Pemerintah disinyalir berada di balik kampanye ini walau belakangan keterlibatan ini dibantah oleh Kemenkes. Meski begitu, kelalaian pemerintah mengawasi kampanye yang boleh dibilang berskala cukup masif ini perlu dievaluasi.

Saya ingin sekali bertanya pada mereka yang mendukung. Apakah mereka rela anak, adik, saudara, sahabat, atau teman perempuan mereka berhubungan dengan sembarang lelaki hanya karena ia berkondom dan meninggikan asas ‘suka sama suka’? Tidakkah pernikahan menjadi cara paling mulia jika memang sudah siap berhubungan dan melangkah lebih jauh. Lalu apakah mereka mau anak, adik, saudara, sahabat, atau teman laki-laki mereka merasa punya hak untuk meniduri perempuan mana saja karena ia berkondom dan perempuan itu suka dengan dirinya?

Apakah ini sejalan dengan pemikiran untuk menjaga kehormatan perempuan, saya masih bertanya-tanya.

Bagi saya, intervensi paling penting ada di pola pikir bukan di alat interaksi. Tentu kita tidak perlu khawatir pada orang-orang yang memang telah membenci seks bebas dan narkoba. Mereka sudah mendapatkan pemahaman yang matang akan bahayanya perbuatan menyesatkan tersebut. Kemudian kita bertanya dari mana kebencian itu berasal? Tentu jawabannya dari pendidikan yang baik. Pendidikan bisa datang dari mana saja. Namun, keluargalah yang jadi utama.

Menurut saya, di titik inilah pemerintah dan masyarakat yang peduli harusnya gencar mengintervensi. Banyak cara yang bisa dilakukan tapi pembagian kondom bukanlah salah satunya. Ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti roadshow ke berbagai universitas dan sekolah dengan bermitra pada LSM-LSM sosial kepemudaan dan perlindungan anak dan wanita, tidak terkecuali lembaga pemerintah seperti BNN. Iklan kreatif yang dipasang di mal-mal atau media sosial bisa juga jadi pilihan. Sekali lagi, ada banyak pilihan.

Kalau yang disasar dari pembagian kondom adalah penurunan tingkat pengidap HIV/AIDS, mereka sepertinya lupa fakta bahwa faktor penyebaran utama HIV/AIDS di Indonesia adalah melalui jarum suntik. Apakah jarum suntik berhubungan dengan seks? Tidak. Jarum suntik sudah jadi salah satu perantara utama narkoba masuk ke tubuh. Daripada pembagian kondom, alangkah lebih baik mengawasi peredaran jarum suntik dengan lebih ketat.

Apakah tidak ada efek negatif dari pembagian kondom? Mari berpikir sederhana. Seks adalah hal yang adiktif. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa semua pria yang mendapat barang itu kemudian akan menggunakannya dengan bijak. Bagaimana kalau ia penasaran ingin mencoba lalu pergi ke tempat remang-remang hingga ketagihan setelah mencobanya. Kemudian, ia menceritakan itu pada teman-temannya sampai menimbulkan riak-riak degradasi moral baru yang lain.

Apa tidak terbayang ketika sebuah bis besar dengan gambar wanita berpose senonoh dilihat anak-anak yang tak seharusnya melihat itu. Karena rasa penasaran anak-anak yang tinggi, mereka kemudian mencari tahu apa benda apa yang dinamakan kondom itu. Dari yang sebelumnya tidak tahu apa-apa, kini mereka tahu betul bentuk dan mungkin mengerti apa gunanya benda itu.

Akan ada berapa banyak lagi perempuan yang sadar atau tidak merelakan kehormatannya pada seorang lelaki berkondom? Kenikmatan itu sesaat. Setelah itu, penyesalanlah yang menyelimuti diri sampai kapan pun. Laki-laki cenderung lebih mudah berganti indung sperma mereka. Akan tetapi, noda itu abadi pada diri perempuan.

Saya masih bertanya-tanya, tidakkah mereka yang berkoar pledoi tentang pembagian kondom ini berpikir ke arah sana? Tidak akan habis bayangan-bayangan mengerikan yang terpikir oleh seorang pribadi bodoh ini.

Janganlah dulu menyasar tentang agama. Ini tentang etika ketimuran yang dipegang bangsa ini sejak pertama berdiri. Bangsa ini bukan dan tidak akan pernah menjadi liberal. Etika yang menjunjung tinggi sikap sopan santun dan tutur kata yang baik dalam sebuah interaksi sosial harus selalu jadi pegangan.

Saya percaya tidak ada agama yang menganjurkan penganutnya berinteraksi kelewat batas antara perempuan dan laki-laki. Saya amat yakin bahwa semua agama di Indonesia menganjurkan pernikahan meski terkadang ada beberapa pengecualian. Salah satu yang teringat adalah seorang biksu di agama Budha yang tidak menikah.
Intinya, pernikahan adalah cara yang paling baik bagi setiap orang yang memang merasa sudah matang bersikap dan berpikir. Saya percaya pernikahan adalah investasi masa depan. Dalam Islam, pernikahan bahkan melunasi dua arti besar: menyempurnakan agama dan menunaikan sunah Rasul.

Bukankah pendidikan tentang sikap, perilaku, tutur kata, dan interaksi antar manusia yang baik bisa jadi jalan keluar? Lalu mengapa harus kondom?

Kondom tak perlu dibagi. Setiap orang bisa membeli di apotik atau toserba tertentu dengan mengajukan KTP terlebih dahulu. Saya pikir itu sudah menjadi cara yang pantas. Justifikasinya jelas, hanya orang-orang yang sudah dewasalah yang bisa membeli walaupun terminologi dewasa seringkali tidak berhubungan dengan umur. Namun, tentu tidak mungkin menelusuri sampai sejauh apa perilaku pembeli.

Di akhir sebuah opini ini, saya masih tidak melihat manfaat dari kampanye aneh itu. Saya bahkan semakin heran ketika banyak perempuan mendukung gerakan ini. Ah sudahlah, mungkin mereka punya argumen kuat mendukung kampanye ini dan saya enggan membahas lebih jauh.

Opini ini hanya sebuah perspektif seorang yang ingin berpikir logis dan sederhana. Dilihat dari berbagai sisi, saya merasa bahaya kampanye ini justru beribu kali lebih besar dari manfaatnya. Entahlah, saya semakin merasa ini justru menjadi bentuk provokasi seks bebas dengan cara yang aman.

Huwallahu a’lam.

Advertisements